
...Semoga inilah keputusan yang terbaik untukku dan untukmu juga....
...__________...
...~Syafira Putri Syafi'i~...
.........
Hari-hari pun berlalu, namun kondisi Reval sampai sekarang belum juga membaik. Bahkan, ini sudah dua minggu sejak kejadian itu terjadi. Berbeda dengan Syafira, yang kini sudah bisa bergerak, walaupun belum boleh terlalu banyak gerak, sih.
Kini, Syafira tengah sendirian di atas brankarnya, sebab hari ini hasil ujian Syafira keluar, maka dari itu Sang Kakak pergi ke sekolahnya menjemput hasil ujiannya tersebut.
Ntah, apa yang dipikirkan oleh gadis ini, karena pandangannya yang sama sekali tidak bisa melihat, hanya mengarah lurus ke depan. Perlahan-lahan air mata gadis itupun keluar begitu saja, tanpa aba-aba.
"Ummy, Abi, kapan Ara bisa berjumpa dengan kalian? Ara rindu sama Ummy dan Abi." lirih gadis itu dengan sangat pelannya.
Sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan seseorang, yaitu Sang Kakak yang terlihat begitu bahagianya hari ini. Namun, ketika melihat Sang Adik yang tengah menangis seperti ini, membuat Hafidz ikut menatap Syafira dengan sendu.
"Assalamu'alaikum, Dek." ujar Hafidz melanjutkan langkahnya yang terhenti. Syafira yang mendengar salam dari Sang Kakak pun langsung menegakkan kepalanya yang awalnya tengah bersandar dengan kepala brankar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Abang sudah pulang?" tanya gadis itu dengan begitu lirihnya, sambil mengusap kasar air matanya.
"Iya, eh Adek kok malah nangis?" tanya balik Hafidz. Hafidz pun meletakkan sebuah kertas yang dia bawa tadi di tangannya ke atas nakas, samping brankar Syafira duduk. Lalu, Hafidz pun duduk di kursi yang tersedia di samping brakar Syafira tersebut.
"Ara rindu ummy dan abi, Bang." jelas Syafira menunduk lesu. Mendengar pernyataan dari Sang Adik, seketika membuat Hafidz langsung membelai kepala Sang Adik yang tertutup oleh hijabnya. Dengan menatap sendu Sang Adik, Hafidz terus saja membelai kepala Sang Adik dengan lembut, sampai pada akhirnya dia pun membuka suaranya.
"Jujur Dek, sebenarnya Abang juga rindu ummy dan abi. Namun, apalah daya, kita hanya bisa mendoakan mereka saja dari sini. Semoga ummy dan abi baik-baik saja di sana." ungkap Hafidz.
"Aamiin Bang, Insya Allah Adek pasti akan selalu mendoakan ummy dan abi dari sini." timpal Syafira dengan memaksakan senyumannya.
"Iya Dek,"
Dan setelah itu, keheningan pun menyelimuti mereka berdua, sampai pada akhirnya, Hafidz pun kembali membuka suaranya.
"Dek," panggilnya.
"Iya Bang, kenapa?" tanya Syafira yang terlihat begitu bingung.
"Adek tahu tidak,"
"Nggak Bang," jawab Syafira cepat.
"Abang belum selesai bicara, Dek." gerutu Hafidz dengan kesalnya.
"Hehehe ... iya Bang, kenapa?" Syafira pun hanya bisa cengiran saja akan kelakuannya tadi.
__ADS_1
"Ihhh ... kamu mah, kebiasaan."
"Iya Bang, namanya juga Syafira." jawab Syafira asalan.
"Huhhh ... serah kamu deh, Dek." timpal Hafidz sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, namun diakhiri oleh kekehan dariĀ kedua kakak beradik itu.
"Hahaha ... yaudah, Abang mau bilang apa?" tanya Syafira mulai serius.
"Abang punya kabar gembira buat Adek," jelas Hafidz yang terlihat begitu bahagianya.
"Wah ... benaran, Bang?" tanya Syafira tidak percaya.
"Iya, Dek. Tadi, Abang dapat telepon dari pihak rumah sakit yang ada di Bandung, dia bilang kalau Adek udah mendapatkan donor mata." jelas Hafidz begitu senangnya.
"Alhamdulillah ... Abang benarankan?" tanya Syafira begitu senangnya.
"Iya Dek, dan Insya Allah, besok kita akan berangkat ke sana." jelas Hafidz begitu antusiasnya, namun berbeda dengan Syafira. Bukannya Syafira tidak senang dengan kabar gembira ini, namun Syafira hanya merasa tidak rela jika harus meninggalkan Reval yang tengah kritis di rumah sakit ini.
"Be-besok, Bang?" tanya Syafira gugup.
"Iya, Dek."
"Apa waktu operasinya tidak bisa diundur dulu, Bang?" tanya Syafira lagi.
"A-ara mau nunggu Reval sampai siuman, Bang. Karena Ara mau minta maaf dan ngucapin makasih sama dia." jelas Syafira sambil menunduk lesu.
