Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Dua hari kemudian


__ADS_3

Sudah dua hari Alena merawat Leo dengan baik, bahkan ia membantu Leo untuk menyelesaikan semua urusan kampus nya.


Tok ! Tok ! Tok !


"Nona Alena, dokter Fino disini!" Bi Yem datang mengantar dokter Fino ke kamar Leo.


"Dok, masuk lah!" Alena bangkit dari duduk nya, memberi akses untuk Fino agar bisa memeriksa keadaan Leo, yang kini berbaring di ranjang tidur nya.


Alena memperhatikan dokter Fino yang sedang memeriksa Leo, tak satu pun ia lewatkan, karena Alena sangat penasaran dengan kondisi Tuan nya.


"Apa disini masih terasa nyeri?" Fino menggerakkan kaki Leo, bagian yang sakit.


"Sudah mendingan dok" jawab Leo.


"Baik, saya ganti perban ya"


"Eeemm"


Fino menggantikan perban yang ada di pergelangan kaki Leo, begitu selesai sang dokter lalu membereskan semua perlengkapan medis nya.


"Leo, perbanyak lah minum air putih, karena itu bagus untuk tubuh mu" saran Fino,


"Iya dok, aku mengerti!" jawab Leo malas, karena dia sendiri malas untuk minum apalagi makan, karena setelah makan Alena pasti memaksa nya untuk minum obat, dan itu membuat Leo kesal.


"Kalau begitu saya pamit dulu, seminggu lagi Leo sudah bisa menggerakkan kaki nya, kalau bengkak ini hilang" ujar Fino, Alena mengangguk mengerti.


Alena mengantar dokter Fino ke lantai bawah, disana ada Xan yang baru pulang dari kantor.


"Oh, Tuan Xan, selamat siang" sapa Fino. Xan hanya mengangguk dan tersenyum tipis, dan berlalu pergi meninggalkan mereka di depan ruang tamu, Xan pergi menuju kamar nya.


"Hati-hati Om dokter!"


"Iya Alena, tetap semangat ya semoga Leo cepat sembuh!" ujar nya ketika masuk ke dalam mobil, Alena hanya tersenyum menanggapi ucapan sang dokter.


Setelah Fino pergi, Alena kembali masuk dan di depan pintu dia berpapasan dengan Xan yang juga akan keluar.


"Alena pastikan Leo makan dan minum obat tepat waktu, jangan sampai telat" Xan memperingati Alena, membuat wanita ini menaikan alis nya.

__ADS_1


"Iya aku tahu itu, Tuan Xan tidak perlu khawatir" jawab nya melewati Xan, membuat pria ini mengerutkan dahi nya, lalu menggelengkan kepala meninggalakn rumah segera, ada berkas di tangan Xan yang ia bawa bersama dengan nya.


Di meja makan, makan malam hanya ada Xan, Al dan El, serta Alena. Tidak ada Leo, yang biasa nya ada di antara mereka.


"Leo sudah makan? sudah minum obat?" Alena melihat ke arah orang yang punya pertanyaan sembari menghela nafas nya.


"Sudah sejak jam enam sore tadi, dan seperti nya dia sedang tidur saat ini" jawab Alena malas, meletakkan sendok nya di tas piring, dia sudah selesai makan malam.


"Bi, kalau Tuan muda sudah selesai makan, tolong meja nya di bersihkan ya"


"Baik Non.."


Alena pergi meninggalkan meja makan, pandangan Al dan El mengikuti langkah kemana Alena pergi.


"Ada apa dengan nya?" tanya El yang penasaran.


"Semenjak ia berdebat dengan Kak Xan, sikap nya berubah jadi dingin, sebelumnya dia terlihat lebih ceria dan suka bercanda dengan kita" jawab Al, Xan langsung menoleh ke arah ke dua adik nya.


"Apa kalian mulai dekat saat aku tidak ada?"


Pertanyaan itu, membuat Al dan El diam sejenak, lalu mengangguk bersama. Xan hanya menghela nafas nya kasar, lalu menyimpan sendok di sisi piring, makanan nya belum habis, hanya sedikit yang Xan sentuh.


