Penguasa Langit

Penguasa Langit
8. Mendatangi gua Siluman Ular.


__ADS_3

Liiu Yaoshan tidak berusaha menyangkal ucapan si pemilik restoran.


Indra penciuman dewanya Liiu Yaoshan, memang mencium aura Siluman yang sangat pekat, dan juga banyak di desa tersebut.


Tidak menutup kemungkinan, jika para Siluman Ular tersebut telah menyamar, dan berbaur dengan semua warga penghuni desa.


"Tuan muda, jika apa yang kau katakan itu benar, maka tolonglah desa kami. Aku mewakili warga desa, akan membayar berapapun biaya yang kau inginkan. Asalkan, desa kami terlepas dari gangguan Siluman Ular." Ucap si pemilik restoran memohon kepada Liiu Yaoshan.


Sebenarnya, tanpa di minta sekalipun Liiu Yaoshan akan pergi untuk membasmi para Siluman.


Tapi karena sudah di minta, maka Liiu Yaoshan tidak ada pilihan lain, selain mengiyakan ucapan si pemilik restoran.


"Anda jangan khawatir, Paman. Ini sudah menjadi tugasku, untuk melindungi orang-orang yang sedang merasa kesusahan." Jawab Liiu Yaoshan tenang.


"Terima kasih, Tuan muda. Untuk masalah biaya, biar aku sendiri yang akan membayarnya." Si pemilik restoran merasa senang karena Liiu Yaoshan telah sudi untuk membasmi Siluman yang berkeliaran.


Jika desanya terbebas dari pengaruh Siluman Ular, bukan mustahil dia juga akan lebih banyak mengeruk keuntungan. Karena sepinya desa mereka dari tamu luar, adalah karena teror yang di lakukan para siluman tersebut.


Setiap orang dari luar desa mereka datang, orang itu selalu hilang dan di temukan keesokan harinya telah meregang nyawa. Berita itu kian menyebar, dan menjadikan desa mereka sepi dari pendatang.


"Tidak perlu membayar dengan uang, Paman! Kau cukup memberiku makanan untuk bekal beberapa hari saja di jalan, aku sudah senang." Jawaban dari Liiu Yaoshan sangat membahagiakan bagi si pemilik restoran.


Dia hanya perlu menyiapkan beberapa jenis makanan, dan uang akan mengalir kepadanya di masa mendatang.


Sungguh sangat menguntungkan!


"Baik, baik Tuan muda! Jangankan untuk beberapa hari saja, untuk sebulan 'pun, akan saya sediakan." Ucap si pemilik restoran bersemangat.


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang mencari tempat persembunyian Siluman ular, dan menghancurkannya." Kata Liiu Yaoshan sembari bangkit dari tempatnya duduk.


Si pemilik restoran tak lagi banyak bertanya, dia mempersilahkan Liiu Yaoshan pergi, dan menolak pembayaran yang akan di berikan oleh Liiu Yaoshan.


Setelah urusan berpamitan kepada pemilik restoran, Liiu Yaoshan 'pun pergi ke tempat yang dia yakini sebagai sarang dari Siluman Ular.


BOM...


BOM...


Pintu gua sarang Siluman Ular hancur berkeping-keping setelah mendapat serangan mematikan dari Liiu Yaoshan.


"Panglima! Gua kita di serang!" Salah satu prajurit Siluman melaporkan keadaan di pintu gua.

__ADS_1


"Kurang ajar! Siapa manusia yang berani menghancurkan tempat kita?" Ucap si Panglima Ular dengan geram.


"Hamba tidak tahu, Panglima! Tapi sepertinya, pemuda itu bukan penduduk desa asli sekitaran sini." Jawab si prajurit cepat.


"Seorang pendatang! Tapi berani menantang kekuatan kita! Pathetic!" Dengus si Panglima kasar.


Si prajurit tadi, hanya tertunduk dengan tubuh yang gemetar karena merasa ketakutan, serta kepanikan karena tempatnya tinggal sedang di serang.


"Tunjukkan padaku! Di mana manusia bodoh itu?" Bentak si Panglima sambil menyeret prajurit bawahannya tersebut.


Di bibir gua, Liiu Yaoshan terus melayangkan serangan untuk mengobrak-abrik tempat persembunyian para siluman ular.


"Berhenti!" Teriak si Panglima setelah sampai di bibir gua yang sudah hampir hancur.


