
Begitu tiba di dalam rumah, Bi Yem langsung menyambut Alena, dan ada beberapa orang lain nya yang datang kehadapan Alena.
"Selamat datang, Nyonya muda" sapa Bi Yem, Alena tersenyum tipis.
"Nyonya muda, ini Bi ati dan ini Bi Nuri, mereka berdua adalah pelayan baru di dalam rumah ini, Tuan Arga mengirim mereka kesini. Dan ini tukang kebun kita" Bi Yem memperkenankan mereka. Alena pun menyapa semua orang yang saat ini berdiri di depan nya.
"Mari Nyonya muda, kami antar Anda ke kamar"
"Aku bisa sendiri" jawab Alena, yang hendak berlalu dari tempat itu, namun Bi Yem melarang nya.
"Jangan tinggal di kamar yang terpisah ya, anda tinggal di kamar Tuan Xan, kami sudah membersihkan nya" ungkap Bi Yem, yang tersenyum manis kepada Alena.
"Baik Bi"
Alena bergegas naik tangga, meninggal semua orang di lantai dasar. Tiba di depan kamar Xan, Alena nampak ragu menyentuh handle pintu kamar tersebut.
Namun, mau enggak mau, saat ini dia adalah istri Xan, Alena harus tinggal sekamar dengan Xan.
Ceklek !
Pintu kamar terbuka, dan benar saja kamar itu sudah di bersihkan oleh Bi Yem dan rekan nya. Nampak lebih bersih dari sebelum nya, dan terlihat begitu rapi, ada tambahan sofa di dalam kamar itu, dan juga ada beberapa pakaian mandi yang tertata di dalam rak kaca yang ada di pinggir kamar mandi.
Alena melangkah masuk ke dalam kamar tersebut, wangi mawar mulai mengganggu indra penciuman nya. Itu sangat harum, bahkan Alena mengakui nya.
Ranjang pengantin terlihat begitu indah dengan hiasan bunga melati dan mawar di atas nya, tapi Alena terlihat ngeri saat melihat penampakan itu.
"Apa aku harus tidur sekamar?" gumam Alena, yang ingin berbalik, kini menghadap ke arah pintu kamar.
"Tidak Alena, dia suami mu, kamu harus yakin, Tuan Xan, enggak akan menyentuh mu, karena dia tidak menyukai mu!" lanjut Alena yang kini sudah duduk di tepi ranjang, sembari mengintai seluruh kamar itu, dengan ke dua netra nya.
Setelah merasa aman, Alena berjalan ke arah lemari, di saat Alena membuka nya, mata nya sontak terkejut melihat pemandangan di depan nya.
Ada banyak baju lingerie, Alena terkejut dan mengambil salah satu nya, di perhatikan oleh Alena, baju dinas malam yang cukup transparan. Alena menyimpan kembali baju itu, lalu ia membuka lemari di sebelah nya, itu adalah baju milik dia sendiri, dan Alena mengambil salah satu nya, dan membawa nya ke kamar mandi untuk bergantian.
Malam pun tiba...
Di meja makan, hanya ada Alena, keempat Tuan muda belum pulang, dan benar saja, mereka tidak akan pulang secepat itu.
Di atas meja penuh dengan hidangan, padahal yang makan hanya Alena seorang.
"Bi Yem, kenapa masak banyak sekali?"
"Bibi tidak tahu, kalau Tuan muda tidak pulang"
"Eemmm, tidak apa-apa, ini untuk kalian saja, Aku tidak bisa menghabiskan nya sendiri" ungkap Alena, setelah makan, Alena berdiri dan meninggalkan meja makan.
Di dalam kamar, tepat nya di balkon, Alena menatap langit - langit yang cerah di hiasi oleh bulan dan bintang pada malam hari.
"Ayah, Ibu. Alena sudah menikah, doa 'kan hidup Alena bahagia ya ayah!" gumam Alena, entah kenapa rasa ngantuk tiba-tiba menyerang Alena.
