Penguasa Langit

Penguasa Langit
17. Muncul di hutan.


__ADS_3

Semua irang yang berada di kapal, bergerak mengerubungi Liiu Yaoshan.


"Benar! Itu Dia! Pemuda yang kita lempar ke dalam 'Lubang Hitam' tadi siang!" Seseorang berteriak di tengah kerumunan.


Semua orang saling berbisik begitu mendengar teriakan orang tersebut. Banyak dari mereka yang merasa tidak percaya, dengan kemunculan Liiu Yaoshan yang secara tiba-tiba.


Aku harus kembali ke dalam 'Istana Kerajaan Pusaka' sebelum orang-orang ini berbicara terlalu banyak, batin Liiu Yaoshan.


_Wuusshhh!_


Tubuh Liiu Yaoshan kembali menghilang, dan muncul kembali di hadapan Kakek Heng.


"Kenapa kau kembali, anak muda?" tanya Kakek Heng dengan heran.


"Aku bingung Kakek! Tadinya, aku ingin pergi ke tempat tujuanku selanjutnya. Tapi aku malah kembali naik ke dalam kapal." ucap Liiu Yaoshan dengan kebingungan.


"Pusatkan pikiranmu ke tempat yang akan kau datangi! Jika kau hanya menggunakan ilmu itu secara acak, tentu saja kau akan kembali ke tempat kau berada terakhir kali." tutur si Kakek Heng.


Liiu Yaoshan mendengarkan ucapan si Kakek dengan seksama. Dia tidak ingin lagi terjadi kesalahan seperti barusan. Saat Kakek Heng sudah berhenti menerangkan, barulah Liiu Yaoshan kembali memejamkan mata, dan memusatkan pikirannya.


_Wuusshhh!_


Tubuh Liiu Yaoshan menghilang lagi dari hadapan si Kakek Heng yang saat ini hanya geleng-geleng kepala karena Liiu Yaoshan menghilang tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadanya.


"Dasar anak muda!" gumam si Kakek Heng.


_Wuusshhh!_


Liiu Yaoshan muncul di tengah hutan yang banyak di tumbuhi pohon-pohon yang sudah tua dan juga besar. Sesekali, terdengar auman suara serigala yang sangat memekakkan telinga, namun itu semua tidak membuat Liiu Yaoshan merasa takut ataupun gentar berada di hutan tersebut.


"Di mana aku sekarang?" gumam Liiu Yaoshan dengan kebingungan.


Pasalnya, dia berniat muncul di tempat pemberhentian kapal yang sebelumnya dia tumpangi. Tapi mengapa, dia malah muncul di tengah-tengah hutan?


Saat Liiu Yaoshan masih merasa kebingungan, di kejauhan, terdengar suara seperti orang yang sedang melakukan pertarungan.


Perlahan, Liiu Yaoshan mendekati suara orang yang sedang bertarung tersebut.


"Mati kau!" teriak seorang pria tua yang memakai jubah berwarna kuning.


Di hadapannya, kini sedang bertarung seorang pria berjubah putih yang tengah di keroyok oleh tiga orang pria yang umurnya sama dengan orang berjubah kuning. Bahkan pakaian, dan penampilannya ketiga orang tersebut, sama dengan si pria tua berjubah kuning. Mungkin mereka berempat adalah satu seperguruan, mengingat pakaian yang mereka kenakan memiliki banyak kesamaan satu dengan yang lainnya.

__ADS_1


_Hiiyyaahhhh!_


_Shhuuutttttt!_


Pria berjubah kuning yang tadi berteriak langsung menyerang ke arah si pria berjubah putih membantu ketiga temannya.


Dengan melihat gerakan dan juga senjata yang di pegang di tangan si pria berjubah kuning, jelas terlihat jika ilmunya jauh lebih tinggi dari ketiga pria yang sedang mengeroyok si jubah putih.


"Hehh, licik!" cibir Liiu Yaoshan dari balik semak belukar ketika sedang menyaksikan pertarungan.


_Triiiinngggg!_


Pedang si pria tua berjubah kuning tertahan udara karena di tangkis seseorang, ketika pedangnya sedikit lagi akan sampai menuju sasaran.


"Kurang ajar!" teriak si jubah kuning geram.


Sedikit lagi, dia pasti akan bisa membunuh musuh bebuyutannya. Tapi tindakannya telah di gagalkan oleh seorang gadis yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan tenang.


