Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Hari pertama bekerja


__ADS_3

Hoeek... Hoeek... Hoeek !


Xan yang masih tertidur pun terganggu, dengan suara yang berasal dari kamar mandi. Xan, melirik jam di atas nakas, masih jam lima dan sangat lagi masih. Xan, melirik tempat tidur di samping nya, tapi dia tidak menemukan ada nya Alena.


"Sayang, apa itu kamu?" tanya Xan, tapi Alena tidak menjawab.


Hoeek...!


Suara itu terdengar lagi, Xan pun turun dari tempat tidur, dan berjalan ke arah kamar mandi.


Tok ! Tok !


"Sayang, apa kamu di dalam?" tanya Xan, Alena masih tidak menjawab, dan membuat Xan, sedikit cemas.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara keran air terbuka, dan Xan menuggu dengan cemas di luar kamar mandi.


Ceklek !


Pintu terbuka, Alena melihat Xan yang sudah berdiri di depan kamar mandi, lalu melihat Alena dengan cemas.


"Apa yang terjadi? apa kamu baik - baik saja?" tanya Xan, yang memegang ke dua bahu Alena.


"Emmm, seperti nya aku masuk angin" ujar Alena, lalu melewati tempat dimana Xan berdiri. Alena berjalan ke arah tempat tidur.


"Kamu istirahat saja, tidak perlu bekerja hari ini" Xan, mengusap punggung Alena.


"Tapi, hari ini adalah hari pertama ku bekerja, nanti aku akan minta Bi Yem untuk menyiapkan minuman jahe" ujar Alena, lalu bangkit dari duduk nya menuju kamar mandi.


"Aku penasaran, dimana dia bekerja sebenarnya?" gumam Xan, yang melihat Alena masuk kamar mandi. Xan, sudah mencari iPad Alena sejak malam, namun dia tidak menemukan nya.


Di meja makan....


Sarapan pagi berlangsung ada Al dan El, dan juga ada Leo, yang sedang menikmati sarapan nya. Xan dan Alena baru saja turun.


"Suami istri ini, meskipun enggak sarapan juga akan selalu kenyang" sindir Leo, langsung di balas tatapan kejam oleh Xan, pada Leo, yang membuat Leo langsung terdiam.


"Nikmati sarapan mu, tidak perlu mengurus urusan orang dewasa" cibir Al, El terkekeh melihat raut wajah Leo yang sedang mengejek Al.


Alena dan Xan, langsung duduk di kursi mereka, dan Xan meminta Bi Yem untuk buatkan minuman jahe untuk Alena.


"Kak Xan, sakit?" tanya Leo,


"Alena, masuk angin"


"Biar aku memeriksa nya, aku 'kan dokter" seru Leo, yang berbangga di depan mereka semua.


"Tidak usah, yang ada aku tambah sakit" ketus Alena.


"Oh, jangan remehkan aku ya, awas saja kalau nanti sakit minta bantuan aku, enggak aku nolongin" tegas Leo, yang menjulurkan lidah nya ke arah Leo.


"Berarti kamu melanggar kode etik mu!" blleee...


Alena berbalik mengejek Leo, ke duanya tidak pernah akur, kalau pun akur, setelah itu pasti berantem lagi.


"Sayang, kamu benaran enggak mau berangkat bareng aku?" tanya Xan,


"Enggak Kak Xan, aku pergi naik taxi aja" tukas Alena.

__ADS_1


"Kenapa enggak minta sopir?"


"Enggak usah" sahut Alena, lalu melepaskan semua orang pergi bekerja, kini hanya tinggal Alena seorang diri.


Alena langsung memberhentikan sebuah taxi dan pergi ke perusahaan XAEL. Sepanjang perjalanan, Alena melihat jam di tangan nya, dia takut telat. Dan juga Alena merasa gugup.


Karena ini hari pertama nya bekerja, Alena belum membeli pakaian formal untuk dia bekerja, Alena memakai beberapa pakaian yang cocok untuk dia bekerja.