Alena lalu masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu balkon. Alena memakai baju piyama, lalu ia berjalan ke arah ranjang, menyusun bantal pembatas antar tempat tidur Xan, dan dirinya.
Sebelum Alena naik ke atas ranjang, lebih dulu dia melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, keempat Tuan muda belum terdengar suara mereka yang pertanda nya mereka belum pulang.
...****...
Al dan El serta Leo, di sisi kiri Leo ada Xan yang sedang menggoyangkan minuman di tangan nya.
"Kak Xan, habis 'kan minuman mu!" titah Leo, dalam keadaan setengah mabuk.
"Ini juga sudah gelas ke lima" ujar Xan, nampak terlihat kepala nya yang sedikit pusing.
Hanya Al yang tidak minum, karena dia akan mengemudi mobil, jadi Xan melarang Al untuk minum.
"Ayo tambah lagi" seru El yang mengangkat gelas nya. Ada senyuman devil di wajah El dan Leo, entah apa yang sedang mereka rencana 'kan. Namun, mereka sudah memberi kejutan untuk Xan di malam ini, kejutan yang tidak bisa di lupakan oleh Xan.
'Habis lah malam ini' batin El yang tersenyum licik ke arah Xan, yang dalam keadaan setengah mabuk.
"Kau memberi obat untuk kak Xan?" bisik Al, El mengangguk nya.
"Kalau kak Xan, sampai tahu mampus kalian berdua besok pagi"
"Tidak akan, kak Xan malah akan berterima kasih kepada ku" jawab El dengan penuh percaya diri.
Dentuman demi dentuman kian terdengar, alunan musik disko semakin lama semakin berguncang hebat.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Alunan musik terdengar begitu keras, di bawah pengaruh minuman, seakan -akan semua tubuh di sihir dan di tarik untuk ikut bergoyang.
"Kenapa musik nya enak banget" teriak Xan, yang sudah mulai gila, ini adalah pengaruh obat yang di berikan El. Karena, biasanya Xan selalu tahan dengan minuman alkohol.
"Apa kau menerima dosis yang tinggi?" bisik Al, El kembali mengangguk, mengiyakan pertanyaan Al.
"Sial, kalau sampai Kak Xan teler disini, kau yang dalam masalah"
__ADS_1
"Tidak akan, kau lihat saja dia begitu bersemangat!"
Mereka melihat tingkah Xan yang begitu konyol, sedang bergoyang sembari mengangkat minuman yang ada di tangan nya.
"Sudah larut malam ini, kita harus kembali, jika tidak Kakak ipar akan mengamuk!" tegas Al, yang berdiri lebih dulu.
"Hey Kau, berikan aku minuman!" teriak Xan, Al langsung membantu Xan untuk berdiri.
"Kak Xan, cukup ya, kita akan pulang oke"
"Tunggu, bantu aku" seru Leo, mengulurkan tangan nya ke arah El, pria itu segera mengangkat adik nya.
Tiba di depan mobil, Al langsung membuka pintu mobil, dan membantu Xan untuk masuk ke dalam mobil. Setelan Leo dan El berada dalam mobil, Al segera melajukan mobil nya.
Xan, El dan Leo terlihat begitu berantakan, Xan dan Leo sudah lama tidak menikmati minuman mereka, semenjak kembali ke Indonesia. Jadi malam ini mereka menikmati nya sepuas mungkin.
Tiga puluh menit berlalu mereka semua tiba di kediaman Fernandez.
"Oh, panas nya!" teriak Xan, yang mencoba menarik kemeja yang ia pakai. Al dan El sadar, kalau obat itu akan segera bekerja.
"Cepat turun 'kan Kak Xan, bawa dia cepat ke kamar nya, jangan biarkan dia membuat ulah di sini" titah Al, El langsung membantu Al, dan membiarkan Leo, turun sendiri dari mobil.
Setelah mengambil kunci di saku celana nya Xan, Al segera membuka pintu rumah. Lalu melihat Leo, yang baru saja turun dari mobil.
Ceklek !
