
Brum brum brum...
Para pegawai kantor sedikit dari banyaknya yang melirik penasaran saat sebuah motor sport terparkir di depan kantor.
Melepas helmnya, Milea menjadi pusat perhatian karena wajah cantiknya yang menawan. Turun dari motor, Milea melempar kunci motornya pada satpam dan berjalan masuk sambil memakai kacamatanya.
"Maaf nona, anda ingin bertemu dengan siapa? Apa sudah membuat janji?" Tahan pihak resepsionis bertugas sekaligus penasaran.
"Heh. Apa perlu izin? Dulu bahkan aku keluar masuk tidak pernah dipermasalahkan seperti ini," gumam Milea memutar bola matanya jengah.
Menatap resepsionis itu dengan tatapan dinginnya, "katakan pada bosmu, ku tunggu dia di ruang tunggu. Katakan aku adalah Milea!" Titah Milea mengambil langkah dan duduk di ruang tunggu.
Tap tap tap
Derap langkah kaki yang terburu buru terdengar samar di telinga Milea. Pemuda dengan pakaian formalnya datang menghampiri Milea dengan nafas memburu.
"Huft... sedang apa kamu di sini?" Tanya Zaky menatap Milea penuh keheranan.
"Mengunjungi rekan bisnispun haruskah dipertanyakan? Salah jika aku datang untuk mempererat hubungan dengan rekan bisnisku?" Balas Milea menyilang kakinya sambil memandang Zaky dengan senyum tenangnya.
"Huft... mau makan siang di luar?" Tawar Zaky. Tidak ada gunanya juga jika dia mengusir Milea, karena kenyataannya hatinya justru senang dengan keberadaan wanita yang setahun menghilang itu.
"Ayo!!" Dengan perasaan senang, Milea menarik tangan Zaky sedikit tergesa keluar dari gedung perusahaan dan berhenti tepat di samping motornya yang terparkir.
Melirik Milea kaget, "jangan bilang kamu datang kemari naik motor ini!?" Zaky memandangi motor besar berwarna putih itu tak percaya. Yang benar saja, dia kiri sifat Milea telah berubah, nyatanya penampilan saja yang berubah, sifatnya masih sama.
"Salah jika aku naik motor? Lagipula, kalau naik motor itu lebih cepat sampai. Bisa dengan mudah nyalip pengendara lain," jawab Milea tak suka dengan tatapan menyebalkan Zaky padanya.
__ADS_1
"Ini bukan tentang cepat atau lambatnya kita sampai tujuan, tapi ini tentang keselamatan Milea! Kamu wanita, terlalu berbahaya naik motor apalagi sebesar ini." Tutur Zaky melirik Milea dan motor itu bergantian.
"Sudahlah, sebaiknya kau segera naik dan bonceng aku. Katanya aku gak boleh nyetir motor, jadi kamulah yang nyetir!" Milea mendorong tubuh Zaky pelan sambil tersenyum sok manis di jok belakang.
"Tapi..."
"Kau tidak mungkin tidak bisa naik motorkan? Apa harus aku yang bonceng?" Dengan cemberut Milea mengumpat Zaky jika tidak bisa naik motor. Dia sudah berharap sekali bisa berboncengan dengan pengusaha muda Zaky Alexander ini.
"Tentu saja aku bisa! Karena dulu akukan seorang----" dia menahan ucapanannya mendadak, aibnya dulu itu. Motor kesayangannyapun masih di Jogja ia tinggal, sedang di Jakarta dia selalu memakai mobil.
"Pembalap?" Tebak Milea tersenyum jahil sambil menyangga dagunya dengan tangan.
"Su-sudahlah! Ayo kita pergi." Dengan salah tingkah Zaky naik keatas motor dan membawanya pergi dengan kecepatan sedang. Terlalu bahaya jika dia mengebut seperti dulu, apalagi yang ia bonceng saat ini adalah seorang perempuan.
Tok tok tok
Ceklek
"Tak apa. Katakanlah!"
Melirik Rahardian dengan tatapan sulit diartikan. "Ada berita baru tuan," jawab Reno mengulur ulur ucapannya.
"Jika beritanya tidak penting, sebaiknya tidak perlu kamu katakan! Aku sedang sibuk!" Ujar Rahardian fokus pada berkas di tangannya.
"Tapi ini tentang putri bungsu anda."
"Ceritakan!!" Sambar Rahardian cepat. Pekerjaannya ia biarkan menganggur demi mengetahui berita tentang putrinya yang kembali menghilang setelah satu tahun yang lalu.
__ADS_1
"Dipemberitaan semua pebisnis gempar membicarakan tentang nona Milea yang faktanya merupakan cucu perempuan satu satunya keluarga Arceleon. Pengusaha terkenal yang menduduki posisi pertama se-Asia." Jelas Reno lalu menyerahkan i-pad nya pada Rahardian untuk memperlihatkan berita heboh itu.
Terungkap fakta.
Bahwa keluarga pengusaha terkenal Arceleon memiliki cucu perempuan satu satunya bernama Milea Arceleon yang disembunyikan identitasnya selama bertahun tahun dan akhirnya keluar dan memulai mengelola bisnis keluarganya.
"Jika Milea ada cucu Arceleon, berarti Rikha...!!?" Putri Gren Arceleon. Lanjutnya dalam hati. Fakta mengejutkan yang membuatnya tak dapat berkata lebih. Terlalu kaget saat tahu, wanita ya ia kotori adalah putri dari keluarga Arceleon.
Karma selalu berlaku wahai Rahardian. Bodoh jika kamu tidak sejalan pikir denganku bahwa Arceleon tidak akan tinggal diam karena putrinya telah dikotori pria bejat seperti anda. Batin Reno menatap Rahardian penuh arti.
"Jadi?"
"Jadi apa?" Tanya Milea pura pura tidak mengerti. Menyantap makan siangnya sambil sesekali tersenyum menatap Zaky.
"Kenapa kamu datang kekantorku?"
Tak
Mengulur ulur waktu. Milea meletakkan sendok dan garpu di atas piring lalu membersihkan mulutnya dengan tisu. Setelahnya memandang Zaky penuh serius. "Sebenarnya tidak ada. Hanya saja aku butuh kamu untuk mengajariku berbisnis. Kamu tahu bukan kalau aku dulu sarjana keperawatan, mana paham sama urusan bisnis." Keluh Milea.
"Kalau tidak tahu berbisnis untuk apa memaksakan diri berbisnis? Bukankah lebih bagus kamu mengambil jalan yang kamu sukai dari pada yang kamu paksakan?" Ucap Zaky.
"Inginnya. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Yang aku inginkan memang bekerja sebagai perawat, tapi yang aku butuhkan sekarang adalah bisnis. Bisnislah yang mampu menjadi alat paling sempurna untukku," jawab Milea menatap keluar dengan pandangan kosong.
"Alat? Kau tidak mungkin---"
"Bisa apa enggak?! Kalau enggak bisa aku cari guru privat aja!" Potong Milea tak suka Zaky membahas tentang tujuannya. Cukup di akhir saja ia tahu, apa yang ia perjuangkan sejak dulu. Karena untuk saat ini cukup dia dan yang berkelibatan saja tahu.
__ADS_1
"Bisa. Kamu atur saja jadwalnya, nanti kamu bisa berikan pada sekretarisku Jennie agar bisa disesuaikan dengan jadwalku juga." Jawab Zaky paham Milea sedang tidak ingin membahas masalah pribadi.
"Benarkah? Hehee makasih...!!" Senyum indah itu kembali terbit membuat Zaky menghembuskan nafas lega lalu ikut tersenyum bersamanya.