Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Modus


__ADS_3

"Hai," sebuah sapaan menyita perhatian Bianka dari layar laptopnya. Saat menoleh, dia di buat terkesima melihat seorang pemuda tampan dengan senyum manis berlesung pipi yang semakin menambah radar kemanisannya.


"Bolehkan saya duduk di sini?" Tanya Erickh meminta izin. Pria tampan yang memiliki logo playboy kelas kakap.


"Si-silahkan!" Mengizinkan dengan gugup.


Dengan senyum manis, Erickh mengambil duduk di depan Bianka lalu memesan minumannya. Sesaat setelah pesanannya datang, Erickh meminumnya dengan terus memandangi Bianka penuh gombal, membuat Bianka jadi salah tingkah dibuatnya.


"Jadi... siapa nama kamu?" Tanya Erickh tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Bianka.


"Eh? Emm.. Bianka. Namaku Bianka Kusuma," jawab Bianka gugup. Sengaja meninggalkan marga Rahardian dari namanya. Entah mengapa dia kali ini benar benar serius mencari pasangan.


Kenapa dia menghilangkan marga aslinya? Apa dia malu mengakui bahwa Rahardian adalah ayahnya?


"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Modusnya keluar. Sedang Bianka tersenyum malu malu.


"Bisa aja,"


"Tapi beneran loh, aku penasaran. Kamu dari kalangan mana? Kusama... setahu aku, marga Kusuma cuma keluarga Rahardian itukan?" Pancing Erickh, penasaran alasan apa yang membuat wanita ini meninggalkan marga aslinya.

__ADS_1


"Marga Kusuma banyak kok, gak cuma keluarga Rahardian aja. Ya, salah satunya aku," jawab Bianka tersenyum kikuk. Ini kali pertama dia menyembunyikan marganya, sedang dulu marga itu selalu ia bawa dan bangga banggakan. Namun, sejak pengkhianatan yang dilakukan Zaky dulu membuatnya benar benar sepenuhnya menutup identitasnya.


"Benar juga," gumam Erickh kembali memandangi wajah tersipu Bianka dengan senyum mautnya.


***


Klak


Bunyi terbukanya pintu membuat Milea mengangkat wajah yang ia tenggelamkan di balik kedua lututnya. Keningnya mengerut melihat siapa yang datang berkunjung.


"Arron?" Gumam Milea segera bangkit dari duduknya. Pria dengan wajah datar itu berdiri di hadapan Milea, "apa kabar Milea?" Sapa Arron datar.


"Itu salahmu karena mengacaukan misi ku. Lagipun, kamu masih hidup bukan? Hanya saja, begitu malang." Jawab Arron sinis.


"To the point!!" Kali ini Milea mulai kurang senang dengan pembicaraanya bersama Arron.


"Wow, selow girl. Aku juga tidak ingin berbasa basi dengan seorang tersangka," ujar Arron lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku jasnya.


"Berikan ini kepada Haikal Malik!" Pinta Arron menyerahkan amplop itu kepada Milea.

__ADS_1


Meliriknya sinis, "heh. Apa sekarang, seorang Arron Ariston begitu bodoh? Menitipkan surat kepada seorang tersangka untuk diberikan kepada musuhnya?! APA KAMU SUDAH GILA?!!" Bentak Milea tak percaya.


"Bukankah bagus? Siapa tahu kamu bisa berdamai dengan bosmu itu. Ups! Salah, mantan bos maksudnya!" Jawab Arron sinis.


"Apa ini yang Andy suruh? Aku sangat yakin, kali ini kamu pasti di suruh Andy untuk melakukan sesuatu kepada Haikal seperti yang kamu lakukan di reuni waktu itu." Perlahan sifat dingin Milea kembali.


"Tidak dan Ya," terdiam sejenak. "Aku mengaku, memang waktu di reuni itu Riandy yang suruh. Tapi kali ini, aku pastikan surat ini sepenuhnya aku yang tulis untuk Haikal," lanjut Arron.


"Lagipun, kenapa kamu masih sangat peduli dengan mereka yang menuntutmu kepengadilan? Bahkan aku sangat yakin, mereka tidak tahu kronologi ceritanya seperti apa." Ucap Arron tak paham.


"Lagipun, kenapa kamu masih sangat peduli dengan mereka yang menuntutmu kepengadilan? Bahkan aku sangat yakin, mereka tidak tahu kronologi ceritanya seperti apa." Ucap Arron tak paham.


Membuang pandang, "jangan menyimpang pembicaraan. Dan untuk surat itu, berikan saja sendiri. Aku sedang tidak ingin mencari masalah lagi dengan mereka," tolak Milea.


"Tapi sayangnya, kamu sudah mencari masalah dengan membunuh adik pengusaha muda itu. Jadi kenapa tidak sekalian saja kamu memberikan ini? Toh dikasih atau tidak, tetap saja kamu terlibat dengan mereka," balas Arron.


"Ron... please.. i need a calm..." pinta Milea menghiba. Melihatnya seperti itu Arron lekas lekas mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Terlalu menyakitkan jika melihatnya seperti itu.


"Setelah aku pikir pikir, memang lebih baik aku menyerahkannya sendiri. Tak guna juga menyuruh seorang tersangka yang tidak bisa keluar dari sel tahanan untuk memberikan surat ini," putus Arron lalu pergi.

__ADS_1


"Thank you Arron..." gumam Milea memandangi kepergiaan Arron hingga menghilang.


__ADS_2