Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Saudara


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan, seorang wanita nampak duduk di pinggiran ranjang menatap kosong kedepan dengan nuansa kamar yang sudah seperti kapal pecah. Berantakan dan bentuknya sudah tidak beraturan.


Kembali kebeberapa saat yang lalu. Saat di mana dia berlari cepat memasuki lobi kantor menuju lift. Para karyawan yang ada di sana tidak bisa melarang karna wanita itu adalah putri tunggal pemilik perusahaan ini.


Brak


"Papa..." dua orang pria sebaya yang sedang sibuk bekerja langsung menoleh kearah pintu saat sebuah rengekan manja terdengar.


Salah satu dari pria itu menghela nafas sejenak lalu memberi isyarat pada asistennya untuk pergi.


"Papa..."


Menatap dingin. "Ada apa Bianka? Tidak lihatkah kau kalau papa sedang sibuk bekerja?!" Yah. Dia Rahardian Kumusa, dengan anaknya Bianka Rahardian Kusuma.


"Papa... tolong Bianka pah. Tolong cabut berita itu... Bianka mohon pah. Kalo papa gak mau, Bianka akan ngurung diri di dalam kamar gak mau makan dan minum!!" Ancamnya.


Untuk kesekian kalinya, Rahardian menghela nafasnya lalu menarik kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. "Kamu tau apa kesalahan kamu?!"


Bianka menatap papanya bingung. "Memangnya apa?" Tanyanya tak menyadari.


Manik mata itu menatap tajam kearah putri kesayangannya. "Kamu telah menyalah gunakan kebebasan yang selama ini papa berikan padamu!! Papa mengizinkan kamu melakukan apa yang kamu mau berharap kamu tidak akan terkekang dalam peraturan yang papa buat,"


"Tapi apa?! Kamu bahkan membuat papa sebagai orang tuamu merasa malu. Kamu pikir papa tidak tahu kelakuan kamu yang selama ini selalu berganti pasangan?! Selama ini pula papa masih bersabar dan membiarkanmu berbuat sesuka hati!"


"Tapi sekarang? Kamu benar benar membuat Papa malu di depan keluarga Alexander!" Keluar sudah semua unek unek yang selama ini Rahardian pendam tentang anaknya.


Bianka menatap tak percaya papanya. Bisa bisanya dia berkata seperti itu pada putrinya sendiri?! "Bukankah Papa sendiri yang mendukung dan menyuruh Bianka mendekati putra Alexander itu?!" Ujarnya tak terima.


"Iya. Papa memang mendukungmu untuk mendekati pria itu, berharap dengan ini kamu bisa lebih menghargai perasaan orang lain. Nyatanya? Papa nyuruh kamu ngedeketin dia secara wajar, bukan agresif seperti itu Bianka!"


"Nyatanya, 'adikmu' jauh lebih baik dari dirimu!!" Hina Rahardian.


"AKU GAK PUNYA ADIK!! PAPA DENGAR?! DARI DULU SAMPAI SEKARANG AKU GAK AKAN PERNAH PUNYA ADIK. AKU ADALAH SATU SATUNYA PUTRI DARI KELUARGA RAHARDIAN KUSUMA!!" Teriak Bianka berlalu pergi menuju rumah dan langsung masuk kedalam kamar dengan mengacak acaknya berharap amarahnya memudar.


Rahardian memijat kecil keningnya lalu mengambil sebuah foto di balik laci meja kerjanya. Seorang wanita cantik berhijab yang tersenyum menghadap kamera sambil menenteng sebuah piala besar.


"Maafkan aku..." sesalnya memeluk erat foto itu dalam dekapannya. Tanpa terasa air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya keluar tanpa diminta.


Di dalam sebuah ruangan gelap, seseorang tersenyum sinis memandangi berita yang menghebohkan dunia maya itu. Puas sekali rasanya melihat wanita ini jatuh tanpa harus mengotori tangannya sendiri.


