Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Hari wisuda


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja, siang berlalu tanpa lena. Terjaga di antara terik fana, memaksa letih teriaki sisa daya, tegakkan puing raga yang tersisa.


Awan bertebaran di angkasa, putih, kelabu, dan hitam. Warna -warna menawan, bergelombang mengombak-ombak.


"Ibu, Ayah. Alena sudah menyelesaikan kuliah dan janji Alena kepada kalian. Terimakasih sudah menjaga Alena dari jarak jauh" gumam Alena yang berdiri di bawah pohon besar, memegang toga di tangan nya. Masih memakai baju wisuda dan lengkap dengan atribut nya.


"Nah, bengong saja di sini, entar di samber petir baru tahu Lo" Ria datang mengejutkan Alena, wanita ini hanya tersenyum menanggapi ucapan Ria.


"Kalian disini?" seseorang juga baru saja datang menganggu mereka berdua.


"Eemm, setelah ini kemana rencana kita?" tanya Ria.


"Aku akan pulang, aku ingin berziarah ke makam orang tua ku" lirih Alena,


"Enggak mau merayakan kelulusan kita lebih dulu?" tanya Ria.


"Aku enggak bisa, lain kali aja"


"Eemm, benar rayakan saja dulu" timpal Leo, Alena memberi isyarat agar jangan ikut - ikutan mengajak dia untuk pergi.


"Alena, aku akan melamar pekerjaan setelah satu Minggu wisuda, aku berharap kamu juga nanti menemukan pekerjaan yang bagus"


"Terimakasih doa mu. Aku doa 'kan dirimu segera sukses!" Alena memeluk Ria.


"Jadi, Leo apa rencana mu?" tanya Ria,


"Beralih profesi, aku akan bekerja di rumah sakit, aku ingin menjadi dokter umum" tukas Leo.


"Bagaimana bisa, kamu lulusan management dan mau jadi dokter?" bingung Ria.


"Tentu bisa, aku pernah bersekolah di kedokteran saat Aku tinggal di Paris, aku mengambil dua jurusan dalam dua tahun terakhir" pungkas Leo, dengan bangga.


"Gaya mu, jangan sampai aku mendengar berita ada pasien yang mati saat kamu menjadi dokter nya" cibir Ria,


"Nanti kalau kau jadi pasien ku, kau akan ku suntik mati" ketus Leo,


"Eh, mana bisa itu melanggar kode etik!"


"Sudah - sudah, kalian ini kalau bertemu bisa nya cuma berantem saja" Alena melerai dua orang yang sedang berdebat di depan nya.


"Alena aku pergi dulu ya bye..." Ria segera berlalu dari hadapan mereka, entah kemana tujuan nya.


Setelah kepergian Ria, baru lah Alena dan Leo, merasa lega.


"Mau langsung pulang?" tanya seseorang yang mengejutkan Alena dan Leo. Mereka berdua menoleh, dan terkejut melihat Xan yang datang ke kampus Alena.


"Sedang apa Kak Xan disini?" tanya Leo,


"Tentu saja untuk merayakan kelulusan kalian berdua " Xan, memberikan buket bunga yang berisi uang ke Alena, buket itu terlihat begitu besar, sehingga Alena tenggelam saat memegang buket tersebut.


"Terimakasih " ucap Alena, saat menerima buket dari sang suami.


"Aku mana?" Leo mengulurkan tangan nya.


"Apa yang kamu butuh? kamu sudah memiliki semua nya" jawab Xan, mengabaikan wajah Leo yang kesal.


Alena hanya tertawa geli melihat Xan dan Leo yang terus beradu mulut.


"Jadi, kemana kalian akan pergi?" tanya Xan, lagi.


"Aku akan ikut Alena, katanya dia mau pergi ke makan orang tua nya" ujar Leo.


"Untuk apa kamu ikut? biar aku yang ikut bersama dengan nya" putus Xan, Leo menaikan alis nya.


"Eh, posesif banget kulkas dua pintu, ngeri ya" ledek Leo, Xan langsung menatap tajam ke arah Leo.


"Sudah, ayo kita pulang" ajak Alena, berhubung Leo membawa mobil sendiri, dia tidak bisa ikut dalam satu mobil dengan Xan dan Alena.

__ADS_1


Sepanjang jalan Alena memperhatikan Xan, bukan tidak merasa aneh, bahkan Alena curiga dengan perubahan sikap Xan, yang begitu tiba - tiba.


