
Zaky berjalan keluar dari TPU setelah berpuas diri mengunjungi makam kedua orangtua dan juga adiknya yang sekarang tinggal di sana.
Sesaat setelah memasuki mobil, Zaky merogoh saku celananya mengambil kunci mobil. Saat itu dia tersadar dompetnya tidak ada.
"Di mana dompet ku?" Dia mencoba mengingat ingat kembali, hingga dia teringat dompetnya tertinggal di makam saat dirinya ingin mengeluarkan sebuah liontin peninggalan Ibunya sebelum meninggal dulu.
Dia segera turun dari mobil berjalan kembali memasuki pemakaman. Dari kejauhan dia seperti melihat seorang wanita tengah berjongkok di samping makam adiknya. Dia yang saat itu tidak tahu siapa segera berlari menuju makam adiknya, takutnya orang itu ingin melakukan sesuatu pada makam adiknya.
"Hiks hiks... Milea kangen sama Anna... hiks, kenapa Anna ninggalin Milea sendiri? Bukankah dulu Anna janji akan selalu ada bersama Lea. Menjadi kebahagiaan sederhana buat Lea... hiks tapi kenapa Anna secepat ini ninggalin Lea..."
Tangan Zaky yang ingin menyentuh pundak wanita itu seketika terhenti saat mendengar suara isak tangisnya. Dia kenal suara itu... *d*ia... Milea!!
"Sesuai amanah yang kamu minta Anna. Aku akan menjaga kakak kesayanganmu itu apapun yang terjadi. Tak peduli dia ingin membenciku atau tidak, karna aku tidak bisa hidup dengan bayang bayang janji yang pernah kita buat dulu. Jika saat kamu sudah meninggal saja masih bisa menepati janji, kenapa aku yang masih hidup tidak bisa? "
Zaky menarik kembali tangannya saat mendengar perkataan yang terlontar dari mulut manis Milea. Amanah? Amanah apa? Anna? Sedekat itukah dulu mereka? Kenapa dia tidak tahu apa apa tentang persahabatan dan janji janji mereka? Begitu banyak deretan pertanyaan yang bersarang di otak Zaky saat mendengar perkataan Milea barusan. Tak tahu harus apa, dia hanya mampu mendengarkan apa yang akan Milea ucapkan kembali.
"Kalian tenang saja. Aku akan berusaha semampuku untuk melindungi keturunan Angkasa satu satu-Nya yang masih bertahan hingga titik ini. Aku akan berusaha selalu berada di sampingnya untuk menyemangati."
Satu lagi kejutan yang tak terduga. Jadi selama ini Milea mengetahui marga aslinya yang bahkan sudah dia tutup rapat dan bahkan hampir ia musnahkan keberadaannya demi melindungi diri dari musuh yang ingin membunuhnya. Hah, benarkah dia mengenal pengawalnya dengan baik? Sepertinya tidak. Milea adalah teka teki yang paling sulit untuk dia tebak.
Jadi sekarang, dia harus berbuat apa setelah mengetahui hal ini?
Zaky terdiam mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat mereka di TPU. Dengan cepat dia bangkit menuju sisi ranjang untuk mengambil sebuah buku yang terletak di dalam laci nakas.
Dengan gerakan cepat dia membalik balik kertas demi kertas hingga berhenti di halaman kesekian saat melihat sebuah nama di sana.
...<¤¤¤>...
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di sebuah gerbang perumahan elit yang begitu megah. Beberapa pria berseragam serba hitam berlari kecil menghampiri mobil itu dan membukakan pintu untuk orang yang ada di dalamnya.
"Selamat datang. Tuan dan nona muda." Sapa mereka menunduk hormat. Seorang gadis remaja berusia 12 tahun keluar dari dalam mobil sembari memeluk sebuah boneka beruang pemberian Kakaknya. Di punggungnya, terdapat sebuah tas kecil berisikan pakaian yang dikemaskan bundanya.
"Mari Anna!" Ajak pria paruh baya bernama Rahardian itu. Anna tersenyum ceria berjalan mengikuti langkah Rahardian dari belakang.
Hingga di depan pintu, terlihat para ART di sana berjajar rapi menyambut kedatangan tuan besar mereka bersama dengan nona muda baru mereka.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nona muda." Sambut mereka serempak sembari menundukkan kepalanya sama seperti para pengawal tadi.
"Anna, perkenalkan dirimu." Pinta Rahardian lembut. Anna menatap Rahardian tersenyum ceria, lalu ditatapnya para pembantu yang menatapnya penasaran.
"Hallo semuanya... perkenalkan. Nama aku Anna Angkasa. Kalian bisa panggil aku Anna.. senang bisa bertemu dengan kalian." Sapa ramah Anna.
"Dengar!! Mulai sekarang Anna adalah nona muda baru kalian. Jadi mulai sekarang panggil dia nona muda, sama seperti kalian memanggil Bianka." Tegasnya.
"Baik tuan."
"Ningsih!! Tuntun Anna pergi kekamarnya. Saya masih harus pergi kekantor lagi." Titah Rahardian pada kepala pelayan di rumahnya.
"Baik tuan."
"Anna. Papa harus pergi kekantor dulu. Nanti biar Bi Ningsih yang akan menunjukkan di mana letak kamarmu." Tutur Rahardian lembut, sembari mengusap rambut Anna.
"Iya pah."
"Ya sudah, kalo begitu papa pergi dulu ya... dadah Anna sayang..." pamit Rahardian melambaikan tangannya lalu masuk kembali kedalam mobil.
