
...Salahkah aku, jika rindu itu selalu kumiliki untukmu?...
...______...
...~Syafira Putri Syafi'i~...
.........
Kini, Reval dan Sang Bunda pun tengah berada di ruang makan, dengan Reval yang tengah menikmati makanannya. Sedangkan, Riska hanya menemani Reval di sini, sambil memandangi wajah Sang Putra yang sudah satu tahun ini tidak pernah dia lihat.
"Ihh ... Bunda, jangan liatin Reval terus." ujar Reval di sela-sela makannya.
"Ha? Siapa juga yang ngeliatin kamu, jelas-jelas Bunda lagi liatin makanannya kamu." alibi Riska.
"Oh ... Bunda juga mau makan? Yaudah, ini biar Reval suapin, aaak ...." ujar Reval sambil menyodorkan sesendok nasi kepada Sang Bunda dengan lauknya Soto Ayam. (Masih ingatkan, makanan favoritnya Reval, apa?) Riska pun menerima suapan itu dan mengunyahnya secara perlahan-lahan.
"Oh iya, Val." ujar Riska yang tiba-tiba teringat akan sesuatu hal.
"Iya, ada apa, Bun?" tanya Reval, sambil melirik Bundanya sekilas.
"Habis ini kamu bisa anterin Bunda, 'kan?" tanya balik Riska.
"Ke mana, Bun?"
"Panti asuhan," jawab Riska yang langsung membuat Reval menghentikan kunyahannya.
"Mau ngapain, Bun?" bingung Reval.
"Biasanya, Bunda dan Syafira itu suka pergi ke panti asuhan, buat berbagi dan bermain dengan anak-anak panti. Tapi, karena hari ini adalah hari pertama kuliahnya Syafira, jadi Bunda nggak ada minta jemput Syafira." jelas Riska yang langsung membuat Reval mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ouh gitu ... yaudah, habis ini kita langsung pergi ya, Bun." setuju Reval. Namun, ntah mengapa kali ini Reval benar-benar ingin cepat-cepat pergi ke panti. Tidak ada alasan yang bisa mendukung keinginannya ini, sehingga membuat pemuda ini juga merasa bingung sendiri.
"Yaudah, kalau gitu Bunda siap-siap dulu ya, bye-bye!" ujar Sang Bunda yang langsung berlalu dari sana, meninggalkan Reval seorang diri. Reval pun hanya bisa tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya di saat melihat tingkah Sang Bunda yang seperti ini.
...
Setelah satu jam berada di kelasnya, akhirnya jam kuliah Syafira pun berakhir. Dosen yang masuk di kelasnya tadi juga sudah keluar dari kelas ini, bersama dengan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Akan tetapi, berbeda dengan Syafira yang masih berada di dalam kelasnya.
Di sini, Syafira hanya sendirian bersamaan dengan pikiran yang melayang ntah ke mana-mana. Sampai pada setitik air mata pun jatuh dari pelupuk matanya, mengenai khimarnya yang tengah menutupi kedua tangannya yang berada di atas meja.
"Kapan rindu ini akan berakhir, Yaa Allah? Sudah satu tahun, namun dia tak kunjung datang menemuiku. Apakah memang aku tidak pernah ditakdirkan bersamanya?" ujar Syafira dengan lirihnya.
Ya, kini Syafira hanya memikirkan Reval yang selama ini sangat ingin sekali dia temui. Mungkin, Syafira sudah pernah melihat wajah Reval. Namun, dia hanya pernah melihat lewat album foto yang pernah ditunjukkan oleh Riska kepadanya. Dan tentu, rasa penasaran akan sosok paras Reval masih dia miliki sampai sekarang. Apalagi, dengan sebuah rasa yang tak pernah diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya dengan Allah.
Syafira sendiri tidak pernah tahu, apakah Reval masih mengingatnya, atau malah melupakannya. Namun, untuk kali ini Syafira akan pasrahkan saja semuanya pada Allah, biar Allah yang mengatur semuanya nanti.
"Fira," panggil Kayla yang sudah berada diambang pintu kelas Syafira. Ya, untuk kali ini Kayla dan Syafira memang tidak bisa sekelas. Karena perbedaan jurusan yang mereka ambil. Mangkanya, Syafira dan Kayla tidak ada bersama sebelumnya.
"Eh," Dengan sigapnya Syafira pun menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya itu. Sebelum Kayla yang tengah menghampirinya ini tahu, kalau Syafira sedang menangis.
"Udah beres, Fir?" tanya Kayla, dan Syafira menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Udah. Yuk, pulang sekarang aja!" ajak Syafira.
"Yaudah, yuk!" setuju Kayla. Dan langsung saja Syafira berdiri dari duduknya dan menyandang tas ransel yang hanya dia sampirkan di pundak sebelah kanannya.
