Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Alasan


__ADS_3

...Jangan pernah menangis di depanku, sebab aku tidak akan tahan melihat air matamu menetes begitu saja....


.........


Flashback on


Reval baru saja sampai di rumahnya. Dengan perasaan yang marah, Reval pun keluar dari mobilnya dan memasuki rumahnya begitu saja, tanpa membaca salam terlebih dahulu. Riska yang tadi tengah berjalan dari dapur, seketika merasa bingung dan keheranan kepada anaknya itu. Apalagi, Reval yang sama sekali tidak mempedulikan kehadiran dirinya.


Reval pun terus berjalan menaiki anak tangga dengan amarah yang masih memburu. Dan sesampainya di kamar, Reval pun menghempaskan pintunya begitu saja. Riska yang tengah memperhatikan putranya itu, langsung saja merasa terkejut akan kelakuan putranya itu.


"Astaghfirullah, ada apa lagi ini, Yaa Allah ...?" lirih Riska sambil geleng-geleng kepala dan mengusap-usap dadanya.


Setelah itu, Riska pun kembali pergi ke dapur. Lalu, tidak lama kemudian Riska pun kembali dari dapur sambil membawa segelas Jus Alvokad di tangannya. Riska pun melangkah menaiki anak tangga, lalu menuju kamar Reval.


"Val, boleh Bunda masuk?" izin Riska sebelum memasuki kamar anaknya yang tengah tertutup rapat.


Reval yang tengah mencoba menahan amarahnya pun langsung melirik ke arah pintu kamarnya. "Iya Bun, masuk aja, pintunya nggak aku kunci." jawab Reval dengan dinginnya. Mendengar itu, Riska perlahan-lahan melangkah memasuki kamar Reval yang memiliki dominan warna biru. Riska pun menghampiri Sang Putra yang tengah duduk di atas kasurnya.


"Ini, bunda buatkan Jus Alvokad." ujar Riska menyodorkan segelas Jus Alvokad itu kepada Sang Putra.


"Makasih Bun," ujar Reval menerima gelas itu.


Perlu kalian ketahui, bahwa Jus Alvokad adalah jus favorit kesukaannya Reval. Apalagi ketika dia sedang stress, Sang Bunda pasti akan membuatkan Reval Jus Alvokad. Jadi, jangan pernah heran, kalau Riska membuatkan Reval Jus Alvokad sekarang ini.


"Kamu lagi ada masalah, Nak?" tanya Riska dengan lembutnya, sambil mengusap lembut kepala Sang Putra. Reval yang mendengar pertanyaan Riska pun langsung menghentikan minumnya.

__ADS_1


"Reval marah Bun, kalau gadis itu terus saja menangis di depan Reval." ungkap Reval dengan kesal.


"Maksud kamu, Syafira?" tanya Riska dan Reval menjawab dengan menganggukan kepalanya sebagai jawaban, lalu dia kembali lagi meminum Jus Alvokad buatan bundanya.


"Memangnya, Syafira kenapa? Kok bisa sampai nangis?" tanya Riska lagi, namun kali ini dengan perasaan khawatirnya.


"Tadi, Reval salah memberikan saran judul lagu pada Syafira, Bun. Dan akhirnya, Syafira pun sepertinya kembali teringat akan kejadian waktu itu. Mangkanya, saat menyanyikan lagu itu, dia menangis. Namun, apa salahnya jika dia berhenti menangis? Reval nggak bisa Bun, liat wanita menangis di hadapan Reval." jelas Reval yang benar-benar terlihat frustasi sekarang ini.


"Ooh gitu ...." ujar Riska mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi Val, menurut Bunda, cara kamu bersikap kepada Syafira itu salah. Seharusnya, kamu tidak marah padanya, tapi kamu harus minta maaf dan nenangin dia." jelas Riska sambil mengusap lembut pundak Sang Putra.


"Udah Bun, Reval udah minta maaf dan mencoba untuk membujuknya agar berhenti menangis. Tapi, gadis itu keras kepala. Dia terus saja menangis. Reval nggak pernah tahan Bun, ketika Reval lihat seorang wanita nangis di depan Reval. Dan akhirnya, lantailah yang menjadi pelampiasan Reval tadi." jelas pria itu yang akhirnya menjadi semakin kesal.


"Yasudah, sekarang habiskan jusnya dulu. Bunda mau ke rumah Syafira, apa kamu mau ikut?" ajak Riska.


