Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
kunjungan


__ADS_3

Milea keluar menyusul tuannya. Di dalam lift keduanya saling terdiam hingga menciptakan suasana canggung.


Ting


Pintu terbuka, Zaky lebih dulu keluar disusul Milea kemudian. Keduanya segera menuju kantor untuk melakukan pekerjaan masing masing.


Di dalam ruangan, keduanya masih diam tanpa ada yang berniat ingin membuka suara lebih dahulu.


"Bosannya..." Keluh Milea yang masih bisa didengar Zaky. Pria itu melirik Milea sejenak lalu kembali bergulat pada berkasnya.


Dia juga sebenarnya bosan setiap hari selalu bertemu kertas terus menerus tanpa berhenti sepanjang hari. Seketika dia teringat sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia temui.


"Kamu bosan?" Tanya Zaky mulai membereskan berkas berkas ketempatnya semula.


"Dibilang tidak tapi iya. Dibilang iya, sudah tugas saya menjaga anda 24 jam non stop," lirih Milea melirik sembarang arah.


"Apa?" Tanya Zaky tak mendengar dengan jelas. "Ah tidak tidak!! Memangnya kenapa tuan?" Tanya Milea kikuk mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ayo ikut aku!" Milea mengerut bingung, sembari menatap tuannya yang bangun dari kursi keberasarannya. "Memangnya kita mau kemana tuan?" Tanyanya.


"Ketempat yang membuat siapa saja akan merasa ngilu melihatnya."


Milea terdiam menatap bangunan kumuh yang mulai rapuh dan reyot. Dibandingkan bangunan, tempat ini lebih cocok disebut gubuk lusuh.

__ADS_1


"Panti asuhan?" Wanita itu melirik Zaky tak paham. Dilihatnya pria itu tengah mengepal kuat lalu berjalan cepat masuk kedalamnya.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam." Dari dalam panti, seorang wanita paruh baya keluar sembari menggendong seorang anak kecil yang berumur sekitar 3 tahun.


"Bunda?" Bunda? Milea melirik Zaky mencoba mengingat sesuatu dari dalam memori otaknya. Ah, sekarang dia ingat. Tuannya ini aslinya memang berasal dari Jakarta, dan dulunya tinggal di panti asuhan bersama adiknya. Mungkin panti asuhan ini merupakan tempat yang dulu tuannya tempati sewaktu kecil. Tapi, apa seburuk ini panti asuhannya sekarang?


"Maaf, nak ini siapa ya?" Tanya wanita yang dipanggil Bunda oleh Zaky tadi bingung.


"Bunda. Bunda gak inget? Ini Zaky bunda. Anak bunda Dina?" Zaky menatap penuh harap Bundanya dengan mencoba mengingatkan beliau.


"Aaky? Kakaknya Anna ya?" Wanita itu menatap Zaky dari atas sampai bawah. Tak percaya bahwa Zaky yang dia kenal pendiam dulu sekarang sudah menjadi orang sukses.


Zaky mengangguk semangat. "Iya, ini Zaky bun. Anak kesayangan bunda." Jawabnya cepat.


"Sini bun, biar Milea yang gendong!" Milea berinisiatif untuk mengambil alih bocah laki laki yang digendong beliau.


Bunda melirik Milea, tersenyum hangat lalu menyerahkan Akbar kepada Milea. "Hallo manis, namanya siapa?" Gadis itu menoel hidung Akbar gemas.


"Akbar kak. Alo akak tapa?" Milea melirik Zaky yang tengah memeluk bundanya erat. Merasa tak ingin mengganggu, Milea membawa Akbar ketaman depan sembari melihat anak panti lain yang tengah asik bermain.


"Mama kakak siapa ya? Coba tebak, kakak siapa?" Tanya Milea sok misterius sambil mengetuk ngetuk dagunya. Dia duduk di kursi panjang yang ada di halaman depan itu dengan Akbar di pangkuannya.

__ADS_1


"Supel hilo?" Tebak bocah itu. Milea semakin gemas sendiri melihat bocah itu yang menurutnya memiliki sifat yang ekstrovert, berbeda dengannya yang sedari kecil memiliki sifat introvert karna kurangnya kasih sayang.


"Kenapa kamu nebak kakak super hiro?" Tanya Milea mengusap pelan rambut bocah itu.


"Toalnya, supel hilo itu atik. Ayak akak," Milea tak tahan dengan gemas mencubit pipi manis Akbar yang berwarna putih langsat.


"Kecil kecil udah pinter gombal ya kamu... kan kakak jadi baper!" Ujar Milea dramalistir ucapan.


"Bapel itu apa kak?" Tanya Akbar yang memang tidak tahu apa apa tentang bahasa gaul anak muda di atasnya.


"Bawa pel." Jawabnya asal. Terlihat Akbar manggut manggut lalu menatap Milea dengan cengiran lebarnya. "Ohh.. hehe akak pintel ya?" Milea tertawa karna tidak tahan melihat kepolosan Akbar yang percaya saja dengan jawaban asalnya.


"Hahaa. Kakak pinter karna kakak belajar, jadi kamu juga harus belajar biar pinter kayak kakak. Oke?"


"Oke kak!" Milea mengusap usap rambut Akbar lembut. Dia jadi teringat masa kecilnya yang menurutnya sangat menyakitkan. Tapi, seharusnya dia bersyukur karna dia masih memiliki Ibu yang menyayanginya di waktu kecil meskipun harus tetap meninggalkannya.


Berbeda dari anak panti yang hanya memiliki ibu panti sebagai orang tua angkat. Meskipun begitu, di sini kita ambil hikmahnya saja. Seperti Milea yang beruntung bisa bersama Ibunya sewaktu kecil, dan anak panti juga beruntung karna sewaktu kecil disayang Ibu panti, tidak seperti Milea yang selalu mendapat penyiksaan.


Tuhan selalu menghadirkan keberuntungan di atas kesulitan yang ada. Di dunia ini kita cukup bersyukur selalu, karna tak semua orang di dunia ini seberuntung kita. Kita disiksa dengan sebuah ujian yang menyakiti batin, tetaplah bersyukur karna di luar sana ada yang tengah berjuang dengan penyakit fisik.


Di setiap ujian akan selalu ada hikmah terselip yang tak pernah kita sadari. Seperti saat ini, Milea mulai mengerti apa artinya bersyukur. Memiliki seorang Ibu di masa kecil merupakan sebuah keberuntungan terbesar meskipun tidak ditemani Ayahnya, itu sudah cukup dan sangat cukup.


Hidup itu adalah ujian. Jadi, selalu syukuri apa yang kamu miliki sekarang. Selalu bersabar atas apa yang tuhan limpah 'kan kepadamu, karna ketahuilah. Tuhan memberimu ujian bukan karna membenci, tapi karna Allah menyayangimu. Dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk untukmu.

__ADS_1


Mungkin sekarang engkau mengeluh karna tuhan begitu banyak melimpahkan masalah bagimu, tapi setelah ujian selesai kamu akan mengerti. Apa tujuan di balik tuhan menciptakan cobaan itu.


Selalu semangat jalani hidup, karna hidupmu sangat berarti. Hiraukan ejekan, makian atau cacian orang lain. Karna hanya orang orang hina yang tidak pernah mau menyusukuri apa yang ada di dirinya sehingga menjelekkan orang lain karna perasaan iri.


__ADS_2