Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
merawat


__ADS_3

"Ughh..." Nala membuka mata perlahan menatap sekeliling dengan tangan memegang kepala.


"Ssstt di mana ini?" Gumamnya dengan mata terus berkeliaran menatap sekeliling. Saat menatap kesamping, dia cukup terkejut mendapati Haikal tertidur dengan posisi duduk di samping kasur, kepalanya terbaring di bibir kasur menghadap kearahnya dengan tangan sebagai bantalan.


Dia mengambil handuk kecil yang ada di kepalanya lalu menatap Haikal dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Apa semalaman dia merawatku?" Lirihnya tak enak.


"Eughh... hm? Oh kamu sudah bangun?" Tanya Haikal sembari mengucek ngucek matanya.


"Apa kamu menjagaku semalaman?" Bukannya menjawab, Nala bertanya balik sambil menundukkan kepala.


Haikal terdiam, ditatapnya Nala lekat lekat. "Iya. Ughhh kamu benar benar merepotkan!! Kamu lihat? Tulangku sampai remuk semua..." keluh Haikal merengangkan badannya.


"Maaf" Haikal terdiam perlahan duduk kembali keposisi semula. Niatnya ingin mencairkan suasana, Nala justru melow gitu ekspresinya.


Tuk


"Awh!" Nala meringis sakit sambil mengelus elus keningnya yang dijitak Haikal. "Gak usah melow gitu! Wajah lo gak cocok buat mimik sedih!" Ujar Haikal mendorong dorong pelan kening Nala dengan jari telunjuknya.


"Apaan sih! Trus cocoknya apa dong?!" Nala menepis kasar tangan Haikal dengan cemberut.


Haikal tersenyum lembut. "Lo gak cocok sedih. Karna lo itu gadis kuat! Jadi tetap seperti Nala yang gue kenal yang selalu pasang wajah tenang dan santai." Tuturnya membuat Nala terenyuh. Dia menatap wajah Haikal lekat lekat, ada perasaan nyaman dan familiar saat dia bersama dengan Haikal, hanya saja dia selalu menyangkalnya.


"Makasih."


"Lo udah sehat belom? Ayo keluar, gue pesenin sarapan dulu." Haikal bangkit mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


Nala diam menatap pergerakan Haikal. Tangannya perlahan terulur untuk memegang dada bagian kirinya.


Deg deg deg


*O*h jantung... kenapa kamu maraton seperti itu sih?! Kamu masih di tempatnya bukan?! Omel Nala memejamkan matanya kesal sendiri.

__ADS_1


"Heh, ngapain lo pegang dada? Lo gak punya penyakit jantung 'kan? Jangan ngerepotin gue lagi lu!" Oceh Haikal. Nala menghela nafas pelan lalu melirik tajam kearah Haikal.


"Brisik!! Bantu gue bangun!" Teriak Nala merentangkan kedua tangannya dengan wajah ditekuk masam. Haikal memutar bola mata malas lalu menarik tangan Nala hingga bangun.


"Lo bisa jalan sendiri 'kan? Gak perlu gue gendong?" Sindir Haikal. "Brisik! Lo pikir gue gak punya kaki sampe minta gendong sama lo? NAJIS!!" Bentak Nala berjalan pelan pelan menuju pintu.


Cklek


Sesaat pintu terbuka, Nala terkejut saat melihat seorang pria tengah duduk di atas sofa sambil mengucek ngucek matanya. Sepertinya pria itu baru saja bangun dari tidur indahnya yang kelam.


"Rendy? Kamu kok ada di sini dek?" Kagetnya berjalan pelan menghampiri adiknya duduk di sofa.


"Loh? Kak Nala? Kok kakak ada di sini?" Tanya Rendy balik. "Yee ditanya malah tanya balik! Jawab dulu, kamu ngapain disini?" Kesal Nala.


"Aku di sini nungguin motor aku balik kak," jawab Rendy dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Emang motor punya kaki sampe bisa nyamperin kamu kesini? Kek bini nunggu laki aja lo ampe ketiduran gitu." Cibir Nala.


