Penguasa Langit

Penguasa Langit
33. Racun gurita hitam.


__ADS_3

Entah sudah berapa Liiu Yaoshan pingsan di dalam ruangan gelap.


Tubuhnya kini mulai bergerak, sedikit demi sedikit.


"Agghhhh!"


Liiu Yaoshan merintih kesakitan saat dirinya mencoba, menggerakkan kedua kakinya.


Baru saja Liiu Yaoshan berniat untuk bangun, cahaya kuning berpendar muncul kembali membungkus tubuhnya yang masih terbaring hingga melayang beberapa kaki di udara.


Tapi kali ini, cahaya kuning tersebut tidak berusaha menyerangnya. Justru sebaliknya, cahaya kuning memberikan efek hangat di tubuh Liiu Yaoshan, hingga rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan perlahan mulai menghilang.


_Wuusshhh!_


Tubuh Liiu Yaoshan terbungkus sempurna oleh cahaya kuning yang mulai pekat.


Dan rasa hangat yang di timbulkan, semakin kuat hingga membuat tubuh Liiu Yaoshan terasa nyaman.


Meskipun heran dengan cahaya yang membungkus tubuhnya, namun Liiu Yaoshan tidak berusaha melawan. Dia yakin, jika tidak akan terjadi apapun kepada dirinya sekarang. Kalaupun cahaya kuning tersebut ingin membunuhnya, bukankah akan lebih mudah jika di lakukan ketika dia pingsan saja, pikir Liiu Yaoshan. Bukan menunggunya untuk sadar terlebih dahulu.


Perlahan-lahan, tubuh Liiu Yaoshan di turunkan hingga kakinya mulai menyentuh lantai.


Saat dia sudah bisa berdiri dengan sempurna, barulah cahaya kuning kembali berpendar lalu menghilang dari pandangan.


''Putraku! Aku sudah membersihkan sisa racun yang ada di tubuhmu!''


Terdengar suara yang tak asing di telinga Liiu Yaoshan. Suara Ayahnya, Sang Penguasa Langit, Liiu Donghai.


"Ayah, Ibu!" ucap Liiu Yaoshan dengan mata berkaca-kaca.


Di hadapannya, kini berdiri tegak dua sosok yang sangat dia rindukan selama ini.


"Kemarilah, Putraku!" panggil Ratu Penguasa, Xia Shi sambil merentangkan kedua tangan.

__ADS_1


Tanpa sadar, kaki Liiu Yaoshan bergerak menghampiri ke arah sosok bayangan yang menyerupai Ibunya.


"Ibu, aku sangat merindukanmu." ucap Liiu Yaoshan sambil tangannya mendekap tubuh Ibunya yang seperti nyata berdiri di hadapannya.


"Jangan sedih, Nak! Ibu akan selalu berada di dekatmu, di sini." ucap Ratu Xia Shi sambil menyentuh dada Liiu Yaoshan.


Tangisan Liiu Yaoshan semakin keras ketika tangan sang Ibu mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Sikapnya sudah seperti anak kecil, yang sedang mengadu kepada Ibunya sendiri jika ingin di belikan mainan.


"Putraku, hilangkan rasa dendam di dalam hatimu." Liiu Donghai kembali bersuara hingga membuat Liiu Yaoshan seakan tidak percaya dengan kata-katanya.


"Tidak, Ayah! Bagaimana mungkin, aku akan melepaskan orang yang sudah membunuh kalian berdua?" ucap Liiu Yaoshan setengah berteriak karena menahan amarah di dadanya.


Bayangan Liiu Donghai, duduk di sebelah Ratu Xia Shi. Tangannya terulur menepuk dahi Liiu Yaoshan dengan pelan. Apa yang di lakukan Liiu Donghai, sama persis dengan yang sering dia lakukan semasa hidupnya ketika Liiu Yaoshan tidak mau mendengarkan semua nasehatnya.


"Keras kepala!" kata Liiu Donghai yang membuat Liiu Yaoshan kembali menitikkan airmata.


Sungguh, dia sangat merindukan saat-saat bersama kedua dengan orangtuanya di Istana Langit.


Dan hari ini, adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Liiu Yaoshan karena bisa berkumpul lagi dengan kedua orang kesayangannya tersebut.


Liiu Yaoshan mengangguk, dia berjanji akan melakukan apapun yang di katakan oleh Ayahnya.


Bahkan, jika dia benar-benar harus melupakan semua dendamnya 'pun, Liiu Yaoshan akan tetap melakukannya dengan senang hati.


