
"Penguasa, jika anda tidak keberatan. Tolong terima permintaan cucu perempuanku! Hamba yakin, Yihua pasti bisa membantu anda selama dalam perjalanan." ucap Shi Yuwen memohon kesediaan Liiu Yaoshan untuk mengajak cucunya berkelana.
"Aku sudah terbiasa pergi sendiri!" tolak Liiu Yaoshan dengan tegas.
"Saya mohon, Penguasa!" Shi Yuwen tanpa ragu berlutut di hadapan Liiu Yaoshan yang saat ini nampak bimbang dengan keputusannya.
Melihat Kakeknya sedang memperjuangkan dirinya agar bisa ikut bersama sang Penguasa dalam cerita leluhurnya, Yihua 'pun melakukan hal yang sama.
Dia berlutut, dan memohon agar Liiu Yaoshan mengabulkan permintaannya.
"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi ingat, kau tidak boleh takut, ataupun menangis saat bertemu dengan makhluk-makhluk buas saat bersamaku." Liiu Yaoshan akhirnya menerima permintaan Yihua, dan juga Shi Yuwen.
Siapa tahu, dengan adanya gadis ini, bisa membuat perjalanannya menjadi lebih menyenangkan karena ada teman untuk berbicara, pikir Liiu Yaoshan.
Yihua tentu sangat senang setelah mendengar Liiu Yaoshan mengijinkannya untuk ikut serta.
Meskipun di dalam hatinya, Yihua juga merasa sedih karena harus berpisah dengan sang Kakek yang sudah bersamanya sewaktu masih kecil hingga sekarang.
"Yihua, jaga dirimu baik-baik, jangan menyusahkan Penguasa, dan kau harus lebih banyak belajar lagi darinya." ucap Shi Yuwen dengan mata yang mulai berembun.
Bohong kalau dia tidak merasa sedih karena harus berpisah dengan cucu perempuannya.
Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa tetap memaksa Yihua untuk tetap tinggal bersamanya.
"Baik, Kakek. Aku akan mengingat semua perkataanmu." balas Yihua dengan mata yang berkaca-kaca juga.
Sama seperti Shi Yuwen, Yihua juga merasa sedih karena harus pergi meninggalkan sang Kakek di sana sendirian.
Meskipun banyak para murid perguruan pedang besi tinggal di sana, tetap saja tidak akan bisa merawat sang Kakek sebaik dirinya.
"Kakek, jaga kesehatanmu! Jika memungkinkan, aku akan sering datang untuk menjengukmu!" ucap Yihua sambil meneteskan airmata.
"Kau juga, Cucuku! Kau harus menuruti semua perintah Penguasa, jangan manja, jangan terlalu banyak bermain-main, fokus saja untuk meningkatkan kekuatanmu. Mengerti?"
Meskipun sedih, Shi Yuwen tetap tidak lupa menasehati Cucunya agar tidak bertindak ceroboh, dan menghilangkan sikap kekanak-kanakannya.
"Kakek, jangan bicara seperti itu!" rengek Yihua .
__ADS_1
Benar kata Shi Yuwen, sikap Yihua persis seperti yang katakannya. Kekanak-kanakan!
"Sudahlah, cepat pergi! Penguasa sudah menunggumu dari tadi!" ucap Shi Yuwen sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Yihua berjalan ke arah Liiu Yaoshan dengan perlahan. Sekali-kali, dia menoleh melirik sang Kakek yang masih belum mau menoleh ke arahnya.
Baru juga beberapa langkah, Yihua sudah berlari kembali menghampiri Shi Yuwen.
"Kakek, aku menyayangimu!" Yihua menangis di pelukan Kakeknya tanpa memedulikan semua murid perguruan pedang besi sedang menyaksikan sikapnya tersebut.
"Kakek juga menyayangimu, Yihua." ucap Shi Yuwen sambil mengelus punggung sang Cucu.
"Sekarang, pergilah. Jalani hidupmu dengan baik, dan tetap berhati-hati." Shi Yuwen mendorong tubuh Yihua agar menjauh darinya.
"Kakek!"
Meskipun berat, namun Yihua tetap meneruskan niatnya mengikuti Liiu Yaoshan.
Setelah kepergian Yihua dan Liiu Yaoshan, Shi Yuwen kembali membereskan kekacauan yang di sebabkan oleh Wu Tian.
