
Seperti yang di katakan Arga kepada anak nya, meminta kepada mereka untuk berkumpul di rumah pada siang hari.
"Kak, kenapa kita tidak pergi menjemput Papa?"
"Papa menyuruh kita semua menunggu disini, dan tidak ada satu pun dari kita yang di perbolehkan untuk menjemput Papa di bandar" ujar Xan, yang kini duduk di sofa single.
"Dimana Alena, aku tidak melihat nya sejak sarapan tadi?" tanya Al, yang belum melihat Alena sejak tadi pagi.
"Benar, aku juga belum melihat nya" timpal El, yang ikut penasaran.
"Paling ke kampus!" sahut Leo, dan semua orang kini menatap ke arah Leo.
"Aku hanya menebak Kak" lanjut Leo, saat merasa diri nya sedang di intimidasi dengan tatapan tajam dari sang Kakak.
Bi Yem datang ke ruang tamu, dengan membawakan nampan berisi jus untuk mereka semua, dan juga ada cemilan untuk menemani waktu mereka yang sedang menunggu Arga pulang.
"Bi, bibi tau kemana Alena pergi?" tanya Al,
"Oh, Non Alena tadi ijin sama bibi katanya pergi bersama dengan dokter Fino!" ungkap Bi Yem. Xan langsung menoleh ke arah Bi Yem mendengar nama Fino di sebut.
"Dokter Fino, dokter pribadi Papa?" tanya Xan, Bi Yem hanya mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan Tuan nya, lalu Bi Yem kembali ke dapur, setelah merasa pekerjaan nya sudah selesai di sana.
Xan melirik ke arah Al dan El, lalu ke arah Leo.
"Sejak kapan Alena dekat dengan dokter Fino?" Xan mengajukan pertanyaan kepada adik - adik nya tentu saja mereka terkejut.
Sejak kapan sang Kakak menjadi penasaran dengan urusan orang lain.
"Kenapa Kak Xan bertanya tentang itu? apa Kak Xan sudah mulai menyukai Alena? " tanya Leo, mendengar pertanyaan Leo, Al dan El langsung menoleh dan menatap Xan dengan aura intimidasi membuat Xan terkejut dan gelagapan di depan mereka.
"Apa yang kamu katakan ?" Xan bangun dari tempat duduk nya menatap tajam ke arah Leo.
"Eh Kak Xan, kalau memang tidak benar, kenapa Kakak harus marah?" tanya El, Al mengangguk membenarkan ucapan El.
"Benar" sahut Leo,
"Kalian itu karena terlalu dekat dengan wanita itu, membuat kalian menjadi bodoh!" ketus Xan, Leo dan yang Leo membulatkan mata mereka.
__ADS_1
"Kamu juga El, sejak kapan kamu bisa langsung percaya dengan seorang wanita bukan kah, kau paling benci wanita itu sebelum nya?" lanjut Xan, menatap lekat ke arah El menunggu jawaban dari Adik nya.
"Itu karena..." El menggantung ucapan nya, karena tidak ingin mengatakan yang sebenar nya. Kalau Alena sudah menolong nya di hotel hari itu. Jika Xan, tahu tentang razia di hotel dan El terlibat, Xan akan marah. Karena, dia sudah melarang adik nya untuk bertindak seperti saat mereka hidup di Paris.
"Waktu itu Kak El..."
"Kami sudah bisa menerima Alena, dia baik dan tidak buruk seperti yang kita pikirkan !" timpal Al secepat nya, karena akan tahu, jika Leo pasti tidak bisa berbohong.
"Tapi..."
Tit..Tit..Tit..
Ucapan Xan terpotong, saat suara klakson mobil terdengar dari luar, pertanda sang ayah sudah tiba, mereka segera bangun dan beranjak pergi untuk menyambut nya di depan teras.
Ceklek !
Mereka membuka pintu, Al memapah tubuh Leo, karena kaki nya masih sakit. Mereka berempat langsung terkejut melihat Arga dan Alena di dalam mobil yang sama, dan juga ada dokter Fino.
'Jadi, wanita itu pergi untuk menjemput Papa?' Xan melihat ke arah Alena, yang membantu Arga turun dari mobil.
"Tidak apa-apa, Papa hanya lelah, Kamu tahu Papa punya penyakit asma sejak dulu, sedikit lelah saja Papa akan selalu begini" Arga tersenyum kepada Anak - anak nya. Xan mengambil alih Arga di tangan Alena.
