Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Bantuan


__ADS_3

...Sesulit itukah aku membencimu?...


...______...


...~Syafira Putri Syafi'i~...


.........


Setibanya di dalam kamarnya Reval, Reval pun langsung meletakkan tubuh lemas Syafira di atas tempat tidurnya, secara perlahan-lahan. Setelah itu, Reval pun menyelimuti separuh tubuh gadis itu dengan selimutnya. Oh iya, sebelum itu, Reval melepaskan sepatu Syafira terlebih dahulu, baru menyelimutinya.


"Bunda, tolong kasihin Syafira minyak kayu putih ya, Reval mau ke bawah dulu." pinta Reval.


"Iya Nak, Kanya tolongin Bunda, Nak." ujar Riska dan diangguki oleh putra dan putrinya itu.


Setelah itu, Reval pun langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga rumahnya, sambil meronggoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Oh iya, mengenai tas pria itu, tasnya masih berada di dalam mobil. Dan soal tongkat Syafira, astaghfirullah ... tongkatnya ketinggalan guys, Yaa Allah Val-val, khawatir boleh, tapi jangan sampai melupakan sesuatu.


Dengan memijit keningnya yang sedikit terasa pusing, Reval pun mencari-cari kontak Hafidz yang sebelumnya pernah dia minta kepada kakak iparnya, yaitu Reno. Setelah menemukan kontak Hafidz di ponselnya, Reval pun langsung menelpon Hafidz.


...


Setelah selesai mengurusi semua pekerjaan di kantornya tadi, dengan buru-buru Hafidz pun langsung berangkat ke sekolah adiknya. Ntah kenapa, tiba-tiba saja Hafidz merasa sangat khawatir dengan keadaan adiknya sekarang ini.


Dengan kecepatan tinggi, Hafidz pun menempuh perjalanan selama 15 menit dari kantornya. Dan akhirnya, sekarang Hafidz pun telah tiba di depan halte, tempat Syafira biasa menunggunya. Namun, sekarang dia sama sekali tidak menemukan Syafira di luar mobilnya. Dengan perasaan was-was, Hafidz pun langsung keluar dari mobilnya dan segara mencari di mana keberadaan adiknya.


Namun, setelah mencari di sana, Hafidz sama sekali tidak menemukan adiknya. Akan tetapi, pada saat itu mata Hafidz tertuju pada sebuah benda yang tengah tergeletak di bawah kursi halte. Dengan perasaan khawatir, Hafidz pun mengambil tongkat itu.


"Ra, kamu di mana, Dek?" lirih Hafidz menatap tongkat milik adiknya yang sangat dia kenali sekali.


Drttt ...


Tidak lama kemudian, ponsel di dalam sakunya Hafidz pun berbunyi. Dengan cepat Hafidz pun meronggoh ponselnya itu. Lalu, menatap ponselnya dengan bingung, sebab di sana tertera "Nomor Tidak Dikenal 08*********** Indonesia". Namun, karena pikirannya selalu pada adiknya, Hafidz pun mengangkat telepon itu.


"Assalamu'alaikum, ini siapa?" tanya Hafidz ketika telepon itu tersambung.


"Wa'alaikumussalam Kak, ini saya Reval." ujar Reval dari seberang telepon sana.


"Reval adiknya Reno?" bingung Hafidz.


"Iya kak,"

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Reno dengan datar.


"Maaf sebelumnya Kak, jadi tadi ada orang yang ingin menyakiti Syafira, dan saya benar-benar minta maaf sama kakak, karena sudah membiarkannya sendirian tadi. Tapi, untunglah sebelum orang itu berhasil membawa Syafira pergi, saya sudah datang tepat waktu. Dan kini Syafira ada di rumah saya, dia sedang bersama bunda dan kakak saya di dalam kamar." jelas Reval di seberang telepon itu.


Jujur, ketika mendengar ada seseorang yang ingin membawa adiknya pergi Hafidz benar-benar marah, akan tetapi dia tetap merasa bersyukur, karena Reval telah menolong adiknya.


"Baiklah, saya akan segera ke sana. Assalamu'alaikum ...." Setelah membaca salam, Hafidz pun langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Lalu, memasuki mobilnya dengan tergesa-gesa. Dan tidak lupa dengan tongkat Sang Adik yang juga dia bawa. Hafidz pun melajukan mobilnya meninggalkan pelantaran halte, menuju rumah Reval yang tak lain adalah rumah sahabatnya juga.


...


Setelah menelefon tadi, Reval pun langsung terus ke dapur, dia berniat ingin membawakan teh hangat. Dan setelah teh itu jadi, barulah Reval kembali ke lantai atas, atau lebih tepatnya ke kamarnya sendiri.


Sesampainya di sana, Reval bisa melihat Syafira yang masih menutup matanya dengan rapat-rapat. Reval pun langsung menghampiri Sang Bunda yang tengah menciumkan minyak kayu putih ke hidungnya Syafira.


