Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Sunset


__ADS_3

"Woaahhhh!!"


Teriakan dua orang wanita sedikit membuat para pengunjung lain mengalihkan pandangannya, namun sedetik kemudian, mereka kembali sibuk dengan urusan masing masing.


"Pak Haikal tolong fotoin kita berdua dong!" Pinta Nala dengan cepat menyerahkan ponselnya dan berlari menghampiri Milea yang tengah berdiri di bibir pantai menunggu.


"Oke... aku hitung sampai tiga ya. Satu... dua... ti..." Haikal menghentikan sejenak hitungannya sembari menyeringai tipis. Dalam sekejap mata, dia langsung mengangkat ponsel Nala tinggi tinggi dan..


"Zaky hadap sini!!" Ckrek. Foto terambil, Zaky yang saat itu belum siap hanya memasang wajah datar kearah kamera.


"HAIKAL MALIK!!" Teriak dua orang wanita yang tertipu itu geram. Haikal tertawa senang saat melihat keduanya merajuk.


"Hahaa.. oke oke. Kali ini aku serius. Atur posisi. Oke... satu.. dua.. tiga!!"


Ckrek


"Lagi lagi!"


Ckrek


"Ahhh candid!! Lagi lagi!!"


Ckrek


"Kejauhan!"


Ckrek


"Ihhh gelap! Lagi!"


Ckrek


"Huh. Udah belum? Cerewet banget sih? Perasaan dari tadi foto bagus semua deh, di mana letak kagak bagusnya?!" Gerutu Haikal merasa lelah.


"Lumayan. Terima kasih untuk pak Haikal yang terhormat, karna sudah mau meladeni permainan kami," ledek Nala.


"Betul. Anggap saja itu karma karna tadi sudah membuat kami berpose dengan baik, tapi malah dikerjai." Timpal Milea.


Keduanya saling tatap lalu bertos ria dan pergi meninggalkan keduanya menuju bibir pantai. "Huh. Dasar wanita!" Cibir Haikal pelan.

__ADS_1


"Lea..."


"Hmm."


"Udah lama ya kita gak pergi ke pantai. Sekalinya pergi tinggal kita berdua. Aku kangen banget sama Anna. Apalagi waktu ingat dia yang paling semangat kalo bahas tentang pantai," tutur Nala membuat Milea diam.


Huh. Pantai ya? Lirih Milea dalam hati sembari tersenyum kecut. Ditatapnya lautan lepas yang terlihat indah dengan angin menggulung air menuju tepian.


"Hahaaa..."


Seketika pandangan Milea lurus kedepan, seolah di sana terjadi reka adegan ulang saat dirinya dan kedua sahabatnya pergi kepantai.


"Arrrrgghhh..."


"Hus! Anna kamu kok teriak teriak sih? Orang orang pada lihatin kita semua tuh!" Tegur Nala pada gadis cantik bernama Anna itu.


"Biarin. Aku gak peduli. Teriak di sini tuh rasanya lega, seperti beban yang ada selama ini aku pikul hilang seketika," cuek Anna. Anna memejamkan matanya dengan kedua tangan direntangkan, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, menerbangkan rambut terurainya.


Tak jauh dari sana, Milea duduk di atas pasir menatap jauh kedepan dengan pandangan datar. Bukannya tidak ingin bergabung, hanya saja dia ingin menikmati ketenangan ini. Karna jarang jarang dia bisa merasakan ini. Dia juga dapat mendengar apa yang tengah kedua sahabatnya bincang 'kan. Ada perasaan bersalah di hatinya saat mendengar curhatan Anna tentang beban hidup. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia yang tidak ingin pergi saat dirinya menyuruh pergi.


"Milea,"


"Menurut kamu laut itu gimana?" Tanya Anna duduk di samping kirinya, sedangkan di samping kanan ada Nala.


"Biasa aja."


"Ihh pendek amat jawabannya!"


"Biasa na. Kamu kayak gak tahu teman kamu yang satu ini saja. Diakan emang gini, datar!" Ujar Nala dengan santai meminum air yang dia bawa.


"Hahaa iya." Milea diam tak menggubris ucapan kedua sahabatnya yang mengatakan bahwa dia terlalu datar. Bukan maksud seperti ini, hanya saja dia tidak terbiasa menunjukkan ekspresi lain selain tangisan dan jeritan. Karna hanya itu yang biasa ia lakukan setiap hari.


