
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
⚠Disarankan untuk membaca dari awal takutnya, tidak paham!!!
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Regan keluar dari sebuah ruang pertemuan dengan senyum miring yang yang tertarik di sudut bibirnya
"Suruh anak buah untuk mundur dulu, dan bergerak setelah ku perintahkan" ucapnya pelan pada salah satu bawahannya
"Baik Tuan" sahutnya
"Satu lagi, lacak keberadaan Van sekarang! aku tidak yakin dia benar-benar pergi atau tidak, pelacak yang ada di tubuhnya tidak bisa ku akses" ujarnya lagi menatap bawahannya sebentar, lalu melangkah untuk pergi dari hotel itu.
...****************...
Serin duduk di sofa dengan posisi yang sama seperti beberapa menit yang lalu
"Kalian sudah membereskannya?" tanya Serin pada Geralt lewat panggilan telpon yang sedang terhubung
"Leo sedang mengerjakannya, dan tempat yang mereka datangi adalah tempat yang sama dimana Regan juga pergi ke sana, Ardan sedang memeriksa cctv sekarang untuk memastikan-nya lagi" ~ Geraly
"Sepertinya dia sudah mulai bergerak" tukasnya
"Kau benar" ~ Geralt
"Sebelumnya kau bilang, kalau kalian menemukan saksi kunci dari kasus kebakaran.. sekarang dimana dia?" ~ Serin
"Dia ada di salah satu panti jompo di distrik C" ~ Geralt
"Baiklah, pastikan tidak ada yang tahu tentang ini. karena nyawanya bisa saja terancam jika salah satu anak buah Regan mengetahui ini, jadi perketat saja keamanan-nya, besok kita akan menemuinya" ~ Serin
"Oke" ~ Geralt
Serin mengakhiri panggilan telponnya, lalu bangkit dari duduknya untuk keluar tapi sebelum itu ia memastikan jika pintu di ruangan Glen tertutup
"......"
Karena merasa lapar wanita itu turun kelantai bawah untuk mencari makanan yang bisa ia makan, baik itu di kantin atau di cafe perusahaan
"Serin!" panggil seorang wanita yang mana suaranya sudah tidak asing lagi baginya
Serin menoleh mencari orang yang memanggilnya dan mendapati sahabatnya tengah berjalan menghampirinya
"Bagaimana kabarmu, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu" ujar Lidiya
"Kita cari tempat duduk dulu, baru bicara" jawab Serin dan di angguki setuju oleh Lidiya
Keduanya berjalan menuju cafe yang tidak jauh dari tempat mereka
"Apa kau tidak ikut meeting, bukankah sekarang perusahaan dalam keadaan genting?" tanyanya, seraya mendudukkan dirinya di kursi begitu juga dengan Lidiya yang duduk berseberangan dengannya
"Hanya kepala bagian dan dewan direksi yang meeting" sahut Lidiya mengacungkan tangannya untuk memanggil waiters
"Kau sendiri tumben datang?" tanyanya balik
"Hanya ingin memastikan, apakah bosmu itu baok-baik saja atau tidak" jawab Serin
"Cie~ yang sekarang sudah jadi istri perhatian" sindir Lidiya sambil terkekeh kecil
Mendengar itu, Serin hanya memutar malas bola matanya
"Kau tidak kuliah?" tanyanya lagi
"dari hari ini dan kedepannya, aku akan kuliah dirumah.. kan tidak mungkin bagiku kuliah dalam keadaan hamil seperti ini" jawabnya seraya meminum jus pesanannya
"Rin!" seru Lidiya menatap sekilas Serin, lalu beralih untuk menatap ke sekitar, seperti sedang memastikan agar tidak ada yang mengawasi atau mendengarkan pembicaraan mereka
"Apa" sahut Serin
"Kau ingat dengan Rachel?!" tanya Lidiya
"Rachel?!" sahutnya, sambil mencoba mengingat orang yang namanya di sebutkan oleh Lidiya
"Sainganmu di sekolah?!" ujar Lidiya memberi Clue
"Rachel yang sekarang jadi selebriti itu?!" jawab Serin
"Iyaa yang itu" sahut Lidiya membenarkan jawaban Serin
"Memangnya kenapa dengannya?!" tanyanya
"Apa kau pernah bertemu dengannya setelah lulus?!" tanya Lidiya balik, dan bukannya menjawab pertanyaan Serin sebelumnya
