
Mata Pak Tua Ming basah oleh airmata ketika sosok orang berbaju hitam masih mengingatnya.
Bahkan, dia juga menyebutkan namanya dengan lengkap.
"Kakek Yan, aku sudah mencari anda kemana-mana, ternyata kau ada di bukit ini." ucap Pak Tua Ming sambil matanya tak lepas menatap lekat orang yang dulu sering membantunya.
"Aku lebih suka tinggal di sini, Mingyu. Lebih tenteram!" jawab Kakek Yan dengan santai tanpa memedulikan sosok Liiu Yaoshan yang sedang menatapnya dalam.
Pak Tua Ming melirik ke arah Liiu Yaoshan yang bergeming menatap sosok Kakek di hadapannya.
Bagi Liiu Yaoshan, Kakek Yan ini bukan sosok pria yang sembarangan.
Kakek Yan, menyimpan kekuatan yang sangat besar di dalam dirinya. Namun, ada sesuatu hal yang membuat Liiu Yaoshan merasa penasaran.
Dengan kekuatan sebesar itu, mengapa Kakek Yan memilih tinggal di bukit sunyi, dan terpencil seperti ini? Apa yang sedang berusaha di sembunyikan dari semua orang? pikir Liiu Yaoshan.
"Mingyu, siapa pemuda yang sedang bersamamu ini? Apa dia juga, yang membawamu masuk ke area perbukitan?" tanya Kakek Yan yang baru mengakui keberadaan Liiu Yaoshan setelah sedari awal hanya mengacuhkannya saja.
Mata Kakek Yan menelusuri setiap inci dari tubuh Liiu Yaoshan, yang saat ini sedang berdiri tegak menghadap ke arahnya.
"Yang anda katakan itu benar, Kakek Yan. Pemuda inilah yang membawaku datang ke tempat ini, untuk bersembunyi." jawab Pak Tua Ming lalu menceritakan seluruh kejadian yang selama ini di alami dia dan Putrinya, hingga akhirnya di pertemukan dengan Liiu Yaoshan dan juga Yihua.
Kakek Yan semakin merasa penasaran dengan sosok Liiu Yaoshan yang telah menarik perhatiannya dari awal datang. Aura yang di pancarkan oleh Liiu Yaoshan, bukanlah aura kekuatan manusia yang pada umumnya.
Aura yang Liiu Yaoshan miliki, sama persis dengan aura pria yang pernah bertemu dengannya beberapa puluh tahu yang silam.
Namun tentu saja, aura Liiu Yaoshan lebih kuat dan juga lebih pekat, karena telah sepenuhnya menyatu dengan kekuatan ketiga kitab yang telah dia dapatkan sebelumnya.
Kitab yang pertama, Liiu Yaoshan dapatkan dari Kakek Dongyi. Kitab yang memancarkan sinar kuning keemasan tersebut, telah membuat Liiu Yaoshan mendapatkan kembali ingatan, dan juga kekuatan Penguasa Langit miliknya yang telah hilang seiring dengan jatuhnya dia di bumi.
__ADS_1
Yang kedua, kitab hijau dari dasar 'Lubang hitam' yang di berikan oleh Kakek Heng. Kitab rahasia yang melegenda tersebut, memberikan banyak sekali kekuatan tenaga dalam bagi Liiu Yaoshan. Termasuk, ilmu bayangan, dan ilmu berpindah tempat seperti yang Liiu Yaoshan baru-baru ini gunakan untuk bisa lolos dari gedung Wali Kota.
Yang ketiga, 'kitab alam semesta' yang di dapatkan dari Kakeknya Yihua. untuk kitab ini, Liiu Yaoshan belum sempat membuka, atau mempelajarinya. Walaupun begitu, Liiu Yaoshan pernah merasakan betapa dahsyatnya kekuatan 'kitab alam semesta'.
"Anak muda, aku seperti tidak asing dengan aura kekuatanmu." ucap Kakek Yan sambil mengendus ke arah Liiu Yaoshan.
"Kita belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya, Pak Tua." jawan Liiu Yaoshan dengan sikap tenang.
Kakek Yan sekali lagi mengenduskan hidungnya, dan aura yang dia cium dari tubuh Liiu Yaoshan tetap sama. Namun sayangnya, dia lupa dengan pemilik aura yang sangat kuat tersebut.