"Menurut aku, laut itu adalah penghubung antara dua pulau atau lebih. Meski jarak memisahkan, tapi mereka tetap berada di lingkup yang sama. Hanya saja tempat yang membedakannya,"


"Seperti aku dan keluargaku. Kita terpisah jauh, tapi meski begitu. Kami masih berada di bumi yang sama, hanya tempat yang membedakannya. Makanya aku suka kesini, karna di sini aku selalu menyadari. Yang pergi, akan selalu kembali. Begitupun sebaliknya." Lirih Anna menerawang kearah hamparan samudra yang luas.


"Milea!!"


"Ha?"

__ADS_1


"Kenapa melamun?" Tanya Zaky lalu duduk di atas pasir diikuti Milea yang juga duduk di sampingnya.


"Tidak. Saya hanya bernostalgia dengan pantai. Sudah sekian lama saya tidak kesini, dan mungkin hampir tidak pernah lagi karna..."


"Karna apa?" Potong Zaky cepat, menatap Milea menunggu untuk dijawab.


"Karna adik anda Anna menyukai pantai," jawabnya pelan. Dengan mata berkaca kaca, dia menatap hamparan luas air laut yang terus menggulung ombaknya kebibir pantai.


"Hiks. Dia bilang. Laut merupakan penghubung antara dua pulau. Dan baginya, pantai bisa menjadi penghubung antara dirinya dan keluarganya.. hiks hiks..." tangis Milea pecah, dia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan rindunya. Itulah salah satu alasannya tidak pernah ingin pergi kepantai lagi.


Zaky terdiam. Dia tidak menyangka bahwa adiknya sangat menyukai pantai. Apa selama ini dia benar benar seorang Kakak? Sampai tempat kesukaan adik sendiri dia tidak tahu.


Zaky memandang gadis yang tengah menangis itu. Tanpa ragu dia menarik tubuh kecil Milea kedalam pelukannya, memberikan kehangatan dan juga sebuah ketenangan untuk gadis yang tengah rapuh ini. Memberikan apa yang belum sempat ia berikan pada adik kesayangannya. Meski dirinya juga sedang tidak baik baik saja, tapi dia mencoba kuat agar bisa memberikan ketenangan pada Milea. Si gadis rapuh berkedok kuat.


"Sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Tidak ada gunanya menangisi masalalu. Mulailah hidup baru. Kamu harus kuat, agar Anna juga ikutan kuat di alam sana," tutur Zaky.


"Hiks.. hiks." Perlahan Milea melepaskan diri dari pelukan bosnya itu. Setelah merasa tenang, dia menatap lekat lekat Zaky sembari memegang erat tangannya.


"Apa anda percaya dengan saya?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Zaky balik dengan heran. Mengapa pengawalnya ini tiba tiba memberikan dia pertanyaan itu?


"Jawab saja, apa anda percaya dengan saya?!" desaknya.


Hening sejenak, "tergantung. Kalo saya merasa kamu baik, maka saya akan percaya. Begitu pula sebaliknya."


"Jika seandainya di masa yang akan datang ada orang yang menuduh saya. Apa anda akan tetap percaya?"


"Milea kenapa kamu menanyakan hal aneh seperti ini? Maksud kamu apa?" Tanya Zaky semakin heran dengan Milea yang terus mendesaknya.


Milea melepas genggamannya dan menoleh kearah lain. "Bukan apa apa. Hanya bertanya saja." Jawabnya lalu pergi meninggalkan Zaky dengan segudang pertanyaannya.


"Ada apa dengannya? Kenapa nadanya terdengar kecewa? Kesalahan apa yang dia maksud?" Tanya Zaky pada diri sendiri.


"Zaky sini, kita lihat sunset bareng!" Teriak Haikal dari kejauhan. Dan benar saja, saat ia melihat kearah pantai, matahari memang akan kembali pada peraduannya. Tugasnya sudah selesai, sudah hampir masanya untuk dia memberikan cahaya pada belahan dunia lain.


Dia bangun dan berjalan menghampiri ketiganya. Dia duduk di samping Milea yang nampak diam menatap lurus kedepan dengan pandangan datar.


Sebenarnya kamu kenapa Milea? Batin Zaky menatap lekat lekat wajah cantik wanita ini. Apalagi saat cahaya jinga memancarkan sinarnya, benar benar membuat siapa saja pasti akan menganggap bahwa keindahan sunset kalah dengan kecantikan yang ada di hadapan mata saat ini.

__ADS_1


__ADS_2