
Tangan Liiu Yaoshan bergetar saat menyentuk senjata pamungkas milik sang Ayah.
Di matanya, kini seakan terbayang saat Ayahnya sedang menggunakan senjata tersebut dengan sangat gagah ketika masih di Istana Langit.
Flashback on...
"Cambuk kilat!"
Jlegerr~
Jlegerr~
Suara guruh menggelegar saat Liiu Donghai mengayunkan cambuknya dengan kekuatan penuh.
Percikan seperti kilat yang menyambar mengiringi setiap ayunan cambuk yang di mainkan oleh Penguasa Langit di hadapan Liiu Yaoshan yang saat itu masih berusia sepuluh tahun.
"Ayah sangat hebat!" teriak Liiu Yaoshan sambil bertepuk tangan.
Ratu Xia Shi tersenyum senang melihat Putranya kegirangan menyaksikan kehebatan Suaminya.
"Ibu-Ibu, nanti aku juga ingin menjadi hebat seperti Ayah!" seru Liiu Yaoshan sambil memeluk sang Ibu.
"Ayah yakin, kamu pasti bisa melakukannya Shan-Shan!" ujar Liiu Donghai yang kini berjalan menghampiri kedua orang yang di cintainya.
"Ibu juga mempunyai keyakinan yang sama dengan Ayahmu, Nak!" tutur Ratu Xia Shi lembut.
Liiu Yaoshan melompat ke pangkuan Ayahnya, lalu mengalungkan tangan di leher Liiu Donghai dengan sangat erat.
"Ayah, apakah kau akan memberikan cambuk api kepadaku suatu saat nanti?" tanyanya dengan mata yang berbinar.
Liiu Donghai menggosok rambut Putranya hingga tampak berantakan saking gemasnya dengan kelakuan sang Putra.
"Tentu saja, Ayah akan memberikan cambuk ini nanti saat sudah waktunya." tuturnya yang membuat Liiu Yaoshan kegirangan.
"Ibu, apa kau dengar itu? Ayah akan memberikan cambuk yang sama kepadaku nanti!" ucap Liiu Yaoshan dengan bangga.
Flashback off...
__ADS_1
"Ayah! Aku tidak menyangka, kau masih mengingat ucapanku dahulu." ucap Liiu Yaoshan dengan lirih sambil mendekap cambuk api erat.
"Ayahmu memintaku untuk memberikan ini kepadamu sewaktu dia datang ke bukit Pian Lu sebelum akhirnya dia terbunuh di Istana Langit."
"Lalu kenapa, anda tidak segera memberikannya kepadaku?" ucap Liiu Yaoshan sambil memicingkan mata ke arah Kakek Yan.
Kakek Yan menarik nafas panjang sebelum dia mampu menjawab pertanyaan dari Liiu Yaoshan yang di anggapnya sebagai teguran.
"Bukan begitu, Penguasa muda! Aura tubuhmu memang hampir mirip dengan Ayahmu, sang Penguasa Langit. Namun aku masih ragu, dan hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya padamu. Maafkan aku!" ungkap Kakek Yan dengan penuh rasa penyesalan.
Liiu Yaoshan bangkit, lalu mengibaskan lengannya.
Wuusshhh!
Cambuk api yang berada di dalam genggamannya langsung hilang entak kemana.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, Kakek! Aku terbawa suasana, hingga terbawa emosi dan sempat membentakmu barusan. Maaf!" ucap Liiu Yaoshan sambil menangkupkan kembali tangan di dada.
"Sudahlah, tidak perlu seperti ini. Aku jadi merasa tidak enak hati." dalih Kakek Yan sambil melambaikan tangan.
Liiu Yaoshan mengangguk, lalu membenarkan posisi berdirinya setelah sebelumnya membungkuk hormat kepada orang yang sudah sangat setia kepada kedua orangtuanya.
"Saya akan kembali melanjutkan, Kakek. Saya mendapat tugas, untuk pergi ke gunung selatan dari Kakek Dongyi." tutur Liiu Yaoshan.
Kakek Yan merasa kagum dengan rasa tanggung jawab yang di terapkan oleh Liiu Yaoshan. Pendidikan dari Kakek Dongyi memang sangatlah hebat, hingga mampu membuat seorang Putra dari Penguasa yang di takuti alam semesta mampu menjadi patuh dengan pribadi yang sangat baik.
