Penjaga Setia Di Kala Kubuta

Penjaga Setia Di Kala Kubuta
Tangisan Pilu


__ADS_3

...Semua yang terjadi memanglah bukan keinginan, namun semuanya yang terbaik untuk kita pasti sudah di tentukan oleh Sang Khalik....


...…...


Di ruangan yang serba berwarna putih inilah, Syafira dan kakaknya tengah berada. Sedangkan, Reval dan orang tuanya tengah mengurus administrasi Syafira. Alex benar-benar merasa bersalah atas kejadian ini, maka dari itu, dia ingin bertanggung jawab atas kejadian ini.


"Bang, ummy dan abi mana?" tanya Syafira yang memang sudah mulai lancar saat berbicara, karena masker oksigen yang tadi, sudah terlepas dari hidungnya. Namun, walaupun Syafira sudah bisa berbicara lancar, dia masih tetap lesu di saat berbicara.


Ingin sekali Hafidz menjawab pertanyaan Sang Adik, namun Hafidz benar-benar tidak kuat untuk menyatakannya. Sehingga, membuat Syafira merasa bingung dengan kakaknya, mungkin jika Syafira bisa melihat bagaimana ekspresi kakaknya sekarang, Syafira pasti akan langsung mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya.


"Bang, jawab Adek, Bang!" pinta Syafira dengan nada yang masih lesu. "Baiklah, Abang akan jawab, tapi Adek harus janji sama Abang, kalau Adek nggak boleh sedih." ujar Hafidz yang diawali dengan helanaan napas pasrah. "Abang ... apa maksud Abang ...?" terkejut Syafira yang mulai mengeluarkan cairan bening dari matanya yang hanya dapat menatap lurus ke depan.


"Adek, jangan sedih, nanti ummy dan abi juga sedih kalau liat Adek kaya' gini." ujar Hafidz yang mencoba menahan tangisannya. Hafidz tidak kuat, jika harus melihat sosok adik yang sangat rapuh di saat seperti ini. Syafira merupakan salah satu kelemahannya setelah Sang Ummy, karena hanya Syafira satu-satunya adik yang harus dia jaga.


"I-ini nggak mungkin Bang, hikss ... tadi sebelum pergi kami masih bercanda ria, hiksss ... tapi kenapa sekarang ummy dan abi ninggalin Ara?" isak Syafira yang sangat membuat Hafidz merasakan sakit yang luar biasa pada hatinya, apalagi di saat melihat air mata itu.


"Adek, ingat pesan ummy dan abi dulukan? Ummy dan abi pernah bilang sama kita dulu, kalau umur nggak ada yang pernah tahu, dan kepergian ummy dan abi juga nggak ada yang bisa menghalangi ataupun menahannya. Udah, Adek jangan nangis lagi, Abang nggak kuat kalau liat Adek seperti ini terus." ujar Hafidz yang masih berusaha untuk tetap tenang.


"Hiksss ... Bang, Ara takut, Ara nggak mau kehilangan ummy dan abi ... hiksss ... cukup penglihatan Ara aja yang hilang, Bang ... hiksss ...." isak Syafira lagi dengan begitu pilunya.


"Abang tahu, Dek. Mungkin, ini nggak mudah untuk kamu, tapi ingat Dek, Allah selalu bersama kita dan Abang janji, Abang akan selalu jagain kamu, Dek." jelas Hafidz.


"Hiksss ... Adek udah buta, Bang. Adek udah nggak bisa liat lagi, semuanya sudah hancur, Bang. Percuma Adek masih hidup sekarang, hiksss ... Adek nggak yakin, kalau Adek masih bisa hidup di dunia yang begitu kejam ini, Adek nggak yakin Bang, hiksss ...." racau Syafira dengan tangan yang terus memukuli brankarnya.

