Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Bermain


__ADS_3

Milea duduk termenung di dalam kamarnya. Hening tak menjadikan dirinya merasa bosan dan terus duduk merenungi kejadian tadi malam.


231099


"Tanggal lahir..... ibu?" Gumam Milea tak percaya. Sandi yang digunakan Rahardian adalah.... tanggal lahir ibunya.... Rikha?!


"Heh. Untuk apa dia menggunakan tanggal lahir ibu untuk sandi ruang rahasianya? Bukan dia pedulipun bagaimana keadaan ibu dulu saat disiksa istri pertamanya," ujar Milea berbicara pada diri sendiri. Menyangkal hati bahwa Rahardian sebenarnya menyukai Rikha, ibunya.


Cklek


"Permisi nona. Keadaan di luar sudah aman, nyonya Ranti sudah dipastikan pergi dari rumah dan sekarang rumah sedang tidak ada sesiapa selain asisten rumah tangga," lapor Ben menyampaikan infonya.


Gadis itu melirik Ben sekilas lalu bangkit dengan penuh keyakinan. "Ayo! Aku ingin tahu, apa yang ada di dalam ruangan itu sehingga papa sampai menggunakan tanggal lahir ibu untuk menguncinya," lirih Milea lalu berjalan melewati Ben menuju ruangan Rahardian yang ada di lantai tiga.


"Putar Ben!" Titah Milea memandang lurus kedepan, pada tembok polos yang tak memiliki warna. Kelam kelabu, sama seperti kehidupannya dulu.


Ben mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya. Dengan tenaganya dia memutar vas yang menjadi kunci pertama ruang rahasianya dibuka. Dan benar. Setelah Ben memutarnya, perlahan tembok itu bergeser sehingga menampakkan sepotong pintu baja yang kokoh.


"Huft..." Milea menarik nafas dalam lalu menekan kata sandi sesuai dengan tanggal lahir ibunya.


Krakkk


Tingggg


"Hah... lucu sekali kenyataan ini," cicit Milea masih menyangkal bahwa tanggal lahir ibunyalah yang Rahardian gunakan untuk ruangan rahasianya.


Ben dan Milea masuk kedalam ruangan yang dinuasai kegelapan karena kurangnya cahaya. Ben menyalakan senter dari ponselnya untuk menemukan tombol lampu di sana. Sedang Milea berjalan perlahan menyusuri setapak dari langkahnya dengan bantuan cahaya dari ponselnya.


Tap


"Ini... ta-tak mungkin...!!!" Syok.


Klak


Ben berhasil menemukan tombol lampu membuat seisi ruangan diterangi oleh cahaya dari bola kristal yang ada di atas sana. Saat berbalik, Ben tak kalah terkejut dari Milea saat melihat....

__ADS_1


Ratusan foto Rikha terpampang di ruangan tersebut!!


Brukh


"Hahaa... ha. ha.. hahaa..." Milea terduduk lemas tak percaya melihat ratusan foto ibunya ada di dalam ruangan ini.


"Lucu sekali. Untuk apa dia mengoleksi semua foto ibu setelah dia meninggal? Kalaupun iya dulu dia mencintai ibu, mengapa dia tidak membela ibu sama sekali saat ibu disakiti?!!!!!" Teriak Milea menjambak rambutnya sendiri saat merasakan pusing melihat ratusan foto ibunya di sana.


"Nona!! Sadarlah nona hei!!" Ben tak kuasa melihat keadaan Milea yang tak terlihat baik dan segera menggendongnya membawa keluar dari ruangan tersebut.


Brukh


"Minum dulu nona..." membantu mengambilkan Milea air minum. Setelah Milea meminumnya barulah wanita itu perlahan tenang dari penyakitnya yang kambuh. Sebenarnya depresi Milea belum sepenuhnya sembuh, karena jika Milea terlalu banyak pikiran depresi itu memiliki potensi untuk kembali kambuh.


"Sebaiknya kita tidak perlu masuk kedalam ruangan itu lagi nona, sepertinya rekaman itu tidak ada di sana." Bujuk Ben tak ingin membuat Milea kembali terluka seperti tadi.


"Kau tetap di sini, biar aku sendiri yang masuk. Aku masih yakin rekaman itu ada di dalam sana!" Ujar Milea bangkit dari duduknya setelah pikirannya kembali jernih.


