
...Hatimu bagaikan air yang mengalir dan warna putih yang suci....
.........
Kringgg!!!
Dan pada akhirnya, bel pertanda jam pulang telah berbunyi. Para siswa dan siswi yang tadinya sudah terlihat lesu, akhirnya kembali bersemangat. Terlebih-lebih lagi dengan siswa-siswi XI.IPA2. Karena saat ini mereka tengah belajar matematika, maka dari itu, terlihat jelas di wajah mereka ketidak mengertian di sana. Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku untuk Syafira, yang memang sudah pandai dalam bermatematika. Kebutaannya sama sekali tidak mengurangi bakatnya yang satu ini. Guru yang mengajar di kelas itupun awalnya sempat bingung, namun setelah melihat kemampuan Syafira, dia benar-benar merasa takjub atas kuasa Sang Pencipta kali ini.
"Baiklah, sampai di sini saja untuk pertemuan kita kali ini, terlebih dan terkurangnya Ibuk mohon maaf. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit guru itu dan setelah itu dia pun pergi meninggalkan kelas.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." Hanya beberapa orang yang menjawab salam dari guru itu. Karena di kelas ini bukan orang muslim semuanya, jadi wajar saja, jikalau mereka tidak menjawab salam dari guru itu.
Suasana seperti jam istirahat tadi pun kembali terjadi. Bukannya pulang, mereka malah berkerumun ke kelas XI.IPA2, sampai pada halaman depan kelas pun dipenuhi oleh mereka semua.
"Yayang Reval! Bebeb Quela datang!" seru seorang siswi yang menjadi ketua dari kerumunan kali ini. Ya, namanya adalah Quela. Seorang siswi yang terkenal dengan most wanted di SMA ini. Namun, siswi ini sangat berbahaya, jika sudah berurusan atau bermasalah sedikit saja dengannya.
Reval yang mendengar hal itupun hanya diam dan tetap duduk di kursinya sambil memasang wajah dinginnya. Berbeda dengan Kayla dan Syafira yang sudah siap berkemas dan ingin segera untuk pulang.
"Udah selesaikan, Fir?" tanya Kayla dan Syafira pun mengangguk. Setelah itu, mereka berdua mulai melangkah meninggalkan bangku mereka. Kayla pun menuntun Syafira untuk berjalan di keramaian ini. Sampai pada akhirnya, Kayla merasa terkejut, sehingga membuat dia reflek terhenti. Begitu juga dengan Syafira yang merasa terkejut dengan Kayla yang tiba-tiba saja berhenti.
"Astaghfirullah, masalah besar apalagi, ini?" batin Kayla dan Syafira yang mendengar hal itupun merasa bingung. "Ada apa, Kay?" tanyanya penasaran.
"A-ada Quela di depan kita, Fir." jawab Kayla dengan sangat lirihnya. Syafira yang mendengar nama itupun langsung merasa terkejut. Karena pasalnya, dulu Syafira sering berurusan dengan Quela yang tak henti-hentinya menghina pakaian Syafira.
"Eh, ada Buk Ustadzah." ujar Quela dengan senyuman meremehkannya. Syafira yang mendengar sebutan itupun hanya bisa tersenyum tipis.
"Wah, sekarang lo udah pakai tongkat rupanya, udah kaya nenek-nenek aja lo, hahahaha ...." ejek Quela lagi, namun kali ini mendapatkan gelak tawa dari semua orang, kecuali Syafira dan Kayla tentunya. Eh, tidak-tidak, rupanya sedari tadi Reval juga melihat kejadian itu dan bahkan dia sudah mendengar semua yang mereka katakan. Reval hanya menatap dingin pada kejadian itu. Dia belum ingin ikut campur, karena dia masih ingin melihat seberapa tangguh gadis yang akan dia lindungi itu.
__ADS_1
"Afwan Ukhty, sepertinya saya harus segera pulang." ujar Syafira membuka suaranya. Dan seperti yang kalian ketahui, bahwa arah pandang Syafira sama sekali tidak mengarah ke arah Quela.
"Ukhty-ukhty, woi nama gue itu Quela, bukan Ukhty!" bentak Quela begitu saja. Lagi-lagi Syafira pun tersenyum, berbeda dengan Kayla yang sudah mulai merasa was-was.
"Ukhty itu bukan nama Quela, itu adalah sebutan untuk seorang saudari kita." jelas Syafira yang masih terlihat tenang.
"Ha? Saudari lo bilang? Ihhh ... nggak sudi banget dah gue, punya saudari kok buta kaya lo. Dan lagian, lo itu nggak pantas jadi saudari gue, secara ya, gue inikan cantik, trus terkenal lagi di penjuru sekolah ini. Nggak sama kaya lo yang sok kecantikan, buta, sok-sok tertutup lagi." caci Quela begitu saja. Dan kalian tahu apa respon dari Syafira? Ya, tentu saja dia kembali tersenyum, meski air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya itu.
"Afwan Ukhty, saya harus pulang sekarang." ujarnya dan setelah itu, dia pun mulai memukul-mukulkan tongkatnya ke lantai dan ingin berjalan menyusuri kerumunan itu. Namun, baru dua langkah Syafira akan melangkah, Quela malah menarik kain yang merupakan bagian paling penting dalam harga dirinya, yaitu khimarnya.