__ADS_1


"Adek tenang, Dek. Istighfar! Adek nggak boleh seperti ini, Adek harus ingat kalau Abang masih ada di samping Adek dan Allah juga akan selalu ada di sisi Adek. Abang nggak akan biarin Adek lemah dan Abang nggak akan biarin Adek merasa sendiri, Abang janji, Dek." terang Hafidz yang setelah itu langsung memeluk Sang Adik dan membiarkan Syafira menangis di dalam pelukannya.


...


Kini, Reval tengah duduk di kursi tunggu bersama dengan Sang Bunda yang selalu berada di sampingnya sedari tadi. Sedangkan, Sang Ayah tengah berada di meja registrasi untuk mengurusi semua biaya perawatan Syafira.


"Bunda," panggil Reval yang terlihat sudah begitu pucat. "Reval, kamu baik-baik saja, Nak?" panik Sang Bunda ketika melihat wajah Reval yang sudah pucat.


"Bun, apa ayah masih lama? Reval sudah tidak kuat lagi, Bun." ujar Reval dengan nada yang begitu lemas. "Yasudah, kalau gitu kita pulang sekarang ya, Nak." ujar Riska dengan sangat khawatirnya. "Tapi, ayah gimana, Bun?"


"Ayah akan pulang nanti, karena masih banyak yang harus Ayah kerjakan sekarang. Dan di luar sudah ada kakak iparmu." Bukan Riska yang menjawab, melainkan Alex. "Yasudah, kalau gitu kami pulang dulu ya, Mas. Kamu jangan terlalu malam pulangnya." pamit Sang Istri sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, nanti kalau udah selesai Mas bakalan pulang secepatnya." ujar Alex sambil mengusap kepala istrinya yang tidak tertutup jilbab. Riska pun tersenyum ketika mendapatkan perlakuan manis dari Sang Suami. Lalu, setelah itu, dia dan Reval pun langsung menuju pintu keluar rumah sakit.


"Reval!!" teriak Riska ketika Reval jatuh pingsan. Pemuda yang tadi melambaikan tangan ke arah mereka juga langsung terkejut, dan langsung saja dia berlari ke arah Reval dan Riska.


"Bunda, sebaiknya Reval kita bawa masuk aja dulu." saran pemuda itu, pemuda ini adalah kakak iparnya Reval yang pertama, namanya adalah Reno.


"I-iya Nak, Bunda panggilkan suster dulu." ujar Riska yang begitu panik dan Reno pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Langsung saja Riska berlari ke dalam rumah sakit dan menemui suaminya yang masih berada di meja resepsionis.


"Mas, Reval pingsan, Mas." ujar Riska yang kini sudah berlinang air mata. Mendengar hal itu, sontak membuat Alex langsung terkejut. "Astaghfirullah, di mana, Bun?" tanya Alex yang juga ikut khawatir. "Di depan."


"Sus, anak saya pingsan di depan." ujar Alex yang langsung membuat para suster di meja resepsionis itu langsung berlarian ke luar rumah sakit sambil membawa brankar dan diikuti oleh Riska dan Alex di belakangnya.

__ADS_1


Setibanya mereka di sana, langsung saja tubuh Reval di pindahkan ke atas brankar dan langsung di bawa ke ruang UGD. "Nak Reno, Ayah minta tolong sebentar ya, jagain ibu mertua kamu dulu, Ayah mau menyelesaikan administrasinya dulu." ujar Alex yang langsung diangguki oleh Reno. "Baik, Yah."


Setelah itu, Alex pun langsung menuju meja resepsionis tadi dan menyelesaikan semuanya dengan begitu terburu-buru.


...


"Hiksss ... Ara takut, Bang. Ara ingin ketemu ummy, Ara juga ingin peluk ummy, Ara ... hiksss ... hiksss ...." tangis Syafira yang masih berada di dalam pelukan Sang Kakak. "Adek ... bukan Abang mau larang Adek untuk ketemu ummy, tapi Adek masih belum pulih, Adek harus banyak istirahat sekarang." ujar Hafidz setelah melepaskan pelukannya, lalu menatap Sang Adik dengan sangat sendu.