"Ada apa ? kamu memandang aku terus menerus?" Xan, melirik. Alena langsung memalingkan wajah nya.


"Aku curiga, rencana apa yang sedang ingin kamu jalan 'kan. Tiba - tiba sikap Kak Xan, berubah drastis, membuat aku sedikit ngeri. Jangan - jangan Kak Xan, mau melenyapkan aku ya?" tanya Alena, sembari menunjuk ke arah Xan, pria yang hemat bicara, dan kini tersenyum ke arah Alena, membuat Alena langsung memalingkan wajah nya.


"Kamu kebanyakan nonton drama, jadi hidup mu kebanyakan halu. Ini dunia nyata, orang kapan saja bisa berubah, dan tidak ada alasan lain selain hanya ingin berubah saja"


Alena masih belum bisa percaya sepenuh nya sama mulut Xan, karena sebelumnya Xan itu tidak pernah menunjukkan sikap lembut nya pada Alena.


Tiba di pemakaman umum, Alena segera turun dan meninggalkan buket yang di berikan Xan kepada Alena. Alena berjalan ke arah makam, sembari membawa toga dan perlengkapan wisuda nya.


Melihat ada yang menjual bunga, lantas Xan membeli untuk Alena, dan membawa nya kepada Alena.


"Ibu, ayah. Saat ini Alena sudah lulus kuliah, dan terimakasih sudah menemani Alena selama ini, meskipun dengan jarak yang begitu jauh. Dengan jarak yang tidak bisa ku gapai. Ayah, doakan Anak mu ini sukses!" Alena mengusap batu nisan yang bertulisan nama orang tua nya secara bergantian.


"Ibu, Ayah. Saya Xan, saya suami nya Alena, ijin 'kan saya untuk merawat dan menjaga Alena seperti saat kalian menjaga Alena saat masih kecil" ucap Xan, yang meletakkan bunga di dekat batu nisan, Alena bengong mendengar setiap ucapan Xander.


"Awww...." pekik Alena, saat Xan menyentil jidat Alena.


"Bengong apa Kamu?" tanya Xan, langsung berdiri.


"Kenapa Kak Xan, berbicara seperti itu di depan makam orang tua ku. Meskipun kak Xan membenci ku, tapi kak Xan, tidak boleh mempermainkan orang tua ku" tukas Alena, lalu berbalik meninggalkan Xan, sendiri. Terpaksa pria itu harus mengejar nya.


Tiba di dalam mobil, Alena tidak berbicara begitu banyak, dia memilih untuk diam, sepanjang perjalanan, Alena tidak melihat ke depan, dia lebih senang untuk menghadap ke arah jendela pintu mobil.


Ckiittt...!


Xan, menghentikan mobil nya, membuat Alena terkejut.


"Apa masalah mu? kau mendiamkan aku? katakan kalau ada yang menganggu pikiran mu!" ucap Xan, Alena berbalik dan menatap sang suami.


"Kak Xan, tidak seharusnya berkata seperti itu, di depan orang tua ku, jangan memberi harapan yang tak bisa ku dapati. Jangan hanya kak Xan orang yang berpunya bisa melakukan apa saja pada ku. Kak Xan ..."


Xan, langsung menarik Alena dalam pelukan nya, membuat ucapan Alena terpotong.


"Aku tidak membenci mu, hanya saja aku sebelum nya belum mengenal mu, jujur saja aku takut, tujuan mu datang ke keluarga kami memiliki tujuan yang lain, bagaimana pun kami semua sudah tumbuh bersama di Paris tanpa ada orang lain, tiba - tiba kamu datang, tentu membuat aku curiga. Maaf 'kan aku Alena, yang selama ini membuat kamu sakit hati" Xan, masih memeluk Alena. Alena hanya tersenyum mendengar ucapan suami nya, tanpa menjawab atau membantah nya.


Xan, melepas pelukan nya, lalu memegang ke dua pipi Alena yang gembul itu, membuat mata Alena membulat sempurna melihat ke arah Xan.


"Liat mata ku, meskipun aku belum mencintai mu, tapi aku tidak membenci mu, aku ini suami mu, dan kamu istri ku. Biarkan waktu berjalan begitu saja, sampai rasa itu tumbuh di antara kita berdua. Satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan memaksa kamu untuk jatuh cinta pada ku, begitu juga dengan aku, biar 'kan waktu berjalan begitu saja"


Melihat Alena tidak merespon ucapan nya sama sekali, Xan melepas kembali tangan nya di wajah Alena.