"Terimakasih pak!" ucap Alena, setelah membayar uang taxi Alena segera turun dari taxi.


Alena menatap gedung pencakar langit yang ada di depan nya. Di Profil perusahaan gedung ini tidak terlalu tinggi. Namun, kenyataan nya sangat tinggi, meskipun perusahan baru, ini tergolong cukup besar.


Alena segera berjalan ke arah koridor kantor, dan terlihat banyak sekali karyawan yang sedang berkumpul di lobi.


"Perhatikan, semua karyawan baru akan di masukan ke dalam beberapa devisi, salah satu nya adalah Devisi Bu Maya, dan kalian harus menghormati nya sebagai Atasan kalian. Di tim ini ada beberapa karyawan senior lain nya. Mereka adalah Bima, Yuni dan juga ada Sarah dan Adi, satu lagi anak baru nama nya Alena Maharani" Semua orang berbisik - bisik, saat nama Alena disebut.


"Yang bernama Alena bisa bergabung dengan Bu Maya dan tim lain nya" terlihat beberapa orang yang berdiri di samping pria yang saat ini sedang membagi tim, pria itu dengan nama bed Rohan, manager umum perusahaan XAEL.


Alena memperkenalkan diri kepada atasan nya dan juga teman tim nya. Meskipun mereka terlihat dengan wajah judes, ada dua orang yang terlihat sangat ramah kepada Alena, Bima dan Sarah, terlihat senang berkenalan dengan Alena.


Di dalam ruangan, mereka sedang membahas proyek baru yang di berikan bos mereka, dan itu belum siap di kerjakan, karena mereka belum mendapatkan konsep untuk proyek tersebut.


Bu Maya memimpin tim nya, lima orang menjadi pendengar yang baik.


"Kalian semua harus bisa memberi konsep untuk proyek yang akan di bangun bulan depan, sebelum bos datang memeriksa nya, kalian harus terlebih dulu siap untuk semua itu" tegas Bu Maya dengan wajah datar nya. Selama berada di tempat itu, Bu Maya tidak pernah sekalipun terlihat tersenyum saat sedang berbicara dengan mereka.


"Kalian boleh kembali bekerja" titah Bu Maya, semua orang bergegas kembali ke ruangan Devisi perancangan.


"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Alena, yang memang belum paham dengan pekerjaan nya saat ini.


"Kamu tenang saja, tidak perlu di masukin ke hati, Yuni memang seperti itu orang nya" ujar Sarah, Alena tersenyum.


'Sabar Alena, kamu karyawan baru, harus banyak - banyak sabar' Alena mengelus dada nya, lalu kembali ke meja nya.


Pak!


Yuni melempar setumpuk berkas ke atas meja Alena.


"Periksa ini, jika ada yang berbeda pisah 'kan" titah Yuni.


"Bak Kak" Alena pun segera mengambil dan mengerjakan nya.


"Yuni, itu 'kan pekerjaan mu, kenapa memberi nya kepada Alena, kalau sampai salah bagaimana ?"


"Aku enggak peduli" jawab Yuni dan berlalu pergi.


Satu jam berlalu, Alena masih sibuk dengan berkas nya. Saat makan siang pun tiba.


"Tolong kamu pergi belikan makan siang untuk kami, Kami tidak bisa keluar ada banyak pekerjaan yang masih belum selesai" tukas Yuni, Alena pun menurut saja, dan berdiri dari tempat duduk nya.


"Aku mau cappucino cincau satu, Roti keju satu. Kamu apa Adi?" tanya Yuni, yang berdiri di depan Sarah.


"Aku cappucino blend, dan brownies"


"Kamu ingat, jangan sampai salah, Kamu enggak mau pesan Bima?"


"Aku pergi sendiri, ada tangan dan kaki" cibir Bima,

__ADS_1


"Kak Sarah, mau nitip?" tanya Alena.