"Aku serius kak. Tadi itu ada cewek yang maksa ambil motor aku, dan aku disuruh nunggu di lobi apartemen atau apartemen temannya yang ada di lantai ini. Makanya sekarang aku di sini, nunggu motor kesayangan aku balik." Jelas Rendy kesal sendiri, terkadang kakaknya itu suka cerewet juga.


Ting nong ting nong


Haikal keluar dari kamar berjalan menuju pintu untuk mengambil makanan yang ia pesan tadi untuk dirinya, Nala dan juga tamu yang datang tadi malam.


"Sarapan dulu yuk!" Dua kakak beradik itu berjalan mengikuti langkah Haikal menuju ruang makan.


"Pelan pelan kak!" Rendy dengan hati hati menuntun kakaknya untuk duduk di sampingnya berhadapan dengan Haikal yang tengah menaruh makanan kedalam piring.


"Kakak?"


"Kenal 'kan, dia Rendy adikku." Seolah mengerti kebingungan Haikal, Nala berinisiatif menjelaskannya.

__ADS_1


"Oh adik," setelah itu Haikal tak ingin bertanya lagi. Ketiganya makan dalam hening, tak ada satupun yang ingin memecahkan celengan sunyi itu.


"Emmm kak, kakak kok ada di sini? Kakak gak mungkin tinggal di sini 'kan kak?" Tanya Rendy setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya. Itu yang sedari tadi mengganjal di hatinya, mengapa kakaknya bisa ada di apartemen seorang laki laki?


"Enggak kok. Kakak tinggal di apartemen sebelah, tetanggaan sama apartemen ini. Dia Haikal atasan kakak," Jelas Nala.


"Trus ini?" Rendy melirik Haikal dan Nala secara bergantian, tidak mungkin bukan mereka sudah tidur bersama?


"Kemarin kakak gak sengaja ketemu kakakmu di jalan. Dia kehujanan, jadi kakak bawa dia pulang keapartemen kakak, soalnya kakak gak tahu pasword apartemen kakak kamu. Dan tadi malam dia demam, makanya kakak ketiduran di kamar buat jaga kakakmu," jelas Haikal tak ingin ada kesalah pahaman yang akan berdampak buruk padanya.


"Ohhh gitu. Trus ini motor aku gimana kak? Aku bela belain nginep dengan resiko kena omel mama, cuma demi motor kesayangan aku kak!" Rengek Rendy heboh sendiri.


Nala menghela nafas pelan. Dia sangat tahu seberapa berartinya motor itu bagi adiknya, itu adalah motor pertama Rendy yang dia beli dari uang yang dia kumpulkan dari uang jajannya.


"Pak, bisakah anda menelfon Lea untuk menanyakan tentang motor adik saya?" Pinta Nala harap harap.


"Oke bentar, aku telfon 'kan dulu."


"Lea? Jangan bilang itu kak Lea, temen kakak sewaktu SMP dulu?" Tanya Rendy tak percaya.


"Iya dia Lea temen kakak,"


"Omg!! Itu beneran kak Lea kak? Kok beda banget sih? Dulu dia culun banget, sekarang kok tomboy gitu?" Heboh Rendy.


"Mana kakak tahu, kamu tanya sendiri aja sama dia, " jawab Nala acuh tak acuh, menyudahi makannya.


"Awas kau kak Lea!! Ketemu ku banting kau!" Ancam Rendy membayangkan Milea yang ia banting.


Haikal dan Nala melirik Rendy secara bersamaan. "Gak yakin gue dia bisa dibanting, yang ada kebalik. Lo yang kena banting!" Gumam keduanya.


"Oke, thanks. Motor kamu ada di trowongan persimpangan jalan xx. Kamu bisa ambil sendiri, nanti kuncinya dia kirim kerumah katanya," ucap Haikal setelah selesai berbincang dengan Milea lewat telfon.

__ADS_1


"Apa?! Hermy gue ada di trowongan? Sendirian?! Omg dia pasti kedinginan. KAK LEA SIALAN!!"


Nala dan Haikal diam menatap Rendy dengan pandangan datar. Laki laki ini benar benar heboh, entah bagaimana Nala bisa memiliki adik heboh seperti Rendy ini.


__ADS_2