"Ke ruang kerja, ada proposal yang harus ku siapkan, kontrak kerjasama ini tidak semudah yang ku bayangkan sedikit saja salah, maka orang itu akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita " pungkas Xan, Al terlihat bingung, yang ia tahu perusahaan papa nya tergolong paling besar di sini.


"Bagaimana bisa? Fernandez bukan kah termasuk perusahaan yang besar?"


"Disini iya, tapi tidak untuk di luar negeri!" ujar Xan, dan berlalu pergi, dan masih menyisakan banyak pertanyaan di kepala Al yang terlihat bingung dengan jawaban kakak nya.


Sebelum Xan kembali ke ruang kerja yang ada di ruangan paling ujung di lantai dua, dia melewati kamar Leo, yang pintu kamar tidak di tutup nya.


Terlihat Alena sedang membersihkan tubuh Leo, dan juga Alena menggantikan baju untuk Leo, adik nya masih dalam keadaan tertidur, Alena merawat Leo dengan baik.


Setelah sadar Alena akan keluar dari kamar Leo, Xan langsung melewati kamar tersebut.


"Oh, Tuan Xan, mau melihat Tuan Leo?" tanya Alena saat melihat punggung Xan yang menjauh dari kamar Leo. Pria itu menoleh, raut wajah nya dingin seperti biasa.


"Tidak aku mau ke ruang kerja" dan Xan segera pergi meninggalkan tempat itu. Alena hanya menaikan ke dua bahu nya saat melihat pria itu berlalu begitu saja.

__ADS_1


Alena tiba di lantai bawah, dengan baskom di tangan nya, ada dua pria yang sedang sibuk main game di ruang keluarga.


"Alena, sini main bersama kita" seru El, dan itu membuat Al menaikan alis nya. Sejak kapan El mau berbagi milik nya dengan orang lain, mustahil pikir Al.


"Yah, kalah" seru Al, saat melihat game nya kalah dari El, yang tadi sibuk mengalihkan pandangan nya ke arah Alena.


"Makanya kalau main itu fokus, jangan cuma bisa melirik perempuan aja" ketus El, Al hanya tersenyum miring, lalu Alena menghampiri mereka.


Duduk di sofa dengan raut wajah yang malas, tidak ada keceriaan, mungkin saja Alena capek dan juga ada sesuatu yang wanita ini sembunyikan.


Al dan El sama-sama menoleh ke arah Alena yang duduk di sofa, sembari menyandarkan kepala nya di sofa.


"Kalau capek tidur saja, jangan bergadang!" tukas Al, Alena langsung menoleh dan bangkit dari duduk nya, tak lama kemudian Alena pergi.


"Ada apa dengan nya?" tanya El lagi, saat melihat Alena pergi dari ruang keluarga.


"Entah, aneh!" mereka melanjutkan bermain game, dan kini pandangan Al dan El fokus pada layar di depan nya.


Sementara di dalam ruangan kerja, Xan tengah di sibuk 'kan dengan berbagai macam berkas yang ada di atas meja nya. Mata nya terlihat sedikit mengantuk, karena semenjak pulang dari Inggris, Xan belum beristirahat cukup dan dia sangat leleh beberapa hari ini.


Xan memijit pelan tekuk nya, lalu merenggang 'kan otot-otot nya, melanjutkan menyelesaikan proposal yang ada di depan nya.


Drrt...Drrt...


Satu panggilan mengejutkan Xan, lalu tangan nya bergerak untuk mengangkat panggilan itu.


"Papa.." seru Xan,


[Sudah pulang?]


"Sudah Pa, bagaimana keadaan Papa?"


[Sehat, besok Papa akan kembali ke Indonesia, tidak perlu menjemput, katakan sama adik mu untuk berkumpul di rumah pada siang hari]


"Baik Pa, tapi apa yang terjadi, bukan kah kita bisa bertemu malam hari, saat Kami pulang kerja?"


[Jangan membantah!]

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Arga memutuskan panggilan nya, membuat Xan mendengus kesal, dan kembali menyimpan ponsel yang ada di tangan nya.


__ADS_2