"Assalamu'alaikum ... maaf, gue agak telat." ujar seorang pemuda yang seketika langsung membuat Syafira terkejut. Namun, tidak dengan Kayla yang malah tersenyum dengan kehadiran pemuda itu. Ya, dialah Rangga. Pemuda yang tadi bertemu dengan Syafira saat sebelum masuk kelas bersama dengan Kayla.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." lirih Syafira dan Kayla menjawab salam dari Rangga.
"Loh, kok anta ke sini?" tanya Syafira dengan nada dinginnya seperti biasa.
__ADS_1
"Hehehe ... iya, gue mau ngajak kalian pulang bareng, bolehkan?" jelas Rangga. Namun, langsung mendapatkan gelengan dari Syafira. "Afwan, ana nggak bisa." ujar Syafira yang masih saja dengan dinginnya.
"Eh, tapi kenapa, Fir?" bukan Rangga yang bertanya, namun Kayla lah. Syafira pun menggelangkan kepalanya sambil tersenyum tipis ke arah Kayla. "Nggak Kay, 'kan kamu udah tahu, kalau hari ini aku biasanya pergi ke panti asuhan." ujar Syafira dengan lembutnya.
"Oh iya, aku lupa." timpal Kayla sambil menepuk dahinya.
"Yaudah, kalau gitu biar gue anterin aja, gimana?" tawar Rangga lagi. Dan lagi-lagi Syafira pun menggelengkan kepalanya. "Syukron, karena sudah memberikan ana tawaran, tapi maaf, ana nggak mau merepotkan anta. Assalamu'alaikum ...." ujar Syafira yang setelah itu langsung pergi dari sana, meninggalkan Kayla dan Rangga yang tengah menatap Syafira dengan bingung.
"Wa'alaikumussalam ... dia kenapa, Kay?" tanya Rangga bingung. Jujur, jika ditanya seperti ini, Kayla benar-benar bingung untuk menjawabnya, karena bukan karena apa-apa, tapi Kayla sendiri tidak pernah mengerti kenapa Syafira menjadi berubah begitu saja, semenjak kejadian di kantin waktu itu.
"Hmmm ... udahlah Ga, lebih baik kita pulang sekarang aja." ajak Kayla, yang langsung mengalihkan perhatian Rangga yang benar-benar merasa penasaran dengan Syafira.
"Okelah, yaudah, yuk!" Dan akhirnya, mereka berdua pun langsung pergi dari kelas itu menuju parkiran.
...
Dengan air mata yang tak kuasa lagi untuk dibendung, Syafira pun terus saja berlari menuruni anak tangga dan melewati orang-orang yang tengah menatapnya dengan bingung. Namun, Syafira sama sekali tidak menghiraukan mereka semua. Melainkan, dia terus saja berlari dan sampai pada akhirnya, dia pun memberhentikan taxi yang tengah berlalu di depan kampus itu. Dengan sigapnya, Syafira pun langsung memasuki taxi itu di saat taxinya telah berhenti.
Bahkan, di dalam taxi ini Syafira masih saja menangis. Sampai pada akhirnya, Sang Sopir pun bertanya kepadanya. "Adek mau ke mana?" tanya sopir taxi itu. Syafira pun menatap sopir itu sekilas, lalu barulah dia menjawab pertanyaan sopir itu. "Panti Asuhan Kasih Bunda, Pak." Dan sopir itupun hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
...
"Bunda, Reval tunggu di sini aja, ya." ujar Reval. Ya, sekarang mereka sudah sampai di Panti Asuhan yang dikatakan oleh Riska tadi.
"Kamu yakin? Soalnya Bunda pasti bakalan lama di dalam." ujar Riska memastikan. "Iya, Bun. Nggak pa-pa, kok." timpal Reval meyakinkan Sang Bunda.
"Yaudah, kalau gitu Bunda masuk dulu ya, Assalamu'alaikum ...." pamit Riska yang setelah itu langsung keluar dari mobil Sang Putra.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." jawab Reval yang masih setia berada di dalam mobilnya ini. Reval pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan membuka aplikasi WhatsAppnya.
Pink!
Baru saja membuka aplikasi WhatsAppnya, tapi Reval sudah mendapatkan notifikasi pesan dari sahabatnya di asrama dulu.
Rangga
^^^Apaan, sih?^^^
Lo tahu nggak? Tadi, gue ketemu cewek cantik banget😰
^^^Trus?^^^
Tapi sayangnya, dia dingin dan cuek gitu😥
^^^Lebay lo, baru juga keluar dari asrama :v^^^
Iiihhh ... gue bukannya lebay, tapi seriusan itu cantik banget.😰
^^^Trus, mau lo apain tu cewek?^^^
Gue mau dekatin dia😀
^^^Lo serius?^^^
Yoi, doain gue ya, biar berhasil dapatin tu cewek😉
...___...
Ntah, kenapa membaca pesan terakhir Rangga ini, seketika membuat Reval merasa tidak rela dan teringat akan Syafira yang sudah satu tahun ini tidak pernah dia temui.
