
...Hanya ada waktu yang menjadi jarak kita untuk saat ini....
...…...
Setelah menggeret Rangga dengan paksa dari sana, Reval pun langsung menatap sahabatnya itu dengan tajam. Dan yang ditatap pun hanya bersikap pura-pura tidak acuh saja akan tatapan Reval tersebut. "Eh Ga, lo ngapain sih tatap Syafira kaya gitu?" tanya Reval dengan kesalnya.
"Eh, lo kok tahu namanya?" Bukannya menjawab, namun Rangga malah bertanya balik kepada Reval. "Lo itu masih ingat sama cerita gue atau udah lupa, sih?" Yah, Reval pun bertanya balik kepada Rangga dan bukannya menjawab pertanyaan Rangga tersebut.
"Hehehe ... gue udah lupa, Val." jujur Rangga yang tak pernah tinggal dengan cengiran khasnya.
"Kebiasaan lo," timpal Reval dengan dinginnya.
"Jadi?" tanya Rangga tanpa tujuan.
"Ya, trus?" tanya balik Reval yang merasa bingung akan pertanyaan sahabatnya ini.
"Hadeh ... maksud gue, jadi lo kenapa bisa kenal dengan Syafira? Trus, kenapa lo nggak suka kalau gue natap Syafira kaya tadi?" tanya Rangga penasaran.
"Ouh ... simple, dia orang yang pernah gue ceritain sama lo, dan gue nggak suka kalau lo dekatin Syafira, karena dia adalah calon istri gue." ujar Reval yang masih dengan datar dan dinginnya.
"Ha? Lo serius? Berarti, gue udah jahat dong kalau kaya gitu?" tanya Rangga dengan begitu terkejutnya.
"Loh, ngapain jahat?" bingung Reval.
"Because, gue udah mau nikung lo, hahaha ...." tawanya begitu saja dan alhasil Reval pun kembali memasang wajahnya dengan datar dan dingin.
"Jadi, lo sekarang udah tahukan, dan gue harap lo jangan dekatin Syafira lagi." tegas Reval yang kembali serius.
"Okeh, gue bakalan move on, karena masih banyak cewek yang cantik di sini." setuju Rangga dengan begitu entengnya.
"Emang mereka mau sama lo?" tanya Reval dengan meremehkan sosok sahabatnya ini.
__ADS_1
"Ck, lo ngeremehin gue?" tanya balik Rangga.
"Hmm ... maybe." jawab Reval dengan sangat entengnya. Lalu, berlalu dari sana meninggalkan Rangga yang tengah menatap Reval dengan tidak percayanya.
"Teman macam apa itu? Ngatain sahabatnya sendiri?" lirih Rangga merasa tidak percaya.
"Gue masih bisa dengar Rangga," teriak Reval yang sudah berjarak beberapa meter dari Rangga.
...
Waktu terus saja berjalan. Dan sore haripun telah tiba, sesuai janjinya dengan Hafidz tadi pagi, kini Reval pun telah berpenampilan rapi di depan cermin kamarnya ini. Dengan satu tarikan nafas, pria itupun akhirnya mengembangkan seuntai senyuman di bibir merahnya itu.
"Hari ini, gue akan memulainya, Sya. Gue yang akan segera menjadi peneman hidupmu di dunia ini. Gue harap, lo juga menginginkan hal yang sama seperti gue, Sya. Dan secepatnya gue akan menikahi lo, sesuai dengan kesepakatan kakak lo sendiri." ujarnya bermonolog di depan cermin itu.
Dengan langkah yang bersemangat, akhirnya Reval pun langsung menuju pintu kamarnya dan membukanya secara perlahan-lahan. "Bismillaahirrahmaanirrahiim ...." lirihnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk menuruni anak tangga.
"Masya Allah," ujar Riska benar-benar merasa takjub dengan penampilan putranya kali ini.
"Wah, kamu memang anak Ayah, Val. Tampannya nggak ngilang." puji Sang Ayah, ketika Reval sudah berada di depan mereka semua.
"Iih ... kamu Mas, kasihan tuh, pipinya udah memerah gitu." ujar Kanya yang kali inipun benar-benar berhasil membuat semburat merah itu langsung muncul di pipinya Reval.
"Hahaha ... oom kamu blushing, Put." ujar Reno menertawai Reval tanpa dosa. Reval yang ditertawakan pun hanya bisa menatap kakak dan kakak iparnya itu dengan datar.
"Putra sama Om, yuk! Om mau cerita sama Putra." ajak Reval sambil berusaha untuk mengambil alih balita tampan itu, yang tak lain bernama Putra. Namun, Reno yang takut jika anaknya bakalan dipengaruhi oleh Reval pun langsung saja menghindar dari Reval yang berniat untuk merebut anaknya. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Ya, pada akhirnya Putra pun menangis di dalam gendongan ayahnya sendiri. Dengan cepatnya Reval pun langsung mengambil alih Putra dari ayahnya tersebut.
