Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Berjuang


__ADS_3

Di dalam sebuah resort hotel. Seorang wanita dengan dress cod selutut memandangi seseorang dari ekor matanya. Sembari menutup wajahnya dengan buku menu, dia terus memperhatikan pria yang tengah sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya itu.


Yah, dia Milea. Dan pria yang di awasinya adalah Zaky. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk terus melindungi Zaky meski diam diam seperti ini sekalipun. Yang penting, Zaky masih dalam pantauan perlindungannya.


Cukup lama menunggu, terlihat Zaky bangkit dari duduk bersama dengan rekannya saling berjabat tangan lalu pergi beriringan keluar dari resort hotel. Milea menutup buku menu, menyambar tas miliknya berjalan dengan anggun keluar dari sana.


"Pak Zaky ada waktu tidak nanti malam? Putri saya nanti akan berulang tahun. Jika tidak keberatan, bisakah anda berkenan untuk menghadirinya?" Tanya pria paruh baya yang menjadi rekan bisnis Zaky.


"Saya tidak janji. Tapi, akan saya usahakan untuk datang." Jawab Zaky seadaanya.


"Baiklah. Pestanya akan diadakan di hotel pardo, saya sangat berharap anda bisa datang pak Zaky." Setelah itu keduanya segera berpisah masuk kedalam mobil masing masing.


"Taksi!!"


"Ikuti mobil itu pak!" Pinta Milea setelah memasuki taksi. "Siap mbak." Mobil inipun berjalan. Sesekali Milea melirik kedepan, di mana mobil milik tuannya berada.


Tangannya merogoh tas dan menemukan ponselnya, tanpa ekspresi dia menekan beberapa digit angka lalu menekan tombol hijau untuk memanggil.


"Hallo? Siapa?" Terdengar suara serak serak basah dari seberang sana, menandakan bahwa si pemilik ponsel baru saja bangun dari tidurnya.


"Dapatkan undangan acara ulang tahun putri keluarga sutomo untukku. Acaranya ada di hotel pardo." Tut--- secara sepihak Milea memutuskan sambungan telfon tanpa peduli pada orang yang dia telfon.


"Mbak, mobil itu berhenti di sini. Apa mbak mau berhenti di sini juga?" Tanya supir itu membuat kesadaran Milea kembali sepenuhnya. Dia menatap sekeliling, sebuah permukiman asing dan sepi. Kenapa berhenti di sini?


"Saya turun di sini pak, tapi bisakah anda menunggu saya?" Tanya Milea karna dia yakin, akan sulit menemukan taksi di tempat sepi seperti ini.

__ADS_1


"Bisa mbak." Jawab supir itu. Milea tersenyum lalu segera keluar dari mobil menatap keliling. Sekarang dia tahu kemana tujuan Zaky.


Gadis itu berjalan menelusuri jalan dengan berhati hati, agar tidak mengganggu penghuni di bawah tanah itu. Tau bukan di mana? Yah, mereka saat ini berada di sebuah TPU tempat di mana kedua orangtua dan juga adik Zaky dikuburkan.


Dari kejauhan, dia dapat melihat Zaky tengah menangis di samping kuburan adiknya. Milea mengedipkan matanya beberapa kali untuk menghalau air matanya turun, dia bahkan sengaja menatap keatas berharap air matanya tidak lolos. Sayangnya, air mata itu lolos juga meski telah dilarang.


Dengan cepat dia menghapus air matanya saat melihat Zaky berjalan kearahnya setelah berpuas diri berkeluh kesah pada keluarga tercintanya. Milea dengan cepat berbalik dan langsung berjongkok di salah satu makam yang entah milik siapa, agar tidak membuat Zaky curiga. Terbukti dari Zaky yang berlalu begitu saja tanpa curiga sama sekali.


Milea melihat kearah depan TPU, memastikan bahwa Zaky telah pergi, setelahnya barulah dia berjalan menghampiri makam sahabatnya Anna.


"Hai Anna. Kamu senang aku datang? Aku merindukanmu. Maaf aku baru bisa berkunjung, karna saat ini kebetulan aku ada masa senggang, jadi sekalian saja mengunjungimu. Hahaa, tidak perlu terharu. Aku tau aku ini teman yang baik! Aku gak akan pernah lupa sama sahabatku sendiri meski sesibuk apapun. Jika ada waktu aku pasti akan selalu mengunjungimu." Ujar Milea berusaha bersikap ceria di depan sahabatnya.


Pandangannya kini beralih pada dua gundukan tanah di samping makam Anna. Tertulis di sana, Hendra Angkasa, dan juga Lastri Angkasa. "Holaa... Milea datang lagi nih om, tante. Maaf gak sempet bawain bunga buat kalian. Abisnya putra tante sama om gak bilang bilang kalo mau kesini. Tau gitu 'kan Milea bisa beliin bunga buat tante sama om tadi. Tapi, gak apa apa. Milea tetap bakal ngasih hadiah kok buat om, tante sama Anna."


