
...Ketika amarah telah membutakan, maka tak akan ada yang bisa menahannya, kecuali kesadaran....
.........
"Jelaskan semuanya, Rad!" bentak Reval yang kini benar-benar merasa khawatir dengan keadaannya Syafira.
"Ba-baik, Kak." Dan setelah itu, Radisa pun mulai menjelaskan dan menceritakan semua yang telah terjadi sebelumnya.
Flashback on
Kringg!
Bel pulang sekolah pun telah berbunyi. Seluruh siswa dan siswi langsung saja berlarian keluar kelas mereka, bersamaan dengan guru-guru yang keluar dari kelas mereka masing-masing. Namun, berbeda dengan kedua yang bernama Radisa dan Grasella itu. Radisa yang sedang memasukkan buku-bukunya, sedangkan Grasella dia sibuk bersamaan dengan ponselnya yang sejatinya tidak pernah dia hiraukan sekalipun.
"Ella," panggil Radisa di saat dirinya telah selesai memasukkan semua buku-bukunya. Dan bahkan, kini Radisa pun telah berdiri di sampingnya Grasella.
"Ha ... iya, kenapa Dis?" tanya Grasella yang masih fokus dengan ponselnya itu.
"Kita pulang sekarang, yuk!" ajak Radisa sambil melirik jam tangannya sekilas.
"Oh oke, yaudah yuk!" setujunya Grasella. Dan pada akhirnya, mereka berdua pun langsung keluar dari kesal itu. Namun, ada yang berbeda dengan Grasella saat ini. Itulah, penilaian Radisa terhadap sosok sahabatnya ini sekarang.
"Kamu kenapa, La? Aku lihatin sedari tadi kamu asik main ponsel aja, lagi chatan sama siapa?" tanya Radisa yang mulai kepo dan mencoba untuk melihat ponselnya Grasella. Namun, Grasella yang melihat Radisa ingin mengambil ponselnya itupun seketika langsung menjauhkan ponselnya dari jangkauan Radisa.
"Kepo aja, lo." gerutunya Grasella dan kembali fokus dengan ponselnya itu.
"Iih ... lo mah gitu, eh aduh-aduh ...." ujar Radisa yang langsung memegangi perutnya yang terasa melilit sekarang.
"Kenapa, lo?" tanya Grasella dengan menatap sahabatnya itu dengan khawatir.
"Gue ke WC dulu, ya." ujarnya meminta izin, sambil memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.
__ADS_1
"Yaudah, gue tunggu lo di sini." putus Grasella yang setelah itupun kembali menatap ponselnya, tanpa mempedulikan Radisa yang sudah pergi dari hadapannya.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya, Radisa pun telah selesai dari kegiatannya. Dan dengan segera dia pun lamgsung menghampiri Grasella. Namun, di saat jarak antara Grasella dan Radisa hanya tingga tiga meter saja, Radisa pun langsung menghentikan langkahnya.
"Hmm ... siapa nama gadis yang dicintai oleh Reval itu?" tanya Grasella dengan begitu dinginnya.
"Syafira, Bos." ujar orang yang ada di sebrang telepon itu.
"Baiklah, kirimkan nomornya sekarang juga ke gue. Dan jangan lupa, lima menit lagi kalian harus sampai di taman itu. Dan yang lainnya juga harus sampai di bangunan tua perbukitan waktu itu." jelas Grasella, lalu dia pun langsung memutuskan teleponnya secara sepihak.
Radisa yang mendengar perkataan Grasella itupun sontak langsung terkejut. Namun, sebelum Grasella tahu, bahwa dia sudah mendengar pembicaraannya tadi, Radisa pun langsung mengubah ekspresi terkejutnya menjadi biasa-biasa saja, dan segera menghampiri Grasella yang tengah membelakanginya itu.
"Yuk, La! Udah lega, nih." ujar Radisa dengan begitu santainya. Grasella yang diajak bicara pun langsung menatap Radisa sekilas, lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
"Reval? Namanya seperti mirip dengan anak tante Riska." ujar Radisa di dalam hatinya, sebelum akhirnya dia pun melanjutkan langkahnya untuk pulang bersama dengan Grasella.
...
"Oh yaudah, titip salam buat mami kamu, ya. Bye!" ujar Radisa yang hanya dianggukan oleh Grasella. Dan tanpa menunggu lama lagi, Grasella pun langsung menancapkan gas mobilnya meninggalkan Radisa seorang diri di depan rumahnya. Radisa yang ditinggalkan sendiri itupun juga langsung saja membuka gerbang rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya yang begitu terlihat sepi.
Waktu pun berlalu, dan waktu maghrib pun juga hampir masuk sekarang. Radisa yang tengah menonton di ruang keluarga itupun langsung menatap jam dinding kamarnya sekilas.
"Tumben mama dan papa belum pulang?" tanyanya bermonolog.
Tit ... tit ... tit ...
Mendengar klakson mobil itu, seketika itu juga Radisa langsung saja bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu untuk segera membukakan pintu rumahnya untuk kedua orang tuanya yang baru saja pulang.
"Loh, Mama dan Papa pulangnya kok udah lewat dari biasanya?" tanya Radisa bingung.
"Iya, Nak. Tadi Mama dan Papa pergi ke acara pernikahannya kakak kamu dulu, habis itu balik ngantor lagi." jelas sosok wanita yang tak lain adalah ibunya Radisa.
__ADS_1
"Oh ... memangnya siapa yang nikah, Ma?" tanya Radisa bingung.
"Kakak kamu, anak tantenya Riska." jawab Sang Ayah dengan begitu senangnya.
"Loh, bukannya kak Kanya udah nikah ya, Bun?" tanya Radisa yang malah semakin menjadi bingung.
"Ih ... bukan Kanya, sayang. Tapi, Reval." ujar Sang Ibu merasa jengkel sendiri dengan anaknya.
"Ha? Kak Reval? Bukannya kak Reval baru aja tamat SMA ya, Ma?" tanya Radis yang masih saja merasa bingung.
"Iya Nak, dan Mama juga nggak tahu kenapa dia mau cepat-cepat nikah." timpal Sang Ibu dengan begitu santainya.
"Ouh gitu, memangnya kak Reval nikah sama siapa, Ma?" tanya Radisa yang ntah kenapa merasa sangat kepo saat ini.
"Kalau nggak salah Bunda namanya Syafira, iyakan Pa?" tanya Sang Ibu kepada Sang Ayah untuk memastikan apakah dia benar.
"Kalau seingat Papa sih, iya." timpal Sang Ayah yang kini tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Sya-syafira?" terkejut Radisa. Ntah kenapa, mendengar nama Syafira dia menjadi teringat akan perkataan Grasella saat menelepon seseorang tadi.
"Hmm ... siapa nama gadis yang dicintai oleh Reval itu?"
"Syafira, Bos."
"Baiklah, kirimkan nomornya sekarang juga ke gue. Dan jangan lupa, lima menit lagi kalian harus sampai di taman itu. Dan yang lainnya juga harus sampai di bangunan tua perbukitan waktu itu."
"Astaghfirullah!" seru Radisa yang benar-benar takut sekarang. Sang Ayah dan Sang Ibu yang melihat keterkejutan Radisa secara tiba-tiba itupun langsung saja terpelojak kaget.
"Ada apa, Dis?" tanya kedua orang tuanya, sambil menghampiri Radisa yang merasa ketakutan itu.
Bukannya menjawab, namun Radisa malah segera pergi dari hadapan orang tuanya dan berlari ntah ke mana, sehingga membuat orang tuanya merasa bingung sendiri.
__ADS_1
Flashback off