
"Kakek! Apa yang kau lakukan?" Yihua terkejut karena Kakeknya bersujud di hadapan orang yang usianya jauh lebih muda darinya.
"Yihua, cepat berlutut!" perintah Shi Yuwen sambil menarik tangan cucunya.
"Tapi, Kakek!" Yihua ingin menolak, namun Shi Yuwen langsung menarik tangannya hingga dia luruh ke atas lantai.
"Cepat, berlutut!" perintah Shi Yuwen untu yang kedua kali.
Meskipun merasa penasaran, tak urung Yihua melakukan apa yang di perintahkan Kakeknya.
"Penguasa, hamba Shi Yuwen, memberikan hormat kepada anda!" kata Shi Yuwen dengan bibir bergetar.
Penguasa? Apa maksud ucapan, Kakek? Apa jangan-jangan? batin Yihua.
Yihua merasa terkejut dengan panggilan yang di sematkan sang Kakek kepada Liiu Yaoshan saat ini.
Penguasa! Itu yang Kakek ucapkan barusan.
"Bangunlah, Paman! jangan merendah seperti itu!" ucap Liiu Yaoshan dengan penuh kewibawaan.
"Tidak, Penguasa! Hamba tidak berani!" balas Shi Yuwen yang semakin membungkukkan badannya.
"Jika kau tidak menuruti ucapanku, maka, jangan berharap lagi untuk bangun!" tegas Liiu Yaoshan yang membuat Shi Yuwen ketakutan.
"Tidak-tidak, hamba akan menuruti semua perkataan anda!" ucap Shi Yuwen patuh.
Shi Yuwen 'pun lalu bangkit, di ikuti oleh Yihua yang masih dalam keadaan kebingungan.
"Baiklah, karena semua urusan di sini sudah selesai, maka aku harus segera pergi untuk melanjutkan perjalananmu, Paman!" ucap Liiu Yaoshan sambil menyatukan tangan di depan dada.
"Tentu saja, Penguasa! Anda boleh pergi, kapanpun yang anda inginkan!" balas Shi Yuwen dengan penuh penghormatan.
Ekspresi Yihua masih sama seperti sebelumnya, dia masih terlihat bingung dengan apa yang di lihatnya, dan di dengarnya sekarang.
Liiu Yaoshan mengangguk, lalu bangkit dan merapikan terlebih dahulu jubahnya yang nampak kusut karena terlalu lama duduk di sana.
Setelah selesai, barulah Liiu Yaoshan melangkahkan Kakinya keluar dari gubuk milik Shi Yuwen.
"Kakek, siapa sebenarnya pemuda itu? Mengapa kau memanggilnya dengan sebutan penguasa? Dan untuk apa kau memberikan 'kitab alam semesta' kepadanya?" Yihua langsung memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Shi Yuwen.
Sudah sejak tadi dia menahan diri, untuk tidak menanyakan hal itu di hadapan Liiu Yaoshan.
Barulah setelah orangnya pergi, Yihua memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada sang Kakek.
"Apa kau sudah lupa tentang cerita leluhur kita, Yihua?" Shi Yuwen malah balik bertanya kepada cucunya.
"Cerita leluhur?" Yihua mengerutkan alisnya ke atas.
__ADS_1
"Benar, cerita leluhur! Coba kau ingat-ingat sekarang, mungkin saja ada yang kau lupakan!" balas Shi Yuwen dengan tatapan penuh bangga menatap ke arah menghilangnya Liiu Yaoshan.
Yihua berusaha menguras otaknya agar bisa dengan cepat mengingat , semua cerita dari para leluhurnya terdahulu.
Setelah beberapa saat lamanya, barulah Yihua mulai bisa mengingat isi cerita dari para leluhurnya sewaktu dia masih kecil.
"Kakek! Aku ingat sekarang! Pemuda itu ...,"
"Ketua Shi Yuwen, gawat! Gawat!"
Seorang murid dari perguruan pedang besi, berlari ke arah Shi Yuwen dan Yihua.
"Shen-Shen, apa yang terjadi?" tanya Shi Yuwen dengan khawatir.
"Itu, Ketua! Orang-orang dari perguruan pedang sakti, mereka, mereka ...,"
"Mereka apa?" bentak Yihua merasa tidak sabar ingin mengetahui yang sebenarnya.
"Mereka menyerang perguruan kita, Nona!" ungkap Shen-Shen sambil menangis sesenggukan.
"Apa yang kau katakan? ucapkan sekali lagi!" teriak Yihua sambil menarik-narik tubuhnya Shen-Shen.
Shi Yuwen langsung bergegas melesat menuju ke arah tempat perguruannya berada.