"Ah, kau benar. Mungkin aku saja yang salah mengira, anak muda. Maafkan aku!" ucap Kakek Yan sambil menautkan tangan di depan dada.
Huek!
Tiba-tiba, Putri Pak Tua Ming memuntahkan cairan berwarna hijau pekat dari dalam mulutnya.
"Mingyu, apa yang terjadi dengan Putrimu?" tanya Kakek Yan lalu bergegas menghampiri Putri dari Pak Tua Ming.
Kakek Yan menempelkan jarinya di pergelangan tangan Putri Pak Tua Ming.
"Denyut nadi Putrimu sangat lemah, tapi untungnya, tidak ada hal yang serius yang terjadi kepadanya sekarang." ucap Kakek Yan sambil menyandarkan Putri Pak Tua Ming di sebuah pohon besar.
"Lebih baik, kalian semua ikut denganku sekarang. Di sini sangat berbahaya!" ucap Kakek Yan sambil mulai berjalan memasuki area yang di tumbuhi banyak pohon-pohon yang besar.
Meskipun penasaran dengan bahaya yang akan mengancam mereka, namun Liiu Yaoshan tetap mengikuti langkah Kakek Yan di ikuti oleh Yihua, dan juga Pak Tua Ming dengan menggendong Putrinya.
"Mingyu, berikan obat ini kepada Putrimu." ucap Kakek Yan setelah sampai di tempatnya.
Tanpa banyak bertanya, Pak Tua Ming segera memasukkan pil obat tersebut ke mulut sang Putri.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Putrimu pasti akan baik-baik saja setelah ini." Kakek Yan menepuk bahu Pak Tua Ming yang sedang menatap Putrinya dengan tatapan pilu.
Yihua yang dari awal hingga akhir bungkam, kini mulai membuka suaranya dan berbisik kepada Liiu Yaoshan.
"Apa kita akan tinggal di sini?" tanya Yihua sambil matanya memperhatikan sekitar.
"Tidak ada pilihan lain." jawab Liiu Yaoshan dengan datar.
Yihua tidak lagi banyak berbicara, dia akan menuruti semua perkataan Liiu Yaoshan. Itulah yang Kakeknya pesankan padanya.
"Kau, dan Putrinya Mingyu, bisa tidur di dalam. Biarkan kami, para lelaki berjaga di luar." ucap Kakek Yang menyuruh Yihua untuk masuk ke dalam gubuk menemani Putri Pak Tua Ming yang masih belum sadarkan diri.
"Mingyu, mengapa kau tidak membawa Putrimu pindah ke kota lain?" tanya Kakek Yan dengan wajah yang tampak serius.
"Kami juga menginginkan seperti itu, Kakek. Tapi kami, tidak bisa melakukannya." jawab Pak Tua Ming bingung.
Liiu Yaoshan sengaja tidak melibatkan diri dalam percakapan dua orang tersebut. Dia hanya mendengarkan saja untuk mengetahui lebih jelas persoalan yah sebenarnya tejadi di kota yang di datanginya ini.
"Apa yang membuatmu tidak bisa pindah?" tanya Kakek Yan heran.
Pak Tua Ming menghela nafas berat, tatapan matanya seakan mampu menembus kegelapan di bukit Pian Lu tempatnya berada saat ini.
"Semua karena ulah Wali Kota, Kakek. Semua orang yang sudah memasuki kota ini, tidak akan bisa keluar lagi." ucap Pak Tua Ming terdengar sedih.
"Bukan dia yang bersalah!"
Ucapan Kakek Yan membuat Pak Tua Ming menjadi terkejut, dan seketika melirik ke arahnya.
"Apa maksud anda, Kakek? Aku sudah melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri. Wali Kota, memerintahkan semua pengawalnya untuk menutup akses keluar dari Kota Zhangyu." ucap Pak Tua Mingyu setengah berteriak di hadapan Kakek Yan dan juga Liiu Yaoshan.
__ADS_1
"Aku tahu, aku tahu! Tapi, yang kau lihat itu bukanlah Wali Kota yang asli!" bantah Kakek Yan hingga membuat Pak Tua Ming menjadi kesal kepadanya.
"Apa Kakek tidak mempercayaiku? Mataku masih bisa melihat dengan cukup jelas." Ucap Oak Tua Ming dengan emosi.