"Gadis sialan!" maki si jubah kuning dengan kasar.


"Tuan Wu! Aku tidak menyangka, jika ketua besar perguruan ternama seperti anda, akan berani melakukan hal yang tercela!"sindir si gadis hingga membuat orang yang di panggil Tuan Wu menjadi murka.


"Diam kau, gadis sialan!" bentak Tuan Wu geram.


"Bagaimana aku bisa diam, Tuan? orang yang kalian serang itu adalah Kakekku. Aku tidak akan membiarkan kalian bertindak semena-mena seperti itu." ucap si gadis sambil memasang kuda-kuda karena Tuan Wu seperti bersiap untuk menyerangnya


"Jangan banyak bicara kau, gadis! Rasakan ini!"


_Hiiyyaaaahhhhh!_


Benar saja, Tuan Wu langsung menyerang si gadis dengan ilmu pedang yang sangat tinggi.


_Tringg!_


_Triinnggg!_


Sekali, dua kali, gadis itu berhasil menangkis serangan pedang yang mengarah kepadanya.


_Hiiyyaaahhhhh!_


_Shuuttttt!_

__ADS_1


Tuan Wu kembali menebaskan pedang tajam miliknya ke arah si gadis yang sedang melayang di udara, karena berusaha menghindari serangannya.


Si gadis berputar-putar di udara, karena serangan ganas dari pedang Tuan Wu mencecar tubuhnya dengan serangan yang bertubi-tubi.


_Shhuuutttt!_


_Bugghhh!_


Tubuh si gadis terpental setelah sebuah tendangan mendarat di perutnya.


"Agghhh!"


Si gadis berteriak kesakitan karena punggungnya menabrak pohon besar.


"Rasakan itu!" ucap Tuan Wu dengan kasar lalu menghunuskan kembali pedangnya untuk kembali menyerang ke arah si gadis.


"Yihua!" Kakek berjubah putih langsung berteriak begitu melihat Tuan Wu kembali bergerak menyerang cucu perempuannya.


Dia ingin melindungi sang cucu namun gerakannya selalu tertahan karena tiga orang yang bertarung dengannya saat ini tidak memberikan kesempatan untuknya mendekati Yihua.


"Mau kemana kau, Ketua Shi? Jangan harap kau bisa lolos dari kami." ujar salah satu dari ketiga orang yang menyerang pria berjubah putih.


"Mu Chen! Aku tidak menyangka, ketiga tetua yang terhormat dari perguruan pedang sakti, rela berbuat apa saja demi sebuah kekuasaan!" cibir si pria berjubah putih yang merupakan seorang ketua perguruan pedang besi yang bernama Shi Yuwen yang ternyata adalah saingannya pedang sakti yang di dirikan oleh Wu Tian.


"Ha-ha-ha!"


Ketiga orang tetua dari perguruan pedang sakti menertawakan perkataan ketua Shi Yuwen.


Bagi mereka, mau dengan cara apapun juga itu sama saja. Yang penting, perguruan mereka menjadi berkembang dengan begitu, mereka akan semakin berkuasa, dan di segani banyak orang.


Tidak peduli dengan cara apapun juga, mereka akan melakukannya. Bahkan seperti sekarang ini, ketika mereka mendapat kabar dari mata-mata, bahwa saingan mereka, kini sedang dalam perjalanan pulang seorang diri melewati hutan. Mereka lalu merencanakan penyerangan terhadap ketua Shi Yuwen dengan cara menyerangnya secara bersama-sama, agar Shi Yuwen tidak memiliki kesempatan untuk melawan, ataupun menyelamatkan diri.


"Pak Tua, jangan terlalu naif! Semua orang suka dengan kekuasaan, bukan hanya kami saja!" ucap salah satu pria berjubah kuning.


Si Yuwen mendengus ke arah ketiga orang lawannya, lalu dia kembali berusaha untuk pergi melewati mereka bertiga.


"Yihua, awas!" teriak Shi Yuwen saat Wu Tian sudah mendekat dan mengayunkan pedangnya.


_Hiyyaaahhhh!_


Wu Tian mengayunkan pedang ke arah Yihua yang saat ini masih belum bisa berdiri dengan sempurna.

__ADS_1


"Yihua!" Shi Yuwen berteriak keras saat kilatan cahaya pedang sedikit lagi akan mengenai tubuh cucunya.


__ADS_2