
"Diamlah kau!" Si Putih telah habis kesabarannya karena berdebat dengan Liiu Yaoshan.
"Kalau aku tidak mau diam, kalian mau apa?" Liiu Yaoshan semakin terang-terangan menantang Siluman Ular bersaudara ini.
Si Putih mendengus kasar, lalu berteriak keras kepada Liiu Yaoshan. "Kalau kau tidak diam, terpaksa aku akan membunuhmu!"
"Silahkan saja jika kau bisa!" Tantang Liiu Yaoshan lagi yang membuat si Putih semakin emosi dan bersiap menyerang Liiu Yaoshan dengan racun yang dia miliki.
"Kakak, tahan!" Si Hijau langsung menahan gerakan si Putih untuk menyemburkan racun.
"Ada apa?" Tanya si Putih geram.
Si Hijau tampak malu-malu ketika ingin menjawab pertanyaan dari si Putih. "Jika Kakak sudah tidak menginginkannya menjadi Suami, berikan saja padaku, Kak. Kau boleh menyerangnya, tapi jangan membunuhnya, kau hanya perlu membuatnya pingsan, dan aku akan mengurus sisanya."
Si Putih semakin merasa geram ketika mendengar ucapan si Hijau. Enak saja si Hijau menginginkan pria incarannya, dia juga masih mau dan tidak benar-benar ingin membunuhnya, pikir si Putih.
Namun karena merasa gengsi dengan Liiu yaoshan, si Putih jadi menyetujui permintaan si Hijau.
"Jadi kalian sudah mengincarku dari awal? Dan aku rasa si Tuan Coi tadi juga adalah anak buah kalian yang sengaja menyamar, bukan?" Ucap Liiu Yaoshan masih tetap tenang.
"Kalau itu benar, kau memangnya mau apa?" Tantang si Putih dengan keras.
Liiu Yaoshan tersenyum tipis, ketampanannya semakin bertambah seiring dengan senyumannya.
"Tampan sekali!" Mata si Hijau berbinar begitu melihat wajah Liiu Yaoshan.
Si Putih merasa cemburu karena si Hijau terus saja mengagumi sosok pria yang di sukainya itu.
"Jangan berisik!" Bentak si Putih yang langsung membuat si Hijau mendelikkan mata.
Liiu Yaoshan mengeluarkan sebuah pagoda kecil, dan menyimpannya di atas meja.
"Jika kalian ingin menyerah, maka masuklah ke dalam pagoda ini dengan sukarela. Jika kalian ingin melawan, maka berusahalah sekuat tenaga, agar aku tidak terlalu merasa bersalah karena sudah menindas kaum yang lemah."
Ucapan Liiu Yaoshan terdengar lembut, namun sebenarnya itu adalah sebuah ancaman bagi kedua gadis jelmaan Ular Siluman tersebut.
"Sombong!" Ucap si Putih sambil mendengus kasar.
"Tuan, apa kau benar-benar ingin mengurungku?" Si Hijau tampak sedih dengan ucapan Liiu Yaoshan.
"Apa aku harus mengulangi kembali ucapanku?" Liiu Yaoshan malah membalikkan pertanyaan dari si Hijau.
"Brengsek! Aku tidak akan berbaik hati lagi, kau harus menjadi milikku, dengan, atau tanpa nyawamu!" Bentak si Putih yang mukai jengah dengan sikap pongah Liiu Yaoshan.
"Coba saja!" Liiu Yaoshan malah menantang si Putih tanpa rasa takut sama sekali.
Swoosshhh...
__ADS_1
Asap tebal keluar dari telapak tangan si Putih, dan bergerak cepat menuju ke arah meja Liiu Yaoshan.
"Serangan asap beracun!" Teriak si Putih kencang.
Liiu Yaoshan tidak bergeming, dia tetap duduk tenang sembari menyesap isi cangkirnya.
Si Putih menyeringai begitu asap beracun miliknya sedikit lagi akan mengenai tubuh Liiu Yaoshan.
"Sebentar lagi!" Gumam si Putih perlahan.
Namun beberapa detik kemudian, mata si Putih terbelalak begitu melihat asap beracun yang dia keluarkan habis terhisap ke dalam pagoda milik Liiu Yaoshan.
Wusshhh...
Sisa asap beracun berhasil di hilangkan oleh Liiu Yaoshan dengan sekali kibasan pelan.
"Bajingan!" Si Putih merasa geram karena serangannya berhasil di patahkan oleh Liiu Yaoshan.
"Meskipun kalian berdua menyerangku dengan sekaligus, kalian tetaplah bukan tandinganku!" Ucap Liiu Yaoshan penuh ketegasan.