__ADS_1
...___...
^^^Memangnya, deskripsi tu cewek gimana?^^^
Dia itu, cewek idaman semua cowok, termasuk lo mungkin😂
^^^Lo yakin?^^^
Iya, soalnya dia itu pakai kerudung lebar banget, trus dia juga kaya jaga batasan gitu sama laki-laki. Dan satu hal lagi nih, dia itu dingin banget. Tapi, dibalik kedinginannya itu, gue jadi penasaran, kalau sebenarnya dia itu lagi menyembunyikan sesuatu.
...___...
Lagi-lagi, Rangga membuat Reval kembali mengingat gadis itu. Sebelum membalas pesan dari Rangga kembali, Reval pun keluar dari dalam mobilnya dan mencari suasana yang terasa lebih nyaman di luar mobilnya. Reval pun mendudukan dirinya di kepala mobil dan melanjutkan chatnya dengan Rangga.
...___...
Eh Val, lo masih di sanakan?
^^^Iya, oh iya, lo tahu dari mana kalau cewek itu lagi menyembunyikan sesuatu?^^^
Jadi, tadi tu gue nanya sama sahabatnya, namanya Kayla. Tapi, bukannya menjawab, dia malah mengalihkan pertanyaan gue.
^^^Trus?^^^
^^^Wait, Kayla?^^^
Iya, Kayla. Ada apa memangnya, Val?
^^^Cewek yang lo incar itu namanya siapa?^^^
Kalau seingat gue,
Syafira
...___...
Brugh!
Belum juga Reval sempat membaca pesan yang terakhir kali dari Rangga, namun seorang wanita sudah tertungkai karena kakinya. Langsung saja Reval mengalihkan pandangannya kepada wanita itu dan menatap wanita itu dengan sedikit marah.
"Eh, lo punya matakan?" tanya Reval begitu saja. Sedangkan, wanita yang tertungkai itupun hanya bisa menahan amarahnya sambil berusaha berdiri dengan sendirinya.
Deg.
Syafira, ya dialah wanita yang sudah tertungkai oleh kakinya Reval. Dengan mengernyitkan matanya yang memerah Syafira pun menatap Reval dengan bingung. Pasalnya Reval seenaknya saja menyalahkan dirinya dan bukan menolongnya. Di tambah lagi, kini Reval yang tengah memakai masker, mangkanya dia sama sekali tidak mengenali Reval.
"Lo habis nangis? Kenapa?" tanya Reval spontan.
"Ha? Ng-nggak," alibi Syafira yang langsung membuang pandangnya ke arah lain.
"Trus ngapain mata lo merah?" tanya Reval lagi. Jujur saja, Reval sebenarnya ingin berbicara di dalam hatinya, namun sayangnya dia teringat akan sesuatu di masa lalu. Dia takut Syafira masih bisa mendengarkan kata hatinya.
"Bukan urusan anta, permisi." ujar Syafira dengan begitu dinginnya. Lalu, berlalu begitu saja dari hadapan Reval. Namun, belum sempat Syafira melangkah, Reval sudah terlebih dahulu menarik tali tas ranselnya Syafira. Sehingga, membuat gadis itu ikut tertarik ke belakang.
"Eh ... lepasin!" bentak Syafira. Namun, bukannya melepaskan, Reval malah menatap Syafira dengan tajam. "Jaga pandang kamu, Akhy!" bentak Syafira lagi dengan marahnya, sambil terus mencoba untuk melepaskan tarikan Reval pada tali tas ranselnya.
"Kalau gue nggak mau?" tanya Reval balik dengan santainya. Sedangkan, Syafira yang tengah berusaha melepaskan genggaman Reval pada tali tas miliknya, langsung saja menatap Reval dengan kesal.
Lalu, tak lama kemudian, dengan satu tarikan dan hempasan dari Syafira, genggaman Reval pun terlepas dari tali tas ranselnya Syafira. Membuat Sang Pemilik Jari merasa kesakitan.
__ADS_1
"Jangan pernah mengancam saya!" ketus Syafira dengan dinginnya, lalu setelah itu dia pun langsung berlalu dan meninggalkan Reval seorang diri.
Bukannya marah atau bagaimana, namun Reval hanya menatap kepergian wanita itu dengan tersenyum. Sampai pada akhirnya, Syafira pun telah menghilang dari pandangannya, karena Syafira yang sudah memasuki panti asuhan. "Sya, kalau gue boleh jujur, gue benar-benar merindukan lo. Gue yakin, lo berubah karena gue, 'kan? Gue udah kembali kok Sya, dan sekarang gue yang akan kembali menjadi mata lo, meski lo udah mendapatkan mata lo lagi. Tapi, sayangnya, lo ceroboh Sya, hahaha ...." ujar Reval membatin sambil terkekeh kecil, ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi ini.