Leo, Al dan El langsung memeluk Arga, saat sang ayah sudah tiba di depan mereka, ada dokter Fino dan Alena di sana.
"Bagaimana kaki mu Leo?"
"Sudah lebih baik Pa, mungkin seminggu lagi akan sembuh" ujar Leo,
"Berarti kamu sangat merepotkan Alena dalam beberapa hari ini?" tebak Arga, tapi masih memperlihatkan senyuman nya kepada Leo.
"Tidak kok Paman, Mereka sangat patuh" sahut Alena, yang berdiri di belakang mereka semua.
"Alena, bantu Paman untuk masuk ke dalam"
"Baik Paman" Alena segera maju, dan membantu Arga untuk masuk ke dalam, yang lain juga ikut masuk, termasuk dokter Fino.
Tiba di ruang tamu, Xan terus saja melihat pemandangan di depan nya yang sulit ia artikan. Dia melihat Arga begitu dekat dengan Alena, bahkan hari ini Alena menjemput Arga, sedangkan Arga melarang anak - anak nya untuk menjemput dirinya.
__ADS_1
Sungguh membuat Xan, tidak habis pikir jalan pikiran Arga.
"Terimakasih Alena" ucap Arga, saat wanita ini memberikan segelas minuman untuk Arga.
"Pa, kenapa Papa larang kami untuk menjemput Papa, sedang mereka bisa menjemput Papa, yang anak Papa kami bukan mereka!" tegas Xan, sembari menunjuk ke arah Fino dan Alena.
Xan adalah orang yang tidak mudah percaya akan kebaikan orang lain, apalagi orang yang baru di kenal nya.
"Mereka bukan orang lain, dokter Fino adalah dokter pribadi Papa, dan Alena ada perawat Papa, kamu lupa, dia itu sudah bekerja sama Papa sebelum dia datang ke rumah ini" Xan terdiam, mendengar jawaban Arga, meskipun menurut nya tidak masuk akal.
"Tuan, kesehatan mu saat ini kurang baik, anda harus banyak - banyak istirahat, dan jangan sampai lelah, tubuh anda akan sangat lemah jika anda memaksa diri untuk terlalu lelah dalam bekerja" Fino memberi nasehat kepada Arga, pria itu hanya mangut - mangut sembari tersenyum ke arah Fino.
"Saya mengerti dok, dan terimakasih untuk hari ini"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu" Fino langsung bangkit dari tempat duduk nya, setelah berpamitan.
"Mari Om, biar saya antar ke depan" ujar Alena, yang ikut berdiri, sekali lagi membuat Xan menyempit 'kan mata nya.
Setelah Alena dan dokter Fino pergi, baru lah Arga membuka topik pembicaraan nya dengan mereka semua.
"Bagaimana kerjasama kita dengan Inggris?"
"Lancar Pa, ternyata perusahaan Fernandez yang sebesar ini tidak bisa meyakinkan merek a untuk bekerjasama dengan kita!" ujar Xan, dengan ekspresi malas nya.
"Memang sudah begitu sejak dulu, Fernandez sangat kuat di indonesia, namun tidak di luar negeri, karena pesaing di sana sangat hebat - hebat" pungkas Arga.
"Jadi, Kak Xan kemarin pergi ke Inggris untuk urusan bisnis kerjasama yang bermasalah itu?" tanya Al,
"Emmm, begitu lah aku mengurus nya, tanpa istirahat. Begitu tiba, mereka langsung membuat pertemuan, dan meeting besok nya, langsung membahas kerjasama, benar - benar tidak bisa membuang - buang waktu dengan mereka, satu lagi mereka sangat disiplin dan menjujung tinggi attitude kita!"
"Kamu akan terbiasa" timpal Arga.
Suasana hening beberapa saat. Lalu, baru lah Arga membicarakan rencana pernikahan Xan.
"Xan, dengarkan Papa. Papa ingin kamu mengambil alih perusahaan Papa yang disini, dan menghandle semua bisnis Papa yang ada disini, dan juga di beberapa tempat. Dan satu lagi, Papa memiliki permintaan, Papa ingin Kamu menikah dengan Alena!" ujar Arga, membuat semua orang disana terkejut, tak kecuali dengan Alena yang baru kembali.
Semua orang menoleh, saat mendengar suara ponsel yang jatuh dari tangan Alena, wanita ini ikut terkejut, dan tidak menyangka dengan keputusan majikan nya itu.
__ADS_1