
"Lalu kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Bagas membuyarkan lamunan Milea. Gadis itu ikut menatap tuannya penasaran, bagaimana duduk perkara kejadian sebenarnya.
"Waktu itu..."
Setelah keluar dari apartemen, Zaky melajukan mobilnya menuju mini market terdekat yang sempat ia lihat di jalan tadi. Saat itu dia tidak sadar sama sekali kalau sedang ada yang mengikutinya dari belakang.
Hingga sebuah mobil menyalip cepat kedapan dan langsung rem dadakan, saat itu otomatis Zaky membanting stirnya hingga berbelok kearah persimpangan menuju sebuah trowongan.
Ckittt
"Sialan!!" Zaky menghentikan mobilnya lalu berjalan keluar menatap segerombolan orang orang berpakaian serba hitam yang mulai berjalan mendekatinya.
"Siapa kalian? Apa mau kalian?" Tanya Zaky melirik dengan pandangan dingin keorang orang itu.
Tanpa basa basi, salah satu di antara mereka melayangkan tonjokan kearah rahang tegas milik Zaky. Tapi, pria itu menyadarinya dan langsung menghindar.
Hingga terjadilah aksi tonjok menonjok di sana. Meskipun Zaky bisa bela diri, tapi jika jumlahnya sebanyak ini dia juga tidak pasti akan tetap kalah.
*A*ku harus mencari cara kabur dari sini. Gumamnya dalam hati.
Saat sedang lengah, Zaky tidak sadar ada seseorang dari belakang mengeluarkan pisau kearahnya.
"Hiyatttt!!" Bug. Lawan terakhir telah kalah, Zaky menoleh kearah belakang saat mendengar teriakan aba aba dari seseorang.
Srakkk
Zaky terdiam, ditatapnya manik mata di balik sarung itu dengan ekspresi terkejut. Orang ini terlalu cepat, dia belum siap sama sekali.
Brukh
"Heh... selamat tinggal... Zaky Alexander..." ucap orang itu dengan nada meledek. Saat itu Zaky hanya mampu terdiam sembari menahan rasa sakit di bagian perutnya akibat luka tusukan pisau itu.
"Begitu ceritanya..." Jelas Zaky.
__ADS_1
"Brengsek!! Beraninya mereka melukai anakku!! Akan ku bunuh siapapun mereka yang berani melakukan ini pada anakku!!" Bagas keluar dengan amarahnya. Melihat itu Maulida panik sendiri, suaminya itu suka bertindak bodoh kalau lagi marah.
"Zaky kamu jaga adikmu sebentar ya, mama ingin mengejar papamu dulu. Papamu kalo sudah marah bodohnya nauzubillah. Kemarin cuma gara gara ada burung b*r*k di wajahnya, dia matiin satu keluarganya. Sudah dulu ya...." ucap Maulida dengan cepat keluar menyusul suaminya yang bodoh itu.
Milea melongo mendengar cerita dari nyonya besar itu. *S*adis juga tuan besar itu... gumamnya dalam hati.
"Anna duduk sini dek!" Pinta Zaky menepuk nepuk kasur di sampingnya. Suci dengan semangat naik keatas dan memeluk tubuh Zaky erat. Mungkin dia benar benar rindu dengan pria yang menjadi kakaknya itu.
"Namanya siapa tuan?" Tanya Milea setelah duduk di kursi samping tempat tidur zaky.
"Sucianna alexander."
*A*nna... Milea terdiam sejenak dengan mengulang sebagian nama bocah itu di dalam benaknya.
"Nama yang bagus. Hallo, nama kakak Milea..." ucap Milea ceria. "Halo kak, nama aku Sucianna, kakak boleh panggil Suci atau Anna seperti kak Zaky." Jawab Suci tak kalah ceria.
"Kalo kakak manggil Cia gimana?"
"Gak apa apa kok kak. Suci suka kok!" Jawab Suci. Milea tersenyum lembut sambil tangannya mengusap pucuk kepala Suci gemas.
Setelah beberapa saat, suci mulai tertidur di pelukan Zaky, sedangkan kedua sejoli tadi masih tidak ada tanda tanda ingin kembali.
Suasana tiba tiba canggung...
"Tuan, sepertinya saya tahu siapa yang telah melakukan ini terhadap tuan." Tutur Milea memecah keheningan.
"Apa? Kamu tahu? Apa kamu melihat wajah pelakunya?" Cecar Zaky tentu saja kaget.
"Tidak. Saya tidak melihat wajahnya, hanya saja saya merasa suaranya sangat familiar..." jawab Milea cepat.
"*A*h maaf!" Sesal Milea saat tak sengaja menabrak salah satu karyawan kantor saat berpapasan.
*P*ria itu tersenyum menganggukkan kepalanya sopan. "Tidak apa apa." Setelah itu melenggang pergi, diikuti Milea yang juga pergi dengan arah berlawanan.
__ADS_1
Brukh
"Maaf!"
"Tidak apa apa."
"Tapi, saya yakin suara itu milik salah satu karyawan yang ada di kantor anda. Waktu itu saya tidak sengaja menabraknya, jadi saya bisa mengenali suara itu sama persis seperti pemilik suara tadi malam." Lanjut Milea setelah mencocokkan suara yang ada di pikirannya.
"Brengsek!! Siapa yang berani berani ingin mencelakaiku?!" Umpat Zaky. Seketika dia tersadar saat ini Suci tengah terlelap di pelukannya, membuatnya langsung terdiam dengan mengecilkan volume suaranya.
"Kamu yakin itu?" Tanya Zaky memastikan. Bisa saja bukan Milea salah dengar? Apalagi sekumpulan orang orang malam itu tengah memakai sarung, yang mana suaranya pasti teredam.
"Saya yakin 100% tuan. Hanya saja saya tidak yakin siapa yang ingin mencelakai tuan, dan berada di bagian mana orang itu berada. Karna saat itu saya hanya melihat wajahnya sepintas, dan saya orang cukup sulit mengingat wajah seseorang yang baru saja ditemui. Tapi, untuk suara anda tidak perlu meragukan saya tuan." Jawab Milea panjang lebar.
Zaky menghela nafas berat, melirik Suci yang terlelap lalu menatap Milea. "Baiklah, setelah aku keluar dari rumah sakit kita tangkap sama sama dalang di balik semua ini." Tutur Zaky penuh tekat.
kita tangkap sama sama dalang dibalik semua ini...
kita tangkap sama sama...
kita... kita...
Entah mengapa kata kata itu menggema di telinga Milea. Dia begitu tertegun saat mendengar kata kita. Kenapa dia tiba tiba kegeeran gini? Dan... ada apa dengan jantungnya? Kenapa berdegup kencang seperti ini?
*H*ei jantung!! kamu masih sehatkan?! Teriak Milea dalam benaknya.
"Milea!!"
"Iya tuan?" Milea segera tersadar saat mendengar bentakan Zaky. "Kamu mendengar aku bukan?" Tanya Zaky merasa heran dengan Milea yang tiba tiba melamun.
"Ah dengar tuan. Tentu, kita akan menangkapnya!" Jawab Milea tersenyum manis. Tentu kita tuan. karna jika saya yang menangkapnya, saya tidak yakin dia akan hidup. Lanjutnya dalam hati.
__ADS_1