"Aku nitip sama Bima saja"


"Oh, Oke kalau begitu" ujar Alena, dan keluar dari ruangan tersebut, bersama dengan Bima.


Bima menjelaskan semua nya yang ada di perusahan itu, dan juga bagaimana mereka awal nya bekerja.


Ternyata perusahaan itu, sudah berdiri selama dua tahun, namun baru diresmikan lima bulan yang lalu.


Setelah membeli semua pesanan tim nya, Alena dan Bima kembali ke ruangan.


Alena memberikan semua pesanan Kepasa Yuni, lalu Alena kembali ke meja nya. Baru saja Alena ingin makan siang, Yuni sudah menyuruh nya untuk pergi ke ruang foto copy.


"Anak baru, tolong foto copy lembaran ini" titah Yuni, dengan gaya nya yang sok berkuasa.


"Yun, apa kau enggak liat dia baru kembali dari kantin, biar 'kan dia makan dulu"


"Kau diam saja Sarah, siapapun yang masuk tim ini sudah siap berkerja" tegas Yuni.


"Aku tidak apa-apa, aku akan pergi untuk memfoto copy berkas ini" Alena pun pergi ke ruangan dimana tempat foto copy, sesuai yang di jelaskan Bima, tempat foto copy ada di lantai dua. Alena segera pergi menuju lantai dua.


Sampai di ruang tersebut, Alena menahan perut nya yang sakit, karena belum makan siang.


"Eemmm, melelahkan" gumam Alena.


"Semangat Alena, semua ini untuk masa depan mu" lanjut Alena dan memfoto copy semua berkas yang ia bawa.


"Hai, kamu anak baru?" tanya seseorang yang juga masuk ke dalam ruangan tersebut, Alena mengangguk nya, lalu segera mengambil berkas yang sudah siap dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Pria yang tadi menyapa Alena, melihat Alena dengan tatapan mesum.


Tiba di dalam ruangan nya, Alena memberikan berkas tersebut kepada Yuni, dan dia segera kembali ke meja untuk makan siang, yang waktu nya hampir habis.


Di tempat lain, ada Leo yang sedang melakukan praktek untuk memeriksa wanita hamil, meskipun Leo tergolong masih muda, dan ini sudah tugas nya sebagai dokter umum, dan harus siap melakukan apa saja yang di perintah dokter Fino.


"Bagaimana? apa kamu sudah tahan sekarang dengan segala keadaan rumah sakit?" tanya Fino, setelah Pasien mereka keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Mau tidak mau harus siap" tukas Leo.


"Bagaimana keadaan Kalian semua di rumah, apa ada yang mencurigakan?" tanya Fino, dokter Fino lupa, kalau Leo, tidak tahu apa-apa soal masa lalu keluarga nya. Setelah sadar, dokter Fino langsung menggantikan topik pembicaraan.


"Maksud dokter Fino?" tanya Leo, yang tidak mengerti dengan ucapan dokter Fino.


"Tidak, maksud aku bagaimana perkembangan Xan, dan Alena, setelah mereka menikah ?" tanya Fino yang sudah menggantikan topik pembicaraan nya.


"Ke dua nya sudah mulai tenang, tidak pernah berantem lagi, Kak ipar juga sudah mulai kerja, tapi aku tidak tahu, kak ipar kerja dimana" tukas Leo, menyandarkan tubuh nya di kursi tempat dia duduk.


"Emmm, yang penting kalian semua akur, dan tetap menjaga satu sama lain"


"Pasti dok"


Ceklek !


"Dok, ada pasien yang membutuhkan pertolongan anda" seru seorang perawat yang tiba - tiba membuka pintu ruangan Fino.


"Baik, kami akan segera kesana"


Fino dan Leo bergegas pergi menuju ruang IGD, dimana seorang pasien yang baru saja di bawa ke rumah sakit, menurut info dari perawat, pasien itu adalah korban kecelakaan tunggal di persimpangan jalan yang tak jauh dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2