
...Kasihanilah air matamu itu! Sayangkan, jika dia terbuang-buang begitu saja?...
...…...
Malam pun telah berganti dengan pagi. Syafira hanya sendirian di ruangan ini, karena hari ini adalah hari pemakaman jasad orang tuanya. Awalnya, Syafira bersikeras untuk ikut mengantarkan orang tuanya ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Namun, Hafidz melarang keras Syafira untuk ikut, karena mengingat kondisi Syafira yang belum sembuh total. Sehingga, sekarang dia hanya sendirian di ruangan ini, dengan bertemankan suasana yang begitu sunyi tanpa ada sedikitpun suara.
Untuk sekarang, Syafira memang belum bisa untuk bangun, karena badannya masih terasa sakit-sakit akibat kecelakaan itu. Maka dari itu, Syafira hanya tidur dengan kepala brankar yang lebih tinggi, sehingga Syafira bisa dikatakan duduk untuk saat ini.
Tatapannya hanya sendu dan tak tahu arah. Tak lepas dari itu saja, air mata yang sudah mengalir di pipinya juga tidak henti-hentinya keluar sedari tadi. Bayangan-bayangan di mana dia dan kedua orang tuanya tengah berbahagia pada saat sebelum kecelakaan itu, ntah mengapa terus saja berputar tanpa henti di dalam pikirannya.
"Ummy, Abi, bolehkah Ara ikut bersama kalian?" ujarnya lirih dengan posisi yang masih sama.
"Tidak."
...
Sesuai permintaan dari Reval tadi malam, dengan berat hatinya Riska mengantarkan Reval ke ruang rawatnya Syafira. Sedangkan, Alex dan Reno tadi mereka berdua ikut bersama Hafidz ke pemakaman Putri dan Reza.
Dan sekarang di sinilah mereka, di depan ruangan rawatnya Syafira. Namun, di saat mereka akan menghampiri pintu ruangan itu, tiba-tiba saja ponselnya Riska berdering, pertanda ada yang meneleponnya. Langsung saja Riska meraih ponselnya yang tengah berada di dalam tasnya itu dan memeriksa siapa yang meneleponnya.
"Siapa, Bun?" tanya Reval dengan heran.
"Teman Bunda," jawab Riska, setelah dia melihat, bahwa nama temannyalah yang terpampang di layar ponselnya itu.
__ADS_1
"Oh yaudah, Bunda angkat saja dulu, biar Reval duluan masuk." putus Reval.
"Tapi, Nak. Bunda takut nanti kamu kenapa-kenapa." khawatir Sang Bunda kepada putranya.
"Bunda nggak usah khawatir, Reval akan baik-baik aja, kok." ujar Reval meyakinkan, namun masih tetap membuat Sang Bunda khawatir.
"Tapi, Nak ...."
"Udah Bun, gak pa-pa, kok." ujar Reval kembali meyakinkan Sang Bunda.
"Yasudah, kalau gitu, biar Bunda angkat dulu teleponnya." putus Riska dan setelah itu meninggalkan Sang Putra yang juga langsung menuju pintu ruangan rawat Syafira. Namun, baru saja Reval ingin membuka gagang pintu itu, samar-samar dia mendengar lirihan dari seseorang di balik pintu itu. Inilah keunikan dari sosok Reval. Sejak kecil, Reval sudah dianugrahi oleh Sang Pencipta sebuah kelebihan yang mungkin hanya sebagian orang memilikinya, yaitu Reval bisa mendengar suara yang memiliki frekuensi bunyi di bawah batas normal frekuensi pendengaran manusia pada umumnya.
Dengan sigapnya Reval pun membuka pintu ruangan rawat Syafira, lalu dia pun berkata, "Tidak."
Reval yang melihat Syafira seperti ini, awalnya sempat bingung. Namun, selang beberapa detik, akhirnya kebingungannya pun menghilang. Reval bisa melihat apa yang terjadi pada Syafira saat ini, melalui gerakan yang dilakukan oleh Syafira sendiri.
"Dunia mungkin begitu kejam, tapi itulah faktanya dan tidak bisa dirubah." ujar Reval sambil berjalan menuju kursi di samping brankar Syafira. Syafira hanya bisa diam, ketika mendengar Reval yang kembali berbicara.
"Maafkan ayah gue, karena sudah menyebabkan kecelakaan itu." lanjut Reval, yang kini lebih memilih untuk menatap lantai. Mendengar kalimat itu, dengan begitu tenangnya air mata Syafira kembali mengalir begitu saja.