"Tidak! memangnya kenapa? dan kenapa kau tiba-tiba membicarakan tentangnya?!" jawab Serin menatap bingung wanita yang sedang duduk di depannya itu
"Hmm.. sebenarnya perusahaan punya rencana mengundangnya untuk perayaan ulang tahun perusahaan" jelas Lidiya
__ADS_1
"Lalu... hubungannya denganku apa?" sahut Serin acuh
"Ya, kau kan tahu sendiri bagaimana orangnya.. dulu saja dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan juara umum walau tidak berhasil, tapi aku hanya takut jika kalian bertemu maka perang dunia akan dimulai" ujarnya sambil terkekeh kecil
"Benar-benar ya, aku kira ada masalah besar" ucap Serin menggeleng pelan
"Tapi sebenarnya aku juga malas bertemu dengan-nya, pulang nanti aku akan meminta Glen untuk mengganti bintang tamunya" tambahnya
"Aku mendukungmu" sahut Lidiya setuju akan ucapan Serin
"Tapi jangan katakan kalau aku yang memberitahu-mu bisa-bisa dimarahi pak bos kalau membocorkan hal yang belum di umumkan" pinta Lidiya dan tentunya di angguki oleh Serin
"Kau tenang saja" ucap Serin
Tapi di tengah keasikan mereka bicara, atensi Serin teralih pada beberapa orang yang sedang bergerombol di dekat jalan raya, seperti sedang mengelilingi sesuatu
"Apa sedang terjadi sesuatu di depan?!" celetuk Serin, sontak Lidiya langsung menatap kemana Serin menatap
"Mungkin hanya pertunjukan kecil, biasanya ada beberapa remaja yang bernyanyi dan menari di sana" jawab Lidiya
"Tapi sepertinya ini bukan pertunjukan" tukas Serin bangkit dari duduknya, dan langsung pergi menuju gerombolan yang mungkin terdiri dari 12-14 orang itu
"Serin!" panggil Lidiya, tapi Serin sudah lebih dulu pergi tanpa menghiraukannya
"......"
Tinggal beberapa langkah lagi, ia bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan
"Berhenti, atau ku telpon polisi sekarang!" tukas Serin berdiri di posisinya, menatap seorang remaja yang sepertinya sedang di ganggu oleh beberapa remaja yang sebaya dengannya
"bibi jangan ikut campur" sahut salah satu remaja itu, dengan ekspresi meremehkan wanita di depannya
"Aku tidak setua itu sampai harus di panggil bibi" gumamnya dengan tangan kebelakang
"Pokoknya lepaskan dia, jangan membuat keributan di depan sini" ujarnya menatap datar satu-persatu remaja tersebut
"memangnya kenapa? apa perusahaan ini milikmu" sahutnya nyolot
"Kalian ini masih bau kencur sudah berani bicara dengan orang yang lebih tua seperti itu, apa kalian tidak di ajarkan sopan santun hah!" jawab Serin dengan nada santai namun terkesan menekan kata-perkata
"Ck. bawa dia jangan di sini" ujar remaja tadi, yang berani menyahut ucapan Serin tanpa sopan santun
"Wahhh~ rupanya kau ketuanya di sini" gumam Serin ber smirk, tapi para remaja tadi malah tidak menghiraukan-nya dan pergi begitu saja
"Hey~ aku belum selesai bicara! dimana sopan santun kalian" serunya berhasil menghentikan langkah para remaja tersebut
"Apa kalian sadar! perbuatan kalian ini yang akan menjadi cikal bakal banyaknya kasus kriminal di negara ini... dengan merundung seperti ini kalian menghancurkan rasa percaya diri mereka dan berakhir tidak berani,itu semua karena ulah kalian yang sepertinya memang tidak di didik dengan benar" tukas Serin yang kali ini tatapannya berubah menjadi dingin
"Halah bibi, lebih baik bibi urusi saja hidup bibi sendiri jangan ikut campur" sarkasnya
Para remaja itu hanya menatap temannya satu sama lain, lalu tertawa remeh
"Lebih baik kakak jangan ikut campur, A-Aku yang memberikan barangku pada mereka. sekarang masalahnya selesai, kan?" ucap pria muda yang terlihat memakai kacamatanya, dengan pakaian yang agak lusuh karena sebelumnya di ganggu oleh para remaja itu
"Sudahlah bibi, dia sudah mengatakan kalau ini diberikan pada kami jadi berhenti ikut campur" ujar ketua dari gerombolan remaja tersebut
