
Brak
"Arrrrgghhhh!!!"
Harun terjingkrat kaget saat Zaky datang dan langsung menyapu habis meja kerjanya. Niatnya pengen berlibur dan bersantai beberapa hari di kantor Zaky, nyatanya dia harus berhadapan dengan pria yang sedang patah hati.
"Please deh ky, lo bisa gak sekali aja gak usah bikin gue jantungan? Gue belum nikah!" Celutuk Harun mengabaikan Zaky yang tertunduk dengan tangan bertumpu pada meja kerja.
"Kenapa? Kenapa di saat gue jatuh cinta, gue justru harus jatuh sejatuh jatuhnya karena orang yang gue suka!! KENAPA RUN?!!" Teriak Zaky mencengkram kuat kerah kemeja Harun hingga pria itu bangkit dari duduknya.
"Sa-santay ky santai... bawa bertenang, bawa bertenang. Coba jelasin pelan pelan, lo sebenarnya kenapa?" Perlahan lahan, Harun melepaskan tangan Zaky dari kerahnya, dan menggiring pria itu untuk duduk menenangkan diri.
Menatap dalam penuh kekecewaan, air mata Zaky lolos tanpa aba aba, tanpa permintaan, murni karena dia tahu bahwa hati saat ini butuh pelampiasan rasa sakit. "Milea... ternyata selama ini. Dia orang yang sudah membunuh adikku Anna..." lirih Zaky tersamarkan oleh isak tangis. Untungnya Harun memiliki indra pendengaran yang tajam bawaan dari anggota kamp militer.
"Jadi Milea yang membunuh adikmu? Gumam Harun dengan kening berkerut. "Tapi..."
"Tapi sejak kapan lo punya adik? Kok gue gak tau?!" Tuntut Harun mendorong tubuh Zaky dari pelukannya.
Mendengus, Zaky mengelap air matanya kesal. Bukannya bersimpati, temannya malah menuntut cerita darinya, sedangkan di sini dia butuh teman cerita, bukan penuntut cerita. "Panjang ceritanya. Udahlah, sekarang gue butuh solusi dari lo,"
__ADS_1
"Solusi apa?"
"Gue nyari pembunuh adik gue itu udah berbulan bulan lamanya. Niatnya gue pengen nyari si pembunuh untuk meminta keadilan dengan memenjarakannya. Tapi, sekarang. Gue malah ragu, karna orang yang bakal gue joblosin itu orang yang gue cinta," keluh Zaky.
"Huft. Gue gak tahu permasalahan lo sebenarnya gimana, tapi sebagai teman gue cuma bisa nasehatin. Sebaiknya lo kesampingin dulu rasa suka lo sama dia, lo harus ingat semua perjuangan lo selama ini untuk menemukan si pembunuh itu. Jadi, saran gue, tetap lanjutin keinginan lo buat menjarain si pembunuh adik lo itu," ucap Harun memberi saran.
"Tapi..."
"Alah gak ada tapi tapian!! Paling dia di penjara lima sampai enam tahun. Kalau lo masih cinta ya tungguin dia keluar baru nikahin. Selama ini lo hidup ngejomblo puluhan tahun aja kuat, nunggu beberapa tahun lagi gak masalah lah ya?" Cerocos Harun.
Plak
"Thanks,"
Mengerjap erjap kaku, "Zaky senyum? Beneran senyum? Seorang Zaky bisa tersenyum? Pertanda apakah ini?!!" Seru Harun heboh, sedang Zaky memutar bola mata malas melihat sifat lebay temannya kumat.
Maaf 'kan aku Milea. Tapi, keadilan. Tetaplah keadilan. Aku tidak bisa egois dengan mengedepankan perasaan dari pada logika. Takutnya, saat kita menikah nanti, hal ini akan terungkit yang menjadikan rumah tangga kita tidak tentram. Maaf 'kan aku Milea. Aku memilih menindak adili dirimu kepengadilan.
***
__ADS_1
Cklek
"Nona!! Anda kenapa nona?!" Cecar Ben menarik tubuh lemas Milea untuk duduk. Mata sembab, rambut acak acakan, pandangan mata kosong. Benar benar penampilan yang begitu berantakan.
"Aku tau, hal ini pasti akan terjadi..." lirih Milea didengarkan seksama oleh Ben yang bingung tak tahu mengena apa yang menjadi permasalahan Milea di luar sana sehingga membuat wanita kuat seperti atasannya ini menjadi putus asa.
"Tapi kenapa harus sesakit ini Ben...!! Sakit Ben sakit!! Hiks melihat dia menangis membuatku sakit. Melihat dia kecewa membuatku sakit. Melihat dia menangis benar benar membuatku sakit. Hiks hiks..." menjatuhkan diri, Milea menangis sejadi jadinya di pelukan Ben asisten pribadinya. Sedang Ben yang dipeluk membenarkan letak kacamatanya gugup, dan bingung.
"Sedari awal saya sudah peringatkan anda, untuk tidak menaruh perhatian lebih apalagi sampai menyukai tuan muda dari keluarga Alexander itu. Karena memang sedari awal, dia hanya kita jadi 'kan benteng. Menghela nafas sejenak, "nona. Sudah saatnya kita lanjutkan rencana kita selanjutnya. Kembali kerumah utama untuk mencari barang bukti yang cukup agar kita bisa melanjutkan rencana selanjutnya kepengadilan," tutur Ben panjang lebar.
Masih setengah terisak, Milea bangkit pergi menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar miliknya yang terletak di lantai dua.
Brak
Ben menghela nafas melihat atasannya yang sangat berputus asa. Dia merupakan asisten pribadi yang di pilih langsung oleh Kakek Gren. Dia dipercayakan untuk menjaga dan melindungi Milea selama cucu kesayangan Kakek Gren itu menjalankan misi mencari keadilannya.
Selama ini dia selalu sembunyi sembunyi bertemu dengan Milea, memantau dengan mengerahkan puluhan anak buahnya untuk berjaga, dan diam diam tanpa sepengatahuan Milea, dia melekatkan cips pelacak di belakang lehernya, untuk memudahkan Ben mencari jikalau Milea dalam bahaya.
Semua Ben lakukan untuk membalas budi pada keluarga Kakek Gren yang sudah memungut dia dan adiknya dari jalanan. Dan dia telah bersumpah untuk mengabdi setia pada keluarga tersebut.
__ADS_1