"Jangan menangis, kasihani air mata lo itu, sudah berapa tetes dia terbuang begitu saja?" Dengan nada yang tetap datar, Reval pun masih tetap memilih untuk menatap lantai. Berbeda dengan Syafira yang tatapannya tidak pernah tentu arah.
"Hiksss ... semuanya sudah berakhir ... hiksss ... saya tidak yakin untuk bisa bertahan di dunia ini ... hikss ...." lirih Syafira begitu saja, dengan air mata yang semakin tidak bisa untuk di tahan lagi. Reval yang mendengar hal itupun awalnya sempat bingung untuk menjawab, namun untuk beberapa detik kemudian, dia pun membuka suaranya kembali. "Belum ada yang berakhir dan semuanya baru saja di mulai." ujar Reval yang masih sama datarnya dengan yang tadi.
__ADS_1
Sontak Syafira pun terkejut mendengar hal itu. "Apa maksud anta?" tanya Syafira dengan datarnya. "Kita lihat saja nanti." jawab Reval dengan santainya, berbeda dengan Syafira yang malah semakin bertambah bingung. Namun, tidak lama kemudian Riska pun masuk ke dalam ruangan Syafira.
"Assalamu'alaikum ...." ujarnya memasuki ruangan Syafira.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." jawab Syafira dengan begitu lirihnya, sedangkan Reval hanya menjawab salam di dalam hatinya, dan Syafira juga bisa mendengarnya. Syafira benar-benar merasa bingung dengan dirinya ini, karena kenapa sekarang dia bisa mendengar suara hati orang lain, sedangkan sebelumnya tidak? Dan tentu saja, hal itu membuat dia merasa tidak mungkin.
"Si-siapa?" tanya Syafira dengan sedikit ketakutan. Ya, wajar Syafira takut, secarakan sekarang dia sudah buta, bisa saja ada orang jahat yang akan melukainya, bukan?
Riska yang mendengar hal itupun sempat tersenyum untuk sementara, sebelum dia menjawab pertanyaan Syafira. "Kamu tidak perlu khawatir, Nak. Saya adalah istri dari orang yang sudah menabrak keluarga kamu." ujar Riska dengan begitu ibanya.
Syafira yang kembali mendengar hal itupun, lagi-lagi membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Riska yang melihat air mata itupun menjadi langsung kebingungan, berbeda halnya dengan Reval yang malah bersandar di kursi dan menatap Syafira dengan begitu datar, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maafkan Tante, Nak. Seandainya, malam itu kami lebih hati-hati, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi." sesal Riska begitu saja.
"Hiksss ... hiksss ...." hanya suara tangisan yang menggema di ruangan ini. Dengan cepat, Riska langsung memeluk Syafira dengan begitu hangatnya. "Tante janji, Tante akan memenuhi semua kebutuhan kalian, asalkan kami mendapatkan maaf dari kalian." ujar Riska di saat memeluk Syafira.
"Hiksss ... sebelumnya terima kasih Tante, tapi saya tidak membutuhkan bantuan itu, Syafira hanya membutuhkan sosok ummy ... hiksss ...." isak Syafira ketika pelukannya sudah terlepas.
"Sampai kapan lo akan bersikap egois seperti ini?" Bukan Riska yang bertanya, namun Reval lah. Sehingga, membuat Riska menatap tajam ke arahnya. "Reval!" peringat Riska, tetapi Reval sama sekali tidak mempedulikannya.
"Sudah gue bilang, berhenti menangis dan yakin saja, bahwa semuanya akan baik-baik saja." ujar Reval dengan begitu dinginnya, lalu setelah itu dia pun langsung keluar dari ruangan Syafira dan menuju kamar rawatnya sendiri. "Apa susahnya coba, berhenti menangis, dasar cengeng." batin Reval ketika akan meninggalkan ruangan Syafira dan ya, hal itupun juga bisa di dengar oleh Syafira dengan begitu jelasnya.
"Reval! Astaghfirullah ...." frustasinya Riska yang malah tidak ditanggapi oleh Sang Empu. Riska hanya bisa pasrah dengan sikap anaknya yang satu ini.
__ADS_1
"Nak, Tante minta maaf atas kelancangan Reval tadi, ya." ujar Riska dengan begitu sesalnya. Syafira yang mendengar suara dengan penuh penyesalan itupun langsung merasa kasihan dan Syafira hanya bisa tersenyum sambil berkata, "Tante kejar dia saja, mungkin dia sedang butuh Tante sekarang." Riska yang mendengar itupun langsung saja berlari meninggalkan ruangan rawat Syafira, walaupun bukan berlari seperti pada umumnya. Dan ya, Riska pun langsung menghampiri Sang Putra yang sudah berada di dalam kamarnya.