
Tuan muda Coi menoleh ke arah Liiu Yaoshan yang tadi berteriak.
"Siapa kau, bajingan?" Bentak Tuan muda Coi kasar.
"Aku hanya kebetulan lewat saja, jadi tidak perlu mengenalkan diri." Jawab Liiu Yaoshan tenang.
"Ternyata, kau hanya orang asing yang tidak tahu diri!" Sindir Tuan muda Coi keras.
Liiu Yaoshan tidak terlalu menganggap penting sindiran orang di hadapannya ini. Dia kini malah asik, memainkan cangkir teh di tangannya.
"Hey, kau! Lihat aku, jika aku sedang berbicara padamu!" Teriak Tuan muda Coi ketika Liiu Yaoshan seperti tidak menganggapnya ada.
Liiu Yaoshan menoleh ke arah Tuan muda Coi dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Liiu Yaoshan datar.
Tanpa sadar, Tuan muda Coi menganggukkan kepalanya.
''Kalau begitu, bebaskan dia dan kau cepat pergilah dari sini sebelum aku memberimu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan." Ucap Liiu Yaoshan dengan tenang dan tanpa penekanan sama sekali.
Tuan muda Coi kembali mengangguk patuh tanpa perlawanan. Jiwa pemimpin Liiu Yaoshan sangatlah kuat, hingga tak ada seorangpun yang mampu melawan keinginan, ataupun perintah dari Liiu Yaoshan.
Setelah Tuan muda Coi melepaskan cengkeramannya, kedua gadis kakak beradik ini mendekati Liiu Yaoshan.
"Tuan muda, terima kasih karena telah sudi menyelamatkan nyawa hamba yang hina ini." Ucap si Kakak sang gadis dengan raut wajah penuh syukur.
"Sudah seharusnya aku melakukan hal itu, jadi kalian tidak perlu berterima kasih segala." Jawab Liiu Yaoshan menolak ucapan mereka.
"Tidak Tuan muda, kami tetap harus berterima kasih kepada anda. Jika bukan karena Tuan muda yang menyelamatkan hamba dari jeratan Tuan muda Coi, mungkin hamba sekarang akan berada di dalam kekuasaannya, dan harus terpaksa melayani nafsu bejatnya orang serakah seperti Tuan muda Coi." Ucap Kakak si gadis berapi-api.
Liiu Yaoshan tidak bereaksi apapun ketika mendengar perkataan perempuan di hadapannya ini.
__ADS_1
Bagi Liiu Yaoshan, dia sudah selesai melakukan tugasnya dengan baik, tanpa perlu mengeluarkan tenaga sama sekali karena pria tadi sudah langsung pergi hanya dengan mendengar kata-katanya saja.
Brughh...
Kedua gadis itu berlutut di hadapan Liiu Yaoshan.
"Tuan muda, sebagai balas budi kami, kami berdua akan mengikuti anda kemanapun juga. Dan kami, bersedia menjadi pelayan anda sampai kapanpun. Dan kami juga akan melakukan apapun untuk Tuan muda. Termasuk ...," Kakak si gadis mulai bersikap genit kepada Liiu Yaoshan.
Liiu Yaoshan menyunggingkan senyuman, lalu bergumam pelan. "Akhirnya ...,"
Kedua perempuan menyangka Liiu Yaoshan menerima penawaran mereka. Oleh karena itu, Kakak si gadis semakin agresif menggoda Liiu Yaoshan.
"Hamba sudah menduga jika anda akan menyukainya, Tuan muda!" Ucapnya sembari bangkit dan berniat duduk di sebelahnya Liiu Yaoshan.
Namun baru saja dia hendak mendudukkan diri, hawa panas langsung menjalar ke dalam tubuhnya.
"Panas!" Teriak Kakak si gadis tersebut.
Si Kakak mengibas-ngibaskan pakaiannya karena merasakan panas di sekujur tubuhnya, dan dia mulai mengeluarkan keringat yang banyak.
"Aku tidak tahu, Adik. Tiba-tiba saja, tubuhku menjadi panas seperti ini." Jawab si Kakak dengan kepanikan di wajahnya yang mulai memerah.
"Tuan muda, tolonglah Kakakku ini. Dia sepertinya merasa kepanasan, mungkin ada seseorang yang mengiriminya ilmu sihir." Pinta si Adik kepada Liiu Yaoshan agar Kakaknya mendapatkan pertolongan.
