Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Meragukan


__ADS_3

"Oh ayolah.. saya baik baik saja tuan, anda tidak perlu berlebihan seperti ini!!" Milea menatap kesal ke arah bosnya yang bertingkah menyebalkan menurutnya. Sejak dia sadar, Zaky selalu melarang ini itu.


"Jangan terlalu banyak bergerak!!"


"Makan yang banyak biar sehat!!"


"Sini aku suapi. Tidak ada penolakan!!"


"Makan buah ini bisa mempercepat pertumbuhanmu!!"


"Sini biar aku gendong ke kamar mandi!" Dan masih banyak lagi tingkah cerewet bosnya yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Aku melakukannya juga untuk kesehatanmu!!" Elaknya karna merasa perlakuannya saat ini wajar dan benar.


"Tuan, jika semuanya anda yang lakukan tubuh saya akan jarang digerakkan, dan itu juga tidak baik untuk kesehatan saya." Ujar Milea mencoba membujuk tuannya itu agar tidak terlalu bersikap over protektif seperti saat ini.


"Terserah." Zaky meletakkan bubur Milea dengan kasar keatas meja lipat yang ada di atas kaki Milea. Melihat hal itu membuat Milea serba salah. Kenapa sejak dia sakit tuannya jadi sering sekali merajuk seperti ini?


"Bagaimana dengan tragedi di hotel waktu itu tuan? Anda sudah mengetahui siapa pelakunya?" Tanya Milea mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan rupanya itu berhasil, karna kini Zaky mulai duduk menatapnya serius.


Pria itu menggeleng pelan. "CCTV di lantai itu sepertinya sengaja dimatikan semua. Jadi tidak ada satupun bukti rekaman yang merekam kejadian hari itu. Tapi, aku yakin manajer keuangan itu yang melakukannya," gumam Zaky pelan.


Milea terdiam sejenak, " maksud bapak Brian?" Tanyanya. "Iya. Karna saya yakin dia dalang di balik semua ini. Saya sudah memecatnya, tapi karna tidak adanya bukti yang menunjukkan bahwa dia bersalah, saya tidak bisa menyeretnya kepengadilan," jawab Zaky.


Milea terdiam, dia mencoba mengingat kembali kejadian malam itu. Di sana dia ingat sempat melihat ujung senapan yang sedikit menyembul dari celah pintu, dan saat memperjelasnya, dia justru tidak sengaja bersitatap dengan mata si pemegang senapan. Dia melirik Zaky. Apa sebegitu yakinnya beliau jika Brian adalah pelakunya? Tapi... kenapa dia merasa ragu ya?


Sudahlah, akan ku selidiki nanti. Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Sudah cepat makan makananmu!" Lamunannya buyar seiring titah sang raja terdengar menggema di telingnya. Memutar bola mata malas, Milea mengambil mangkuk bubur itu lalu perlahan memakannya. Meskipun rasanya hambar, mau tidak mau dia harus menghambisnya. Jika tidak, bisa dipastikan Zaky akan terus menuntutnya untuk menghabiskan makanan itu.


"Ini untuk kesehatanmu!" Begitulah kira kira isi pikiran Milea menebak apa yang akan diucapkan di bibir tuannya itu jika dia menolak menghabisnya buburnya.


Drrrtt drrrtt drrrtt


Di saat sedang asik menyantap bubur yang tinggal sesuap lagi, getaran panggilan di ponsel Milea menyita perhatian keduanya. Dengan gerakan pelan Milea menyambar ponsel itu dan melihat nama yang tertera di sana.


Dia terdiam sesaat melirik Zaky yang menatapnya penasaran, sebelum akhirnya dia mengangkat panggilan telfon itu.


"Princess bagaimana keadaanmu? Katanya kamu masuk rumah sakit? Apa kamu baik baik saja? Apa perlu kami datang kesana untuk menjengukmu?" Cecar seseorang di seberang sana dengan nada jelas tersirat rasa kekhawatiran.


"Aku baik baik saja, tidak perlu secemas itu. Hanya luka tembak ringan, nanti juga sembuh sendiri." Jawab Milea tenang, meskipun dia tahu ada seseorang di sampingnya yang kini mendelik tajam kearahnya karna mengatakan hal itu dengan intonasi tenang dan terkesan santai.


