
...Aku tak pernah tahu, bagaimana kisahku selanjutnya. Tapi, aku tahu, jika Allah tak 'kan meninggalkan 'ku sendirian....
...…...
Hari-hari pun berlalu begitu saja, dan hari ini Syafira sudah berada di rumahnya, yaitu lebih tepatnya di dalam kamarnya. Di sini, Syafira hanya sendirian dengan posisi duduk di atas tempat tidurnya dan dengan pandangan mata yang lurus ke arah depan.
Syafira hanya merindukan Sang Ummy dan Sang Abi. Dia hanya ingin Sang Ummy dan Sang Abi berada di sampingnya untuk sebentar saja. Mungkin, mustahil hal itu bisa terjadi, namun itulah kenyataannya. Syafira hanya menginginkan kehadiran Sang Ummy dan Sang Abi di sisinya untuk saat ini.
Semenjak kejadian di rumah sakit waktu itu, ntah mengapa Syafira jadi sangat suka melamun dan bahkan dia sering tidak sadarkan diri. Tidak sadarkan diri di sini, bukan berarti pingsan, melainkan berada di bawah kesadarannya. Tak ada yang bisa menarik perhatian Syafira sejak saat itu, sehingga membuat dia lebih sering murung. Bahkan, ketika ditanya Syafira lebih suka menjawab dengan gelengan atau anggukan kepalanya saja.
Hafidz sudah pernah menyuruh Sang Dokter untuk memeriksa keadaan mental adiknya, dan tentu saja hasilnya pun semakin membuat Hafidz khawatir. Sang Dokter menyatakan kalau Syafira tengah mengalami depresi dan depresi ini bisa saja berujung kepada ketergangguan psikologisnya. Dan hal ini sangat membuat Hafidz khawatir, apalagi sampai sekarang Syafira tidak mau berbicara kepada siapapun. Bahkan, ketika teman-temannya datang menjenguk ke sini, Syafira sama sekali tidak mempedulikannya, melainkan dia hanya sibuk dengan lamunannya sendiri.
"Assalamu'alaikum ...." sapa seseorang ketika memasuki kamarnya Syafira, orang ini tak lain adalah Kayla, sahabat dekatnya Syafira. Tak ada sedikit pun jawaban dari Syafira dan hal ini bisa dimaklumi oleh Kayla. "Bagaimana kabarmu, Syafira?" tanya Kayla, di saat dia meletakan tas miliknya di atas sofa kamarnya Syafira.
Masih sama, belum ada jawaban sedikitpun, melainkan hanya Syafira yang terus-terusan melamun. Sehingga, membuat Kayla ikut duduk di tepi ranjang Syafira dan menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Fir?" tanyanya lirih.
"Sampai ummy dan abi kembali." jawab Syafira begitu saja. Ya, sedari tadi sebenarnya Syafira tidak sepenuhnya melamun, melainkan hanya tidak berminat untuk berbicara.
"Astaghfirullah, istighfar Fir, istighfar!" perintah Kayla yang benar-benar sudah lelah dengan keegoisan sahabatnya ini.
"Mereka sudah tenang di sana dan kamu harus bisa menerima itu, Fir!" titah Kayla lagi.
"Tidak, karena ini belum waktunya mereka pergi, aku masih butuh perhatian mereka, aku masih butuh kasih sayang mereka, aku masih butuh nasehat mereka, dan aku masih butuh bimbingan mereka. Hiksss ... aku hanya ingin mereka kembali, apakah Sang Pencipta tidak bisa mengerti aku? Hikss ...." tangisnya dengan begitu saja.
"Hiksss ... hiksss ... aku hanya rindu mereka, Kay. Aku hanya ingin mereka menemani aku di dunia ini, hiksss ... hiksss ...." Syafira benar-benar sudah frustasi sekarang, harapan untuk semangat menjalani lika-liku hidup sudah tidak dimilikinya lagi. Syafira letih, Syafira tak berdaya. Tak ada sedikitpun semangat yang membara, karena semua itu telah ditutupi oleh kesedihan.
Kayla mengerti, bahwa sahabatnya ini dalam masa depresi. Diraihnyalah Sang Sahabat ke dalam pelukannya dan menenangkan Syafira di dalam pelukannya. "Aku tak tahu lagi harus berbuat apa Kay, hikss ... aku sudah buta, hikss ... hidupku begitu sudah hampa ... hikss ... hikss ...." isak Syafira di dalam pelukan Sang Sahabat.
