
Alena segera menyimpan ponsel nya saat Leo mendekat.
"Sedang apa disini?" tanya Leo, yang melihat Alena di taman.
"Barusan aku bicara sama Ria, dia Vidio call, terpaksa aku cari tempat yang sedikit aman, biar Ria tidak curiga" ujar Alena, lalu berjalan ke arah kolam renang.
"Emmm, entar malam aku akan ke Paris, Kak ipar mau ikut?"
"Waaah, saran yang bagus itu" sahut Alena, tentu saja Alena mau ikut, tapi Xan, pasti tidak akan memperbolehkan Alena untuk pergi.
"Tapi Kak Xan, tidak akan memperbolehkan Kak ipar pergi" tukas Leo, dengan senyuman yang meledek.
Alena langsung menatap malas ke arah Leo. Namun, Leo malah suka menggoda Alena.
"Sudah dapat balasan dari perusahaan yang kamu melamar?"
"Belum ku lihat lagi, dimana iPad ku?" gumam Alena, Leo menaikan dua bahu nya, memang Leo tidak melihat nya, karena Alena sendiri yang menyimpan nya.
Alena pun bergegas masuk, untuk mencari ipad nya sekalian untuk melihat email lamaran yang dia kirim semalam.
"Kenapa Kau mengikuti ku?" tanya Alena, saat melihat Leo yang menyusul nya untuk masuk.
"Aku juga mau masuk, siapa yang mengikuti mu" ujar Leo, yang melewati tempat dimana Alena berdiri.
Alena segera mengambil iPad nya yang ia tinggal di meja sofa. Dan langsung membuka nya, dan Alena terkejut saat melihat tidak semua lamaran email nya terkirim, malah gagal.
"Apa ini?"
"Ada apa?" tanya Leo, yang mendekat ke arah Alena.
"Kenapa gagal, aku yakin semalam, email nya terkirim" Alena menatap Leo, dan penuh curiga.
"Kenapa kau menatap ku, bukan aku ya, suerrr.." jawab Leo, sembari membuat jari ke arah Alena. Tapi Alena tetap masih curiga.
"Kamu bohong, ngaku saja" paksa Alena,
"Enggak, sumpah!"
Akhirnya Alena pasrah dengan pengakuan Leo, dan ia mulai mencari perusahaan baru.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana ? perusahaan mana sekarang yang mau Kak ipar lamar?"
"Rahasia" jawab Alena, menutup layar iPad. Padahal Alena sendiri belum memilih perusahaan yang lain, karena banyak perusahaan yang tidak menerima karyawan baru, termasuk Fernandez.
"Kenapa enggak minta Kak Xan, saja" saran Leo,
"Ogah, mending jadi pengangguran"
"Aneh, itu 'kan perusahaan keluarga, dimana-mana perempuan itu, senang kalau bisa kerja di perusahaan suami nya, lah Kak ipar malah ogah"
"Iya, tapi aku enggak mau, entar kalau ada karyawan yang tahu bagaimana ?" tanya Alena balik.
"Benar juga ya, tapi 'kan kalian sudah berjanji untuk merahasiakan ini lebih dulu sebelumnya"
"Eemmm, udah lah. Aku capek, mau ke kamar dulu" Alena bangkit dari tempat duduk nya, dan pergi meninggalkan Leo di ruang tamu.
Setelah Alena pergi, Leo pun mulai memikirkan sesuatu.
"Sepeti nya ini ulah Kak Xan" gumam Leo, yang akhirnya tersenyum sendiri, yang tadi melihat wajah kesal Alena, pas tahu email nya gagal dan tidak bisa mengirim ulang.
Di dalam kamar Alena yang sedikit frustasi, akhirnya melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Malam pun tiba....
Alena sedang sibuk mencari laman pekerjaan nya, namun tak satu pun yang membuat nya berminat.
[Aku sudah mendapatkan pekerjaan]
Sebuah pesan masuk dari Ria, dan Alena ikut bahagia membaca pesan dari Ria.