Sedangkan Yihua, setelah melihat Kakeknya pergi, dia 'pun melepaskan cengkeramannya di baju Shen-Shen dan mulai berlari secepat yang dia bisa menyusul Kakeknya yang sudah terlebih dahulu pergi ke tempat perguruan mereka.
"Nona, tunggu aku!"
"Di mana Ketua kalian?"
"Kami tidak tahu, Tuan! Dia sudah pergi sejak kemarin, dan sampai sekarang, dia belum juga kembali ke tempat ini!"
"Pembohong!"
_PLAKK!_
Terdengar suara orang di tampar dengan sangat keras karena tak bisa memberitahukan keberadaan pemimpin mereka.
Shi Yuwen, yang kini sudah berada di tempat tersebut menjadi merasa geram karena murid-muridnya di siksa sedemikian rupa oleh orang-orang dari perguruan pedang sakti.
"Berhenti, kalian!" teriak Shi Yuwen yang tak lagi bisa mengontrol emosinya.
Apalagi saat Shi Yuwen melihat beberapa murid kesayangannya, kini sedang di aniaya oleh para murid dari perguruan pedang sakti yang ketuai oleh Wu Tian sendiri, dan juga para ketua yang lainnya.
"Akhirnya, sang pemimpin muncul juga!" Sindir Wu Tian sambil tertawa mengejek kepada Shi Yuwen.
"Lepaskan murid-muridku, Ketua Wu!" teriak Shi Yuwen sekali lagi sambil mendengus kasar ke arah Wu Tian.
__ADS_1
"Melepaskan mereka, katamu? ha-ha! Jangan mimpi kau, Shi Yuwen!"
"Kecuali kau mau menukar mereka dengan 'kitab alam semesta' baru aku akan melepaskan mereka!"
Wu Tian berbicara sambil salah satu kakinya menendang seorang murid yang tadi sempat dia siksa sebelum kedatangan Shi Yuwen.
Alhasil, murid malang itu langsung mati setelah tulang iganya patah akibat tendangan dari Wu Tian.
"Brengsek kau, Wu Tian! Sampai matipun, kau tidak akan mendapatkan 'kitab alam semesta'!"
Shi Yuwen berteriak dengan berang setelah menyaksikan salah satu muridnya mati dengan sangat mengenaskan.
"Kalau begitu, kau akan menyaksikan satu-persatu murid-muridmu mati di tanganku, Shi Yuwen!" ucap Wu Tian sambil mencengkeram satu orang lagi murid dari perguruan pedang besi.
"Lepaskan dia!" teriak Yihua yang baru saja sampai di tempat tersebut.
"Suruh Kakekmu menukar 'kitab alam semesta', dengan nyawa mereka." ucap Wu Tian tegas.
Yihua melirik ke arah Kakeknya, yang kini nampak emosi atas penganiayaan yang di lakukan Wu Tian kepada murid-muridnya.
"Kau terlambat, Tuan Wu! Kakekku, sudah tak menyimpan lagi 'kitab alam semesta'!" jawab Yihua dengan lantangnya.
"Jangan membual kau, wanita ******!" Wu Tian menunjuk sambil membentak Yihua keras.
"Aku mengatakan yang sejujurnya, Tuan Wu! Kitab pusaka itu, sudah di ambil alih oleh pemiliknya yang asli!" jawan Yihua dengan tenang.
"Kitab itu milikku, ******! Jadi cepat, berikan sekarang! kalau tidak?" Wu Tian berteriak penuh amarah sambil meletakkan pedang di leher murid Shi Yuwen yang lain.
_Shuttt!_
_Prakkk!_
"Agghhhh!"
Wu Tian berteriak kesakitan, saat sebuah kerikil di lemparkan dengan keras oleh seseorang, hingga menyebabkan pedang yang sedang di genggamnya terlempar jauh beberapa meter ke tanah.
"Siapa? Siapa yang melempar batu kerikil kepadaku? keluar! Jangan bersembunyi! Hadapi aku, kalau kau berani!" Wu Tian berteriak kencang sambil matanya menatap berkeliling ke setiap tempat.
_Shutttt!_
"Agghhh!"
Kini, anak buah yang di bawa Wu Tian yang berteriak kesakitan saat salah satu matanya tertembus oleh ujung kerikil yang tajam.
"Brengsek! Cepat keluar! hadapi aku!"
Wu Tian berteriak lagi saat menyaksikan darah yang mengucur keluar dari mata anak buahnya.
__ADS_1
Dia merasa geram dengan orang yang sudah berani menyerangnya secara diam-diam.
Jika memang jagoan, kenapa tidak muncul saja bertarung secara kstaria dengannya, pikir Wu Tian.