Liiu Yaoshan tertawa begitu mendengar kata-kata si gadis. "Ha-ha-ha! Bukan ilmu sihir!"
Si gadis merasa kesal karena Liiu Yaoshan malah menertawakan dia dan Kakaknya.
"Tuan muda, mengapa anda menjadi tidak berperasaan. Kami sudah rela menjadi pelayan anda, dan sekarang anda malah menjahati kami." Si gadis berbicara dengan sangat kesal.
Liiu Yaoshan tak mau lagi berpura-pura baik di hadapan kedua gadis ini. Bagaimana mungkin dia akan diam saja, jika di jebak sedemikian rupa oleh kedua gadis yang tidak tahu asal usulnya dari mana.
__ADS_1
"Kau bilang aku menjahati kalian? Kalau memang aku jahat, aku sudah menghabisi kalian dari tadi, Iblis Betina!" Kata-kata Liiu Yaoshan berubah kejam.
"Apa? Kau memanggil kami Iblis Betina?" Si Adik berteriak dengan keras agar orang lain bisa mendengar teriakannya dengan jelas.
"Hey, akan muda! Jika kau memang tidak ingin menolong kedua gadis ini, jangan menghinanya dengan sebutan Iblis!" Ucap salah seorang pelanggan yang kebetulan duduk tak jauh dari tempat mereka berada.
"Lalu aku harus memanggil mereka apa? Ular Siluman?" Kata Liiu Yaoshan menjawab ucapan si pelanggan tadi.
Kedua gadis itu sebenarnya merasa terkejut dengan perkataan Liiu Yaoshan. Namun untuk menutupi keterkejutan mereka, Kakak si gadis berteriak-teriak histeris untuk memancing rasa simpati semua orang yang ada di sana.
"Kalian dengar itu! Tuan muda ini memanggil kami dengan sebutan Siluman Ular. Jika memang tidak menginginkan kami, cukup bilang saja, Tuan muda. Jangan sakiti kami, dengan kata-kata jahatmu itu."
"Iya, gadis ini benar. Kau tidak boleh menghina gadis dengan sebutan seperti itu." Teriak salah seorang pelanggan lain yang merasa simpati kepada kedua gadis tersebut.
Liiu Yaoshan memutar mata malas mendengar teriakan mereka tentang seberapa jahatnya dirinya kepada kedua gadis yang memang adalah Siluman Ular yang sedang menyamar.
Mungkin di mata orang-orang, kedua gadis ini sangatlah cantik rupa dan parasnya.
Tapi di mata Liiu Yaoshan, kedua gadis itu tetaplah menyerupai seekor Ular yang sangat menjijikkan.
Si Kakak yang tadi mendekatinya, merupakan Siluman Ular Putih yang sangat besar. Sisiknya tebal, dan matanya berwarna kuning. Sungguh sangat kontras dengan warna sisik di tubuhnya.
Sedangkan si Adik, dia perwujudan dari Siluman Ular Hijau. Tidak ada bedanya dengan si Kakak, sisik si Hijau ini juga sangat tebal. Namun bedanya, kedua bola mata si Hijau ini memiliki warna yang berbeda. Satu berwarna biru tua, dan satu lagi berwarna hijau muda. Sungguh perbedaan yang sangat mencolok, Liiu Yaoshan mengira, jika perbedaan itu terjadi karena ada racun lain di dalam tubuh si Ular Hijau.
"Kalian diamlah! Mereka memang aslinya adalah Siluman. Jika kalian tidak percaya, aku akan menunjukannya kepada kalian." Tantang Liiu Yaoshan tenang.
Si Putih langsung berteriak. "Bohong! Kami bukan Siluman Ular! Kami manusia seperti kalian!"
Liiu Yaoshan malah menuangkan teh dengan tenang.
"Bisa saja kau berteriak seperti itu untuk meyakinkan mereka jika kau itu manusia. Tapi di mataku, kalian tetaplah Siluman Ular. Kalian juga yang selama ini menculik anak-anak dan memakan mereka, bukan?"
__ADS_1
Semua orang terkejut mendengar penuturan dari Liiu Yaoshan. Di desa mereka, memang banyak anak-anak yang menghilang secara misterius. Jika perkataan Liiu Yaoshan benar, mereka juga harus merasa waspada dengan kedua gadis ini.