
"MILEA CEPAT!!"
"Iya tunggu sebentar!!" Milea segera berlari menghampiri tuannya setelah berpamitan dengan Brian.
"Tuan, satu jam kedepan kita akan mengadakan pertemuan dengan klien dari Australia di restouran XX." Ucap Haikal membacakan jadwal.
"Persiapkan semuanya! Setengah jam lagi kita berangkat." Haikal mengangguk lalu bersama dengan Zaky dan Milea memasuki lift menuju lantai 24. Lantai teratas tempat ruangan Zaky berada.
Setengah jam telah berlalu, Milea nampak mengekor di belakang tubuh Zaky bersama dengan Haikal dan juga Nala. Setiap ada pertemuan, mereka selalu pergi berempat, sehingga terkadang membuat iri para karyawati lain.
Bagaimana tidak? Zaky Memiliki wajah bak pangeran di Negri dongeng, sedangkan Haikal bagai seorang ksatria perkasa dengan postur tubuh yang menggoda. Wajah mereka sama sama tampan dengan jabatan yang tentunya berpengaruh penting di perusahaan.
"Nona! Nona!!"
Tap
Milea menghentikan langkahnya seiring langkah tuannya juga berhenti. "Kenapa wanita itu ada di sini?" Gumam Zaky membuat Milea meliriknya heran.
Diikutinya arah pandang Zaky dan segera paham apa yang membuat tuannya itu berhenti.
"MILEA!!" Satu teriakan itu mampu menyita seluruh perhatian para pegawai yang tengah berlalu lalang.
Milea menatap bingung saat Bianka berjalan mendekat kearahnya dengan tangan mengepal. Sekali hentakan, dengan mudahnya tangan mulus menampar pipi Milea.
__ADS_1
Plak
Hening... semua orang terdiam tak percaya dengan apa yang dilakukan Bianka yang tiba tiba. Begitupun dengan Milea, wajahnya menoleh kekanan karna tamparan kuat dari tangan Bianka.
"Nona anda---" belum sempat dirinya menyelesaikan ucapannya, Bianka seolah tak peduli dengan kasar menjambak rambutnya hingga menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa.
"Akhh... Nona apa yang anda lepaskan Nona!!" Rintih Milea menahan rambutnya yang terasa perih karna ditarik cukup kuat oleh Bianka.
"Dasar j*l*ng!! Katakan!! Apa yang kau buat pada Zaky sehingga dia begitu peduli padamu Ha?! Apa kamu begitu murahan menjadikan tubuhmu sebagai aset untuk menarik perhatiannya?!" Teriak Bianka di luar kendali.
Sebisa mungkin Milea menahan rasa sakit kepalanya yang sudah cukup lama tidak dia rasakan. Terakhir kali ini terjadi saat kelulusan dulu, sebelum akhirnya dia melarikan diri ke Jogja menemui Nenek pihak ibu.
"Bianka apa yang kau lakukan?! Lepaskan Milea!!" Nala maju kegaris depan menolong sahabatnya. Dia mendorong tubuh Bianka agar menjauh dari Milea.
Bianka mendelik tajam kearah Nala. Sesaat dia terpaku sebentar sebelum akhirnya amarah kembali menyelimuti dirinya. "Jangan ikut campur kamu Nala!!" Bentak Bianka membalas mendorong tubuh Nala hingga terjungkal kebelakang, beruntung dengan sigap Haikal menahan tubuh itu.
Perlahan dia berjalan kearah Bianka dengan tenang, tatapannya tidak beralih sedikitpun dari wanita itu. Bianka yang mendapatkan tatapan intimidasi dari Milea seketika nyalinya menciut, hanya saja ego mengusainya sehingga berdiri menatap Milea menantang. Padahal kini dia terlihat sudah berkeringat dingin.
"Berhenti Milea!" Zaky yang sedari tadi diam kini berdiri di depan Milea bermaksud menghalangi gadis itu untuk berbuat gegabah, apalagi saat melihat mata gadis itu seperti di luar kendali.
Milea berhenti, menatap tajam kearah Zaky lalu dengan kuat mendorong pria itu dari hadapannya. "Jangan menghalangi jalanku!!" Lirihnya penuh penekanan.
Bianka bergerak gelisah saat Milea semakin dekat dengannya. Tepat di hadapan Bianka, Milea tak tanggung tanggung langsung mencekik lehernya hingga membuat wanita itu kesulitan untuk bernafas.
__ADS_1
"Milea hentikan!!" Milea melirik tajam kebelakang, membuat langkah Zaky terhenti karna keberaniannyapun ciut melihat tatapan tajam dari pengawalnya.
"Le-pas-kan!!" Kini pandangan Milea beralih menatap Bianka yang tengah berusaha melepaskan sebelah tangannya yang mencekik leher wanita itu.
"Aku tidak peduli kau ingin menampar, menjambak, atau bahkan membunuhku sekalipun. Jika kau sudah berani menyentuh sahabatku, mati-pun tidak akan cukup mendinginkan amarahku." Ucapnya pelan. Perlahan dia mendekatkan wajahnya hingga tepat berada di samping telinga Bianka.
"Dulu semasa SMA mungkin aku selalu diam saat kau dengan kejinya memfitnah dan juga membully ku. Di masa sekarang, jangan harap kau bisa melakukan itu lagi!" Bisiknya lalu mendorong tubuh Bianka kasar hingga terjatuh kelantai.
"Uhuk uhuk uhuk" Bianka menatap Milea dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebelah tangannya memegang lehernya yang memerah akibat cekikan Milea yang cukup kuat.
"Pergi dari sini sebelum aku benar benar melakukan apa yang baru saja aku katakan!!" Usir Milea.
Bianka melirik sekeliling. Dia sadar saat ini sedang menjadi bahan tontonan, mau tidak mau dia segera pergi sebelum dirinya semakin malu. Sebelum benar benar pergi, dia menyempatkan diri melirik Milea tajam, seolah olah mengatakan.
"Ini semua belum berakhir!! Tunggu saja!!" Begitulah kira kira Milea baca dari lirikan itu.
Brukh
"Milea!!" Zaky dengan sigap menahan tubuh Milea yang lemas setelah sadar sepenuhnya.
"Tunda pertemuan kita beberapa jam lagi!!" Titah Zaky dengan gantel-nya menggendong Milea keluar menuju parkiran.
"Baik! Ayo Nala!" Ajak Haikal menggandeng tangan wanita itu keluar dari kantor.
__ADS_1
Semua orang menatap kepergiaan dua atasan mereka yang membawa gadis masing masing hingga menghilang. Setelah itu semua orang kembali pada pekerjaannya, meskipun hal ini sudah menjadi topik terhangat yang sekarang tengah dibicarakan satu kantor.
Apalagi saat melihat Milea. Mereka yang dulu pernah mengganggu gadis itu seketika menyesal. Jika bahkan atasan mereka saja tidak berani menghentikannya, lalu bagaimana dengan mereka? Tidak lagi lagi mereka berurusan dengan wanita itu, apalagi sampai menyinggungnya tentang Nala.