
...Sabar adalah jalan utama untuk menggapai sebuah harapan....
.........
"Astaghfirullah, Kay gimana, nih?" tanya Syafira sontak, tatkala dia baru saja menatap jam yang sudah menunjukkan waktu isya sekarang.
"Astaghfirullah, tenang dululah Fir, hampir aja jantung aku copot gara-gara kamu." gerutu Kayla dengan kesal.
"Iya-iya, tapi gimana dong, aku takut nanti Bang Hafidz marah karena aku udah lupa waktu." jelas Syafira dengan khawatirnya.
"Hmm ... yaudah, nanti biar aku aja yang jelasin sama Abang kamu, biar nggak dimarahin, yaudah sekarang pulangnya mau aku antar atau mau gimana?" tanya Kayla dengan santainya.
"Emang kalau kamu antar, kamu mau nganterin aku pakai apa?" tanya balik Syafira.
"Aku antar pakai sepeda." jawab Kayla dengan entengnya.
"Ihh ... Kay, aku serius, loh." kata Syafira sambil menampilkan ekspresi puppy eyesnya.
"Ciee ... yang maunya diseriusin. Mau diseriusin sama siapa, Neng?" ujar Kayla yang kembali dengan santainya.
"Ihh ... Kayla ...." rengeknya Syafira, namun kali ini sukses membuat Kayla tertawa dengan terbahak-bahak.
"Hahaha ... gemesin banget sih," timpalnya Kayla yang seketika itupun langsung mencubit pipi cubbynya Syafira.
"Ihhh ... sakit Kayla!!" teriak Syafira dengan marahnya. Sedangkan, Kayla yang diteriaki pun hanya berpura-pura tidak tahu saja akan kemarahan Syafira.
"Mau pulang, nggak?" tanya Kayla dengan santainya, ketika dia sudah mengenakan jaket dan membawa helm, beserta kunci motor di tangannya.
"Iyalah," jawab Syafira, yang masih merasa kesal akan kelakuan Kayla tadi.
"Yaudah, ayuk!" seru Kayla yang langsung menarik Syafira untuk bangkit dari atas kasurnya itu.
"Ih ... iya-iya, tapi nggak usah tarik-tarik juga kali, Kay." gerutunya Syafira, yang akhirnya langsung bangkit dari atas kasurnya Kayla dan menyambar tas ranselnya yang berada di atas nakasnya Kayla.
...
Di ruangan yang terlihat gelap itu, kini tengah ada seseorang gadis bersama dengan beberapa orang lelaki bertubuh tegap di depannya. Dengan tatapan menyeringai gadis 16 tahun itupun menatap beberapa lelaki bertubuh tegap itu.
"Apa sudah ada perkembangan?" tanya gadis itu.
"Sudah bos, berdasarkan penelitian kami, ada seseorang yang selama ini sangat dicintai oleh pemuda itu, dan bahkan pemuda itulah yang telah menjadi pelindung gadis itu ketika dia buta." jelas salah seorang laki-laki bertubuh tegap itu.
__ADS_1
"Bagus, dan mulai besok, lakukan semua yang sudah saya beritahukan kemarin." ujar gadis itu yang tak pernah berhenti untuk menyeringai.
"Baik bos, kalau begitu kami permisi dulu." Gadis itupun hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon kepada para lelaki itu. Dan karena sudah mendapatkan izin dari gadis itu, akhirnya para lelaki bertubuh tegap itupun langsung pergi dari sana, meninggalkan gadis itu seorang diri
"Hahahahaha ...." tawa gadis itupun akhirnya menggelegar begitu kerasnya.
"Semuanya akan segera dimulai, Reval Setia Darma. Gue nggak akan pernah biarin cewek yang lo cintai itu bisa hidup di dunia ini. Karena gara-gara kelakuan lo, kakak gue harus berada di dalam penjara selama ini. Dan gara-gara lo juga, ayah dan ibu gue jadi berpisah. Semuanya udah lo renggut dari kami, kebahagian kami sudah lo lenyapkan. Dan itu nggak akan pernah gue biarin begitu aja. Yang jelas, cewek lo itu harus mati ditangan gue besok. Hahahaha ...." ujarnya yang lagi-lagi kembali tertawa dengan lentang.
...
Kini, Syafira pun telah tiba di rumahnya dengan antaran dari Kayla bersama dengan motor scupynya. Langsung saja Syafira pun turun dari motornya Kayla, lalu bergegas untuk menekan bel rumahnya sendiri. Kayla yang melihat tingkah Syafira seperti ini pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Namun, Kayla pun tetap ikut untuk turun dari motornya itu dan menghampiri Syafira yang benar-benar terlihat cemas saat ini.
Ceklek.
Pintu rumah megah itupun terbuka pada akhirnya, menampilkan sosok Hafidz dengan wajah biasa-biasanya saja.
"Kok baru pulang, Ra?" tanya Hafidz begitu santainya.
"Diluar ekspetasi," lirih kedua wanita itu, ya siapa lagi kalau bukan Syafira dan Kayla.