Si Putih kembali mendengus kasar, dia merasa tidak percaya, akan ada orang yang mampu lolos dari serangannya.
"Jangan sombong kau!"
Swoosshhh...
Swoosshhh...
Serangan asap pertama yang keluar dari tangan si Putih adalah asap tebal berwarna kelabu.
Di serangan kedua kalinya ini, asap tebal yang keluar dari tangan si Putih berwarna hitam pekat. Itu menandakan, jika racun yang bercampur dengan asap tebal sekarang sangatlah kuat.
"Asap hitam beracun!" Teriakan si Putih terdengar oleh semua orang.
"Gawat! Kita semua harus keluar dari tempat ini!" Teriak seseorang dengan panik.
Bagaimana tidak, serangan asap tebal kini sudah menyebar ke setiap sudut ruangan dengan cepat. Tak seperti pertama kali menyerang, asap tebalnya hanya tertuju kepada Liiu Yaoshan. Tapi kali ini, target si Putih bukan hanya Liiu Yaoshan, tapi semua orang yang berada di restoran.
Si Putih ingin Liiu Yaoshan mengakui kehebatannya, dan juga ingin agar Liiu yaoshan bertekuk lutut, dan menuruti semua keinginannya. Setelah itu, dia akan membawa Liiu Yaoshan kembali ke tempatnya di alam Siluman.
Si Putih sudah berpikir jika dia akan berhasil kali ini membuat Liiu Yaoshan merasa jera karena telak berani menantangnya.
Namun tiba-tiba, keluar sebuah cahaya dari dalam pagoda di atas meja.
Wusshhh...
Cahaya pertama, mampu menyibak asap tebal yang menutupi jalan semua orang untuk keluar.
__ADS_1
Wusshhh...
Cahaya kedua, mampu membuat asap hitam tebal itu bergerak melambat dari sebelumnya.
Wusshhh...
Cahaya ketiga, mampu mengeluarkan kekuatan seperti menghisap. Dan asap hitam yang mulai melambat tadi, langsung tersedot kembali ke dalam pagoda milik Liiu Yaoshan.
"Tidaakk!" Si Putih berteriak panjang begitu serang keduanya kembali di patahkan.
"Aku sudah memperingatkan, tapi kalian tidak mengindahkan!" Ucap Liiu Yaoshan dingin.
Dengan sekali kibasan tangannya, sebuah cahaya kembali keluar dari dalam pagoda.
Cahaya itu awalnya kecil, namun kian membesar seiring waktu berjalan.
Wusshhh...
Wusshhh...
Wusshhh...
Cahaya itu membungkus tubuh si Putih dan si Hijau, lalu setelah itu, cahaya mulai membuat tubuh keduanya semakin menyusut.
"Tidak! Jangan!" Teriak si Putih dan juga si Hijau.
Wusshhh...
Liiu Yaoshan sekali lagi mengibaskan tangannya, dan pagoda mulai menghisap tubuh kedua gadis jelmaan Ular Siluman.
"Tidak!"
"Tidak!"
"Jangan!"
"Agghhh!"
Teriakan mereka berdua, akhirnya menghilang setelah tubuh keduanya terhisap sempurna ke dalam pagoda tanpa meninggalkan bekas sama sekali.
"Tuan muda, kami mengucapkan banyak terima kasih. Berkat Tuan muda, akhirnya kedua Siluman itu berhasil di singkirkan dari desa kami." Ucap Paman pemilik restoran.
Dari awal hingga akhir, sang pemilik restoran menyaksikan pertarungan antara Liiu Yaoshan dengan kedua gadis jelmaan Ular Siluman.
Sebenarnya, dia sudah tahu jika kedua gadis itu bukanlah manusia. Karena memang, kejadian beberapa kali di restorannya hampir sama. Pemuda tampan menolong kedua gadis tadi, lalu mengantar mereka pulang, dan keesokan harinya di temukan mati dengan tubuh membiru di penuhi racun ular.
Namun begitu dia ingin memberitahukan kepada Liiu Yaoshan, tanpa di duganya, Liiu Yaoshan sendiri sudah mengetahui hal itu, dan malah berhasil menyingkirkan kedua gadis jelmaan Ular tersebut.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, Paman! Aku hanya menyingkirkan mereka berdua saja, rakyat dan juga prajurit mereka, masih akan tetap mengganggu di desa kalian jika tidak segera di musnahkan." Balas Liiu Yaoshan dengan tenang.
"Maksud Tuan muda, desa kami masih dalam bahaya?" Tanya si pemilik toko dengan ekspresi terkejut luar biasa.