"Semua nya ayo tambah lagi minuman nya" teriak Xan, membuat Al dan El terkejut, lalu tertawa bersama, hanya saja suara nya mereka tahan, agar tidak membangunkan Alena, yang mereka rasa sudah tertidur.
"Cepat Al, dia sudah mulai gila" cibir El.
Dengan bersusah payah, Al membawa Xan sampai ke depan kamar nya. Tanpa, mengetuk Al langsung membuka pintu kamar, melihat susana yang sedikit gelap, benar saja Alena sudah tertidur, mereka dapat sedikit mengintip.
Blam!
Al langsung menutup pintu kamar Xan, setelah membawa Xan masuk.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Leo, yang baru saja tiba di lantai dua.
"Sssttt...! diam"
El menarik Leo, agar tidak membuat suara, bisa - bisa Alena tahu rencana mereka yang menjebak Xan.
Di dalam kamar, Xan yang berjalan sempoyongan menuju ranjang, dengan tubuh yang tidak stabil.
Bugh!
"Eemm, apa itu?" gumam Alena, dan sedikit menggeliat. Mencoba membuka mata nya, lalu menghidupkan lampu.
Alena terkejut melihat Xan yang tiba-tiba ada di atas ranjang. Alena melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Panas!" teriak Xan, sekali lagi mengagetkan Alena. Xan, berbalik dan mencoba membuka kancing kemeja nya.
"Eh, apa yang Tuan muda lakukan, kalau mau ganti baju sana ke kamar mandi aja" titah Alena, Xan tidak menggubris nya.
Mata nya masih terpejam, Xan mencoba membuka kancing kemeja nya hingga selesai. Setelah kemeja terbuka, di saat Xan ingin membuka bagian celana nya, Alena langsung melarang nya.
"Tunggu, kamu tidak boleh membuka nya di sini" Alena menahan tangan Xan, pria itu langsung menatap tepat ke arah netra Alena.
Dugh!
Secepat kilat Xan sudah mengubah posisi mereka, saat ini Alena ada di bawah Xan, dan Xan di atas Alena.
"Ap- apa yang kamu lakukan?" tanya Alena yang terbata.
"Panggil Aku Kak Xan, Alena aku suami mu bukan?" tanya Xan, dalam keadaan setengah sadar, membuat Alena tersipu malu dengan pertanyaan itu.
"Ugh!" Xan, sudah tidak dapat menahan nya lagi, obat perangsang yang di berikan El kepada nya sudah bekerja.
Di luar kamar, terlihat ke tiga Tuan muda yang sedang berusaha menguping.
"Apa kau mendengar nya?" tanya El, Al menggelengkan kepala nya.
"Apa yang coba kalian dengar 'kan. Kamar kita 'kan kedap suara" cetus Leo, berjalan ke arah kamar nya.
"Kenapa kau tidak mengatakan itu, kalau tahu begitu, aku tidak akan membuang - buang tenaga ku untuk mengintip disini, bikin kesal saja" ketus El, lalu beranjak meninggalkan kamar tersenyum. Al sendiri hanya bisa menggelengkan kepala melihat rencana El yang gagal.
Sementara di dalam kamar, masih ada orang yang tersiksa akan pengaruh obat yang diberikan oleh El.
"Ini pasti ulah El " gumam Xan pelan.
"Tuan Xan..."
"Panggil aku Kak Xan, aku suami mu bukan?" tanya Xan lagi, dia sudah bertanya lebih dari dua kali sama Alena, wanita ini hanya mangut - mangut saja, karena selain malu dia pun sedikit takut, saat melihat wajah Xan merah padam.
__ADS_1
Benar - benar obat itu semakin lama semakin tidak dapat di tahan lagi, bahkan Xan tidak dapat bisa bertahan lebih lama. Alena yang masih berada di bawah Xan, dapat melihat roti sobek milik sang suami.
"Alena, maaf!" ucap Xan, nafas nya memburu, Xan mengepalkan tangan kanan, tangan satu lagi mencoba menahan tubuh Alena, agar tidak pergi dari sana.
"Kak Xan, ku mohon, biar 'kan aku berdiri dulu"
Dugh!