"LUKA TEMBAK RINGAN KAMU BILANG?! Oh my god princess!! Kamu pikir luka tembak itu adalah luka ringan? Please deh, jangan bertingkah sok kuat. Kamu tidak tahu apa? Kakek di sini sangat mencemaskanmu!!" Kali ini suaranya berganti, Milea tahu itu dan mengenali suara siapa di balik ponsel itu. Karna dia sangat hafal jika mengenai suara seseorang.


"Kamu itu princess kami, jadi wajar kalau kami khawatir dengan keadaanmu Milea. Katakan! Siapa yang berani melukai princess kakak ini? hmm?" Milea memutar bola mata malas, kali ini suara itu berganti lagi. Suara lembut penuh kedewasaan dan ketegasan, dia kenal suara itu.


"Tidak tahu."


"Tidak tahu? Apa perlu kami bantu untuk mencari tahu siapa dalang di baliknya? Kami bisa mengerahkan seluruh anak buah kami untuk mencari tahu siapa yang telah berani menembakmu." Tawar orang itu.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Tolak Milea yang memang tidak ingin melibatkan 'orang orang itu' dalam masalahnya.


"Tapi--- huft baiklah. Tapi, kamu baik baik sajakan di sana? Apa perlu kami kesana untuk melihat keadaanmu langsung? Atau kami bisa mengirim dokter terbaik untuk mengobatimu." Tawar orang itu lagi, berharap kali ini Milea mau menerima kebaikan mereka.


"Tidak perlu, atasan ku ada untuk menjagaku. Aku juga punya sahabat yang bisa membantuku, dan masalah dokter. Tenang saja, dokter di sini tidak kalah baik dengan dokter yang ada di sana." jawab Milea.

__ADS_1


"Huft ya sudah jika itu memang keinginanmu. Tetap jaga kesehatan, jangan lupa makan! Jangan lupa minum obat! Kalau ada apa apa atau butuh bantuan kamu bisa hubungi kami! Kami akan selalu ada 24 jam untukmu princess. Sudah dulu ya, masih ada yang harus kami lakukan. See you princess..."


"Hm... see you too." Klik. Milea menghela nafas pelan setelah mematikan panggilan telfon, dia meletakkan ponsel kedalam laci.


"Kau bicara dengan siapa tadi?" Tanya Zaky yang sedari tadi menahan rasa keingin tahuannya saat melihat Milea berbincang begitu akrap dengan orang di balik telfon itu.


"Mantan." Jawab Milea asal. Membereskan meja lipat dan juga mangkuk lalu menaruhnya keatas nakas.


"Kayaknya akrap banget ya sama mantan. Masa lalu masih diperhatiin, masa depan yang ada di depan mata dicuekin," cibir Zaky dengan wajah masam.


"Ha? Anda percaya saya punya mantan tuan?" Tanya Milea heran saat jawaban asalnya ditanggapi serius oleh bosnya itu.


"Tentu saja saya percaya, secara 'kan kamu itu cantik!!" Zaky membulatkan matanya lalu menggigit bibir bawahnya saat menyadari apa yang telah dia katakan tadi.


Sedang 'kan Milea? Gadis itu nampak tertegun sejenak mendengar pujian langsung dari bibir tuannya yang mengatakan kalau dirinya ini cantik. Senang? Sepertinya iya. Tidak ada satu wanitapun yang tidak akan senang saat di puji kalau dirinya cantik, apalagi dari doi'.


"Hahaa dari lahir tuan!" Milea mencoba mencairkan suasana dengan sedikit tertawa hambar serta candaan garing.


"Ta-tapi... ka-kau. Kau benar benar telfonan dengan mantanmu?" Sudah terlanjur malu, Zaky meneruskan keingin tahuannya dengan bertanya.


"Tidak tuan, saya tidak memiliki mantan. Saya hanya menjawab asal tadi. Lagi pula, dulu saya culun, siapa memangnya yang mau berpacaran dengan orang culun seperti saya?" Kekeh Milea melihat wajah memerah tuannya.


"Lalu siapa yang menelfonmu tadi?"


Milea terdiam sejenak menatap Zaky dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. "Cucu dari saudara nenek," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari Zaky.


"Oh, kerabat jauh rupanya. Aku pikir beneran mantanmu." Gumam Zaky pelan. Ada sedikit kelegaan di hatinya saat tahu yang menelfon Milea adalah kerabat jauh.

__ADS_1


__ADS_2