"Dengarkan aku baik-baik! jangan menjadi lemah hanya karena kamu merasa tidak bisa dan di tindas... berhentilah berpikir mereka berbeda darimu, mereka sama! semuanya sama, mereka punya mulut, tangan, dan kaki. kau juga punya itu.. apa kau hanya punya satu mata yang membuat kalian berbeda, tidak kan?!, jadilah diri sendiri dan belajar untuk speak up... semuanya akan berubah jika kau berani merubah dirimu. cintai dirimu sendiri jangan tunduk pada mereka yang notabennya sama denganmu, sama-sama hidup sepertimu" tutur Serin berhasil membuatnya terdiam
"kau terlalu banyak bicara bibi" tukas sang ketua
"KAU DIAM!!! atau peluru ini akan menembus kepalamu" sahut Serin yang mulai habis kesabaran akan remaja yang satu ini
Mereka semua langsung mengangkat tangannya ketika sebuah pist*l di todongkan kearah mereka
"Kau gila bibi, apa kau penjahat" ujar salah satu remaja itu
"Apa kalian bisa melihat ini" jawabnya memperlihatkan sebuah kartu identitas, akan posisinya sebagai ketua tim dari Black Swan of Inteligen
Ketua dari geng remaja itu dan teman-temannya mulai berbisik satu sama lain dengan wajah yang tertunduk tidak berani
"Sekarang kembalikan barang yang kalian ambil, dan berhenti untuk melakukan ini padanya, termasuk orang lain... pikirkan orang tua kalian apa mereka membiayai sekolah kalian untuk ini?tidak kan! jadilah anak yang baik dan membanggakan orang tua kalian jangan bisanya hanya meminta dan menyusahkan mereka" titahnya tanpa menurunkan senjatanya, bahkan para karyawan yang sedang berlalu lalang terdiam ketika melihat istri dari presdir DC itu menodongkan p*stolnya
"Sekarang bersimpuh dan minta maaf padanya, berhentilah jadi brandalan nakal seperti ini" ucapnya memberi isyarat untuk tunduk di hadapan teman yang mereka bully
"Sekarang terlihat lebih baik" gumamnya tersenyum tipis, lalu memasukkan kembali senjata ke saku celana-nya
Ia menggunakan setelan jas yang membuat senjatanya tidak terlihat karena tertutup oleh jas-nya
Serin menghela pelan napasnya, lalu berjalan ke arah korban yang tadi di bully oleh teman-temannya
"Aku tahu ini tidak semudah yang ku ucapkan, tapi beranilah untuk menjadi lebih kuat agar kau tidak di remehkan dan di tindas lagi" nasehatnya seraya mengembalikan sebuah gantungan kunci yang jatuh di dekatnya
Ia hanya mengangguk pelan mengerti akan ucapan Serin "T-Terimakasih" ujarnya, lalu pergi dari hadapan Serin
Serin hanya mengangguk pelan, memperhatikan remaja tersebut sampai menghilang dari pandangannya
Ia mendongak sebentar menatap langit yang terbentang di seluruh penjuru bumi, lalu kembali melangkah masuk untuk kembali ke cafe
Tapi baru saja ia masuk ke loby, matanya sudah melihat Lidiya menunggunya di loby
"Apa kau memberi pelajaran pada mereka?!" tanyanya dan di angguki oleh Serin
"Sejak kapan kau membawa pist*l sebagai aksesorismu?" tanyanya melangkah mengikuti Serin untuk kembali ke cafe
"mengingat aku sedang menyelidiki kasus berbahaya, aku selalu membawanya sebagai alat pelindung" jawabnya
__ADS_1
"Semoga anakmu tidak mirip denganmu" tukas Lidiya sukses mendapat tatapan sinis dari Serin
"Kenapa? apa alasan anakku tidak boleh mirip denganku?!" tanyanya kesal
"Aku hanya takut, saat anakmu lahir yang ia cari bukan ibunya melainkan pist*lmu, kan tidak lucu" sahutnya enteng seraya melanjutkan makannya yang tadi sempat terpotong
"Ya tidak mungkin lah, kau ini ada-ada saja" sahut Serin menggeleng pelan
"Siapa tahu" sahut Lidiya sambil menggendikkan bahunya
Keduanya melanjutkan makan mereka yang tadi sempat terhenti, dengan pembicaraan yang mengisi suasana di meja tempat mereka makan
...****************...