"Akhirnya kau keluar juga!" Kata Liiu Yaoshan dengan tenang.


"Berani sekali kau bersikap sombong di hadapanku ya, manusia!" Ucap si Panglima sarkas.


Namun Liiu Yaoshan tampak acuh menghadapi sikap arogan yang di tunjukan oleh si Panglima Siluman Ular.


"Kalau aku tidak berani, untuk apa aku datang kesini?" Balas Liiu Yaoshan datar.


Si Panglima merasa geram karena orang yang dia ancam tidak merasakan ketakutan sama sekali.


Namun bagi Liiu Yaoshan, ancaman si Panglima Siluman, tidak ada arti apa-apa bagi dirinya.


Jangankan takut, rasa panik saja tidak ada dalam diri Liiu Yaoshan.


"Bagaimana jika kau yang melakukan hal itu?" Tanya Liiu Yaoshan dengan tenang dan datar.


Mata si Panglima langsung melotot begitu Liiu Yaoshan mengucapkan kata-kata tersebut.


"Heh, manusia hina! Berani sekali kau mengucapkan kata-kata rendahan seperti itu kepadaku! Kurang ajar!" Bentak si Panglima dengan penuh kemarahan.


"Ha-ha-ha! Yang hina itu bangsa Siluman, bukan manusia!" Bantah Liiu Yaoshan keras.


"Brengsek! Enyahlah!" Si Panglima hilang kesabaran karena terus berdebat dengan Liiu Yaoshan.


Wuusshhh...


Si Panglima bergerak secepat kilat menyerang ke arah kepala Liiu Yaoshan yang berada beberapa langkah di depan bibir gua.

__ADS_1


"Matilah kau!" Teriak si panglima kencang.


Wuusshhh...


Angin kencang kembali menderu ke arah Liiu Yaoshan yang sedang berdiri dengan tenangnya.


Swoosshhh...


Blarrr...


Liiu Yaoshan hanya mengibaskan pelan lengan bajunya. Namun efek yang di timbulkan ternyata sangat luar biasa.


Dalam satu kali kibasan saja, angin kencang yang menyerang Liiu Yaoshan terpentalkan ke arah samping, dan menghantam pohon besar hingga tumbang ke tanah.


"Bajingan!" Teriak Panglima Siluman semakin geram


"Aku rasa cukup, jangan bermain lagi!" Kata Liiu Yaoshan sambil menyilangkan tangan di depan dada


"Tidak! Aku akan berhenti, jika kau sudah mati!" Si Panglima bersikukuh untuk melanjutkan pertarungan.


Liiu Yaoshan menyeringai jahat ketika si Panglima menolak untuk berhenti.


Jika memang itu yang Siluman ini inginkan, maka dia 'pun akan berusaha mengabulkan, pikir Liiu Yaoshan.


"Baiklah! Karena kau yang menginginkan, maka aku akan bantu mengabulkan!" Liiu Yaoshan menggerakkan tangannya perlahan.


Wuusshhh...


Muncul sebuah pagoda di atas telapak tangan Liiu Yaoshan.


Pagoda itu tampak indah, di lihat dari segi manapun juga.


"Ha-ha! Apa yang kau lakukan? Berdoa?" Ejek si panglima Siluman, dan beberapa para prajurit mulai menertawakan Liiu Yaoshan dengan keras.


"Ha-ha-ha! Aku pikir, dia akan mengeluarkan senjata yang menakutkan. Ternyata, hanya sebuah pagoda!" Salah satu prajurit Siluman Ular mengejek Liiu Yaoshan ketika mengeluarkan pagoda miliknya.


Mendapatkan ejekan seperti itu, tidak membuat hati Liiu Yaoshan berkecil hati, ataupun di landa kemarahan.


Justru Liiu Yaoshan malah bersikap tenang dengan menyunggingkan sebuah senyuman yang membuat semua para Siluman merasa heran, termasuk juga si Panglima Siluman yang saat ini mengerutkan dahinya tebal.


Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Kenapa dia masih bisa bersikap tenang? batin si Panglima.

__ADS_1


"Manusia! Cepat enyah dari hadapanku, kalau kau masih menyayangi nyawamu!" Gertak si Panglima.


Liiu Yaoshan tidak bergeming, dia tetap berdiri dengan tenang dengan sebuah senyuman yang masih tampak jelas di wajahnya yang tampan.


__ADS_2