"Itu ganjaran yang setimpal untukmu karna berani berbuat kasar pada Princess ku di masalalu." Gumamnya lalu menutup laptop itu.

__ADS_1


Milea menatap berita tentang Bianka dengan perasaan yang tak dapat diartikan. Sedari tadi pandangannya tidak luput dari wanita cantik itu dengan wajah datar.


Tok tok tok


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Milea. Seorang wanita muda cantik masuk membawa beberapa berkas lalu menyerahkannya kepada Zaky. Dia adalah sekretarisnya.


"Maaf menganggu tuan. Ada nona Bianka di bawah. Dia meminta ingin bertemu tuan," ucap wanita itu takut takut.


Zaky yang sibuk mengerjakan tugasnya melirik sekilas. "Suruh dia masuk!" Jawabnya tak peduli.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Sekitar beberapa menit setelah kepergian wanita itu, orang yang ditunggu datang masuk dengan penampilan acak acakan.


"Hiks Sayang..." Zaky masih diam bergeming dari posisinya, seolah acuh tak acuh dengan Bianka yang memeluk lengannya manja.


Milea menatap Bianka dengan datar, lalu keluar untuk memberi waktu pada dua pasangan itu untuk berbicara berdua.


"Ada apa?"


Bianka menarik kursi Zaky memutarnya agar menghadap kearahnya. "Sayang.. aku mohon hapus berita itu. Kamu gak kasihan sama aku? Berita itu juga menyangkut kamu loh sayang..." mohonnya. Setelah kakak dan papanya yang tidak bisa menolongnya, sekarang harapan satu satunya adalah Zaky. Berharap lelaki ini mau menolongnya.


"Memangnya siapa kamu dalam hidupku?" Sinis Zaky kembali berkutat pada pekerjaannya. Malas meladeni wanita sok suci itu.


Untuk kesekian kalinya Bianka memasang wajah tak percaya. Dia jalan memutar hingga berada tepat di depan Zaky. "Akukan...!!" Bianka terdiam tak tahu harus menjawab apa. Memangnya apa hubungan dirinya dengan Zaky? Bahkan sampai sekarang dia tidak tahu hubungan yang mereka jalani seperti apa. Terlihat seperti sepasang kekasih, nyatanya sampai saat ini Zaky belum mengutarakan cintanya sama sekali.


"Lalu selama ini apa? Sikap manis dan selalu menuruti keinginanku? Semuanya itu apa?!" Bentak Bianka dengan dua bola mata yang sudah berkaca kaca.


Zaky mengangkat kedua alisnya lalu bersandar pada kursi dengan santay. "Anggap saja selama ini aku tengah mengasihanimu yang bahkan untuk belanjapun harus memoroti duit dari orang lain. Apa orang tuamu tidak pernah memberikanmu uang sehingga kau bersikap begitu murahan seperti itu?!" Hardiknya.


Plak


Satu tamparan melayang kuat di pipi Zaky. Air mata Bianka lolos tanpa diminta. Rasanya sakit sekali saat seseorang mengihanya seperti ini, apalagi sampai menyangkut kedua orangtuanya.


"Jaga mulut anda!! Dasar laki laki bajingan!!" Umpat Bianka dengan wajah memerah karna menahan amarah.


Zaky tertawa sinis sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Tamparanmu lumayan. Tapi, kurang kuat. Apa perlu aku ajari bagaimana memukul seseorang dengan benar?!"


Bianka mundur ketakutan saat melihat wajah menyeramkan Zaky yang berjalan perlahan mendekatinya.


Dug


Bianka terdiam tak mampu melangkah lagi karna sudah tersandar di tembok. Zaky meletaknya satu tangannya di samping Bianka, sedangkan yang satunya dengan sigap mencengkram dagu Bianka untuk menatapnya.

__ADS_1


"Awalnya aku masih ingin bermain main lebih jauh lagi denganmu. Tapi, karna kau sudah berbuat kurang ajar pada pengawal ku. Maka aku tarik lebih cepat dari rencana awal." Lirih Zaky.


