
Setelah satu jam berlalu, berdiskusi tentang kerjasama antara Xan dan Albarak, akhirnya selesai juga.
"Alvarendra, kamu harus ingat, musuh tidak akan menyerah, selagi dia masih mampu menyerang musuh nya. Jadi, yang harus kalian lakukan adalah bersiap menerima serangan, atau menyerang balik untuk membuat musuh kalah. Hanya saja, aku sudah lama pensiun di dunia ini, setelah aku mengenali bidadari ku!" pungkas Albarak, sembari melirik ke arah balkon, dimana Aisyah duduk.
Alvarendra dan Elvino mengangguk mengerti apa yang di katakan Albarak kepada mereka.
"Tuan Albarak, boleh kah saya bertanya?"
"Boleh"
"Apa hubungan anda dengan Tuan Uwais dan keluarga Tuan Albert King?" tanya El, Albarak tersenyum mendapati pertanyaan itu.
__ADS_1
"Boleh saya berbalik bertanya? kenapa anda tertarik ingin tahu tentang keluarga king?" Albarak, masih tersenyum melihat ke arah El.
"kami tidak mengenal keluarga King, hanya saja Kak Xan, pernah ikut wamil disaat kami tinggal di Paris. Kak Xan ikut wamil di Inggris dan pelatih nya Tuan Albert King, ayah dari Tuan Uwais. Nah, kami sangat tertarik pada keluarga itu, maaf Tuan Albarak, karena kamu telah mengagumi keluarga itu. Karena Tuan Albert adalah seorang mualaf" pungkas El, dengan sangat hati-hati.
"Benar, Tuan Albert memang seorang mualaf!" ujar Albarak, membenarkan ucapan El.
"Jadi, apa hubungan Tuan Albarak dan Tuan Albert?" tanya Al lagi, yang memang belum puas dengan jawaban yang di berikan Tuan Albarak.
"Albert itu, Kakak kami sekaligus ipar Saya" tukas Albarak, dan masih membuat Al dan El bingung.
"Benar, Tuan Albert menikah dengan Adik saya. Dan Tuan Albert itu, anak angkat Papa saya"
__ADS_1
"Oh, Kami sudah mengerti. Maaf bila kami sudah banyak bertanya mengenai hal pribadi anda"
"Tidak masalah. Terimakasih telah membantu saya dalam mengatasi kasus ini, dan kalau bukan karena bantuan dari kalian berdua, mungkin istri saya akan tertekan tinggal disini, banyak wartawan yang datang untuk mencari informasi mengenai kecelakaan tersebut" ungkap Albarak.
"Sama-sama. Tuan, terimakasih atas info yang anda berikan, ini sangat bermanfaat bagi kami. Darmon Big, sudah lama mengincar keluarga kami, namun informasi yang kami dapat 'kan tidak sebanyak yang kamu punya. Anda sudah sangat membantu kami" ucap Al, lalu berdiri, dan berjabat tangan dengan Albarak, begitu juga dengan El.
"Selamat sampai tujuan " ucap Albarak, saat Al dan El keluar dari kamar tersebut.
Di lobi hotel, terlihat ada beberapa pengawal yang di kirim Xan, untuk melindungi Albarak dan Aisyah. Bagaimana pun, keselamatan mereka di Indonesia adalah tanggung jawab Xan.
"Apa kamu yakin, ingin menyerang perusaan nya?" tanya El.
__ADS_1
"Tentu, jika kita bisa menyerang perusahaan nya, tentu saja Darmon Big, tidak memiliki waktu untuk menyerang kita di lain waktu, karena dia akan sibuk mengurus masalah nya sendiri. Dalam arti kita membuat dia sibuk, dan melupakan masalah nya dengan kita" ungkap Alvarendra.
"Yang Kak Al maksud ada benar nya. Tapi, yang kita hadapi ini bukan lawan bisnis, melainkan kita melawan iblis, ini ketua mafia yang kita lawan, kita ini hanya manusia biasa yang hanya berbekal ilmu bela diri saja kak, sedang 'kan strategi untuk melawan mafia, kita belum menguasai nya" El berpikir begitu dalam, karena bagaimana pun nyawa adalah taruhan nya.