"Dek, Abang tahu bagaimana perasaanmu sekarang, tapi ini demi kebaikanmu Dek, dan jika kita tidak berangkat besok, maka peluang untuk mendapatkan donor mata buat kamu juga akan semakin sulit, Dek." jelas Hafidz yang semakin membuat Syafira bimbang.
Syafira bingung, apakah dia harus memilih untuk menunggu Reval sampai sadar, atau harus pergi demi mengembalikan penglihatannya.
"Yaa Allah, beri hambamu ini petunjuk-Mu Yaa Allah ...." lirih Syafira di dalam hatinya sambil mulai sedikit terisak.
"Gimana, Dek?" tanya Hafidz meminta kepastian dari Sang Adik.
Syafira pun mencoba untuk meyakinkan keputusannya kali ini. Dengan menarik nafasnya dalam-dalam, Syafira pun akhirnya menjawab pertanyaan Sang Kakak dengan begitu yakinnya. "Insya Allah, demi kesembuhan penglihatan Ara, Ara akan pergi besok, Bang."
"Alhamdulillah, yasudah Dek, kalau gitu Abang urus semuanya dulu, ya." Hafidz pun mulai bangkit dari duduknya dan mengusap kepala Sang Adik dengan lembut, sebelum akhirnya Syafira menganggukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum, Dek." pamit Hafidz, lalu meninggalkan Syafira seorang diri di kamar rawatnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...."
Setelah itu, keheningan pun kembali menghantui ruangan itu, dan sampai pada akhirnya Kayla pun memasuki ruangan Syafira.
"Assalamu'alaikum, Fir." sapanya di saat memasuki kamar rawat Syafira.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, eh Kay, kok kamu ke sini lagi? Kemarin 'kan udah," tanya Syafira begitu saja.
"Yah, masa aku nggak bakalan ketemu kamu dulu, sebelum kamu akan pergi ke Bandung?" ujar Kayla sambil mendudukan dirinya di kursi samping brankar Syafira.
"Loh, kok kamu bisa tahu?" tanya Syafira dengan bingungnya.
"Hehehe, tadi abang kamu beritahu aku, saat masih di sekolah, jadi tadi sehabis nerima lapor, aku langsung pulang ke rumah dan langsung ke sini, deh." jelas Kayla sambil cengiran.
"Ooohhh ... gitu,"
"Oh iya Fir, jika kamu akan pergi besok, berarti kamu nggak akan nunggu Reval sampai sadar, dong?" tanya Kayla. Dan ya, pertanyaan Kayla ini berhasil membuat Syafira menunduk lesu.
"Eh, aku salah bicara, ya? Hmmm ... maafin aku Fir, aku nggak ada maksud bu-"
"Udah, nggak apa-apa kok, Kay. Mungkin, ini memang sudah jalan-Nya, jadi aku harus bisa nerimanya." potong Syafira, yang langsung menyadari rasa bersalah pada diri Kayla.
"Hmmm ... kamu yang sabar ya, Fir." bujuk Kayla mencoba menguatkan Sang Sahabat.
"Iya Kay, makasih ya." timpal Syafira yang benar-benar merasa senang mendapatkan sosok sahabat seperti Kayla.
"Iya," Setelah itu, keheningan pun mulai datang menyelimuti mereka berdua, sampai pada akhirnya Syafira pun kembali membuka suaranya.
"Kay, aku boleh titip sesuatu buat Reval nanti tidak, di saat dia sudah sadar?" tanya Syafira begitu hati-hatinya.
"Iya, boleh. Memang kamu mau titip apa?" tanya Kayla sambil menatap Syafira dengan bingung.
"Aku mau titip surat buat Reval," jelas Syafira.
"Hmmm ... yaudah mana?" setuju Kayla.
"Yah, bukan sekarang Kay, aku buat dululah suratnya." ujar Syafira merasa sedikit jengkel dengan sahabatnya ini.
"Hehehe ... iya-iya deh," ngalah Kayla.
"Yaudah, aku minta kertas sama tinta pulpennya, dong." cengir Syafira yang langsung mendapatkan ekspresi datar dari Sang Sahabat.
"Iihhh ... kamu mah, kebiasaan mulu." gerutu Kayla yang merasa sedikit kesal, namun tetap saja dia membuka tasnya dan meronggoh buku kecil dan pulpen yang selalu setia dia bawa di dalam tasnya itu.
Perlu kalian ketahui, bahwa Kayla adalah seorang gadis pecinta diary. Jadi, setiap apa yang benar-benar berkesan di setiap kesehariannya, pasti akan selalu dia tuangkan ke dalam buku diarynya tersebut.
"Yaudah ini," ujar Kayla sambil menyodorkan robekan kertas dari buku diarynya tersebut dan sebuah pena ke arah Syafira.
"Makasih Kayla," timpal Syafira sangat senangnya.
"Iya, yaudah cepatan tulis." suruh Kayla dan langsung dituruti oleh Syafira, Syafira pun mulai menulis di atas kertas itu, meskipun dia tidak bisa melihat, namun dengan rabaan yang sangat kuat, Syafira mampu menulis dengan sangat rapi. Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
__ADS_1