Bukannya tambah rewel, namun Putra malah langsung berhenti dari tangisnya itu, membuat Reno benar-benar merasa tidak percaya dengan itu semua. "Si kecil udah mulai pintar ya, Bun." katanya mendramatis.
"Lebay lo, Bang. Udahlah, kalau mau ribut terus, trus kapan kita akan berangkatnya?" tanya Reval menengahi, sambil terus menenangkan Putra yang masih sedikit terisak.
"Yaudahlah, kalau gitu gue titip anak gue sama lo, jangan sampai lo hasut anak gue!" tegas Reno yang disertai akan kekehan kecilnya.
__ADS_1
"Oh, kalau soal hasut mah tenang, Reval jagonya." ujar Reval dengan entengnya.
"Hei, awas aja-" Dan lagi-lagi Putra pun kembali menangis untuk menghentikan perkataan ayahnya sendiri.
"Ha ... Ayah nggak boleh gitu, Yah." ujar Reval dengan sedikit menirukan gaya bicara anak kecil pada umumnya.
"Banyak gaya lo," ejek Reno, lalu berlalu dari sana tanpa menghiraukan tertawaan dari Reval.
...
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ...." ujar Hafidz ketika membukakan pintu rumahnya itu untuk para tamu yang sudah ramai di luar rumahnya itu. Ya, siapa lagi kalau tamunya itu bukanlah keluarga Darma.
"Hafidz?" terkejut mereka semua, kecuali Reval. "Ayo, Om, Tante, No, Nya, dan Val, mari masuk dulu!" ajak Hafidz dan langsung saja mereka semua memasuki rumah Hafidz tersebut dengan tuntunan Hafidz tentunya.
"Tunggu sebentar ya, saya mau buatkan minum dulu." pamit Hafidz yang setelah itupun langsung beranjak ke dapur untuk membuatkan mereka semua minuman.
"Aa ... kamu mau lamar Syafira, Nak?" tanya Riska tidak percaya. "Iya, Bun. Atas izin bang Hafidz, Reval akan menikahi Syafira dalam waktu dekat ini." terang Reval, yang sontak membuat semua orang merasa tidak percaya akan perkataan Reval ini.
"Lo nggak ngadi-ngadikan, Val?" curiga Reno. Kasihan ya, Reval selalu dicurigai oleh kakak iparnya sendiri, wkqkwwk. "Untung kakak ipar, kalau kagak udah gue habisin juga lo sekarang ni, mah." lirih Reval di dalam hatinya, sambil terus menatap Reno dengan tajam.
"Oh iya, Syafiranya mana, kok Bunda nggak ada lihat dia?" bingung Sang Bunda, yang sejak tadi terus saja clingak-clinguk mencari keberadaan Syafira di rumah ini.
"Syafira belum pulang, Tan. Dan acara ini juga akan kita laksanakan tanpa Syafira nantinya." Hafidz yang tengah membawa nampan dengan banyak gelas di tangannya itupun tiba-tiba saja muncul dari dapur dan langsung menjawab pertanyaan Riska dengan begitu santainya.
"Loh, kok bisa kaya gitu? Kan seharusnya, kalau kita mau ngadakan nikahan itu harus ada persetujuan dari calon yang perempuannya." tanya Riska yang masih saja merasa bingung.
"Soal persetujuan, maka semuanya saya yang akan memutuskan, Tan. Ya, mungkin ini terdengar seperti pemaksaan, namun saya yakin jika Reval adalah sosok calon imam yang baik untuk Syafira. Jadi, soal persetujuan Syafira, biarlah Reval berusaha mengambil hati Syafira lagi di saat mereka sudah halal nanti." jelas Hafidz lagi.
"Ooh ... jadi gitu, berarti intinya pernikahan ini kita rahasiakan dulu, gitu Fidz?" tanya Alex yang juga angkat bicara sekarang.
"Nah, iya Om. Dan ini juga atas keputusan Reval. Dan saya juga menyetujuinya, dari pada mereka terus memendam rasa dengan terus berdekatan dan menabung dosa setiap harinya." tutur Hafidz lagi, yang kini sudah selesai meletakkan minuman dan makanan yang dia bawa tadi dari dapur.
__ADS_1
"Ouhh gitu ... yasudah, jikalau itu yang terbaik menurut kalian berdua, maka Ayah akan dukung dan biar Ayah yang akan siapkan segalanya nanti." setuju Alex.
"Alhamdulillah, terima kasih, Yah." timpal Reval seraya menatap sosok ayah dengan begitu bahagianya. Dan Alex yang ditatap pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.