"Maaf" ucap Xan, Alena hanya mengangguk. Lalu, Xan melanjutkan perjalanan mereka kembali.


Meskipun ke dua nya belum saling jatuh cinta sama lain, setidak nya ke dua nya sudah tidak saling membenci, Alena dan Xan sudah sama - sama menerima pernikahan itu. Itu saja sudah cukup Alena, karena bagaimana pun pernikahan itu sakral untuk nya.


Sampai di rumah Fernandez, Alena segera turun, dan Xan membantu membawa buket dan hadiah semua milik Alena.


Ceklek !


Bi Yem membuka pintu utama, begitu mendengar suara mobil Xan sudah tiba di halaman rumah.


"Kak Xan, baru pulang. Dari mana saja kalian?" tanya Leo, yang begitu ingin tahu urusan mereka berdua.


"Hanya berkunjung ke makam orang tua Alena. Apa Al dan El sudah pulang?"


"Sudah, mereka ada di ruang keluarga sama Papa, ada yang sedang mereka bahas. Oh ya, kak. Tadi, papa bilang kalau Kakak sudah pulang, disuruh menemui Papa di ruang keluarga"


"Eemm, kalau begitu aku akan kesana dulu, Kamu naiklah ke atas, dan ganti baju mu"


"Eeemmm" singkat Alena,


"Ciieeee..." goda Leo, Alena dan Xan langsung memberi tatapan mematikan untuk Leo.


"Enggak salah ya, Papa jodohin kalian, kalian memang cocok, sama - sama punya mata yang tajam" cibir Leo,

__ADS_1


"Udah lah, kamu ke kamar saja enggak perlu dengerin bocah itu" ketus Xan, Leo hanya meniru gaya bicara Xan, dan Alena berlalu menuju kamar nya.


Ceklek !


"Pa, Papa ada apa? kenapa tiba - tiba ngumpulin kami semua disini?" tanya Xan, yang baru saja masuk.


"Kamu baru pulang ? kemari lah! "


Xan mendekat, dan duduk di sofa single, berbeda dengan Al dan El.


"Papa sudah menjelaskan semua nya kepada mereka berdua. Hanya kamu yang belum tahu, tentang rahasia keluarga kita"


"Rahasia? rahasia apa Pa?" Xan, sendiri penasaran, tapi raut wajah Al dan El kita serius menanggapi ucapan Arga.


Arga pun mulai menceritakan silsilah keluarga nya.


"Nama Fernandez adalah nama keluarga besar kita. Nama, ini di warisi oleh Kakek kalian, kami lama tinggal di Paris sebelum kami kembali ke Indonesia. Sebelum Papa menikah dengan Mama kalian, dan kalian lahir, Kami telah memiliki banyak pesaing bisnis. Dan salah satu nya adalah kelompok Mafia yang paling berbahaya di Paris. Oleh sebab itu, Papa menyuruh kalian untuk kembali ke Indonesia. Dulu tinggal disana untuk lari dari mereka, dan ternyata keberadaan kita disana sudah di ketahui oleh mereka. Kakek kalian pernah membunuh salah satu istri dari pemimpin mafia tersebut, dan kejadian itu adalah kecelakaan yang tak di sengaja oleh Kakek kalian. Karena keluarga kita keluarga terhormat, dan memiliki kekayaan yang cukup besar, sehingga hukum membebaskan Kakek dari tuduhan apapun, meskipun tidak adil, itu benar kecelakaan, bukan hal yang di sengaja oleh Kakek" jelas Arga, Xan terkejut. Namun, tidak dengan Al dan El, mereka sudah tahu.


"Apa meninggal nya Mama ada kaitan nya dengan mereka?" tanya Xan, Arga tidak langsung menjawab, teringat akan tempramen Xan. Pria ini tidak bisa menerima seseorang melakukan kejahatan kepada keluarga nya.


"Pa, jawab" Xan, menunggu jawaban Arga.


"Iya pa, kami juga ingin tahu" timpal Al dan El.


