
Di pagi hari yang cerah, empat orang pemuda terlihat baru saja keluar dari pintu masuk lift. Yah, mereka adalah Zaky, Milea, Haikal dan juga Nala. Rencananya hari ini mereka akan jalan jalan untuk mendinginkan otak yang setiap hari selalu berkutat di layar komputer.
Zaky terlihat memakai pakaian santai, celana jins dan kaos oblong. Sedangkan Milea, dia memakai jins dan hodie berwarna biru muda. Haikal, dia hanya memakai celana sebatas lutut dan juga baju khas pantai. Sedangkan Nala, dia memakai rok di atas lutut baju kemeja nonformal dengan jaket kulit sebatas pinggangnya.
"Kita mau kemana dulu pak?" Tanya Milea setelah Haikal melajukan mobilnya bergabung bersama beberapa pengendara lain di jalan raya.
"Kita ke mall,"
"Mall? Ngapain ke mall? Tau ke mall, gak bakalan ikut aku. Udah keseringan!" Ketus Zaky saat tahu tujuan mereka hanya ke sebuah gedung Mall.
"Udah lo sebaiknya diam dan nikmati liburan kita hari ini. Karna gue jamin, lo bakal seneng meski udah sering pergi ke mall." Jawab Haikal tenang.
"Terserah!"
Tak butuh waktu lama, keempat orang itu pun sampai di parkiran gedung Mall. Keempatnya masuk beriringan dengan Haikal sebagai pemandu jalan. Hingga tak butuh waktu lama, sampailah mereka di tempat yang ingin mereka tuju.
"Time Zone?" Gumam ketiganya lalu melirik si pemandu jalan yang tersenyum dengan bangganya sambil mengangguk membenarkan.
"Benar. Oke, kita berpisah di sini. Ayo Nala, kita masuk!" Tanpa meminta persetujuan, Haikal lebih dulu menarik pergelangan Nala masuk, meninggal 'kan dua sejoli yang memandang kearah mereka heran.
"Anda mau masuk Kak?" Tanya Milea menatap Zaky. Pria itu diam, jujur saja ini adalah kali pertamanya dia diajak main ke time zone. Karna selama ini jika dia pergi ke mall jika tidak bertemu klain, maka membeli pakaian. Tak pernah terbesit di pikirannya untuk sekedar mampir bermain di sini, karna menurutnya time zone hanyalah tempat untuk anak anak.
"Kak, Kakak!!" Seru Milea menggoyang pelan lengan Zaky sehingga membuat pria itu tersadar lalu menoleh kearah Milea.
"Iya?"
"Kakak mau masuk gak?"
"Terserah kamu saja."
"Ya udah kalo gitu ayo masuk!" Milea dengan antusias menarik tangan Zaky memasuki tempat bagi kaum muda mudi, serta anak anak untuk bermain. Begitu banyak pasangan yang mungkin datang hanya sekedar untuk berkencan, entahlah, Zaky tidak memahaminya.
"Mau main itu Kak?" Tanya Milea menunjuk wahana dance dance revolution. Tanpa menunggu jawaban, Milea dengan cepat menarik tangan Zaky untuk memainkan permainan yang berpusat pada konsentrasi itu.
"I-ini gimana cara mainnya?" Tanya Zaky kikuk saat melihat tempat bermain itu. Dia melirik kearah beberapa pengunjung lain yang begitu asik menari di atasnya.
__ADS_1
"Anda hanya perlu mengikuti petunjuk yang ada di depan, sedangkan kaki anda harus berkonsentrasi agar bisa menginjak lantai yang menyala. Begitu pula seterusnya." Jelas Milea sudah memasukkan koin untuk dirinya dan juga Zaky bermain.
Zaky menatap Milea yang terlihat tertawa senang saat semakin lama permainan itu semakin cepat. Zaky menghembuskan nafas dalam, lalu ikut bermain di wahana itu.
"Huft... bismillah.."
Permainan dimulai. Awal awalnya Zaky merasa kesulitan untuk mengikuti permainan itu, tapi lama kelamaan dia mulai terbawa suasana. Sehingga saat dia kalah, maka dia akan mengulanginya kembali. Begitu seterusnya, membuat Milea terkekeh geli saat melihat wajah antusias tuannya itu.
"Kak, anda ingin main apa lagi?" Tanya Milea setelah melihat Zaky menyudahi permainannya karna kelelahan.
"Memangnya ada apa lagi?"
Milea diam sejenak memikirkan permainan apa yang cocok untuknya dan juga untuk tuannya ini. Seketika gadis itu tersenyum saat menemukan permainan yang cocok untuk mereka mainkan.
"Ikut saya Kak!"
Di tempat lain, Haikal hanya mengajak Nala berjalan jalan mengelilingi tempat itu tanpa ada minat berhenti untuk sekedar bermain sesuatu.
