
Tap tap tap
Suara derap kaki memenuhi isi ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam baju baju model terbaru. Wanita yang tak lain adalah Milea itu berjalan cepat memasuki sebuah ruangan kerja pemilik toko tersebut.
Brak
"Eeee mak com.. ihhh siapa sih yang ngagetin eike..!!" Latah seorang pria yang tengah sibuk merancang baju pesanan klien.
Milea masuk dengan pandangan datar. Dihampirinya pria banci dan langsung mengeluarkan gaun yang diberikan Zaky padanya. "Katakan! Siapa yang merancang gaun ini?!" Tanyanya dengan aura yang menakutkan.
"Ihhh sis ini siapa sihhh... Dateng dateng marah marah, eike kan jadi takut." Bukannya menjawab, pria bernama Tono yang biasa dipanggil Miss T itu malah mengomel.
Milea menarik nafas dalam. "Ku tanya sekali lagi. Siapa yang merancang gaun ini?!" Tanyanya penuh penekanan.
"Santai dong sis ih. Bentar ya eike lihat dulu gaunnya," Milea diam membiarkan Miss T memeriksa gaun itu.
"Ohh gaun ini.. eike ingat eike pernah lihat gaun ini di ruangannya Miss Laura--- eh eh sis mau kemana?!" Teriak Miss T kaget saat melihat Milea pergi sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Milea berjalan menaiki lift menuju ruangan desaigner terkenal bernama Laura Ayunda. Perancang ternama yang telah naik daun beberapa tahun silam karna rancangannya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Milea membuka kasar pintu ruangan Miss Laura dan berjalan menghampirinya.
"Siapa anda beraninya masuk ke dalam ruangan saya tanpa izin?!" Bentak seorang wanita berumur tiga puluhan keatas.
__ADS_1
Milea menatap datar wanita. "Anda tidak perlu tahu siapa saya, takut anda menyesal karna telah membentak saya seperti itu," jawab Milea.
"Heh, memangnya siapa kamu sampai sampai saya harus takut? Anak konglomerat mana?!" Tanya Laura menantang.
"Sudahlah, saya datang kesini bukan untuk berdebat dengan anda. Katakan! Apa benar gaun ini anda yang rancang?" Milea melempar gaun itu ke wajah Laura dengan arogannya. Wajahnya masih sama. Datar.
"Beraninya kau----" Laura terdiam saat melihat gaun yang dia buat beberapa tahun lalu kini berada di tangannya karna lemparan seorang gadis ingusan.
"Gaun ini...."
"Saya mohon mbak... Tolong bikinin rancangan saya ini ya mbak? Please... Ini untuk temen saya mbak." Mohon seorang gadis kecil bersimpuh di kaki seorang wanita yang baru memulai karirnya sebagai seorang disaigner.
"Saya bilang tidak mau ya tidak mau! Kenapa kamu ngeyel sekali sih?!" Wanita yang tak lain adalah Laura di masa muda itu berusaha melepaskan kakinya karna merasa risih dengan perlakuan gadis remaja itu.
Menghela nafas kasar, Laura perlahan berjongkok untuk menyesuaikan tinggi dengan remaja itu. "Huft. Ya sudah, mbak mau bikinin. Tapi, jangan gini. Ayo bangun! Ikut mbak."
"Beneran mbak? Mbak mau bikinin rancangan saya? Serius mbak?" Laura tersenyum kecil melihat remaja itu begitu girang mendengar penuturannya. Dia mengangguk lalu mengajak remaja itu untuk masuk kedalam ruangan khusus tempat dia merancang busana pakaian. Dari gaun, baju pengantin, dan segela macam baju lainnya. Meskipun dia baru bekerja, cukup banyak orang yang puas dengan hasil rancangannya ini.
Sekitar 3 minggu Laura menyelesaikan baju itu, dan dia segera menghubungi remaja itu untuk mengambilnya. "Gaun pesanan saya udah jadi mbak?"
"Sudah, bagaimana? Suka?"
"Suka banget mbak. Makasih banyak ya mbak udah bikinin gaunnya. Ini saya bayar sisa cicilannya." Laura menatap uang recehan yang menumpuk hingga hasilnya mencapai ratusan ribu.
__ADS_1
Wanita itu mengambil uangnya dengan perasaan enggan. Tapi, dia tetap mengambilnya karna tidak ingin membuat remaja itu merasa kecewa karna telah mengumpulkan uang itu.
"Baiklah, kau sudah bisa membawa gaun ini untuk kau serahkan kepada sahabatmu itu." Ujar Laura.
Terlihat dari gerak gerik remaja itu nampak sedikit takut, membuat Laura sedikit penasaran. "Emm... gaunnya bisa dititipin di sini dulu gak mbak? Nanti aku suruh temen aku buat ngambil gaun ini di mbak. Boleh ya mbak?" Dengan wajah memelas remaja itu menatap Laura. Terlihat sedikit bekas memar di bagian sudut bibirnya membuat Laura sedikit memahami mengapa remaja ini ingin menitipkan gaunnya di sini.
"Ya sudah. Tapi, suruh temanmu itu untuk mengambilnya segera. Karna tempat mbak ini bukan tempat barang titipan, masih banyak gaun lain yang ingin mbak taruh di sini." Jawab Laura mengingatkan.
"Em. Makasih mbak, aku mau lihat lihat gaunnya dulu." Remaja itu berjalan menatap kagum gaun rancangannya yang kini telah menjadi nyata. Saat itu, Laura membiarkan remaja itu untuk melihat gaun hasil kolaborasi rancangan remaja itu dengan dirinya. Dia tidak menyadari bahwa remaja itu dengan cepat menyelipkan kertas yang ia lipat kedalam saku jaket gaun itu.
"Begitu ceritanya." Milea terdiam dengan tangan yang mengepal gemetar. Ada perasaan yang tak dapat dia utarakan mendengar cerita dari Miss Laura tentang perjuangan sahabatnya yang ingin mengabulkan janji kepada dirinya dengan membuat gaun itu. Rasa haru, marah, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
"Sudah lebih dari 8 tahun saya merawat gaun itu, tapi tidak ada satupun orang yang mengambilnya. Sebenarnya, banyak para anak pengusaha lain yang ingin membeli gaun ini, tapi saya selalu menolak mengingat perjuangan remaja itu dulu hanya untuk gaun ini,"
"Hingga akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menjualnya di toko, karna merasa tidak akan ada yang datang mengambil gaun ini. Tak disangka, gaun ini tak luput dari jodohnya," jelas Miss Laura terhadap gaun yang ia jaga. Gaun yang telah menemani perjuanganya menuju titik puncak ini.
"Begitu ya... terima kasih atas penjelasannya, maaf jika sudah mengganggu waktu kerja anda." Ucap Milea pelan lalu bangkit dengan paper bag berisikan gaun pemberian sahabatnya itu.
"Tidak masalah, saya yang seharusnya minta maaf karna sudah berlaku tidak sopan terhadap anda." Tutur Laura tak enak hati.
"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi." Milea akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke apartemen.
kenapa kau melakukan ini untukku, sedangkan aku bahkan tidak bisa menyelamatkanmu. Batin Milea penuh dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan melalui kata kata.
__ADS_1