Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
ketemu mantan


__ADS_3

Langit sore mulai menampakkan dirinya. Nala segera pulang setelah pekerjaannya beres. Rencananya hari ini dia ingin mengisi ketersediaan bahan dapur agar tidak selalu memesan makanan online.


Sesampainya di supermarket terdekat, Nala mendorong troli sembari memilah milih sayur, daging dan bumbu bumbu dapur lainnya.


Brukh


Karna tidak fokus pada jalan, Nala tak sengaja menabrak troli orang lain di depannya. "Maaf maaf saya tidak sengaja!" Ucap Nala mengangkat dagunya menatap orang itu.


"Iya tidak apa apa." Keduanya bersitatap dalam diam. Keduanya cukup terkejut saat tak sengaja dipertemukan di supermarket yang sama.


"Hai Nala..." sapa orang itu. Nala berlalu menghiraukan itu, rasanya dia muak dan ingin cepat cepat pergi dari pria tak tahu malu itu.


"Nala tunggu!!" Pria itu menahan tangan Nala untuk tidak pergi. "Apa lagi sih Raka?!" Yah, dia Raka. Araka Ardinanta. Pria muda tampan dengan sifatnya yang liar dan terkesan playboy.


"Sampai kapan kau mau menghindar dari perjodohan ini?" Tanya Raka masih dengan posisi memegang tangan Nala tanpa berniat melepaskannya.


"Sampai kau mati!" Jawab Nala santay sambil berusaha untuk melepaskan cekalan Raka dari pergelangan tangannya.


"Kamu dengar baik baik Nala! Aku tidak akan melepaskanmu! Apa yang seharusnya aku miliki, harus aku miliki. Termasuk dirimu!" Tekan Raka bernada ancaman.


"Jangan mimpi, aku tidak pernah sudi bersama denganmu. Dijodohkan dengan mantan? Sorry lah yaw gak sudi!! Jadi sebaiknya jangan pernah menggangguku lagi!" Nala menepis tangan Raka berlalu cepat meninggalkannya.

__ADS_1


Dia sebenarnya takut, tapi berusaha untuk kuat agar Raka tidak selalu menindasnya. Dia kenal Raka, seperti yang dia ucapkan tadi, apa yang seharusnya dia miliki, maka harus ia miliki, meski harus menggunakan dengan hal gila sekalipun itu harus menjadi miliknya. Dan itu juga berlaku pada dirinya sekarang.


Terkadang Nala merasa heran, kenapa dulu dia mencintai pria itu? Sekarang sudah keliatan busuknya, barulah dia sadar betapa bodohnya dia menyukai pria macam Raka itu.


Selesai membayar barang yang dibeli, Nala keluar dari sana. Dilihatnya langit sudah gelap dengan awan hitam yang mulai menyelimutinya.


"Sepertinya sebentar lagi akan hujan, aku harus cepat cepat pulang sebelum kehujanan." Gadis itu merogoh tasnya berniat ingin mengambil handphone, sebelum seseorang dengan keras mendorongnya hingga jatuh tersungkur di pinggir jalan.


"Awh" Nala menatap tajam siapa gerangan orang yang telah mendorongnya. "Kenapa kamu mendorongku Tika?!" Tanya Nala berusaha bangkit. Tapi, lagi dan lagi, Tika dengan sengaja mendorong bahu Nala menggunakan sepatu hak tinggi miliknya, membuat bahu Nala sedikit nyeri.


"Kamu bilang kenapa?! Kamu tahu? Gara gara kamu Raka memutuskan hubungannya denganku!!" Teriak Tika menyalahkan Nala.


"Heh, yang putus kalian aku yang kena." Keluh Nala merasa kesal sendiri dengan dua orang tak tahu malu itu yang selalu saja membayangi kehidupannya. Heran, kenapa dulu dia bisa memiliki pacar dan sahabat seperti mereka? Apa dia benar benar gila.


"Cih, awas kamu Nala! aku akan membuat hidupmu seperti berjalan di atas neraka! Camkan itu!" Ancam Tika tak main main.


"Ya.. ya.. aku tunggu..." Nala hanya bergumam malas sambil mengibas ngibaskan tangannya pelan.


Tika menghentakkan kakinya kesal dan berlalu pergi. setelah memastikan Tika pergi, Nala perlahan bangun dari tanah dan merasakan pergelangan kakinya terasa sakit. Sepertinya kakinya keseleo.


Duarrr

__ADS_1


Tik tik tik


"Ah sial, kenapa harus sekarang!" Umpatnya dengan cepat mengambil belanjaannya dan berjalan dengan kaki terseok seok menuju halte terdekat untuk berteduh.


Duduk di halte, Mala mengigil kedinginan karna tubuhnya sudah basah kuyup akibat hujan deras di sertai guntur dan angin yang cukup kuat. Membuat beberapa orang berlalu lalang mencari tempat berlindung dari genangan air hujan.


Duarrrr


Nala memeluk erat tubuhnya sendiri saat mendengar suara guntur memekakkan telinga diikuti dengan cahaya kilat yang begitu menyeramkan. Dia mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online.


"Ah kenapa lowbad sekarang sih?" Nala menggerutu sendiri di saat genting seperti ini ponselnya malah mati. Jadilah dia duduk sendiri di sana dengan harap harap hujan segera berhenti agar dia bisa mencari taksi untuk pulang.


Sudah lebih dari dua jam Nala duduk di halte dengan baju basah. Tubuhnya menggigil, wajahnya sudah pucat pasi karna menahan hawa dingin dari hujan dan juga hembusan angin yang menerpa kulit putihnya. Dia tidak tahu harus apa, jalanan saat ini tengah sepi, bahkan hampir tidak ada pengendara sama sekali. Orang orang lebih memilih menepi untuk berteduh dari hujan yang sampai sekarang tak kunjung reda.


Dari kejauhan, sebuah mobil sedan putih tengah melaju, hingga tak lama kemudian berhenti tepat di depan halte tersebut.


Seseorang keluar menggunakan payung menghampiri Nala. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya orang itu, dengan cepat melepaskan jas kerjanya saat melihat wajah pucat Nala dan tubuhnya yang menggigil hebat.


"P-p-pa-pak Ha-Haikal" Haikal menatap Nala dengan semburat khawatir. Tanpa meminta izin, pria itu mengangkat tubuh Nala menembus sedikit deras hujan yang perlahan reda.


Haikal mendudukkan tubuh Nala di kursi depan, dia membenarkan kursi dengan posisi dapat berbaring. Dia mengambil selimut yang ada di dasboard mobil dan membalutkannya ketubuh Nala.

__ADS_1


Setelahnya dia kembali untuk mengambil belanjaan Nala dan segera menancap laju menuju apartemen.


__ADS_2