"Ha?" tanya Hafidz merasa bingung dengan perkataan kedua wanita yang ada di hadapannya ini.
"Ouh ... yaudah, kalau gitu kamu masuk dulu gih sana, Abang mau bicara dulu sama sahabat kamu." ujar Hafidz dengan begitu santainya.
"Hayo ... Abang mau bicara apa, nih?" tanya Syafira dengan curiganya. Sedangkan, Kayla yang menjadi pembicaraan kedua kakak beradik itupun hanya bisa menatap Syafira dengan datar.
"Su'udzon mulu kerjaanmu, Dek." elak Hafidz, yang seketika itupun langsung mendorong Syafira untuk masuk ke dalam rumah secara pelan.
"Hahaha ... yaudah, iya." putus Syafira pada akhirnya dan meninggalkan kedua manusia yang berbeda jenis kelamin itu di teras rumahnya.
"Ekhem ...." seru Hafidz sebelum dia memulai pembicaraannya.
"Ada apa, Bang?" tanya Kayla yang mulai merasa gugup.
"Abang cuma mau ngundang kamu, Kay." terang Hafidz langsung to the point.
"Ngundang maksudnya, Bang?" tanya Kayla merasa kebingungan.
"Acara pernikahannya Reval," jawab Hafidz yang lagi-lagi dengan singkatnya. Nah, perlu kalian ketahui tentang sikap Hafidz terhadap seorang wanita yang bukan mahramnya. Hafidz itu kalau lagi bicara sama seorang wanita yang bukan siapa-siapanya, maka dia pasti bakalan berbicara dengan datar dan langsung to the point.
"Ha? Pe-pernikahannya Reval?" tanya Kayla begitu tidak percayanya, dengan nada suara yang sengaja dia kecilkan. Sebab, dia sadar, jika dia berteriak karena terkejut, Syafira pasti akan kembali dan juga akan ikut sedih nantinya mendengar berita ini.
__ADS_1
"Iya," jawab Hafidz yang lagi-lagi dengan datarnya.
"Sama siapa, Bang?" tanya Kayla yang benar-benar merasa penasaran sekarang ini.
"Datang saja besok, habis ba'da dzuhur ke Mesjid *** dan kamu pasti akan tahu sendiri." jawab Hafidz masih dengan nada dingin dan datarnya.
"Yasudah Bang, Insya Allah Kayla akan datang. Namun, apa Syafira bakalan datang besok, Bang?" tanya Kayla lagi.
"Nggak," timpal Hafidz.
"Trus, apa Syafira tahu tentang ini?"
"Nggak,"
"Trus-"
"Lebih baik sekarang kamu pulang, karena ini sudah malam. Nggak baik kalau seorang wanita itu pulang malam-malam." tutur Hafidz. Dan Ya, Kayla yang ingin bertanya tadipun akhirnya langsung saja mengurungkan niatnya itu dan lebih memilih untuk segera pulang ke rumahnya.
"Yasudah Bang, kalau gitu Kayla pamit dulu. Assalamu'alaikum ...." pamitnya Kayla dan tidak lupa dengan kedua telapak tangan yang dia satukan di depan dadanya.
"Iya, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." jawab Hafidz yang menirukan aktivitas Kayla tersebut. Dan pada akhirnya, Kayla pun langsung berlalu dari hadapan Hafidz dan menaiki motornya scupynya itu. Lalu, memasang helmnya dan mulai menghidupkan motornya. Sebelum meninggalkan pelantaran rumahnya Syafira, Kayla pun terlebih dahulu membunyikan klakson motornya itu dan setelah itu, barulah dia menancapkan gas, meninggalkan pelantaran halaman rumahnya Syafira.
Hafidz yang kini sudah tinggal seorang diri itupun juga langsung masuk ke dalam rumahnya dan segera mengunci pintu rumahnya.
"Loh, Kaylanya mana, Bang?" tanya Syafira, yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Hafidz yang baru saja mengunci pintu rumahnya itu.
"Astaghfirullah Dek, kamu ini bikin Abang kaget aja, deh." kesal Hafidz, yang tak lupa dengan usap-usapan tangan pada dadanya itu.
"Hehehe ... maaf, Bang." cengir Syafira tanpa dosa.
"Hmm ...." dingin dan datar.
"Oh iya, Kaylanya tadi mana, Bang?" tanya Syafira yang mulai serius lagi.
"Udah Abang usir," jawab Hafidz dengan begitu santainya.
"Ha? Loh, kok Abang usir, sih?" tanya Syafira dengan tidak percayanya.
"Ini udah malam, Dek. Nggak baik kalau wanita masih keluyuran di luar rumah." jelas Hafidz dengan santainya. Lalu, berlalu dari hadapan Sang Adik dan lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya yang ada di samping kamarnya Syafira, yaitu di lantai dua.
"Hehehe iya, sih." cengir Syafira yang baru menyadari hal itu. Lalu, diapun juga ikut mengiringi langkah Sang Kakak menuju lantai dua.
__ADS_1