
...Aku tak pernah tahu, bagaimana kehadiranku ini akan membantumu nanti....
...…...
Di dalam kelasnya XI.IPA2. Syafira benar-benar merasa bingung dengan keadaan kelasnya saat ini, karena suasana kelas yang tiba-tiba saja menjadi sunyi. Karena sebelumnya, suasana kelas ini begitu ramai dan sekarang malah menjadi sunyi begitu saja.
"Kay, ada apa, sih?" tanya Syafira yang begitu penasaran. Kayla yang sedang sibuk bermain ponselnya pun langsung menghentikan aktivitasnya itu dan menatap Syafira.
"Katanya sih, ada siswa baru. Dan katanya lagi, siswa baru ini ganteng banget. Tapi, apalah peduli aku yang cuek ini." ujar Kayla yang malah membuat Syafira terkekeh di akhirnya.
"Yaa Allah, Kayla-Kayla, bisa aja kamu ini, mah." timpal Syafira yang masih terkekeh kecil. "Ya ... kan memang itu kenyataannyalah, Fir." ujar Kayla yang semakin membuat Syafira gemas sendiri. Seandainya, dia bisa melihat, mungkin pipi cubi Kayla ini sudah menjadi mangsa cubitannya sekarang ini. Kalau boleh jujur, Syafira benar-benar merindukan masa itu, namun apalah daya, Syafira harus bisa menerima kenyataan ini dan menjalani semuanya dengan ikhlas.
"Iya-iya deh, Kayla selalu menang." ujar Syafira yang lebih memilih untuk mengalah saja.
"Kamu nangis, Fir?" tanya Kayla, ketika menyadari ada cairan bening di kelopak matanya Syafira. Syafira yang menyadari hal itupun langsung menghapus air mata itu dengan kasar, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak Kay, mungkin cuma kelilipan karena debu aja." alibinya dan membuat Kayla mengangguk-anggukan kepalanya.
Tidak lama kemudian, Kayla pun menatap wajah Sang Sahabat, melihat kesedihan yang berada di wajahnya Syafira. "Aku tau Fir, kamu pasti merindukan masa lalu. Asal kamu tahu, sebenarnya aku juga merindukan masa itu, masa di mana kamu sangat suka mencubit pipiku ini. Meskipun, cubitanmu itu sakit, tapi aku menyukai cubitan menggemaskan itu. Seandainya, masa itu bisa terulang lagi, aku pasti akan sangat bahagia dan mungkin sama denganku, kamu juga akan merasa bahagia." batinnya.
Kayla tak tahu, bahwa sebenarnya percuma dia membatin. Karena, pasalnya, Syafira juga akan mendengar perkataannya itu. "Terima kasih Kay, aku tahu, yang lebih sedih di sini itu bukan aku, tapi kamu. Tapi, doakan saja, semoga Allah mengizinkanku lagi untuk bisa melihat suatu hari nanti." balasnya juga di dalam hati.
...
"Huhhh ... Alhamdulillah," desah Reval yang baru saja memasuki ruangan kepsek dan langsung menutup pintu ruangan itu dengan rapat-rapat.
"Pangeranku!! Buka pintunya!"
"Ayolah, pujaan hatiku, jangan bersikap seperti ini pada diriku."
"Pangeran tampan, buka pintunya!"
__ADS_1
"Pak! Pak! Tolong izinkan saya masuk, pak!"
Mendengar semua ujaran itu, rasanya Reval ingin muntah saja di ruangan ini. Namun, tidak jadi, karena suara seseorang membuat dia menjadi mengubah ekspresinya yang frustasi menjadi dingin. "Ada apa ini?" tanya seorang pria yang belum terlalu tua, dengan tegasnya.
"Mohon maaf, Pak. Di sini saya sebagai seorang siswa baru dan tujuan saya ke sini adalah ingin bertanya di mana kelas saya?" ujar Reval dengan dinginnya. Dan dia juga sudah tidak mempedulikan keadaan di luar sana.
"Oh ... jadi kamu anaknya Pak Alex?" ujar pria itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Tampan sekali."
Astaghfirullah, Reval tidak salah dengarkan? Dia dikatai tampan oleh seorang kepala sekolah, Masya Allah. Sepertinya Reval harus berwaspada lagi, takut ada sesuatu yang akan membahayakan masa depannya. "Mmm ... maaf Pak, kalau saya boleh tahu, kelas saya ada di mana ya, Pak?" tanya Reval dengan begitu kikuk.
Kepala sekolah itu yang baru saja sadar dengan perkataannya sendiri, langsung menormalkan ekspresinya dan menatap Reval dengan serius. "Oh iya, saya lupa. Kelas kamu ada di lantai tiga gedung ini, yaitu di kelas XI.IPA2." ujarnya yang kembali tegas.
"Baiklah Pak, terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Assalamu'alaikum," pamitnya dengan sedikit lega.