Kayla pun melepaskan pelukannya, dan menatap Syafira dengan senyuman penyemangat, meskipun dia tahu, kalau Syafira tak akan bisa melihatnya. "Tidak Fira, aku yakin kok, kalau kamu pasti bisa. Ya, mungkin kamu memang buta, namun jangan buat pikiran dan hatimu ini juga menjadi buta." nasehat Kayla dengan begitu tulusnya. "Aku tahu, mungkin ini sangat sulit untukmu, namun percayalah, bahwa Allah akan selalu bersama kita dan Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan seorang hamba-Nya."
__ADS_1
Syafira akui sekarang, bahwa dia benar-benar sudah melupakan Sang Pencipta. Hanya karena kesedihan dia sampai melupakan semuanya, dia lupa, bahwa Allah akan selalu ada bersamanya, meski seberat ataupun sepelik apapun hidup kita. Ya, Syafira benar-benar merasa kecewa dengan dirinya sendiri, karena sudah melupakan Tuhan yang sudah menciptakannya. "Astaghfirullah, hiksss ... Kay, a-aku be-benar seorang pendosa, hiksss ... aku melupakan-Nya, hiksss ... a-aku ...."
"Udah, Fir! Selagi ini belum terlambat, maka bertaubatlah kepada Allah dan meminta ampunlah pada-Nya, karena tempat paling terbaik untuk menenangkan hati adalah sajadahmu." Kayla pun kembali memeluk Syafira dengan begitu hangatnya. "Aku tak pernah tahu Fir, bagaimana kisah hidupmu selanjutnya, tapi yang aku tahu, kamu pasti kuat melalui itu semua dan aku yang akan selalu mendukungmu sampai kapapun." lanjut Kayla di dalam hatinya. Meskipun Kayla berbicara di dalam hatinya, tapi tentu saja Syafira mendengar semuanya. Lagi-lagi, Syafira benar-benar tak tahu, apakah ini memang benar-benar perkataan hati Kayla, atau hanya sekedar ilusinya saja. "Terima kasih, Kay." ujar Syafira yang merasakan kenyamanan itu di dalam pelukan Sang Sahabat.
...
Di lain sisi, Reval terus saja menolak permintaan orang tuanya sedari tadi, dan bahkan bujukan-bujukan dari Sang Kakak Iparnya dan kakaknya sendiri tidak dia hiraukan. "Bunda, Reval kan sudah bilang, Reval tidak akan pindah sekolah, lagian buat apa Reval pindah ke sekolah lain?" tolaknya untuk kesekian kalinya.
"Nak, Bunda mohon, turutin permintaan Bunda kali ini. Bunda janji, kalau setelah ini Bunda tidak akan meminta apapun dari kamu." bujuk Riska yang juga sudah kesekian kalinya.
"Maaf Bun, Reval tidak bisa." tolaknya lagi, lalu berlalu dari hadapan keluarganya begitu saja. "Walaupun ini demi gadis itu?" tanya Alex yang ikut berdiri menatap anaknya. Mendengar kata 'gadis', seketika membuat Reval menghentikan langkahnya sejenak. "Reval, Ayah mohon, bantu Ayah untuk menebus rasa bersalah Ayah pada keluarga itu." pinta Alex sambil mendekati Sang Putra. "Tapi, kenapa harus aku, Yah? Lalu, apa hubungannya dengan pindah sekolah?" tanya Reval yang masih tidak terima.
Alex pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, sebelum akhirnya dia pun menjawab pertanyaan anaknya. "Karena hanya kamu yang bisa membantu Ayah."
"Ya, mungkin seharusnya Ayah yang langsung membantunya, namun sayangnya, mereka tidak mau menerima bantuan dari Ayah. Tapi, Ayah tidak akan merasa tenang, sebelum rasa bersalah ini hilang. Dan rasa bersalah ini akan hilang di saat Ayah sudah membantu mereka. Dan inilah satu-satunya cara agar Ayah bisa membantu mereka, terutama gadis itu." jelas Alex yang terlihat begitu sendu.
__ADS_1
Reval yang merasa kasihan dengan ayahnya pun akhirnya memutuskan untuk menerima permintaan Sang Ayah. "Baiklah, Reval akan pindah sekolah." putusnya dan setelah itu dia pun langsung pergi menuju kamarnya, yang terletak di lantai dua.