"Hiks hiks. Milea kangen sama Anna.. hiks, kenapa Anna ninggalin Milea sendiri? Bukankah dulu Anna janji akan selalu ada bersama Lea. Menjadi kebahagiaan sederhana untuk Lea... hiks tapi kenapa Anna secepat ini ninggalin Lea..." lirihnya. Tangannya gemetar mengingat saat saat indah bersama dengan sahabatnya. Berjanji untuk selalu ada satu sama lain, dan saling membahagiakan.


Milea mengerjapkan matanya cepat, lalu perlahan mengusap air matanya dan tersenyum menatap tiga gundukan tanah itu secara bergantian.


"Sesuai amanah yang kamu minta Anna. Aku akan menjaga kakak kesayanganmu itu apapun yang terjadi. Tak peduli dia ingin membenciku atau tidak, karna aku tidak bisa hidup dengan bayang bayang janji yang pernah kita buat dulu. Jika saat kamu sudah meninggal saja masih bisa menepati janji, kenapa aku yang masih hidup tidak bisa?" Tekat Milea.


"Kalian tenang saja. Aku akan berusaha semampuku untuk melindungi keturunan Angkasa satu satunya yang masih bertahan hingga titik ini. Aku akan berusaha selalu berada di sampingnya untuk menyemangati."


Milea tersenyum. "Kalo gitu Milea pamit dulu ya om, tante, dan Anna. Lain kali Milea pasti datang kesini lagi."


Setelah membacakan Al-Fatihah, Milea bangkit dan berbalik. Betapa kagetnya dia saat seseorang yang teramat ia kenal kini berdiri menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.

__ADS_1


"Tu-tuan Zaky... ba-bagaimana anda bisa di sini? Bu-bukankah anda sudah lama pergi tadi?" Tanya Milea masih sedikit shock dengan kedatangan Zaky yang tiba tiba.


Hening. Tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut Zaky. Bahkan pria itu nampak bergeming dari tempatnya, matanya pun tak lepas menatap manik mata hitam milik Milea. Merasa tidak ada yang ingin diucapkan lagi, Milea dengan gugup berjalan melewati tubuh tinggi pria itu.


Tepat saat dia melewati tubuh itu, tangan Zaky lebih dulu mencekal tangannya, menahan gadis itu untuk pergi.


Zaky menoleh dingin. "Sejak awal kamu sudah mengetahui identitasku yang bermarga Angkasa. Kamu datang padaku untuk mencari naungan untuk berlindung. Bukan?" Milea diam tak mau membalas tatapan sedingin es itu.


"Katakan itu bohong Milea!! Katakan itu bohong!!" Teriak Zaky dengan kasar mendorong tubuh kecil Milea hingga tersungkur tepat di samping kuburan Anna.


"Ssttt" Milea meringis memegang telapak tangannya yang tergores oleh kerikil yang menyatu dengan tanah.


"Jika anda hanya ingin membahas itu jawaban saya akan tetap sama tuan. SAYA DATANG KEPADA ANDA UNTUK MEMINTA NAUNGAN PERLINDUNGAN!!" Tegas Milea bangkit menantang Zaky.


"Berhenti menyangkal sebuah kebenaran, karna itu akan menyakiti diri anda sendiri. Karna sekeras apapun anda menyangkal, itu tidak akan merubah apa apa. Karna seiring berjalannya waktu, tanpa diungkap-pun, kebenaran akan terungkap dengan sendirinya." Lanjutnya berjalan melalui Zaky hingga berhenti tepat di samping tubuh yang kini tengah menahan amarahnya.


Milea melirik pemuda itu. "Anda tidak akan memahami sebuah kebenaran jika anda tidak bisa menerima kenyataan. Renungkan kata kata saya, karna tidak semua kenyataan itu pahit." Setelah berkata seperti itu, Milea berlari meninggalkan Zaky dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi.


Bug


"Jalan pak!" Pinta Milea. Tanpa membantah, supir itu menjalankan mobilnya melewati TPU menuju alamat yang Milea berikan.


Milea menatap keluar jendela tanpa ekspresi. Karna dia sudah muak melampiaskan kesedihannya dengan air mata, kekesalan dengan amarah, kebencian dengan balas dendam. Dia muak dengan dunia yang seolah olah tengah mempermainkan dirinya, memutar mutar kisahnya kemasalalu dengan masa sekarang.


"Aku hanya ingin bahagia, barang sedetik saja. Tanpa harus diselimuti bayang bayang masalalu..."

__ADS_1


__ADS_2