"Gimana, Bun?" tanya Reval yang meletakkan teh buatannya di samping nakas.


"Syafira masih pingsan Val, apa kita bawa dia ke rumah sakit aja? Biar mendapatkan penanganan medis." saran Sang Bunda.


"Nanti saja Bun, kita tunggu kakaknya datang dulu, karena kakaknya sedang menuju ke sini." jelas Reval yang diangguki oleh Riska.


Ting ... tong ... ting ... tong ... ting ... tong ...


Bel rumah mereka pun berbunyi. Reval yakin kalau itu adalah kakaknya Syafira yang datang, dengan langsung saja Reval keluar dari kamarnya, meninggalkan ketiga wanita itu.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga Nak, Bunda sempat khawatir dengan keadaanmu tadi." jelas Riska saat menyadari Syafira yang sudah membuka matanya.


Syafira sangat mengenali suara itu, tetapi kenapa ada bunda di sini, bukankah ...


"Bunda, Syafira sangat takut." lirih Syafira yang langsung teringat akan kejadian dia sebelum pingsan.


"Ada apa, Nak?" tanya Riska yang langsung merasa khawatir.


"Ta-tadi ada yang mau menyakiti Syafira, Bun." jelas Syafira ketakutan.


"Sudah, kamu jangan khawatir Nak, sekarang kamu sudah aman." ujar Riska menenangkan Syafira.


"I-ini ada di mana, Bun?" tanya Syafira yang masih ketakutan.


"Ini di rumahnya Bunda, dan ini adalah kamarnya Reval." jelas Riska yang membuat Syafira terkejut.

__ADS_1


"Re-reval?" tanyanya gugup.


"I-"


"Ara," panggil Hafidz yang langsung menghampiri adiknya, yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya Reval.


"Abang?" tanya Syafira bingung.


"Iya Ra, maafin Abang, karena Abang terlalu lama menjemput kamu. Andaikan, Abang bisa jemput kamu cepat tadi, mungkin semua ini nggak akan terjadi. Tapi, untunglah Reval sudah membantu kamu, jadi Abang merasa sedikit lega sekarang, kamu baik-baik ajakan, Ra?" jelas Hafidz, yang kini tengah duduk di tepi ranjang dengan menggenggam tangan kanan Sang Adik.


"Iya Bang, Ara baik-baik aja, kok." ujar Syafira tersenyum. Mendengar itu Hafidz pun merasa sedikit lega, namun masih dengan sedikit rasa khawatir kepada Sang Adiknya itu.


"Oh iya, maaf Mas, Mas mau minum apa?" tanya Kanya tak enak. Hafidz yang merasa terpanggil pun langsung melihat ke arah sumber suara.


"Saya?" tanya Hafidz.


"I-iya," gugup Kanya.


"Oh ... anti istrinya Reno, bukan? Kalau iya nggak usah panggil saya dengan mas, panggil saja Hafidz, karena saya adalah sahabatnya." jelas Hafidz yang membuat Kanya merasa canggung sendiri.


"Baiklah, tapi mau minum apa?" tanya Kanya lagi.


"Hmmm ... apa yang ada aja," ujar Hafidz ramah.


"Baiklah," Kanya pun langsung beranjak dari kamar itu dan menuju dapur.


"Bunda masih di sini?" tanya Syafira tiba-tiba.


"Iya Nak, ada apa?" tanya Riska menatap Syafira dengan bingung.


"Syafira mau duduk, Bun." timpal Syafira.


"Yaudah, sini Bunda bantu." seru Riska yang mulai membantu Syafira untuk bangun. Dan akhirnya, kini Syafira pun telah terduduk di atas kasur, karena bantuan dari Riska tadi.


Hafidz yang tadi tengah duduk pun berdiri menghampiri Reval dengan wajah kusutnya. Hafidz pun menepuk pundak Reval dengan lembut.


"Val, terima kasih karena lo sudah bantuin Syafira tadi. Abang nggak tahu lagi kalau nggak ada lo, Syafira akan baik-baik saja atau tidak. Sekali lagi terima kasih, Val." ujar Hafidz.


"Iya Bang sama-sama, ini semua udah jadi tanggung jawab Reval yang saat itu kebetulan ada di sana." alibi Reval, karena pada kenyataannya sejak Syafira meninggalkannya, Reval sudah mengikutinya sejak saat itu juga. Sebab, Reval tidak yakin, kalau Rendra akan melepaskan dirinya pada hari itu juga.

__ADS_1


Hafidz pun tersenyum mendengar perkataan Reval tersebut, berbeda dengan Syafira yang hanya diam saja. Syafira masih merasa marah dan kecewa kepada Reval, namun ada hal yang membuatnya yang merasa sangat bingung.


"Kenapa kenyataannya aku sangat sulit untuk membencimu, Reval Setia Darma?" batinnya.


__ADS_2