"Ck. Kamu niatnya kesini mau main atau cuma lihat lihat aja sih? Capek tahu dari tadi jalan terus." Keluh Nala merasa kakinya kesemutan karna terlalu lama berjalan tak tentu arah.
Dia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya dengan berpura pura menatap sekeliling, yang pasti dia ingin menghindari kontak mata dengan pemilik mata tajam itu. "Aku main itu!" Tunjuknya pada maximum tone.
"Kalo begitu ayo!" Haikal menautkan tangannya dengan Nala, lalu berjalan bergandengan layaknya kekasih menuju stan permainan itu.
Kenapa dia suka sekali membuat orang jantungan sih! Gerutu Nala dalam hati. Meski jauh dari di lubuk hatinya, dia menikmati saat saat ini. Saat di mana tangan mereka bertautan erat, yang mungkin bisa kapan saja terlepas. Tapi, setidaknya biarkan dia menikmati sebentar saja suasana ini.
"Ini kak!" Beralih pada pasangan sebelumnya. Milea memberikan sebuah senjata untuk perlengkapan mereka bermain walking dead.
"Bagaimana cara mainnya?" Seperti sebelumnya, Zaky akan bertanya bagaimana bermainnya. Berhubung ini pertama kalinya dia memainkan ini, jadi wajar dia tidak tahu apa apa. Huh, hidupnya benar benar monoton sekali. Terlalu datar.
"Anda cukup membunuh para zombie dengan senjata yang anda pegang saat ini." Jawab Milea singkat, lalu memulai permainnya bersama Zaky.
"Anggap zombie ini adalah mereka orang orang yang anda benci. Bunuh mereka! Bunuh mereka yang menghalangi jalan anda. Dengan begini, setidaknya anda akan merasa sedikit lebih puas." Ucap Milea di sela sela permainannya.
Zaky menuruti perkataan Milea, dia fokus pada Zombie yang ada di layar. Dengan penuh dendam dia membunuh Zombie Zombie tersebut seperti orang kesetanan. Benar kata Milea. Ada sedikit rasa kepuasan dan lega saat ia membayangkan Zombie itu adalah mereka yang telah merusak kehidupan indahnya.
__ADS_1
"Hah hah hah.." selesai. Berkat instruksi dari Milea, dia dapat memenangkan permainnan ini dengan kepuasan batin yang luar biasa.
Milea tersenyum geleng geleng kepala melihat Zaky ngos ngosan karna terlalu bersemangat membunuh para Zombie itu.
"Mau main lagi?" Tersenyum manis, Zaky mengangguk setuju. Tidak buruk juga bermain di time zone ini, pikirnya.
"Kalau begitu ayo!"
Sreet srett sreett
"Akhhh tidakkk!!" Teriak Nala heboh, sedangkan Haikal nampak tertawa senang saat dia berhasil menang dari Nala. Saat ini mereka sedang memainkan permainan Air Hockey, di mana mereka diberikan benda seperti koin untuk diluncurkan dan dimasukkan kedalam lubang lawan. Dan, Nala kalah, makanya dia berteriak heboh seperti itu.
"Huh.. aku tidak mau main ini. Ayo kita main yang lain!" Ajak Nala dengan wajah masam. Gadis itu berjalan mendahului Haikal, sehingga membuat pria itu tersenyum geli lalu mengikuti langkah gadis itu.
"Ayo kita main ini. Siapa yang masukin bola lebih banyak dia yang menang!" Tantang Nala menunjuk stan permainan Street Basketball.
"Oke siapa takut. Tapi, gak seru kalo cuma nentuin kalah menang. Gimana kalo kita taruhan?" Tutur Haikal dengan senang hati meladeni gadis yang tengah marah karna tak terima kalah darinya.
"Taruhan? Taruhan apa?"
Tersenyum Smirk. "Iya taruhan. Kalo aku menang, kamu harus jadi pacarku!" Jawabnya santai.
"Apa?! Pacar? Kamu udah gila ya?! Apa gak ada permintaan yang lain?" Pekik Nala shock saat mendengar permintaan Haikal yang menurutnya ambigu.
"Ada,"
"Apa?"
"Jadi istriku."
"Aku pilih opsi pertama!" Jawabnya cepat. Pilihannya sama sama gila, tapi dia lebih memilih opsi pertama karna menjadi istri bukanlah perkara mudah. Dia masih ingin memperbaiki diri dulu sebelum akhirnya nanti menikah.
"Oke. Lalu apa permintaanmu?"
Nala pura pura mengetuk dagunya berpikir. Hingga terbesit ide gila dari bisikan setan di kepalanya. Dia tersenyum manis pada Haikal.
__ADS_1
"Berjalan di Mall dengan telanjang dada."