Xan, menjatuhkan tubuh nya di atas Alena, deru nafas Xan terasa begitu jelas di daun telinga Alena. Sehingga ia merasa merinding, bulu kuduk ikut berdiri tatkala nafas Xan semakin memburu di daun telinga Alena.
'Apa yang terjadi?' batin Alena, yang masih menahan tubuh Xan yang kini berada di atas nya.
"Alena, bisa kah kau membantu ku? aku tersiksa, aku sudah tidak dapat menahan nya lagi" bisik Xan, raut wajah Alena memerah, Alena merasakan sesuatu di bawa saja yang sedikit memegang.
"Eemmmm" akhirnya Alena pasrah, dan mengangguk.
"Kamu yakin, kamu tidak akan menyesal?" tanya Xan, yang kini memegang ke dua pipi Alena, sekali lagi Alena mengangguk nya.
"Kamu yakin, tidak akan membenci ku ke esokan nya?"
"Eeemmm" Alena mengangguk lagi, tapi Xan masih menahan diri untuk tidak langsung memakan Alena, karena bagaimana pun, mereka berdua tidak pernah saling jatuh cinta satu sama lain.
"Ta-tapi, bagaimana jika ak-aku hamil" lirih Alena dengan suara yang cukup pelan, dan sedikit malu.
"Aku akan membuang nya di luar" tukas Xan, yang mencoba menyakinkan Alena. "Kau percaya aku 'kan?" Alena terdiam, saat Xan bertanya kepada Alena apa Alena percaya Xan, atau tidak. Tapi, saat ini Xan adalah suami Alena yang sah. Tentu saja Alena tidak punya alasan lain untuk menolak nya.
"Alena..." lirih Xan, dengan suara berat, bibir tebal Xan yang kian menyeruak aroma minuman yang tadi di minum nya. Membuat Alena ingin muntah, karena pertama kali mencium aroma minuman beralkohol.
Melihat Alena akan mual, Xan langsung mencium bibir Alena. Yang semula serasa ingin muntah, namun ciuman itu, tiba -tiba berubah menjadi lembut dan sangat manis. Ke dua mata Alena membulat, namun ketika Xan sudah memperlambat gerakan bibir nya, Alena pun menikmati meskipun dia tidak terbiasa dan ini yang pertama, Xan dapat memahami nya.
"Eegh!" keluh Alena, di tengah - tengah mereka ciuman, Alena terkejut, tubuh nya merespon ciuman Xan yang cukup panas itu.
Tubuh Alena menggeliat, selama ini dia tidak pernah dekat dengan pria mana pun, jadi Alena tidak pernah tahu, bagaimana nikmat nya berciuman. Namun, Xan beruntung mendapatkan barang yang bersegel murni.
Ciuman Xan dari bibir kini turun ke leher Alena, dan sedikit brutal, terlihat Xan, meninggalkan jejak kepemilikan disana, Alena meremas sprei dan menarik nya, saat merasa hisapan demi hisapan yang di berikan oleh Xan kepada nya.
Tangan Xan mencoba membuka kancing piyama Alena. "Apa kamu yakin?" tanya Xan lagi, karena dia tidak ingin memaksa wanita yang tidak pernah mencintai nya dan tidak di cintai oleh nya.
"Iya" jawab Alena, seraya mengangguk. Xan, pun melanjutkan permainan nya, satu demi satu kancing piyama mulai terbuka, dan terlihat gundukan mulus berbalut bra milik Alena.
Awal nya Xan terkejut dan tertegun, gundukan itu sungguh indah, dan bulat dengan sempurna, disaat pengait bra terlepas, Xan semakin di buat gelisah, saat melihat benda kecil yang bewarna merah muda milik sang istri.
Alena tertegun, saat menyadari piyama nya sudah berhasil terbuka, dan kini Xan sedang menatap ke dua gunung kembar nya yang terpampang begitu nyata.
"Ja-jangan di lihat" ucap Alena terbata, yang senang menahan malu.