Namun sampai malam menjelang, tidak ada pergerakan apapun yang terjadi. Itu membuktikan, jika perguruan pedang sakti, sudah menyerah untuk tidak lagi melakukan penyerangan, karena pemimpin mereka, Wu Tian, kini di tahan oleh Shi Yuwen agar tidak lagi berbuat sewenang-wenang.
Di dalam perjalanan, Yihua lebih banyak terdiam karena pikirannya masih terus tertuju kepada sang Kakek yang telah di tinggalkannya.
"Jika kau menyesal, kau boleh kembali ke tempat Kakekmu!" ucap Liiu Yaoshan memecah kesunyian.
Yihua menggeleng perlahan, meskipun hatinya masih sedih karena harus terpisah dari Kakeknya, namun tekad Yihua sudah bulat ingin menambah pengalaman dengan mengikuti Liiu Yaoshan.
"Jangan menyiksa perasaanmu sendiri, aku jadi merasa bersalah karena telah memisahkan Kakek dengan Cucunya." tambah Liiu Yaoshan.
Liiu Yaoshan tahu pasti sakit rasanya, jika kita harus terpaksa berpisah dengan keluarga.
Dia juga pernah mengalami hal yang sama seperti Yihua. Pertama Ayahnya, yang kedua Ibunya. Dua-duanya harus terpisah dari Liiu Yaoshan, karena mereka berdua telah di renggut nyawanya oleh sang Paman, Liiu Yanhui. Yang kini menjadi musuh utama, Liiu Yaoshan.
Dan yang terakhir, Kakek Dongyi. Liiu Yaoshan terpaksa garus meningalkannya untuk pergi ke gunung selatan atas perintah sang Kakek mencari kitab-kitab pusaka yang telah hilang.
lewat kitab-kitab pusaka tersebut Liiu Yaoshan berharap jika dia bisa menambah kekuatannya untuk lebih mudah naik ke Istana Langit dan membalas dendam kematian orangtuanya.
__ADS_1
Selain itu, Liiu Yaoshan juga harus mengambil kembali tahtanya yang kini telah di rebut oleh Pamannya sendiri, Liiu Yanhui.
"Tidak, aku tidak akan kembali! Tekadku sudah bulat, aku akan mengikutimu untuk menambah pengalaman!" balas Yihua sambil mengusap airmatanya dan menatap jauh ke depan.
"Jangan sampai menyesal, karena aku sudah memberimu kesempatan." ucap Liiu Yaoshan sambil terus melangkahkan kakinya.
Padahal, jika dia berangkat sendiri, Liiu Yaoshan tidak perlu repot-repot untuk berjalan kaki.
Dia bisa saja langsung menggunakan jurus menghilang, agar cepat sampai ke tempat tujuan berikutnya.
Namun karena sekarang Yihua ikut bersamanya, Liiu Yaoshan jadi harus menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatannya.
Bukannya Liiu Yaoshan egois, ataupun tidak ingin membawa Yihua menggunakan jurus menghilang.
Namun lebih memperhitungkan tujuan Yihua sebelumnya untuk menambah pengalaman, sehingga Liiu Yaoshan memilih untuk tidak menggunakan kekuatannya saat ini.
Meskipun mungkin akan sedikit lama, dan menguras banyak tenaga, tidak masalah bagi Liiu Yaoshan.
Setidaknya, dia tidak mengecewakan Shi Yuwen yang telah berjasa menjaga 'kitab alam semesta' selama ini.
"Jangan bergerak! Tetap di situ!" kat Liiu Yaoshan kepada Yihua yang saat ini berdiri mematung.
"Kenapa?" tanya Yihua penasaran.
"Aku bilang jangan bergerak!" tegas Liiu Yaoshan saat Yihua menggerakkan tangannya.
Meskipun penasaran, Yihua akhirnya menuruti ucapan Liiu Yaoshan. Dia berdiri tegak, tanpa bergerak sedikitpun di tempatnya.
Liiu Yaoshan mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan tempat mereka berada.
Setelah menerima kekuatan dari dua kitab pusaka, kepekaan Liiu Yaoshan terhadap pergerakan yang mencurigakan semakin terasah.
"Tetap diam, dan tenanglah!" ucap Liiu Yaoshan setengah berbisik kepada Yihua.
Tak lama kemudian, seekor laba-laba raksasa muncul dari balik pohon besar.
Laba-laba itu mendesis, matanya terlihat besar dan menakutkan. Yihua sampai bergidik ngeri ketika laba-laba raksasa tersebut, berjalan melewati dirinya.
__ADS_1