Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Bukan jodoh


__ADS_3

Sebelum ceritanya di lanjutin. Author mau minta maaf sebanyak banyaknya karna jarang update akhir akhir ini. Selain author punya banyak kesibukan lain, beberapa hari yang lalu paket kouta utama author habis, sisa paket malam doang. Sedangkan author bukan orang yang suka bergadang.


Sekali lagi maaf ya...


Silahkan di nikmati ceritanya...


***


"Kata 'kan itu bohong. ITU BOHONG 'KAN NALA!!?" Teriak Haikal mengguncang tubuh Nala kasar dan berakhir terpuruk di lantai dengan bahu bergetar. Yah, dia menangis.


"Itu bohong 'kan Lala? Lala gak mungkin ninggalin Ikal. Ikal cinta Lala, begitu pula sebaliknya," isak tangis tak terelakkan. Suasana seketika berubah canggung, dengan aura kesedihan yang mendalam. Nala berdiri kaku dengan pandangan kosong kedepan, menahan air mata yang sudah lolos sedari tadi. Mencoba untuk tidak tersakiti melihat belahan hati menangis pilu di tinggal kekasih menikah.


"Hiks, orang suruhan papa akan. Akan mengurus pengunduran diri saya. Kalau begitu saya permisi," pergi adalah cara terbaik bagi Nala untuk keselamatan dia dan juga Haikal.


Kebersamaan kita hanya akan berujung petaka. Maaf 'kan aku yang egois. Mencintaimu dalam diam adalah cara terakhir yang aku punya.


"Eee... sa-saya.. saya pergi nyusul Nala dulu," karna merasa aneh dengan suasananya, Milea berlalu keluar mengejar Nala yang sudah pergi entah kemana.


Tinggallah Haikal dan Zaky di dalam ruangan tersebut. Hanya ada isak tangis yang keluar dari mulut Haikal, sedang 'kan Zaky terdiam kaku bingung hendak melakukan apa.

__ADS_1


Jujur saja, ini adalah kali pertama bagi Zaky melihat sahabatnya Haikal menangisi cinta yang pergi. Setelah sekian lama membuat orang menangis karna penolakan, kini justru Haikal yang menangis karna di tinggalkan.


"Hoi kal! Cengeng banget sih, kalau Nala mau nikah emangnya kenapa? Itu berarti dia bukan jodoh lu!" Celutuk Zaky tak ada niat ingin menenangkan sahabatnya.


"Brisik! Gue do'ain lu gak jodoh sama Milea! Asal lo tau! Do'a orang yang terzholimi itu akan selalu di ijabah sama Allah." Balas Haikal sengit.


"Kok lo do'ainnya gitu sih! Dari segi mananya lo terzholimi?!" Kali ini Zaky mulai terbawa suasana hati Haikal yang buruk. Jika menyangkut Milea, Zaky akan berada di garis terdepan.


"Di tinggalin doi nikah di saat masih ada janji yang belum tertunaikan," jawab Haikal mendramalistir.


"Gak ada hadist-Nya! Udah jangan ngarang yang enggak enggak lu, ingat dosa!" Sebuah pulpen melayang, dan berhasil Haikal tangkap sebelum sempat mengenai wajah tampannya yang tetap tampan meski matanya sembab.


Milea memasuki pekarangan rumah mewah yang menjadi tempat berteduh bagi sahabatnya Nala. Sudah lebih dari 4 tahun dia tidak datang kesini. Tidak ada yang berubah, masih sama sejak terakhir kali ia berkunjung kesini. Kirana masih suka mengoleksi tanaman hias, sedang 'kan Wendi masih suka mengoleksi mobil mobil antik.


"Tunggu sebentar!"


Cklek


"Siapa?"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum tante, ini Milea. Nalanya ada tante?" Sapa Milea mengambil tangan Kirana untuk di cium sebagai tanda hormat.


"Wa'alaikumussalam. Nalanya ada di kamar, kamu naik aja," Kirana membuka lebar lebar pintu rumah dan mempersilahkan Milea untuk masuk.


"Makasih tante, kalau gitu Milea gak sungkan lagi buat masuk,"


"Iya masuk aja gak apa apa. Kamu kayak sama siapa aja, anggap aja rumah sendiri,"


"Hehee iya tan, kalau gitu Milea langsung kekamar Nala ya," setelah berbasa basi sebentar dengan Kirana, Milea menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Nala yang terletak di lantai dua.


Cklek


Pintu terbuka. Milea perlahan masuk dan menutup pintu kembali dengan rapat. Siluet tubuh orang yang dia kenal kini tengah menangis di bawah bantal. Kebiasaan Nala yang hanya di ketahui Milea, Kirana dan Anna jika wanita itu sedang dalam fase patah hati.


"Nala..." tubuh itu masih bergetar, itu artinya sahabatnya itu masih hidup. Syukurlah, setidaknya patah hati kali ini tidak membuat Nala nekat bunuh diri seperti dulu saat putus dengan Raka. Berarti sahabatnya masih sayang nyawa.


"Aku suka sama dia, tapi aku juga tahu aku hanya akan menjadi petaka untuknya. Aku tidak ingin menjadi bebannya lagi. Aku tidak ingin kejadian seperti dulu terjadi lagi. Adanya aku di sisinya hanya akan mempersulit dia. Salah bila aku ingin dia bahagia tanpa harus tersuliti dari aku?" Dengan suara yang teredam, Nala berkeluh kesah tanpa peduli siapa yang ada di balik suara yang memanggilnya tadi. Dia hanya ingin menumpahkan rasa sakit ini agar lebih reda.


"Semua orang pasti ingin orang yang dia cintai bahagia. Tapi asal kamu tahu, dengan caramu itu, bukannya dapat membuat dia bahagia. Tapi, kalian akan sama sama tersakiti," menghela nafas sejenak. "Kalau saling mencintai, kenapa harus ada kata tersakiti? Jika bisa bersama, mengapa harus ada kata pisah? Nala, jangan egois. Aku tahu hatimu ingin, tapi egomu lebih besar. Berdalih ingin membahagiakan dia, justru apa yang kamu lalu 'kan akan membuat dia tersakiti lebih dalam. Renung 'kan kata kataku. Cinta jika bersatu akan membentuk sebuah kebahagiaan, tapi jika berpisah, hanya ada kata tersakiti."

__ADS_1


"Kamu ingin dia bahagia bukan? Satu 'kan cinta kalian. Karna hanya dengan itu, kalian akan sama sama bahagia. Soal bagaimana nantinya, itu urusan belakangan. Jika kalian hadapi bersama, aku yakin semuanya bisa terselesaikan tanpa harus saling berkorban menahan rasa sakit. Aku harap kamu mengerti apa maksud ku, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik baik,"


Setelah mengatakan nasehat untuk Nala, Milea lebih memilih pergi memberi luang waktu untuk Nala agar mau merenungkan setiap kata katanya.


__ADS_2