
Milea duduk dengan tegang menghadap bosnya. Perasaannya sedang tidak baik baik saja, apalagi saat pria itu menghunuskan tatapan tajam yang membuatnya bibirnya kelu untuk berbicara.
"Ada apa?" Pertanyaan dari Zaky menyadarkannya. Dia mengerjap pelan lalu menatap manik mata pria itu dalam.
"Saya ingin mengatakan sebuah kejujuran kepada anda tuan." Jawabnya berusaha mengontrol deguman jantung yang bertalu talu akibat rasa gugupnya yang berlebihan.
"Kejujuran? Apa?" Zaky membalas tatapam Milea. Kejujuran apa yang ingin gadis ini katakan padanya? Semoga saja tidak buruk. Pikirnya.
Deg deg deg
Milea mengambil nafas panjang untuk mengurangi rasa gugup dirinya. Dia harus mengatakan kebenaran ini, karna sewaktu waktu semuanya juga akan terbongkar dengan sendirinya. Dan dia tidak ingin tuannya ini mendengar hal itu dari mulut orang lain.
Sekali lagi, Milea mengambil nafas dalam lalu menatap Zaky dengan semburat keseriusan. "SAYA ADALAH PUTRI BUNGSU KELUARGA RAHARDIAN!!"
Di tempat lain, Haikal terdiam menatap seseorang yang kini tengah berbaring di atas brankar rumah sakit. Hanya dia dan orang itu berdua, yang lain pergi memberikan waktu untuk mereka berbicara.
"Jadi Nala adalah Lala?" Gumam Haikal masih mencoba menyangkal dengan kenyataan yang dia dengar.
__ADS_1
"Benar." Jawaban singkat dari pria bernama Wendi Mahaswira itu seolah menusuk tepat mengenai ujung jantungnya. Haikal tertawa sendu seolah tak percaya dengan apa yang dia alami. Alasan kenapa dia suka menggoda wanita tapi tidak pernah berniat memacarinya, karna hatinya yang sudah berlabuh pada sahabat masa kecilnya itu. Lala.
Tapi, sekarang? Orang yang ia cari selalu ada bersamanya. Ini kah yang dinamakan, Dekat namun terasa jauh. sekarang dia memahami arti dari empat bait kata itu. Lalu setelah ini dia harus bersikap apa? Sedangkan Nala-nya sendiri saja mungkin sudah melupakannya.
"Maaf. Selama ini om sama papa kamu nyembunyiin keberadaan kamu dari Nala. Ini demi kebaikan kalian juga. Om sama papa-mu tidak ingin kejadian sewaktu kalian kecil dulu terjadi lagi."
"Di hari itu. Nala yang tidak tahu apa apa mengira kamu sudah meninggal, dan kami merasa itu cukup bagus agar kalian berdua bisa cepat melupakan kejadian di masa lalu. Tapi, om gak nyangka. Ternyata Nala justru trauma dan mengidap penyakit phobia akan kegelapan." Tutur Wendi sendu, pandangannya menerawang kearah langit langit rumah sakit sembari mengingat kejadian kelam anaknya dulu.
"Jadi itu juga alasan mengapa papa buang aku ke Jogja tinggal bareng nenek?" Cicit Haikal mengepalkan tangannya dengan kuat. Seolah olah tengah menahan amarah yang tumpang tindih padanya.
"Melindungi apa? Melindungi calon penerus perusahaan? Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menginjakkan kaki ku ke perusahaan yang bahkan bukan murni hasil jerit payahnya." Kalimat panjang itu menyudahi pembicaraan Wendi dengan Haikal. Pria itu segera berjalan keluar dengan amarah yang masih belum bisa ia kendalikan apalagi mendinginkan. Sedangkan di dalam, Wendi hanya bisa menghela nafas melihat anak dari sahabat istrinya yang keras kepala itu.
"Aku sedang tidak ingin bercanda Milea!!" Lirih Zaky dengan pandangan menunduk. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia dengar tidaklah benar.
"Saya juga sedang tidak ingin bercanda tuan. Saya sadar, sampai kapanpun saya menutupinya, kebenaran akan selalu terungkap dengan sendirinya." Jawab Milea sekuat tenaga menahan gejolak ngilu di ulu hatinya.
"Semua yang saya katakan pada anda di awal memang benar. Nama saya Milea Gunawan, karna saya adalah anak yang tidak diharapkan, sampai namapun saya mengikuti marga keluarga Ibu. Saya kabur ke Jogja dan tinggal bersama dengan nenek saya yang tengah sakit sakitan. Sepulang dari Australia, saya berniat ingin bekerja. Tapi saat melihat kondisi Nenek saya yang semakin memprihatinkan, saya merantau ke Jakarta berniat ingin mencari gaji yang lebih besar. Hingga pada akhirnya saya berada di sini." Milea mengambil nafas sejenak saat melontarkan kata kata yang benar benar menguras perasaannya.
__ADS_1
"Pada awalnya memang niat saya datang kesini karna ingin membalaskan dendam atas perbuatan yang pernah keluarga saya berikan pada saya dulu. Saya mengaku memanfaatkan kekuasaan anda sebagai tempat berlindung agar rencana saya berjalan dengan sempurna. Tapi, saya sebenarnya mur----"
"Cukup!! Jangan lanjutkan lagi!!" Potong Zaky cepat. Pandangannya kosong menghindari bertatap muka dengan Milea.
Gadis itu menatap sendu. "Tuan---"
"Keluar!! KELUAR KU BILANG!!" Bentak Zaky menyapu bersih meja kerja yang ada di apartemennya. Milea menghapus air matanya segera bangun dan pergi dari ruangan itu.
Setidaknya saat ini hatinya sudah merasa sedikit lega karna telah memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya. Tidak perduli dirinya dimaafkan atau tidak, tapi tugasnya sebagai pengawal pribadi Zaky akan tetap ia laksanakan, meski harus menjaga dari kejauhan sekalipun.
"ARRRRGGHHH" terdengar erangan keras sesaat beberapa detik Milea menutup pintu. Gadis itu menyandarkan punggungnya di depan pintu dengan air mata yang sudah tidak dapat dia bendung lagi.
"Maafkan aku Kak Zaky..." gumam Milea segera bangkit menuju kamarnya. Menyambar mentel lalu keluar dari apartemen itu menuju apartemen miliknya yang sekarang ia berikan untuk Nala sahabatnya.
Tit tit tit
Pintu terbuka. Milea segera masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur kamar tamu. Tidak peduli bagaimana kerasnya dunia menghantamnya saat ini, yang ia inginkan hanya sebuah ketenangan.
__ADS_1