"Quela!" teriak Reval yang langsung menghampiri mereka semua. Terlihat jelas dari mata Reval, bahwa dia sangat marah dengan kejadian ini. Begitu juga dengan Kayla yang sudah berusaha melepaskan tangan Quela yang terus saja menarik pakaian kebanggaan Syafira saat ini.
"Lepaskan dia!" perintah Reval yang benar-benar terdengar dingin. Mendengar perintah dari Reval, Quela pun melepaskan tarikannya, namun berujung dengan mendorong Syafira dan berakhir dengan Syafira yang terhempas. Kayla yang melihat hal itupun langsung berteriak histeris dan menghampiri Syafira yang sudah terlihat sedikit kusut, karena ulah dari Quela.
"Apa-apaan lo ini, ha?" bentak Reval begitu saja.
"Tidak apa-apa, ini juga sudah biasa, kok." jawab Quela dengan santainya, dan bahkan dia menjawab sambil memainkan kuku jari tangannya.
"Mana ada, dia orang baik-baik aja, kok." jawab Quela lagi.
Reval benar-benar kesal sekarang, dia kesal karena harus mengalami ini semua hari ini. "Astaghfirullah, lo itu benar-benar nggak punya hati. Lebih baik, sekarang lo pergi dari kelas ini dan jangan pernah tunjukin wajah lo di depan gue lagi!" usir Reval. Bukannya pergi, Quela malah menampilkan cengiran kudanya kepada Reval.
"Lo tuli, ya? Gue bilang pergi!" usirnya sekali lagi.
"Sama Yayang Reval, kan? Yaudah, ayuk!" ujarnya tanpa dosa.
Reval yang mendengar perkataan gadis itupun langsung berdecih sebal. "Cih, ogah bener gue pergi bareng lo, wanita j*l*ng." timpal Reval.
__ADS_1
"What?? Lo bilangin gue j*l*ng? Apa gue nggak salah dengar, nih?" tanya Quela yang sangat terkejut.
"Gue rasa lo nggak tuli." timpal Reval dengan sangat santainya.
"Ihhh ... kok Yayang Reval tega, sih?" tanyanya tak terima.
"Gue bakalan tega kalau lo juga tega, ingat itu! Dan sekarang lebih baik lo pergi, sebelum gue laporkan lo ke guru BK." ancam Reval yang malah semakin membuat Quela kesal. Dan akhirnya, Quela pun pergi dari sana, meninggalkan semua orang yang ada di sana.
"Dan kalian semua ngapain masih di sini? Pergi!" usir Reval lagi kepada semua siswi itu sambil menatap mereka semua dengan tajam. Dan karena ketakutan, akhirnya mereka semua pun berbondong-bondong meninggalkan kelas XI.IPA2.
Reval pun menghampiri Syafira dan Kayla yang sudah berdiri di pojok kelas. Ya, untung saja hempasan dari Quela tadi, tidak terlalu menyakitkan bagi Syafira dan dia juga bisa berdiri seperti biasanya sekarang, walaupun agak terasa sakit.
Syafira pun tersenyum, ntah apa makna di balik senyuman itu, yang jelas senyuman itu mampu membuat amarah Reval menjadi mereda. "Kenapa anta bisa berada di sini?" tanya Syafira spontan.
Reval yang baru saja sampai di hadapan kedua gadis itupun langsung terkejut, begitu juga dengan Kayla yang ada di samping Syafira. "Lo masih ingat dengan gue?" Bukannya menjawab, Reval pun malah bertanya balik kepada gadis itu.
Syafira hanya tersenyum mendengar pertanyaan Reval, sebagai jawaban darinya. Berbeda dengan Kayla, yang benar-benar terlihat bingung. "Kalian udah saling kenal ya, sebelumnya?" tanya Kayla yang benar-benar sudah penasaran. Tak ada satupun jawaban yang di dapatkan oleh Kayla, selain keterdiaman mereka berdua.
"Ara!" panggil Hafidz yang tiba-tiba saja datang dari ambang pintu. Mereka bertiga yang ada di dalam kelas itupun sempat terkejut, karena kehadiran Hafidz yang tiba-tiba saja.
"A-abang?" lirih Syafira yang langsung mendapatkan pelukan dari Sang Kakak.
"Kamu tidak apa-apakan, Dek? Abang dengar tadi ada yang membully kamu, apa itu benar?" tanya Hafidz yang begitu khawatir sekali dengan Sang Adik.
"I-" Kayla pun ingin menjawab pertanyaan Hafidz, namun langsung dipotong oleh perkataannya Syafira. "Aaa ... iya Bang, Syafira baik-baik aja, kok. Mungkin, Abang salah dengar tadi, Syafira nggak dibully, kok." alibi Syafira yang malah mendapatkan pelototan dari Kayla.
"Alhamdulillah, syukur kalau Ara baik-baik aja, Abang sempat khawatir tadi." jelas Hafidz yang mendapatkan senyuman merekah dari Sang Adik.
__ADS_1
Hafidz pun tidak menyadari kehadiran Reval di belakangnya sedari tadi, karena sewaktu tiba di dekat adiknya, Hafidz hanya langsung memeluk adiknya, karena saking khawatirnya. Dan setelah membalikan badannya, barulah Hafidz mendapati Reval yang tengah berdiri di belakangnya. Reval pun tersenyum ke arah Hafidz, namun Hafidz malah terkejut dengan kehadiran Reval di belakangnya.
"Kamu?"