Penguasa Langit

Penguasa Langit
39. Binasanya siluman gurita raksasa.


__ADS_3

Swoosshhh!


BOOMM!


Siluman gurita melancarkan serangan ke arah Liiu Yaoshan.


Dengan mudah, Liiu Yaoshan dapat menghindar dan langsung memberikan balasan serangan.


"Sial!" umpat siluman gurita.


Niatnya, dia meloloskan diri jika serangan yang tadi berhasil mengenai Liiu Yaoshan.


Tapi dugaannya meleset, Liiu Yaoshan malah dengan mudahnya membalikkan serangan ke arahnya dengan lebih ganas.


Bagaimana aku bisa lari, jika terus di serang seperti ini, batin siluman gurita.


Liiu Yaoshan tersenyum senang, sejak awal dia sudah tahu jika siluman gurita peliharaan Pamannya terus mencari-cari kesempatan agar bisa lolos darinya.


Namun kali ini, Liiu Yaoshan tidak akan membiarkan siluman yang telah berusaha meracuni sang Ayah untuk lolos begitu saja dengan mudah.


Liiu Yaoshan sudah berniat, jika akan membunuh siluman gurita raksasa hari ini juga.


Wuusshhh!


Duarr!


Duarr!


Kembali, Liiu Yaoshan melakukan serangan.


Dia mengincar dua tentakel yang tersisa di tubuh siluman gurita raksasa.


"Brengsek kau!" teriak siluman gurita geram.


Saat lagi dan lagi, serangan Liiu Yaoshan hampir mengenai tubuhnya.


"Ha-ha! Ada apa, siluman? Apa kau kesal, karena tidak bisa lari dariku?" ejek Liiu Yaoshan.


Siluman gurita raksasa menggeram marah, meskipun ucapan Liiu Yaoshan memang benar. Tapi dia juga mempunyai harga diri, tidak mungkin dia akan mengakui jika dia benar-benar ingin lari 'kan?


"Diam kau, bajingan!" bentaknya keras.


"Kau yang seharusnya diam!" balas Liiu Yaoshan tak kalah kerasnya.


Wuusshhh!


BOOMM!


BOOMM!

__ADS_1


Duarr!


Serangan demi serangan di lancarkan, kini tentakel yang sisa dua sudah semakin lemah. Bahkan siluman gurita raksasa merasakan, jika salah satu tentakelnya sudah tidak bisa dia gerakkan lagi.


Aku harus pergi secepatnya! batin siluman gurita.


Saat dia sedang menengok ke arah kanan kiri untuk mencari celah, seberkas cahaya kuning keemasan sudah menyelubungi tubuhnya.


"Agghhh!"


"Apa ini ...," teriaknya saat seluruh tubuhnya susah untuk bergerak.


Liiu Yaoshan, yang saat ini sudah mengeluarkan 'Pagoda Langit' terus melafalkan mantra untuk membinasakan para siluman.


Berbeda dengan sebelumnya, ketika siluman jahat akan di kurung terlebih dahulu sebelum mati di 'Pagoda Langit' miliknya. Siluman gurita justru dia siksa dengan mantra yang akan sekaligus dapat membinasakannya secara langsung.


"Aku Liiu Yaoshan, Putra dari Penguasa Langit pertama. Akan mengutukmu menjadi abu yang tak berguna saat ini juga."


BOOMM!


Tubuh siluman gurita raksasa langsung meledak dan terbakar oleh sinar yang keluar dari 'Pagoda Langit' dan kini yang tersisa hanyalah abunya yang tersebar karena tertiup angin dan menghilang.


Liiu Yaoshan menghela nafas lega, tak di sangka siluman gurita raksasa lumayan kuat hingga dia berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkannya.


Jujur saja, seandainya dia mengeluarkan 'Pagoda Langit' lebih awal mungkin si gurita raksasa akan dengan cepat di kalahkan.


Tapi, Liiu Yaoshan tidak ingin semuanya terjadi dengan cepat. Dia juga butuh waktu untuk melatih kekuatan barunya, agar bisa seimbang dengan kekuatan jiwa yang dia miliki.


Terbukti, saat tadi dia melawan gurita raksasa. Kekuatan baru yang dia gunakan belum bisa maksimal langsung membunuh lawan padahal Liiu Yaoshan sendiri menggunakan hampir tujuh puluh persen kekuatannya.


"Mata Langit!"


BOOM!


BOOM!


Duarr!


Liiu Yaoshan menghancurleburkan gedung yang di gunakan sebagai markas oleh siluman gurita raksasa hingga rata dengan tanah.