"Benar, mobil yang di kendarai mama kalian sengaja di tabrak oleh pembunuh berencana, dan itu membuat Mama kalian sekarat, waktu itu Mama kalian sedang mengandung Leo, peristiwa itu terjadi di Indonesia, dan pada waktu itu, mereka berhasil melacak keberadaan kami, dan malam itu juga aku membawa mama kalian terbang ke Paris sehingga dokter terpaksa melakukan operasi agar bisa menyelamatkan Leo. Waktu itu kalian masih tinggal bersama dengan dokter Fino, jadi kalian tidak tahu apa yang terjadi pada malam tersebut" masih banyak kecemasan yang tertera di raut wajah Arga. Terlebih lagi, saat ini keberadaan mereka telah di ketahui oleh mereka lagi.


"Siapa pria itu, aku ingin tahu. Pa, apa ini alasan aku dulu di kirim ke Inggris untuk melakukan pelatihan militer?" tanya Xan, Arga mengangguk nya.


Al dan El akhir nya sadar, kenapa Arga selalu memilih Xan untuk menjaga mereka, karena hanya Xan yang bisa mengatasi semua masalah.


"Lihat lah!" Arga memperlihatkan layar iPad nya kepada mereka bertiga, dan Xan mengambil melihat nya dengan seksama.


"Ini foto Alena dan Aku saat aku pergi dari makam, bagaimana mereka tahu, kalau aku anak Papa?" Xan, masih bingung, ternyata selama ini keluarga nya masih di incar.


" Tentu saja mereka tahu, kamu sudah memimpin Fernandez sekarang, semua orang akan tahu siapa kamu. Tapi Xan, kamu harus hati -hati, jangan biarkan mereka tahu, jika Alena istri mu, karena aku takut, Alena menjadi sasaran mereka" saran Arga.


"Benar kak, yang di katakan papa masuk akal, bagaimana pun, tidak ada yang boleh tahu, status Alena" timpal El.


"Eemm, kamu juga sudah sepakat akan hal itu, dan tidak akan ada yang tahu, sampai semua nya baik- baik saja"


"Bagus, setidak nya kita masih memiliki markas rahasia di sini, walaupun tidak ada media yang tahu" ujar Arga.


"Pa, apa razia di hotel hari itu, ada kaitan nya dengan ini?" tanya Al yang tiba - tiba, mengejutkan Xan, karena Xan tidak pernah tahu.


"Al" bisik El, yang sadar, Al pun sadar.


"Eh, maksud aku..."


"Tunggu dulu, razia apa? kenapa aku tidak pernah tahu?" tanya Xan, yang menyela ucapan Al.


"El jangan diam, katakan pada ku!" tegas Xan, akhirnya El menceritakan semua nya pada Xan, dan itu membuat Xan terkejut.


"Jadi, Alena lah yang menyelamatkan El waktu itu" timpal Al, akhirnya Xan tahu, kenapa mereka semua langsung baik kepada Alena, waktu dia kembali di Inggris.


"Papa tidak salah pilih, Alena orang yang baik, dan mampu menjaga adik - adik mu Xan, seperti Kamu menjaga mereka"


Xan, tidak menanggapi nya, dia hanya diam saja.


"Bagaimana klien yang di Inggris aku dengar mereka kemarin ingin membatalkan kerjasama kalian?" tanya Arga.


"Hanya salah paham Pa, ternyata pemilik perusahaan itu adalah milik keluarga Tuan Albert king, Pria itu juga Master pelatihan militer di Inggris Pa, hanya saja perusahaan nya saat ini di pimpin oleh Uwais" ujar Xan.


"Uwais? bukan kah, mereka memiliki anak kembar tiga?"


"Iya Pa, Uwais, Hasan dan Husein. Uwais yang tinggal di Inggris memimpin perusahaan itu. Sedangkan, Hasan dan Husein ada di LA, tinggal bersama dengan keluarga nya. Menurut informasi, Hasan dan Husein seperti ibu nya dulu, memiliki ikatan yang kuat dengan kembaran nya, dulu ibu mereka juga begitu" jelas Xan, Arga mengangguk nya. Meskipun Arga yang bertanda tangan di kontrak kerja sama itu. Namun, Arga tidak ingat betul dengan Keluarga itu.


Mereka lanjut membahas 'kan apa langkah selanjut nya. Tentang bagaimana melawan musuh yang belum menampakkan diri di depan mereka.

__ADS_1


Siapa disini yang masih ingat keluarga Albert King ? koment di bawah ya ❤️❤️❤️


__ADS_2