"Kematian Ayah, sudah di ramalkan sejak lama. Maka dari itu, Ayah memintamu untuk jangan menyimpan rasa dendam. Meskipun Ayah kecewa dengan semua perbuatan Pamanmu yang berani menyakiti kalian berdua, tapi percayalah, ini sudah menjadi suratan takdir kita bertiga. Ayah tidak mau, kau di butakan oleh rasa benci, Nak. Cukup Pamanmu saja yang kejam, kau jangan!" ucap Liiu Donghai sambil tak lupa mengusap kepala Liiu Yaoshan yang sedang bersandar di pangkuan Ibunya


"Aku berjanji kepada kalian, untuk tidak lagi terobsesi dengan rasa dendam." ucap Liiu Yaoshan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Kami berdua percaya kepadamu, Nak!" balas Ratu Xia Shi dengan penuh kelembutan.


Liiu Yaoshan teringat dengan batu besar yang menghisapnya hingga sampai ke tempat ini. Karena penasaran, ia 'pun segera bertanya kepada Ayahnya tentang hal tersebut.


"Batu besar yang kau maksudkan adalah 'Batu Langit' Ayah sengaja menyembunyikannya di bukit Pian Lu, agar Pamanmu tidak bisa merebutnya darimu." jawab Liiu Donghai yang membuat Liiu Yaoshan semakin merasa penasaran.

__ADS_1


"Apa maksud, Ayah?"


"Batu Langit menyimpan kekuatan yang sangat besar, dan Pamanmu mengetahui akan hal tersebut. Oleh karena itulah, dia telah meracuni Ayah dengan harapan dia bisa merebut 'Batu Langit' dan mendapatkan kekuatannya. Namun, 'Batu Langit' telah terlebih dahulu Ayah sembunyikan di bukit Pian Lu ini. Dan Pamanmu, dia tidak mengetahuinya. Satu hal lagi yang Pamanmu belum tahu, 'Batu Langit' hanya mengakui darah Penguasa Langit sebagai Tuannya. Setelah Ayah mati, secara otomatis, kaulah yang berhak memiliki kekuatan dari 'Batu Langit' ini."


Liiu Yaoshan mengerutkan dahinya tebal setelah mendengar penuturan sang Ayah. Jika 'Batu Langit' memang mengakuinya sebagai Tuan, lalu kenapa dia malah di serang?


"Ayah tahu apa yang kau pikirkan sekarang, Nak! Kau pasti heran bukan, kenapa 'Batu Langit' malah menyerangmu dengan sinar kuning keemasan?" Liiu Yaoshan mengangguk perlahan.


"Itu karena darahmu tercampur dengan racun siluman gurita hitam. Cahaya kuning keemasan yang menyerangmu bertujuan untuk membersihkan seluruh darah, dan juga tulangmu dari racun." tutur Liiu Donghai yang membuat Liiu Yaoshan menjadi tersentak.


"Racun gurita hitam?!" ucap Liiu Yaoshan setengah berteriak.


"Benar, Nak. Racun gurita hitam!" tegas Liiu Donghai.


"Tapi, bagaimana mungkin?!" Liiu Yaoshan masih merasa tidak percaya jika di dalam tubuhnya telah terkontaminasi racun berbahaya.


Liiu Donghai kembali mengusap puncak kepala Putranya dengan penuh kasih sayang.


"Apa kau masih ingat, dengan botol racun yang di berikan oleh Pamanmu?" tanya Ratu Xia Shi yang di jawab anggukkan kepala Liiu Yaoshan.


"Apa yang terjadi, setelah kamu meminumnya?" tanya Liiu Donghai di sela-sela aktivitas mengelus rambut Putranya.


"Tubuhku terasa lemah, dan susah sekali untuk di gerakkan, Ayah." jawab Liiu Yaoshan dengan raut muka suram.


Wajah Liiu Donghai senyuman yang khas, seperti waktu masih menjadi Penguasa Langit. Senyuman itu pula yang membuat Ratu Xia Shi mencintainya dengan sangat dalam.


"Itu adalah sebagian kecil dari efek racun gurita hitam, Putraku." tutur Liiu Donghai dengan masih menampilkan senyuman terbaiknya.


"Tapi, Ayah! Kakek bilang, jika racun pelumpuh syaraf yang ada di tubuhku sudah semuanya di keluarkan. Jadi tidak mungkin, jika masih ada racun yang tersisa?" ucap Liiu Yaoshan dengan ekspresi kebingungan.


Pasalnya, Kakek Dongyi waktu itu mengatakan, jika racun yang ada di dalam tubuhnya sudah terkuras habis ketika dia berendam di kolam hitam.


Tapi kenyataannya sekarang, sang Ayah malah memberitahukan hal yang sebaliknya.

__ADS_1


"Sepertinya, Putramu belum memahaminya juga, Istriku!" ucap Liiu Donghai sambil melirik ke arah Ratu Xia Shi.


Ratu Xia Shi tersenyum lembut, lalu menarik tubuh Liiu Yaoshan ke dalam dekapannya.


__ADS_2