"Mau kemana?" tanya Glen yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya, bahkan Serin tidak luput dari tatapan tajamnya
"Aku akan pergi dengan Geralt sebentar" jawabnya seraya memasukkan ponselnya kedalam tas
"Malam-malam begini?" tanya Glen tidak habis pikir
"Aku janji hanya sebentar" ucap Serin mencoba bersepakat, agar Glen mengijinkannya
"TIDAK! keputusanku bulat, jangan mencoba bersepakat denganku" sahutnya sekali ucap tanpa membiarkan Serin untuk membantah
"Tapi Glen! ini penting" jelas Serin menatap suaminya
"Tidak ada tapi-tapian, ganti pakaianmu atau kamu tidak akan ku ijinkan keluar selama seminggu kedepan" ujarnya sukses membuat Serin mendengus kesal
"Kamu bisa pergi besok" tambahnya seraya melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya
"Aku sudah janji akan pergi hari ini" ujarnya mencoba sekali lagi agar pria yang satu ini mengijinkannya
"Tidak! jika aku mengatakan tidak maka tidak" sahutnya tetap pada keputusannya
"Hishh~"
Dengan ekspresi kesalnya, Serin pergi untuk mengganti pakaiannya dengan dress putih selutut yang biasa ia gunakan untuk tidur
"......"
📞In Call-
"kita temui dia besok"
"Kenapa?"
"Aku yakin kau tahu alasannya"
"Baiklah, apa perlu aku dan Aiden saja yang pergi?"
"Tidak, aku ingin mendengar sendiri kesaksian dari wanita itu"
"Yasudah, besok akan ku jemput"
📞End Call-
Serin mematikan sambungan telponnya, seraya turun dari ranjang
"Mau kemana lagi?" tanya Glen, ketika melihat Serin turun dari ranjang
"Kamu tidur sendiri, aku ingin tidur di kamar Reyhan" jawabnya
"Kamu marah padaku?" tanyanya lagi, karena istrinya itu sama sekali tidak menoleh padanya
"Tidak" ketus Serin, lalu melangkah keluar dari kamar
Melihat itu tentunya Glen tidak tinggal diam, ia pergi mengikuti Serin ke kamar Reyhan
"Kenapa kesini?" tanya Serin yang sedang membaringkan tubuhnya di samping Reyhan yang sudah terlelap
"Aku juga ingin tidur dengan Reyhan" jawabnya, dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Reyhan, hingga dua pasutri ini membuat Reyhan yang tadinya sudah tertidur di tengah mereka ikut terusik akan kebisingan keduanya, tapi Serin langsung menenangkannya agar kembali tertidur
Glen memiringkan tubuhnya kesamping kanan, dimana ia bisa melihat wajah istri dan anaknya
Walau masalah kantor tidak selesai sepenuhnya, setidaknya pria ini masih bisa tersenyum akan kehadiran dua orang yang membuat kehidupannya lengkap
"Aku menyayangi kalian" gumamnya teramat pelan sambil menutup matanya untuk tidur, begitu juga dengan Serin dan Reyhan yang sudah terlelap lebih dulu
...****************...
.
.
.
Mohon bantuannya untuk like, share, komen, vote, masukin list fav biar tau kelanjutan ceritanya, agar Author semangat Up episode barunya😊
.
.
__ADS_1
.