[Lamaran ku gagal, aku lagi bingung cari perusahaan yang lain. Ada rekomendasi enggak dari mu, tidak perlu perusahaan besar, tapi yang kinerja nya baik lah] balas Alena, Ria pun ikut kasian membaca balasan dari Alena.
[Bagaimana kalau XAEL group?]
[Apa itu XAEL group? kok aku baru dengar ?]
[Aku juga baru tahu, itu aku dapat info dari tempat kerja baru ku, tanpa sengaja ku liat brosur itu, seperti nya perusahaan baru, yang mencari karyawan dengan nilai ijazah tertinggi, minimal lulus S1 tidak bisa D3. Dan satu lagi, harus jago bahasa Inggris, mereka juga memerlukan karya bisa tiga bahasa asing lain nya] ungkap Ria, langsung saja Alena lemas.
[Bahasa Inggris sih oke. Nah, tiga bahasa asing lain nya itu apa?] bingung Alena.
__ADS_1
[Jangan fokus kesitu, mending lamar saja dulu, sebelum habis kursi, entar tutup kamu yang bingung, sekarang cari pekerjaan itu sudah. Kenapa enggak minta tolong sama Leo, Fernandez 'kan perusahaan keluarga nya?]
[Gilak kamu, udah ah, minta link perusahaan XAEL, aku ingin melihat profil nya lebih dulu, kalau cocok, lamar disitu saja]
[Oke]
Sebuah alamat email masuk ke dalam wa Alena, dan itu dari Ria. Alena langsung mencari info tentang perusahaan itu. Dan benar saja, itu perusahaan tidak terlalu besar, hanya saja peraturan nya ketat, tidaksemua orang bisa masuk dan di terima, hanya yang beruntung saja.
"Emmm, enggak apa-apa di coba dulu, dari pada enggak kerja sama sekali" gumam Alena, lalu kembali mengirim email nya.
"Kenapa Kamu duduk disini, kalau masuk angin gimana?" tanya Xan, Alena menoleh, itu Xander yang baru pulang mengantar Leo ke bandara bersama dengan Al dan El.
"Kak Xan, jawab yang jujur ya, Kak Xan 'kan yang cancel email lamaran pekerjaan ku?" tanya Alena, Xan menaikan alis nya.
"Bukan" jawab Xan, lalu kembali masuk ke dalam kamar nya.
"Jujur aja deh, kalau bukan Kak Xan, siapa lagi?" tanya Alena yang menyusul sang suami masuk ke dalam kamar.
"Tapi benaran bukan aku" jawab Xan lagi, karena tidak tahu Xan akan berbalik sehingga membuat Alena menabrak pria itu, dan akhirnya mereka berdua terjatuh ke atas tempat tidur, dengan posisi Alena yang di atas Xan, dan Xan di bawah Alena.
Hampir lima menit berlalu, mereka berdua terjatuh di atas tempat tidur, dan saling pandang satu sama lain.
Xan, tersenyum sehingga membuat jantung Alena berdetak tak karuan, Alena sangat malu, apalagi saat tangan Xan menyibak rambut yang hampir menutup mata Alena.
"Bisa kah, aku mencintai mu, tanpa harus mengatakan alasan nya?" tanya Xan, bukan nya menjawab, Alena malah tersipu malu, dan memalingkan wajah nya ke samping.
Xan, memegang dagu Alena, agar kembali menatap nya.
"Aku serius, aku hanya ingin mencintai mu, tanpa harus mengatakan alasan kenapa aku ingin mencintai mu, karena aku tidak punya alasan apapun" ungkap Xan, semakin membuat hati Alena tak karuan.
"Eeemmm" Alena mengangguk, Xan tersenyum menggoda.
"Katakan sesuatu, jangan hanya mengangguk, aku tidak akan tahu" Xan, semakin menggoda Alena.
Dug...
"Aww!" pekik Xan, saat Alena memukul dada Xan,
"Itu jawaban ku" ketus Alena, yang mengerucutkan bibirnya. Xan tersenyum, dan menuntun wajah nya untuk mencium bibir Alena.
__ADS_1
Lama kelamaan, Alena semakin menikmati ciuman itu, hingga tanpa sadar ke dua nya semakin larut dalam permainan yang menggoda itu.