Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Masakan beracun


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat kearah dapur sambil melirik wanita seumurannya yang bersiap hendak memasak.


"Eh nyonya?" Asisten rumah tangga itu sedikit kaget saat atasannya tiba tiba muncul di dapur. Dengan hormat dia menundukkan pandangannya pada nyonya rumahnya.


"Bibi mau masak buat siapa?" Tanya wanita itu melirik bahan masakan sekilas.


"It-itu.. non Lea yang pinta nyonya," jawab bi Ayu gugup.


Ranti mengangguk sekilas tersenyum menyeringai. "Ah bi, untuk memasak biar saya yang lanjutin. Bibi kerjakan yang lain aja," usir Ranti sehalus mungkin.


"Ta-tapi---"


"Udah bibi pergi aja. Saya mau masak buat putri saya, salah?" Usir Ranti sekali lagi.


"Ti-tidak salah..."


"Kalau begitu cepetan pergi!" Tak ingin pekerjaannya sampai berimbas, bi Ayu pasrah pergi dari sana untuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, atau membantu pembantu lain.


"Heh... selamat tinggal. Milea!" Dengan senyum menyeringai, serbuk bubuk berjatuhan masuk kedalam makanan yang ia buat.


Tap tap tap


"Ben, kamu sudah menyuruh bi Ayu untuk memasakkan makanan untukku bukan? Aku ingin makan lebih dahulu sebelum pergi kekantor." Tanya Milea sembari menuruni anak tangga bersama Ben yang mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Sudah nona. Saya sudah meminta asisten rumah tangga di sini untuk memasakkannya, sesuai keinginan anda." Jawab Ben berjalan bersama Milea menuju meja makan.


"Bagus. Untuk bahan materi meeting hari ini, tolong siapakan berkas---"


"Sayang... duh kamu udah turun? Ayo sini. Ibu udah masakin kamu makanan yang enak," tak tahu harus berekspresi seperti apa. Yang pasti Milea maupun Ben sama sama heran dengan Ranti yang bersikap seolah dia adalah ibu yang baik.


"Duh ayo sini duduk!!" Melihat Milea mematung, Ranti berinisiatif menarik lengan Milea lalu memaksa wanita itu duduk di kursi depan meja makan.


Milea melirik sup yang disiapkan Ranti lalu melirik Ranti. Dari bawah, dia memberi isyarat pada Ben untuk pergi. Melihatnya sekilaspun Ben tentu paham dan segera pergi melakukan tugasnya.


"Kok ibu yang masak? Bukannya Lea mintanya sama art ya?" Tanya Milea melirik Ranti dengan wajah tak dapat dibaca.


"Salah jika ibu masak buat putri ibu sendiri? Lagi pula ibu telah menyadari, tidak ada gunanya juga ibu membencimu. Toh ini semua sudah bagian dari takdir," jawab Ranti menyusun kata seindah mungkin.


Seharusnya kamu mengatakan itu pada ibuku! Bukan aku anaknya!


Ya! Cepat makan, agar aku semakin cepat terbebas dari hama!


Dengan penuh kelicikan, Ranti menunggu detik detik sesuatu yang ia harapkan segera terjadi.


Sruuttt


Satu... dua... tiga...

__ADS_1


Brukh


Tiba tiba saja Milea terjatuh di atas meja tak sadarkan diri. Melihat itu Ranti tersenyum penuh kemenangan. "Haha. Akhirnya... akhirnya aku dapat menyingkirkanmu sama seperti ibumu,"


"Hah... tak aku sangka. Trik menaruh racun di dalam makanan yang dulu aku beri pada ibumu, juga berlaku pada anaknya. Kamu dengan ibumu benar benar... terlalu mudah untuk ditipu dengan senyum palsu," ejek Ranti menatap iba tubuh tak berdaya yang ada di atas meja itu. Sambil memandangi seisi rumah, Ranti berkata. "Akhirnya... kedamaian yang aku inginkan. Akhirnya kembali juga!!"


"Hoamm uhhh... oh ibu? Selamat pagi..." sapa Milea bangun dari meja sambil merentangkan kedua tangannya seolah baru bangun dari tidur.


Membulatkan mata sempurna karena tak percaya. "Ba-ba-bagaimana bisa? Kau!!" Gagap.


"Hm? Bagaimana aku bisa bangun? Karena aku tadi hanya tertidur, ngantuk. Oh iya! Sebenarnya aku tau kok mana senyum asli mana senyum palsu, cuma..." tersenyum menyeringai.


"Ibu memang polos, tapi yang anda lawan adalah anak dari Rikha Gunawan, dan juga Rahardian Kusuma. Jangan salah, wajah saya memang polos, tapi sikap saya mendominasi sikap ayah saya. Kalau anda lupa, biar saya yang ingatkan." Bangkit berdiri berhadapan dengan Ranti penuh aura menyeramkan.


"SAYA. PUTRI. RAHARDIAN." Bisik Milea penuh penekanan di setiap kata. Melirik Ranti yang gemetar pucat, Milea berbalik berniat pergi.


"Ba-bagaimana... bagaimana bisa kamu tidak mati padahal kamu sudah memakan sup yang aku buat!" Tanya Ranti menghentikan langkah Milea.


Menoleh sekilas, "saya tidak bodoh. Percaya dengan musuh? No. Mengelabui musuh? Yes." Setelahnya pergi menyusul Ben yang menunggu di halaman depan.


Bugh


"Kekantor sekarang!" Titah Milea tanpa ekspresi. Tanpa menjawab, Ben hanya mengangguk lalu melajukan mobil memasuki jalanan raya.

__ADS_1


Milea mengeluarkan pulpen yang menjadi alat rekam yang ia gunakan. Menatapnya dalam, rahang Milea mengeras, dan tangannyapun mengepal keras. Bagaimana tidak? Ranti dengan mudah mengatakan bahwa dialah pelaku yang membunuh Rikha di hadapan anak yang ia bunuh.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan akan aku pastikan, kalian semua bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat!"


__ADS_2