"Ngapain, Bun?" bingung Reval.


"Yah Bunda, Soto Ayam itukan kesukaan Reval, tanpa Bunda bagiin ke orang-orang, Soto Ayam itu pasti bakalan Reval habisin sendirian." ujar Reval tidak terima.


"Ihhh ... kamu, Bunda bukannya mau ngasih ke orang-orang, tapi mau bagiin ke Syafira." timpal Sang Bunda yang setelah itu langsung keluar dari kamar Sang Putra dan meninggalkan Reval seorang diri di kamarnya.


Flashback off


Riska pun tersenyum menatap Syafira yang tengah menikmati sensasi rasa masakan Soto Ayamnya itu.


"Teruslah seperti ini, Nak. Dan jangan kembali seperti waktu itu." ujar Riska di dalam hatinya. Ya, tentu saja Syafira mendengar ujaran Riska tersebut. Syafira pun tersenyum saat itu juga.

__ADS_1


"Kamu tahu nggak, Ra?" tanya Riska sambil menatap Syafira dengan serius. Syafira pun menggelengkan kepalanya, yang sedang mengunyah makanan, pertanda tidak tahu, dengan mata yang hanya menatap lurus ke depan.


"Tadi, Reval sama sekali tidak mau berbagi Soto Ayam ini dengan kamu." jelas Riska. Syafira pun mulai memelankan kunyahannya. Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar nama itu, apalagi kenyataan dari penjelasan Riska tadi.


"Hei, kamu kenapa, Sayang?" tanya Riska yang sedikit khawatir, ketika melihat Syafira yang tiba-tiba saja menundukan kepalanya sedih.


"Apa Reval masih marah sama Syafira, Tan?" tanya Syafira kembali menatap lurus ke arah depan. Riska pun meletakkan anak rantang itu di atas nakas. Lalu, setelah itu, Riska pun meraih tangan Syafira dan menggenggamnya.


"Ra, dengerin Tante! Reval itu bukannya marah sama kamu, ta-" jelas Riska dengan begitu lembutnya.


"Tapi, mengapa dia tidak mempedulikan panggilan Syafira, Tan?" tanya Syafira mulai terisak.


"Hei, jangan nangis lagi, Sayang." ujar Riska menenangkan Syafira dengan mengusap-usap pundak Syafira.


"Gini Nak, Reval itu cuma nggak mau lihat kamu nangis di depannya, karena Reval nggak pernah tahan lihat seorang wanita nangis di depannya. Dia bukannya marah sama kamu, dia cuma kesal aja dengan tangisan kamu yang nggak mau berhenti. Udah, sekarang jangan nangis lagi." jelas Riska yang diakhiri dengan menghapus air Syafira yang sudah keluar.


"Sini, biar Tante peluk!" suruh Riska sambil menarik Syafira ke dalam pelukannya.


Nyaman, itulah yang dirasakan oleh Syafira sekarang ini. Syafira pun membalas pelukan Riska dengan sangat erat. Dengan pelukan ini, seakan dia sudah melepaskan kerinduan dengan Sang Ummy yang telah tenang di sana.


"Tante, bolehkan Syafira memanggil Tante dengan sebutan Ummy Riska?" tanya Syafira yang masih berada di dalam pelukan Riska.


"Hmmm ... gimana kalau Bunda aja? Biar sama kaya anak-anak Tante," saran Riska yang masih memeluk Syafira dengan mengusap-usap lembut punggung gadis itu.


"Baiklah, Syafira akan panggil Tante dengan sebutan Bunda. Terima kasih, Bun." ungkap Syafira yang kembali mempererat pelukan mereka.

__ADS_1


"Ummy, semoga kehadiran bunda Riska di sini bisa membuat Ara merasakan kehangatan Ummy. Ara tak pernah tahu bagaimana keadaan Ummy di sana. Namun, Ara berjanji pada Ummy, Ara akan berusaha menjadi anak yang sholeha, agar bisa membuat Ummy merasa bangga ketika melihat Syafira di akhirat nanti. Syafira sayang Ummy dan Syafira merindukan Ummy saat ini. Semoga Allah mempertemukan kita di surga-Nya nanti, aamiin ...." lirih Syafira di dalam hatinya. Tak terasa air mata itupun kembali mengalir begitu saja, namun pelukan itu belum juga terlepas sampai sekarang.


__ADS_2