"Kakek, jika saya boleh mengusulkan. Sebaiknya anda yang menjadi Wali Kota Pian Lu, kasihan warga di sini jika sampai salah lagi memilih seorang pemimpin." kata Liiu Yaoshan.
Pak Tua Ming yang mendengar usulan tersebut, dengan senang hati mendukungnya.
"Anak muda ini benar, Kakek Yan. Hanya kaulah yang cocok menjadi pemimpin di Kota Pian Lu!" ucap Pak Tua Ming penuh semangat.
Kakek Yan menggelengkan kepala, dia tidak bisa menerima jabatan sebagai Wali Kota. Dia lebih suka hidup bebas tanpa terbebani urusan pemerintahan.
"Aku tidak bisa, lebih baik kau saja Mingyu. Kau juga sangat cocok menjadi kandidat Wali Kota." tolak Kakek Yan yang malah memberikan jabatan tersebut kepada Pak Tua Ming.
"Baiklah, masalah Kota Pian Lu sekarang bukanlah menjadi urusanku lagi. Dan sekarang aku pamit, Kakek!" ucap Liiu Yaoshan sambil memberi isyarat kepada Yihua untuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
Kakek Yan mengangguk, lalu melepas kepergian Liiu Yaoshan dengan sebuah kebanggaan di dalam hatinya. Bangga karena telah bisa menuntaskan tugas yang di berikan oleh Kakek Dongyi untuk menjaga keturunannya.
Bangga juga karena dia telah berhasil menjaga 'Batu Langit' tanpa ada seorangpun yang berani datang dan merebutnya.
Kakek Yan berharap, suatu hari nanti dia akan bertemu dengan Liiu Yaoshan saat dia sudah bisa merebut kembali tampuk kekuasaan di Istana Langit
Saat itu, Kakek Yan ingin mengabdikan dirinya kepada keturunan asli sang Penguasa seluruh alam hingga nanti ajal akan menjemputnya.
"Tuan Liiu! Sepertinya, Kakek Yan sangat mengenal kedua orangtuamu." ucap Yihua memberanikan diri berbicara untuk mengobati rasa kepenasarannya.
Liiu Yaoshan tidak segera menjawab, dia hanya memperhatikan jalan yang akan di lewatinya.
Yihua hanya bisa bersabar menunggu Liiu Yaoshan merespon ucapannya. Dia tidak ingin lagi mengajukan pertanyaan, yang nantinya tetap tidak akan di jawab oleh Liiu Yaoshan.
"Kakek Yan adalah orang yang di minta Kakekku untuk menjaga kedua orangtuaku, dari orang-orang yang ingin mencelakai mereka berdua." jawab Liiu Yaoshan yang membuat hati Yihua merasa girang setelah mendengarnya.
Huh, aku kira Tuan Liiu tidak akan berbicara. Tapi akhirnya, dia memberitahuku juga, batin Yihua.
Beberapa saat berjalan, Liiu Yaoshan dan juga Yihua kini telah sampai di pinggiran Kota Pian Lu.
"Awas! Minggir!" teriak orang dari belakang kemudi kereta kuda.
Liiu Yaoshan menarik tubuh Yihua yang hampir saja tertabrak oleh kereta kuda yabg sepertinya lepas kendali karena kudanya bermasalah.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya Liiu Yaoshan yang di balas anggukkan Yihua.
Setelah memastikan semuanya aman, Liiu Yaoshan melepaskan pelukan dari pinggang Yihua dan mundur beberapa untuk menjaga jarak.
Semua Liiu Yaoshan lakukan, karena dia tidak ingin terjadi kontak pisik yang berlebihan antara dirinya dan juga Yihua selama dalam perjalanan.
"Tuan muda, Nona, hamba minta maaf! Hamba benar-benar tidak senagaja untuk melakukannya." ucap si pengendara kereta kuda sambil berjalan mendekat setelah mengamankan kereta kudanya.
"Lain kali, berhati-hatilah!" jawab Liiu Yaoshan datar.
Sedangkan Yihua, tidak mengucapkan satu patah katapun juga.
"Hamba janji, untuk tidak mengulanginya lagi!" ucap si pengendara tersebut lalu pergi menghampiri kembali kereta kudanya.
__ADS_1
Setelah kereta kuda menjauh, Yihua menoleh ke arah Liiu Yaoshan dan menceritakan apa yang telah di lihatnya barusan di dalam kereta.