"Eh-eh, tunggu dulu!" ujar pria itu menghentikan langkah Reval, yang akan pergi meninggalkan ruangan itu. Reval yang awalnya sudah merasa lega, kini malah kembali menjadi kikuk. "Ma-maaf, ada apalagi ya, Pak?"
"Tenang, kita foto dulu." ujar pria yang belum berumur itu dengan menampilkan ponselnya ke arah Reval. Reval yang melihat tingkah kepala sekolah ini, langsung terkejut. "Sejak kapan, jati diri bapak ini berubah, seperti wanita-wanita itu?" keluhnya di dalam hati. Namun, walaupun begitu, Reval tetap ikut berfoto dengan pria itu. Dan setelah itu, Reval pun langsung keluar dari ruangan itu.
Akan tetapi, walaupun sudah ada guru di kelas mereka, mereka semua masih tetap melihat keluar jendela dan malah memperhatikan Reval yang berjalan seorang diri menuju kelasnya. Namun, bagi Reval, lebih baik seperti ini, dari pada harus dikejar-kejar seperti tadi.
Akhirnya, setelah menaiki anak tangga, Reval pun sampai di lantai tiga, dia pun langsung membaca petunjuk kelas yang ada di dekat tangga itu. Setelah mengetahui di mana kelas XI.IPA2, Reval pun langsung berjalan menuju kelasnya.
Reval pun terus berjalan, hingga akhirnya sebuah tulisan "kelas XI.IPA2" terpampang jelas di depan matanya, atau lebih tepatnya berada di sebuah ventilase pintu kelas. Setelah melihat tulisan itu, ntah kenapa matanya menjadi salah fokus pada seorang siswi yang tengah fokus mendengarkan perkataan gurunya di depan, namun matanya menatap ke arah lain.
Deg.
Jantung Reval tiba-tiba saja berdetak tak karuan, membuat Sang Empu menjadi bingung sendiri. "Haduh, ini jantung kenapa sih, ah?" ujarnya cukup frustasi, namun langsung saja dia mempercepat jalannya menuju pintu kelas itu.
"Permisi," ujarnya saat sampai di depan pintu kelas dengan mengetuk pintu itu terlebih dahulu. Guru yang tadinya tengah menerangkan pelajaran di depan kelas, seketika langsung berhenti, ketika mendengar sapaan dari Reval.
__ADS_1
"Eh iya, ada apa ya, Nanda?" tanya guru itu, ketika sudah berada di depan Reval.
"Mohon maaf sebelumnya, Buk. Saya adalah siswa baru di sini, dan kepsek menyuruh saya untuk ke kelas ini." jelas Reval.
"Oh iya, mari!" ajak guru itu mempersilahkan Reval untuk masuk.
Ya, kalian pasti bertanya-tanya bagaimana ekspresi para cewek ketika mendapati Reval yang memasuki kelas mereka. Dan jawabannya adalah ekspresi mereka benar-benar bahagia dan senang. Namun, kedua hal itu tidak ada di dalam diri Syafira dan Kayla. Wanita yang paling cuek, kalau urusan cowok. Tapi, cuek-cuek gitu, mereka tetap peduli kok, bahkan kepedulian mereka sangatlah tinggi, dibandingkan orang yang nggak cuek, tapi nggak memiliki pri kemanusiaan.
"Aaaaaaa ... pangeran tampan gue datang!"
"Apa gue bilang, dia pasti masuk lokal kita."
"So sweet, Pak Rendra benar-benar baik sekali, dah."
"Diam, dia itu calon imam gue!"
Syafira dan Kayla yang mendengar hal itupun hanya bisa geleng-geleng kepala saja, berbeda dengan Reval yang malah menampilkan ekspresi dinginnya.
"Hei, sudah-sudah, diam, kalian ini!" tegas guru yang berada di samping Reval ini. Dan karena mendengarkan ketegasan dari guru itu, semua para siswi yang tadi berisik, akhirnya memilih untuk menutup mulut mereka sementara waktu.
"Nak, kenalkan dirimu!" perintah guru itu dan diangguki oleh Reval.
"Baiklah, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Reval Setia Darma, saya adalah siswa pindahan dari SMA Adiwiyata. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, terima kasih, wassalam." ujarnya memperkenalkan diri.
"Hai, Reval!"
"Aaaa ... boleh panggil pangeran aja, nggak?"
"Kayanya kamu bukan berasal dari SMA Adiwiyata deh, tapi dari surga."
__ADS_1
Mendengar celotehan siswi kali ini, seketika gelak tawa menggema di kelas ini, tanpa terkecuali. Ya, untuk kali ini Kayla dan Syafira juga ikut tertawa. Dan tawa Syafira itu tak pernah luput dari pandangan Reval. Sehingga, senyuman tipis pun tercipta di bibirnya. Tidak ada yang tahu, bahwa Reval tengah tersenyum, karena senyuman itu sangat tipis sekali, bahkan semut saja mungkin tidak bisa melihat senyuman itu.