"Bang ... Ara mohon, antarkan Ara pada ummy, Ara ingin ketemu ummy dan abi untuk terakhir kalinya, Ara ingin peluk mereka ... hiksss ...." pinta Syafira lagi, dengan sangat memohon pada kakaknya ini. Hafidz menjadi tidak tega untuk melihat Sang Adik yang memohon seperti ini. "Baiklah, Abang akan antarkan Adek, tapi Adek harus tunggu di sini sebentar, ya! Abang mau pinjam kursi roda dulu kepada suster." ujar Hafidz yang langsung di angguki oleh Syafira. Dan langsung saja Hafidz berlari keluar dari ruangan dan menuju meja resepsionis.


"Permisi," ujar Hafidz saat tiba di sana. Alex yang masih berada di sana langsung melihat ke arah Hafidz. "Eh, Nak Hafidz, ada apa?" bingung Alex. "Syafira memaksa untuk minta bertemu dengan ummy dan abi, Om." jelas Hafidz dengan begitu sendunya.


Alex yang melihat itupun langsung mengusap-usap punggung Hafidz. "Maafkan Om ya, Nak Hafidz. Ini se-" lagi-lagi ucapan Alex langsung dipotong oleh Hafidz. "Tidak Om, ini semua bukanlah kesalahan Om, tapi ini semua adalah takdir-Nya untuk kami, dan kami harus bisa menghadapi ini semua dengan sabar, terima kasih banyak Om, karena Om sudah mau membiayai perawatan Syafira. Bagi kami itu semua sudah cukup kok, Om. Jadi, Om jangan selalu menyalahkan diri Om sendiri di sini. Karena kalau dipikir-pikir, bukan Om saja yang salah, saya pun juga merasa bersalah Om, ntah kenapa saya tidak mau ikut bersama mereka tadi." jelas Hafidz, yang langsung membuat Alex menarik Hafidz ke dalam pelukannya.


"Om bakalan janji, Nak. Sampai kapanpun Om akan bersedia memberikan apa yang kalian berdua butuhkan." ujar Alex di dalam pelukannya. Hafidz pun melepaskan pelukannya dan menatap Alex sambil tersenyum. "Terima kasih Om, karena Om sudah mau membantu kami. Rencana Allah memanglah rencana yang paling terbaik, Dia merenggut nyawa ummy dan abi, lalu mendatangkan Om beserta keluarga ke dalam kehidupan kami."


"Ayah, Reval sudah sadar, Yah." ujar Reno yang tiba-tiba saja datang. Dan membuat kedua pria yang berbeda usia itu langsung melihat ke arah Reno. "Reno?" ujar Hafidz yang langsung terkejut dan begitu juga sebaliknya dengan Reno.


"Lho, lo kok bisa di sini, Fidz?" tanya Reno. "Kalian udah saling kenal?" bingung Alex, karena melihat kedua pria ini yang begitu terlihat akur. "Iya Om, dia sahabat saya sejak SMP dulu." ujar Hafidz dengan ramahnya. "Ouh gitu, toh."


"Maaf Tuan, apa tadi Tuan ingin meminta bantuan?" tanya seorang suster yang sedari tadi menunggu kelanjutan dari Hafidz. "Astaghfirullah, oh iya, maaf Sus. Jadi, adik saya yang bernama Syafira, ingin melihat jasad ummy dan abi kami, Sus. Apakah boleh, Sus?" jelas Hafidz yang membuat suster itu langsung menganggukan kepalanya. "Baiklah, mari biar saya antarkan." ujar suster itu dan langsung keluar dari meja resepsionis, lalu mengambil kursi roda yang berada di sana dan mendorongnya menuju ruangan Syafira.


"Maaf Om, Reno, saya duluan, ya. Assalamu'alaikum," pamit Hafidz dan setelah Reno dan Alex menjawab salamnya barulah dia beranjak dari sana dan mengikuti suster tadi.

__ADS_1


__ADS_2