"Brengsek!! Bajingan!!" Umpat Bianka berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi, karna tenaga Zaky jauh lebih kuat, dirinya tidak bisa berbuat apa apa. Melawanpun justru akan membuatnya semakin kesakitan.


"Yah, kau benar. Aku memang brengsek dan bajingan. Sedangkan kau adalah Iblis!! Aku membencimu!! Karna kau! Aku harus kehilangan satu satunya orang yang aku sayangi di dunia ini!" Bisik Zaky semakin mencengkram erat dagu Bianka, membuat wanita itu hanya mampu menangis dalam diam.


Di luar ruangan, Milea terdiam bersandar di tembok samping pintu. Dia mendengar semua dengan jelas pembicaraan mereka yang membuatnya ikut mengepalkan tangannya kuat.


Tangannya merogoh ponsel lalu menekan tombol untuk menelfon seseorang.


"*H*allo?" Terdengar suara serak khas orang bangun tidur dari seberang sana.


"Hapus berita tentang Bianka Rahardian Kusuma!! Dan klarifikasi semuanya!! Aku ingin semua kembali berjalan normal tanpa dibayangi berita itu!!" Tegas Milea.


Pria yang di seberang sana langsung bangun saat mendengar suara yang sangat ia kenal. "Berita apaan?" Tanya pria itu pura pura tidak tahu.


"Aku yakin kau sudah mengetahuinya Edwark," pria yang dipanggil Edwark itu terdiam menatap langit langit kamar yang gelap.


"Kenapa? Kenapa kamu begitu peduli padanya Milea? Sedangkan dia sudah membuatmu menderita selama ini. Bahkan jika dihitung, ini tidak bisa membayar perbuatannya kepadamu dulu." Kesal Edwark mengacak acak rambutnya kasar.


"Kamu pasti sudah mendengar cerita dari Erickh. Aku di sini mencari keadilan!! Bukan ingin menjatuhkan seseorang. Sebaiknya kamu turuti keinginanku atau jangan harap kamu bisa melihatku lagi!" Sebuah ancaman yang benar benar membuat Edwark kalah telak. Milea benar benar tahu kelemahannya.


"Oke oke. Akan ku hapus beritanya. Tapi besok ya, aku ngantuk baby. Kau taukan di sini masih malam? Besok aku janji akan membuat berita itu hilang tanpa jejak. Selaksa air yang terlihat bersih meski menyimpan banyak kuman." Mengalah satu satunya jalan menyelamatkan diri dari ancaman yang Milea berikan.


"Oke."


"Tunggu! Kiss me baby..." Rengek Edwark manja. "Minta saja dengan pacarmu yang banyak itu!!" Sinis Milea menutup panggilan sepihak.


"Huh pelit!" Dengus Edwark lalu kembali tidur di bawah selimut tebal yang menghangatkan.


Cklek


Selesai bertelponan bertepatan dengan Bianka yang keluar dengan pandangan kosong. Ditatapnya tajam Milea dengan penuh kebencian.


"Semua gara gara kamu!!" Teriak Bianka hampir putus asa. Dia terjatuh lalu menangis sejadi jadinya di sana. Milea menatap datar wanita itu lalu ikut berjongkok di depannya.


"Menyedihkan..." sinis Milea.


Bianka mengangkat dagunya menatap Milea bingung. "Apa maksudmu menyedihkan ha?!"


"Yah. Kamu memang menyedihkan. Baru seperti ini saja kamu sudah hampir putus asa. Lalu bagaimana denganku yang hampir setiap hari kamu perlakukan kasar dulu?" Gumam Milea dengan pandangan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Bianka semakin tidak mengerti arah pembicaraan Milea. "Apa maksudmu?! Jangan bertele tele!!" Teriak Bianka.


Milea menyeringai. "Apa kau tidak mengenaliku sama sekali? KAKAK!!"


__ADS_2