Liiu Yaoshan juga membebaskan beberapa warga, yang sedang di kurung di sebuah kurungan besi raksasa. Mungkin mereka sengaja di kurung di sana untuk di jadikan santapan lezat oleh si gurita raksasa


Setelah semuanya selesai, Liiu Yaoshan memutuskan untuk kembali ke bukit Pian Lu dan mengabarkan berita tentang pemusnahan siluman gurita beserta markasnya kepada Kakek Yan.


Dari kejauhan, Liiu Yaoshan sudah melihat dengan jelas Yihua yang tersenyum ke arahnya.


"Tuan Liiu! Dia sudah datang!" teriak Yihua hingga membuat Kakek Yan dan kedua orang lainnya menoleh ke arah yang sama.


"Aku sudah bisa mengira, dia pasti akan datang dengan cepat." gumam Kakek Yan saat melihat Liiu Yaoshan semakin mendekat.

__ADS_1


"Anak muda, aku melihat asap tebal membumbung ke langit dari arah kediaman Wali Kota. Apa itu kau yang telah melakukannya?" tanya Pak Tua Ming dengan sangat antusias.


Liiu Yaoshan mengangguk, lalu menerangkan kejadian yang sebenarnya.


Dari awal dia datang, Liiu Yaoshan sudah menduga jika ada sesuatu yang janggal dengan sosok Wali Kota Pian Lu.


Dan ternyata dugaannya sangat benar, Wali Kota adalah jelmaan siluman gurita raksasa yang menyamar. Tapi sudah dia binasakan, sehingga seluruh warga Kota Pian Lu kini sudah terbebas dari penderitaan dan sudah bisa beraktifitas normal kembali seperti sedia kala.


Jauhi perjudian, dan mulailah membangun Kota dengan perekonomian yang sehat agar pertumbuhan sosial warga menjadi merata.


Pak Tua Ming merasa senang bukan kepalang mendengar binasa dan hancurnya kediaman Wali Kota yang lalim, yang juga ternyata adalah jelmaan dari siluman.


Dia berjanji, akan menyampaikan hal tersebut kepada seluruh warga dan segera mencari sosok Wali Kota yang baru dan yang bisa lebih adil untuk memimpin Kota mereka nantinya.


Setelah selesai berbicara dengan Pak Tua Ming. Liiu Yaoshan kini beralih menatap Kakek Yan, yang dari tadi hanya tersenyum memperhatikannya dari jauh.


"Kakek, aku tahu statusmu tidaklah biasa. Aku sangat berterima kasih, karena kau telah setia menjaga 'Batu Langit' peninggalan Ayahku dengan sangat baik." ucap Liiu Yaoshan sambil menangkupkan tangan di depan dada.


"Tidak perlu sungkan, Penguasa Muda. Itu sudah menjadi tugasku, untuk tetap menjalankan semua perintah dari Kakek Dongyi." balas Kakek Yan dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Sekali lagi, terima kasih!" ucap Liiu Yaoshan lalu membungkuk memberi penghormatan.


Kakek Yan mengangguk puas, lalu melambaikan tangannya.


Wuusshhh!


Sebuah bungkusan kain berwarna biru muda, muncul di atas telapak tangannya.


"Ambillah ini, Penguasa muda!" ucapnya sambil menyodorkan bungkusan kain tersebut.


"Bungkusan apa ini, Kakek?" tanya Liiu Yaoshan dengan heran.


"Kau akan mengetahuinya sendiri, setelah membukanya." jawab Kakek Yan.


Tanya Liiu Yaoshan lalu terulur membuka bungkusan kain yang kini berada di pangkuannya.


Tangannya bergetar, saat lapisan-lapisan kain terbuka satu persatu.


Swoshhh!


Cahaya bersinar muncul saat seluruh lapisan kain sudah terbuka semua.


Liiu Yaoshan terkejut, saat dia melihat senjata yang selalu di gunakan oleh sang Ayah kini berada di hadapannya.


"Cambuk api?!" gumam Liiu Yaoshan menyebut senjata tersebut dengan suara bergetar.


Selama ini, dia mengira jika senjata milik Ayahnya tersebut telah di rebut okeh Pamannya yang sekarang menduduki tahta sebagai Penguasa Langit menggantikan sang Ayah.


Ternyata, perkiraannya itu salah. Senjata pamungkas milik Ayahnya, kini malah berada di tangan Kakek Yan yang sekarang beralih tangan kepadanya.

__ADS_1


Sungguh sangat di luar dugaan!


__ADS_2