Bangkit dengan cepat. "Tidak! Jangan masuk nona! Saya tidak ingin anda terluka seperti tadi," larang Ben tegas.


"Minggir!!"


"Heh. Sebenarnya kau ini asisten ku atau kakek ha?! Ku bilang minggir!!" Dengus Milea mendelik sinis pada Ben dan berjalan menerobos dari tubuh asistennya, tapi dengan cepat Ben menghalanginya.


"Anda dilarang masuk nona!"


Milea berhenti dan melirik Ben dengan kesal. "Kenapa kamu sangat menyebalkan Ben?!!!" Gerutu Milea melipat tangannya di depan dada kesal.


"Maaf nona. Tapi ini demi kebaikan anda. Jadi sebaiknya anda segera kembali kekamar dan berhenti melanjutkan misi berbahaya ini," titah Ben dingin. Tidak ada mukanya yang selalu dibuat sungkan lagi, sekarang sifat aslinya kembali. Dingin dan tak tersentuh.


"Terse---"


Tap tap tap


Milea dan Ben menoleh kearah pintu secara bersamaan lalu melirik satu sama lain. "Kau atasi orang itu! Aku akan mencari rekamannya secepat mungkin!" Menepuk pundak Ben lalu berlari cepat masuk kedalam ruang rahasia.

__ADS_1


Belum sempat Ben mencegah, wanita itu sudah menghilang. Ben hanya mampu menghela nafas kasar lalu berjalan menuju pintu.


Cklek


Bianka terkesiap sebelum menyentuh gagang pintu, justru sudah dibuka dari dalam. "Pagi nona Bianka," sapa Ben dengan wajah datar dan dinginnya.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Bianka bersidekap dada menatap Ben tak suka.


"Menurut anda?"


Menyebalkan. Bianka memutar bola matanya jengah lalu menurunkan tangannya dari dada. "Menyingkir dari pintu, aku ingin masuk!" Usir Bianka.


Berjalan kekanan, Ben ikut. Berjalan kekiri Ben ikut. Begitu pula seterusnya sehingga membuat Bianka geram sendiri.


Brak


Ben bersandar di pintu saat Bianka mengurungnya dengan kedua tangannya. "Jangan halangi jalanku. Karena aku sedang malas bermain dengan siapapun!" Bisiknya penuh aura mengintimidasi.


Pria itu mengangkat alisnya sebelah sambil tersenyum tipis.


Brukh


"Benarkah? Tapi setelah kamu mengatakannya, aku justru ingin bermain main denganmu," balas Ben berbalik mengurung tubuh Bianka di pintu.


"Kau!!" Menghela nafas kasar. "Lepas! LEPASKAN KU BILANG!!!" Seru Bianka melirik nyalang.


"Santai nona, kau terlalu panik." Ujar Ben semakin memperkecil jarak di antara keduanya. "Bukannya aku ingin menyentuh anda yang biasa biasa saja ini." Ledek Ben semakin tertarik menggoda nona muda yang sayangnya adalah kakak kandung atasannya sendiri.


"Kalau begitu menyingkirlah dariku!!" Bentak Bianka namun tak bisa berbuat apa apa karena kekuatan Ben jauh lebih besar darinya.


"Ka-----"


Tring


Ucapan Ben terhenti saat notifikasi dari ponselnya berbunyi. Melirik sakunya sekilas lalu beralih pada Bianka yang memandang penuh permusuhan padanya. Perlahan Ben melepas kurungannya sambil tersenyum tak enak.

__ADS_1


"Sebenarnya aku masih ingin bermain denganmu. Tapi berhubung aku ini seorang pekerja sibuk, lain kali saja lagi ya kita mainnya." Ucap Ben lalu menepuk puncak kepala Bianka beberapa kali. "Tenang saja. Tidak perlu sedih, nanti kita lanjutin kok ya..." lanjutnya lalu pergi dengan kekehan kecil sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang.


Bianka memasang wajah tak percaya lalu menggeser tubuh menatap penuh kesal kepergian Ben. "Siapa yang mau bermain denganmu lagi ha!!!" Seru Bianka nafas naik turun.


__ADS_2