"Dadah..." Anna membalas lambaian tangan papa angkatnya hingga mobil itu menghilang dari penglihatan, dia mengalihkan pandangan kepada seorang wanita paruh baya yang menatapnya lembut.
"Ayo Bi." Dengan ceria Anna berjalan mengikuti Ningsih masuk kedalam. Hingga dari ekor matanya, dia tidak sengaja melihat seorang gadis lain yang tengah mengintip dari balik tembok samping rumah. Dari sana dia dapat melihat sudut bibirnya yang biru seperti baru saja berkelahi.
"Nona muda, mengapa anda masih berdiri di sana?" Tegur Ningsih yang sudah berada di ambang pintu.
Anna seketika tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya kepada Ningsih. "Iya Bi." Anna kembali melangkahkan kakinya mengikuti Ningsih, meski ekor matanya kembali melirik samping rumah, atau lebih tepatnya pada gadis yang terlihat menyedihkan itu.
Di hari kedua Anna tinggal di rumah itu. Dia berjalan keluar menuju taman untuk melihat lihat sekeliling rumah yang begitu megah ini.
"Ampun bu... hiks Lea salah bu hiks Lea salah... ampun bu..." sayup sayup Anna seperti mendengar suara rintihan dan tangisan seseorang dari arah ujung taman. Karna penasaran, diapun berjalan mencari sumber suara dan seketika dikejutkan dengan pemandangan dua orang wanita berbeda usia dengan kejamnya menyiksa seorang gadis yang pernah dia lihat tempo lalu.
Melihat itu Anna merasa iba, tapi tidak berani untuk menolong. Dia terdiam sejenak lalu bangun berlari masuk kedalam kamarnya untuk mengambil kotak p3k yang pernah ia lihat ada di dalam laci nakas.
"Ketemu!!" Setelah menemukan kotak itu, dia berlari kembali menuju taman. Dilihatnya dua orang wanita tadi sudah tidak ada lagi, hanya terdengar isak tangis menyedihkan seorang gadis yang disiksa.
__ADS_1
Dengan hati hati dia berjalan mendekat pada gadis itu lalu duduk di sampingnya memandangi gadis itu yang menangis sembari memeluk lutut. "Hei... kamu kok nangis?" Tanya Anna basa basi.
Gadis itu mengangkat wajah menyedihkannya menatap sendu Anna. "Astaga, muka kamu kok banyak luka dan lebamnya gini sih? Aku obatin ya?"
Anna dengan cepat membuka kotak p3k dan mengambil alkohol di sana. Wajah gadis itu benar benar menyedihkan. Hidungnya berdarah, sudut bibirnya robek, pipinya memar, lehernya memerah seperti bekas cekikan seseorang, ditambah matanya yang bengkak karna terlalu lama menangis.
"Tahan sedikit ya." Ucap Anna perlahan mengobati luka di wajah gadis itu. Sedangkan yang terluka nampak tak masalah saat Anna mengobati lukanya.
"Sstt"
"Sakit ya?"
"Aku sudah biasa merasakannya." Jawab gadis itu datar. Anna yang melihat itu benar benar merasa iba dengan gadis yang memiliki takdir yang begitu menyedihkan.
"Oh ya, nama kamu siapa?" Tanya Anna di sela sela mengobati wajah dan leher gadis itu.
"Milea,"
"Hai Milea. Nama aku Anna Angkasa, kamu bisa memanggilku Anna. Mulai sekarang kita adalah teman. Dan sebagai teman, aku akan selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi." Ceria Anna.
Gadis bernama Milea itu menatap datar Anna. "Kenapa kamu mau berteman denganku?" Tanyanya dingin.
"Karna kita sudah berkenalan, jadi mulai sekarang kita teman. Karna saat berkenalan, kita mengetahui nama masing masing. Dan itu pasti akan kita ingat suatu hari nanti," jawab Anna apa adanya.
"Jangan berteman denganku. Aku tidak ingin kamu celaka." Tutur Milea segera bangkit pergi meninggalkan Anna menuju kamarnya yang berada di kamar khusus untuk para ART.
"Kenapa?" Tanya Anna dengan cepat menahan tangan Milea untuk tidak pergi meninggalkannya.
"Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui dunia yang sesungguhnya." Jawabnya masih seperti awal, dingin dan datar.
"Kecil? Aku gak kecil lagi! Ku tebak kita seumuran." Bantah Anna tak terima, dia bangkit untuk lebih leluasa memandang wajah Milea.
"Kita memang seumuran. Tapi, kamu terlalu polos, hingga mudah ditipu oleh orang lain. Ku peringatkan padamu! Sebelum kau merasakan hal yang sama seperti yang aku alami, sebaiknya kau kabur dari rumah neraka ini." Entah sebuah ancaman, atau peringatan, yang pasti Anna tidak terima dirinya disebut polos.
"Aku gak peduli!! Akukan cuma ingin berteman denganmu. Kenapa kamu malah gini sih?" Lirihnya.
__ADS_1
"Terkadang berbuat jahat demi kebaikan itu lebih baik dari pada berbuat kebaikan demi kejahatan." Jawab Milea semakin membuat Anna tidak mengerti.
"Intinya jangan berteman ataupun dekat dekat denganku, jika kamu tidak ingin berakhir pada kemalangan yang sama!!" Lanjutnya berlalu pergi meninggalkan Anna dengan segudang pertanyaan.