
"Nek, apa maksud pria tadi mengatakan bahwa Milea adalah cucunya?" Tanya Milea setelah Gren pergi menyerah dengan keras kepalanya Fitri yang menyangkal bahwa Milea adalah cucunya. Yah, dapat dimaklumi. Ini semua juga karena kesalahannya yang membuat wanita tulus itu kini menjadi menjadi membencinya.
Fitri menghela nafas lalu mengambil buku album pernikahannya dengan Agus suaminya dulu. "Nampaknya memang sudah saatnya nenek menceritakan semuanya sama kamu nak," ucap Fitri mulai membuka halaman awal.
"Dulu nenek pernah menjadi TKW ke negri Australia. Di sana nenek bertemu dengan seorang pria tampan bernama Gren Arceleon. Pria yang tadi. Kami saling jatuh cinta, lalu berjanji untuk melangsungkan pernikahan suatu hari nanti,"
"Karena terlalu dibutakan oleh cinta, nenek sampai lupa bahwa kami berbeda kasta hingga Gren menikah dengan wanita pilihan keluarganya. Karena kecewa, nenek pulang ke Indonesia dan sebulan setelahnya baru menyadari bahwa nenek mengandung anak pria itu."
"Nenek depresi, sehingga berniat ingin bunuh diri. Tapi, seorang pria menyelamatkan nenek. Dia kakekmu, Agus Gunawan. Dia yang menemani nenek, memulihkan luka di hati nenek. Sehingga dia berniat menikahi nenek."
"Awalnya nenek menolaknya karena pria baik sepertinya tidak cocok dengan wanita kotor seperti nenek. Tapi kakekmu, dia berjuang penuh untuk menyakinkan nenek bahwa dia menerima nenek apa adanya, menerima menjadi ayah untuk anak yang nenek kandung. Hingga pada akhirnya nenek akhirnya luluh, dan mau menikah dengannya."
"Heh... awalnya nenek kira, tidak perlulah, kamu maupun ibu kamu mengetahui dari keturunan mana kalian. Karena bagi nenek, cukuplah kalian anggap Agus sebagai ayah dan kakek untuk kalian. Namun siapa sangka, pria itu datang lagi."
"Jadi...."
__ADS_1
Fitri meraih tangan Milea dan menggenggamnya erat. "Sulit mengatakannya. Tapi, pria itu benar kakekmu. Dia adalah, ayah kandung ibumu. Tapi, nenek mohon. Meskipun kamu telah tahu siapa kakek kandungmu, tetaplah anggap kakek Agus sebagai kakek bagimu. Karena dialah yang menemani nenek dan ibu kamu, menjadi pahlawan untuk kami, pria baik yang mau merawat dan menjaga kami tanpa menganggap apakah ibumu putrinya atau bukan." Ucap Fitri.
Membalas genggaman Fitri. "Tentu. Milea gak mungkin ngelupain kakek gitu aja. Sampai kapanpun, kakek Agus tetaplah kakek Milea." Jawab Milea tegas.
Tersenyum tipis, "setelah itu kakek Gren kembali datang dengan membawa pengacaranya untuk mengambil hak asuh bagiku. Nenek marah dan tidak terima, sedang aku saat itu bingung harus memilih siapa. Hingga akhirnya kami memilih jalur damai dengan menjadikan aku hak asuh untuk keduanya."
"Dan secara kebetulan, dari sekolah kita dulu mengatakan bahwa aku mendapatkan beasiswa di Australia, sehingga nenek mau tidak mau mengikhlaskanku ikut dengan kakek Gren dengan syarat setelah lulus harus kembali ke Indonesia." Ucap Milea.
"Tak aku sangka, rasa sakit yang kalian bertiga rasakan sama. Nenekmu sakit hati karena dikhianati kakek Gren, ibumu menderita karena ditindas istri pertama karena kesalahan ayahmu. Dan kamu..." perkataan Nala terhenti karena tidak enak dengan Milea.
"Tapi... sekarang bukankah kamu sudah memiliki mereka yang menyayangimu? Jadi kamu tidak perlu sedih lagi," hibur Nala.
Tersenyum kecil. "Makasih"
"Sama sama."
__ADS_1
Ddrrrtt dddrrrtt drrrrtt
Getaran dari ponsel membuat Milea segera mengangkat telfon dari Ben asisten pribadinya. "Ada apa?" Tanyanya tak ingin basa basi.
"Nona, saya sudah menyebarkan berita sesuai perintah anda. Seharusnya para petinggi perusahaan sudah mendengarnya,"
"Heh, bagus. Kalau begitu, siapkan barang barangku. Kita akan memulai misi terakhir," titah Milea tersenyum tenang penuh menyeringai.
"Siapa?" Tanya Nala merasa takut melihat ekspresi menyeramkan Milea. Perasaannya benar benar tidak enak. Semoga saja wanita ini tidak berbuat nekat.
"Asistenku. Jadi, bagaimana dengan kandunganmu? Kalau cowok kau akan beri nama siapa, kalau cewek apa?" Jawab Milea mengalihkan pembicaraan.
"Aku masih belum periksa jenis kelaminnya sih, tapi kalau cowok aku pengen kasih dia nama... bla bla bla."
Milea tersenyum tipis mendengarkan semua cerita Nala tentang bayi yang ada dalam kandungannya.
__ADS_1
Berbahagialah Nala. Karena hanya kamu yang mampu bertahan lebih lama setelah Anna, dan aku. Bahagiamu, adalah bahagiaku dan juga Anna.