"Aku akan melakukan nya dengan lembut" Xan, membela raut wajah Alena, Xan sudah tidak tahan lagi, namun dia memilih untuk melakukan pemanasan, agar tidak membuat Alena syok.
Jari jemari Xan, memijit pelan benda kecil bewarna merah muda milik Alena, dan bibir Xan mulai menjilati yang satu nya. Tubuh Alena merespon dengan cukup hebat, sehingga membuat semangat dalam diri Xan, semakin bangkit.
"Sa-sakit" lirih Alena, saat dengan sengaja Xan menggigit benda kecil milik Alena, Xan tersenyum tipis saat melihat raut wajah Alena yang memerah karena tersipu akan perbuatan Xan.
Entah sejak kapan, ke dua nya sudah berada di dalam selimut, Xan menaikan suhu AC, dan kini ke dua nya sudah bersiap - siap pada permainan berikut nya.
Gluk!
Xan menelan ludah, melihat samar aset milik Alena, di bawah selimut, penghalang nya sudah di buang oleh Xan di lantai, terlihat pakaian Xan dan Alena yang berserakan di lantai.
"Ugh, pe-lan" pinta Alena, dengan netra nya yang sendu.
"Tahan ya, jangan panik, kamu harus rileks, aku akan melakukan nya dengan sangat pelan, tapi kamu jangan bergerak, jika tidak itu akan membuat kamu sakit" ujar Xan, yang saat ini sedang membelai raut wajah Alena, menenangkan sang istri.
Alena patuh pada ucapan Xan, sehingga Xan mencoba menerobos pertahanan di bawah sana saja, Alena menahan diri agar tidak bersuara, meskipun air mata nya tidak dapat terbendung lagi.
Xan sadar, Alena menahan rasa sakit, padahal Xan belum berhasil memasukan nya. Namun, sudah membuat Alena kesakitan. Xan, mencium bibir Alena dengan lembut, sembari menenangkan Alena, menyadari sang istri sudah mulai rileks, spontan Xan mendorong cukup kuat, sehingga Alena tersentak dan kaget. Alena menggigit bibir Xan, saat dia terkejut akan sesuatu di bawah saja yang terasa begitu sakit.
Air mata Alena sudah tidak dapat di hentikan lagi, semakin lama semakin deras, Alena dan Xan, sama - sama merasakan sesuatu di bawah sana mengalir melalui celah ke dua aset berharga mereka.
Setelah merasa Alena sudah membaik, baru lah Xan menuntaskan permainan nya. Tiba - tiba suara petir terdengar sedang menghantam bumi, dan tak lama hujan turun begitu lebat.
Alena menahan rasa yang cukup sakit, sesekali suara ******* keluar dari bibir nya beriringan dengan rasa sakit.
"Agrh, kak Xan, pelan. Aku kesakitan " ucap Alena dengan suara yang terputus - putus. Xan,memperlambat gerakan nya, hingga dia menyelesaikan nya.
"Aaahh!" desah panjang Xan, setelah menuntaskan hasrat nya, dan ia tertidur di atas tubuh Alena.
"Kak Xan, bangun. Kamu membuang nya di dalam? " tanya Alena yang baru sadar.
"Alena maaf, aku lupa" jawab Xan yang melihat ke arah netra Alena, bukan langsung mencabut nya, Xan malah tertegun melihat ke arah netra Alena yang sedang menangis.
"Ba-bagaiamana kalau aku ha-hamil. Hiks..Hisk"
"Tenang ya, enggak bakal terjadi, besok kita ke rumah sakit, oke!" Xan, mengusap kepala Alena, dan mengecup kening Alena beberapa kali.
__ADS_1
"Terimakasih Alena" ucap Xan, yang kini tidur di sebelah Alena, memeluk erat tubuh Alena, yang masih dalam keadaan takut, apa yang barusan telah terjadi.
Alena membenamkan wajah nya di dada bidang Xan, hingga ia tertidur, begitu juga Xan, memeluk Alena dengan erat, entah dalam keadaan sadar atau masih pengaruh obat.